Abstract

Abstract
3



ig : @ekhajunhii


_____________________________________________


Vano merebahkan tubuhnya yang terasa kaku di sofa hitam yang terletak diruang tamu. Baru saja ia akan memejamkan mata sejenak untuk melepas lelah, suara gaduh mulai memenuhi indra pendengarannya. Ia pun menggeram tertahan dan mulai bangkit dari duduknya.


Baru saja ia akan bangkit tiba tiba...


Jleb


Sebuah pisau kecil dengan ujung yang runcing dan berkilauan tertancap tepat disofa yang ia duduki. Beberapa untaian rambut hitam legam berjatuhan akibat terkena goresan pisau, Hanya perlu beberapa inci pisau tersebut sukses menancap ditelinganya.


Devano bangkit dari duduknya, mengambil pisau yang tertancap disofa dan membuangnya sembarangan kearah dua orang yang tengah saling adu mulut dihadapannya kini.


Siapa lagi jika bukan si gila Riyan dan si steril Reydal. Begitulah mereka jika bukan adu mulut ya lempar lemparan pisau. Psikopat mah beda mainnya, untung ganteng.


“Lo berdua apa lagi sih?”tanya devano jengah.


“Tau nih si maniak kebersihan. Gua yang tadinya nonton tv Cuma pake boxer ijo kesayangan gua tiba tiba diseret kekamar mandi Trus dikurung. Kan gua ga terima dong, emang gua apaan coba!”jelas reyan panjang lebar.


“Ya itu emang pantes anjir, Lo ngotorin sofa kesayangan gua dengan upilan disana. Mana bekas upilnya nempel disofa lagi!”jawab Reydal tak mau kalah.


“Jadi, sofa yang gua dudukin barusan habis Lo upilin?”tanya devano tak percaya.


“Iya,”jawab reyan polos sambil memainkan kukunya.


Devano membelalakkan matanya,”bangsat jijik gua!”


Fix, satu umpatan keluar dari mulut devano. Dasar Reyan, sukanya upil sembarangan. Jadi gini kan, mamam tuh dua singa ngamuk.


“Eh, btw dari tadi kenapa bau apek ya. Kan gua udah bersihin rumah, seharusnya wangi dong,”heran reydal.


Ia pun menoleh kesamping dan juga mendapati devano menciumi bajunya dan nyengir tanpa dosa.


“Lo juga sama aja anjir,”ledek Reyan sambil tertawa terbahak bahak memperlihatkan matanya yang sipit kian menghilang, ledekin aja teros bang.


Devano tertangkap basah dengan bau yang ditimbulkan dari seragam sekolahnya yang penuh keringat akibat permainan basket tadi siang disekolah.


Reydal pun menyeret devano kearah kamar mandi, melemparkan handuk dan menguncinya dari luar.


“Lo ga boleh keluar sebelum selesai mandi dalam waktu 30menit!”


_abstract_


Seorang gadis dengan dandanan sederhana beserta badan yang dibalut kaos polos hitam bertuliskan happy ditengahnya beserta celana panjang jeans putih lalu dipadukan dengan snekears putih di kaki jenjangnya.


Juga tak lupa rambut panjang berwarna hitam kecoklatan dibiarkan tergerai bebas diterpa angin.


Gadis itu memasuki sebuah gedung tinggi yang mirip dengan pencakar langit disalah satu daerah, ia tak henti hentinya menunjukan senyum manisnya kepada setiap orang yang berlaku lalang didalam gedung megah itu.


Sampai pada akhirnya seseorang datang dan mengantarkan gadis cantik itu kesebuah ruangan yang sudah disiapkan sebelumnya.


Mereka memasuki sebuah lift yang disediakan disana dan menekan angka lima.


Ting


Lift terbuka, mereka keluar dan berjalan menyusuri koridor yang agak sepi hingga keduanya berhenti disebuah aula yang luas dan megah dengan interior khas model klasik.



Disana sudah terdapat beberapa orang dengan pakaian yang sama tengah duduk diantara kursi kursi yang telah disiapkan.


Gadis itu tersenyum, ia berjalan ketengah dan mengambil posisi didepan dimana terdapat podium beserta alat pengeras suara disana.


Ia tersenyum melihat semuanya, sungguh ia bahagia melihat banyak perubahan dari setiap orang yang ia jumpai dirumah sakit ini dari pertama ia memasuki kawasan.


Ya benar, seorang gadis cantik itu adalah Gladys oldianova yang sering meluangkan waktunya kemari untuk menjadi pengisi acara yang selalu mengangkat tentang literasi.


Gladys adalah seorang penulis, ia sengaja menyembunyikan identitas aslinya dikalangan sekolah akibat keadaannya yang cenderung susah bergaul. Namun, ia juga berharap dengan menjadi pengisi acara ini ia bisa memberikan warna warna baru dikehidupan para pasien yang menderita gangguan mental dirumah sakit ini.


Gladys memang tak banyak membantu, namun sikap friendly 'nya mampu memberikan dorongan kepada mereka agar lebih semangat dan aktif dalam penyembuhan.


Sampai ia akhirnya ia menutup acara dan diakhiri dengan tepuk tangan yang meriah. Memang yang hadir hanya beberapa sebab mereka hanyalah pasien pasien yang sudah didiagnosa sembuh namun belum secara total, jadi mereka cenderung masih bisa merespon dan berfikir secfara sehat.


Gladys keluar dari aula tersebut setelah mengucapkan terima kasih kepada semuanya.


Ia memilih menghabiskan waktunya sore ini untuk berjalan jalan mengelilingi rumah sakit OK yang terletak disuatu daerah, kakinya menyusuri taman yang yang berada di bagian belakang rumah sakit.


Dengan hamparan rumput hijau dan juga tanaman tanaman hias beserta air mancur berbentuk angsa putih besar berada tepat ditengahnya.


Ia duduk disalah satu kursi panjang yang disediakan rumah sakit, mengamati sekeliling dan melihat beberapa pasien yang berlalu lalang disana.


Ada seorang paruh baya yang sedang disuapi makan oleh keluarganya, ada seorang remaja yang tengah didorong dengan kursi roda mengelilingi taman oleh kerabatnya hingga ada juga seorang anak kecil yang dituntun jalannya oleh ibunya.


Gladys tersenyum, berandai andai jika mereka semua sembuh dan menjalani hidup normal seperti manusia pada umumnya tanpa gangguan mental beserta bully -an yang mereka dapatkan dari masyarakat.


Mereka memang bisa sembuh. Namun, tidak dengan jangka waktu yang pendek pastinya semua itu harus melalui proses yang panjang.


Gladys bangun dari duduknya menghampiri seorang anak perempuan yang terjatuh tak jauh dari tempatnya duduk.


Ia melihat anak kecil itu tampak menangis memegangi lututnya yang sedikit berdarah.


“Hay, kamu kenapa?”tanya Gladys dengan suara lembut.


Gadis itu mendongak, ia mengamati intens wajah Gladys yang berjongkok dihadapannya sambil mengelus bahunya.


Dengan gerakan tiba tiba gadis itu segera bangkit dan memeluk Gladys dengan erat seakan tak ingin melepaskannya.


“Kakak!”panggilnya dengan suara isakan.


Gladys yang sedikit bingung pun mencoba menghilangkan rasa bingungnya dan ikut memeluk gadis kecil itu sambil mengusap Surai panjang miliknya berharap tangisannya bisa mereda.


Tiba tiba seorang perawat datang menghampiri mereka berdua. Gladys melepaskan pelukannya dan berdiri sambil menggendong anak kecil itu.


“Gladys maaf merepotkan mu, dia adalah salah satu pasien disini. Sebenarnya dia sudah sembuh, namun entah mengapa keluarganya tak pernah datang menemuinya,”terang pasien itu.


Gladys pun hanya mengangguk dan tersenyum, ia memberika gadis kecil itu pada perawat barusan dan segera pergi meninggalkannya untuk mengobati luka dilutut gadis itu.


Gladys menatap iba kepergian dua orang itu, “sungguh malangnya nasibmu sayang.”


Lalu berlalu pergi dari taman rumah sakit menuju rumahnya akibat hari yang sudah kian gelap.