Abstract

Abstract
8



dua jam pelajaran telah berlangsung membuat ketiga mahluk yang sedari tadi tak bisa diam menjadi geram sendiri.


siapa sih yang suka berlama lama dengan pelajaran sejarah, author aja kalo pelajaran sejarah suka lari melipir nongkrong di kantin heheheh.


begitu juga dengan Gladys, Resa, dan juga Megan. ketiganya bak cacing kepanasan. seisi kelas juga tampak melakukan hal yang sama seperti Gladys yaitu menguap sana dan menguap sini. sungguh pelajaran sejarah adalah pelajaran yang paling membosankan. pikir saja masa lalu yang sudah lama terjadi kembali diungkit-ungkit lagi, dari pada memikirkan masa lalu mending memikirkan masa depan yang sudah pasti toh.


sebuah ide jahil muncul di otak mungil Gladys, dirinya mengangkat tangannya dan meminta izin kepada guru yang mengajar dikelas untuk pergi ke toilet sebentar.


Gladys menoleh kepada kedua temannya yang menatap dirinya sebal, Gladys berdiri lalu berjalan keluar dengan gaya yang mengejek karena berhasil lepas dari kurungan guru sejarah.


Gladys berjalan dikoridor sekolah, sejatinya dirinya tak pergi ke toilet, melainkan hanya berjalan jalan menghabiskan waktu pelajaran sejarah.


saat melewati kelas devano, dirinya sempat menoleh kedalam kelas. celingak celinguk mencari keberadaan devano, namun nihil orang yang dicari tidak ada sama sekali dikelas.


dimana devano berada saat ini? batin Gladys


saat hendak berbalik dari kelas devano suara dingin seseorang menginterupsinya membuat sekujur tubuh menjadi kaku mendadak.


"cari siapa cantik?" ucap orang itu.


Gladys berbalik dan mendapati devano yang sudah berdiri dibelakangnya sambil bersandar di tembok kelas dengan tangan yang ia masukan ke dalam saku celana abu abunya.


jika dilihat lihat penampilan devano saat ini, emmm... sangat perfect.


Gladys menatap devano, dia kira seorang guru yang menciduknya tengah bolos dari kelas. namun ternyata itu adalah devano, tapi eh... guru mana juga yang mau memanggilnya cantik? hais... ada ada saja Gladys ini.


masih dengan posisi semula devano kembali bersuara untuk menyadarkan Gladys yang mematung di tempat.


"cari siapa sayang?" ulang devano yang membuat Gladys bergeming.


"Lo sejak kapan ada disitu?"tanya Gladys heran.


devano berdecak kesal lalu mencubit kedua pipi Gladys sambil menggoyang goyangkan tubuh Gladys saking gemesnya dengan tingkah lemot Gladys.


"sejak sejarah mengatakan bahwa anak kambing kini kawin dengan anak bebek," celetuk devano asal. Gladys berdecak lalu menepis kasar tangan devano dari kedua pipinya.


"sakit ******!" geram Gladys.


devano nyengir, " bolos?" tanya devano yang di angguki Gladys.


"ngapain bolos sayang, kamu ga boleh bolos," ucap devano dengan nada yang dibuat buat membuat seisi perut Gladys ingin keluar saking jijiknya.


"bacot lu, lu juga bolos bege!" sembur Gladys yang dihadiahi cengiran bodoh dari devano.


"rooftof gih," ajak devano lalu menarik halus tangan Gladys agar mengikuti langkahnya.


di rooftof keduanya sibuk dengan pikiran masing masing, tak ada percakapan yang mengisi keheningan disana. hanya suara sayup sayup angin dan juga beberapa kicauan burung yang tak sengaja hinggap di beberapa kabel yang menjuntai di rooftof itu.


"kita ngapain disini?" tanya Gladys yang mulai bosan dengan keheningan.


"entah, ngapain aja boleh," jawab devano menatap Gladys.


"Glad," panggil devano yang dijawab deheman oleh Gladys.


"Glad," panggil vano sekali lagi. membuat yang dipanggil menoleh dan menaikkan salah satu alisnya bertanda "apa"


"Lo cantik," puji devano.


blush!


seketika wajah Gladys berasa memanas mendengar pujian dari devano, hanya pujian sederhana tapi mampu membuat kedua pipi Gladys menjadi memanas dan bahkan mungkin sudah seperti kepiting rebus.


suara cekikikan terdengar dari sebelah Gladys. devano sengaja mendekat kearah Gladys lalu menangkup kedua pipi chubby milik Gladys.


"adududu, baru gua puji segitu aja udah blushing pacar aku," ejek devano lalu tertawa terbahak bahak melihat ekspresi wajah Gladys yang kini kian memerah.


Gladys memukul lengan devano, "apaan sih Lo, hilangin sana kebiasaan gaje Lo," sembur Gladys yang sudah kesal.


"males ah, lagian gua kan cuma kek gini sama my pacar doang," jawab vano lalu menyenderkan kepalanya di bahu Gladys dengan tangan yang ia lingkarkan di perut Gladys. satu hal lagi yang terungkap dari diri vano, kejahilan yang akut.


Gladys menahan nafasnya merasakan deru nafas Vano yang hangat menerpa leher jenjangnya.


ia berdiri lalu menatap devano yang kebingungan karena Gladys tiba tiba saja berdiri dan hampir membuatnya terbentur dengan tempat duduk yang mereka duduki.


Gladys menatap vano dari atas sampai bawah, " baju Lo benerin Napa, Trus itu dasi kemana, sama rambut kenapa acak acakan?" tanya Gladys menatap tampilan devano yang sedikit urakan.


devano menatap dirinya, kemudian berdiri membetulkan baju, celana, dan juga rambutnya, terakhir dasi.


tapi, saat akan memakai dasi tiba tiba saja Gladys meraih dasi devano lalu memasangkannya di kerah baju lelaki itu dengan telaten. devano menatap Gladys intens kemudian tersenyum kecil.


"Glad keknya gua mulai gila deh,'' ucap vano.


"maksud Lo?" bingung Gladys.


" ya gua gila, cuma dengan beberapa patah kata Lo bisa bikin gua bertekuk lutut didepan lo. dan juga buat gua jadi kehilangan akal sehat gua, seorang psikopat kek gua bisa takluk dengan seorang gadis mungil biasa," jelas devano panjang lebar membuat Gladys tersenyum.


selesai memasangkan dasi devano, kemudian Gladys sedikit membetulkan tatanan rambut vano agar sedikit terlihat lebih rapi tapi tidak menghilangkan kadar ketampanan lelaki dihadapannya ini.


"gau harap Lo bisa sedikit demi sedikit menghilangkan kebiasaan Lo buat ngebunuh orang ya, nyawa mereka bukan mainan yang seenak jidat kapanpun bisa Lo layangkan," ucap Gladys dengan wajah serius menatap vano dengan manik mata tepat membidik manik mata coklat devano.


vano mengembuskan nafasnya, "gua ga bisa ngilangin kebiasaan gua untuk tidak membunuh manusia. itu udah jadi kebiasaan gua," ucap devano putus asa.


Gladys kembali tersenyum, "perlahan lahan tapi pasti, aku yakin kamu bisa. dimana ada niat disana pasti ada jalan," ucap Gladys meyakinkan sembari menggenggam kedua tangan devano hangat.


vano tersenyum, " akan aku coba buat kamu," ucap vano menghilangkan panggilan gue-elo lalu menggantinya dengan sebutan aku - kamu.


keduanya tersenyum menikmati pemandangan yang tersaji di atas rooftof sekolah dengan semilir angin hangat yang menerpa wajah mereka berdua. keduanya kembali duduk di kursi panjang yang tersedia di ujung rooftof yang sedikit tertutup atap beton membuat nya berasa teduh berada disana.


vano kembali menyenderkan kepalanya pada bahu Gladys membuat terpaan hangat dari nafasnya kembali terasa, tapi Gladys berusaha untuk terbiasa dengan sikap vano saat ini. benar kata Megan, tidak sulit mencintai psikopat di sebelahnya. dengan hanya beberapa waktu saja dirinya kini sudah sangat nyaman berada di samping laki laki tampan disebelahnya. Jagan lupakan juga dengan jantung yang terus berdetak tak karuan.


devano menoleh kearah Gladys, " sampai kapanpun jangan tinggalin aku ya, makasih juga udah terima aku apa adanya dan kamu sampai kapanpun akan selalu jadi milik aku. aku ga suka berbagi sesuatu yang udah jadi milikku." ucap vano yang membuat alis Gladys terangkat sebelah.