Abstract

Abstract
4



Matahari mulai menapakkan wujudnya di ufuk timur. Terlihat seorang gadis tengah menyisir rambutnya didepan semua kaca besar yang terletak di meja riasnya.


Gadis itu terlihat rapi dengan seragam putih abu abu yang melekat di tubuhnya yang langsing dan juga tas hitam yang sudah tersampir di pundaknya.


Itu bertanda ia akan segera berangkat ke sekolah.


Tak lama gadis itu melangkah keluar kamar, menuruni tangga dan tak lupa juga sarapan serta berpamitan kepada kedua orang tuanya.


Gladys memang terlahir dari keluarga yang kaya. Ayahnya seorang pemilik dari pasar gelap yang berada di Thailand dan ibunya adalah pemilik butik terkenal yang berada di Eropa.


tetap saja, ia tak pernah mau membuka dirinya sebagai orang yang terlahir dari keluarga kaya. Ia memilih untuk tetap sederhana.


Ia berjalan menyusuri beberapa kompleks perumahan untuk sampai di jalan raya. Kesehariannya ia selalu pulang dan pergi menggunakan angkot atau angkutan umum.


Sampainya ia didepan jalan raya, segera Gladys menghentikan sebuah angkot biru yang akan melintas kembali lalu masuk kedalamnya setelah mengucapkan alamat yang ia akan tuju.


Didalam angkot Gladys duduk berdebelaha dengan beberapa siswa maupun siswi dari sekolah yang tak ia kenal. Beberapa bercapakan mulai terlontar dari siswa dan siswi tersebut.


“Eh, Lo tau ga sih si Tiara anak bahasa sebelas kemarin malem meninggal gegara pulang malem. Dan dia meninggal di jalan yang biasa menuju rumahnya. Njir gua jdi ngeri lewat sana,”ucap salah satu siswi pada temannya yang duduk bersebelahan.


Gladys menyimak dengan sangat telaten, ia memasang telinga sangat baik untuk mendengarkan percakapan beberapa siswa itu.


“Maksud Lo jalan menuju rumahnya itu jalan kemangi blok B kan?”


“Nah iya, Lo bener banget tuh,”jawab siswi yg lainnya.


Kurang lebih begitulah isi percakapan mereka saat di dalam angkot.


Gladys sempat terkagetkan dengan nama dan letak jalan tersebut, pasalnya itu adalah jalan diaman ia bertemu dengan psikopat tampan itu. Apakah si psikopat itu lagi yang membunuhnya?


Angkot kini berhenti di depan salah satu sekolah menengah atas, Satu persatu siswa dan siswi yang tak dikenal oleh Gladys turun dari angkot untuk memasuki sekolah mereka.


Kini angkot kembali berjalan menuju SMA Pancasila. Sepanjang jalan Gladys sibuk memikirkan apakah laki laki itu yang mrmbunuh salah satu siswi tersebut, atau bahkan orang lain yang membunuh, atau bisa jadi juga dia dirampok dan dibunuh oleh perampoknya?


Berbagai macam pertanyaan muncul dikepala Gladys, ia memutuskan untuk tidak memikirkannya lagi. Toh jika ia memikirkan terlalu dalam bisa bisa ia menjadi setres. Kan ga asik.


Gladys memberhentikan angkot didepan SMA Pancasila, ia membayar kepada supir dan berjalan memasuki kawasan sekolah dengan langkah ringan. Sesekali ia menyapa beberapa teman dan beberapa staf sekolah.


Ia melanjutkan perjalanan menuju kelasnya lewat koridor, Namun...


Bruk


“Anjir!”


“Aw...pantat gua,”sambil mengelus pantatnya.


Gladys pun bangun dan hendak mencaci maki orang yang telah berani menabraknya hingga pantat semoknya hampir terkikis.


Tapi lihatlah, baru saja Gladys mendongak menatap wajah laki laki itu ia seketika menjadi batu layaknya Malin Kundang yang terkena kutukan. Kaku dan tak bisa bergerak.


“Lo?!”tunjuknya dengan jari telunjuk didepan wajah laki laki itu.


“Hm...apa?”jawabnya singkat.


Dumb it you Gladys pikirnya dalam hati.


Masih dengan pikiran yang berkabut Gladys kembali mengajukan pertanyaan bisa dibilang tuduhan mungkin atau yah semacamnya. I don’t know guys.


Devano memutar bola matanya jengah. Jengah akan tingkah laku gadis didepannya dan jengah dengan ucapannya yang ngawur. Namun, gadis didepannya amat lucu pikir devano. Jadi, lumayan kalo dijadikan bahan iseng dipagi hari. Itung itung asupan pagi hahahahha.


“Iya, gua ngikutin Lo. Gua mau cincang daging Lo ditangan gua, gua mau cabut usus Lo dari dalam perut dan gua mau penggal kepala Lo lalu gua jdiin bola pake main, itung itung pengganti bola karet yang biasanya dipake futsal,”ucapnya tepat disamping telingan Gladys yang membuatnya bergidik ngeri dan seketika bulu kuduknya seakan ditarik oleh magnet yang kuat hingga membuat sepenuhnya berdiri.


Satu tegukan air liur berhasil diteguknya kasar, saking kasarnya ia sampai Sampai sampai menahan nafasnya.


Gladys mulai memundurkan badannya perlahan, berancang ancang untuk mengeluarkan jurus seribu bayangan milik Naruto. Tapi devano dengan cepat menahan lengannya.


“Mau kemana sayang, kan gua belum selesai ngomongnya,”sambil membuangkuk mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh mungil Gladys.


Dikoridor sekolah saat ini memang masih sangat sepi, hanya ada beberapa siswa dan siswi yang berlalu lalang. Dikarenakan waktu yang masih menunjukan pukul enam pagi. Jadi sebagain besar siswa masih menjalankan ritual mereka dirumah masing masing.


“Pliss, lepasin gua ya. Gua masih mau hidup. Kalo mau bunuh besok besok aja ya kalo gua udah siap, kalo semisal Lo bunuh gua sekarang. Kucing gua siapa yang ngasih makan. Lo mau ngasih makan? Tiap hari beliin wiskhas kucing yang harganya 20k. Lama lama yang ada tekor lu, kasih gua hidup ya,”ucapnya panjang lebar disertai dengan wajah yang bisa dibilang cute menurut devano?


“Hahahaahhahah muka Lo lucu anying, gemesh gua,”saking gemeshnya sampai sampai devano mencubit pipi Gladys teramat kencang hingga membuat bekas kemerahan tercetak disana.


Tepisan kasar langsung dilayangkan oleh Gladys, ia merasa dipermainkan. Ia menatap wajah devano dengan tatapan garang. Namun yang ditatap malah menatapnya balik membuat Gladys menjadi salah tingkah atau salting.


Buru buru Gladys mengambil ancang ancang dan berlari. Dari kejauhan devano berteriak,”hati hati sayang!”


Duh...copot jantung dedek bang.


Buat readers yang jomblo kek otoor berandai andai aja dulu yak, moga aja masa kejombloam kita bisa cepat hilang.


Tidak bisa dipungkiri hati Gladys yang mendengarnya cukup terasa dag Dig dug ser. Serasa lagi marathon jantung rasanya. Ditambah dengan pipi yang sudah Semerah tomat, cepat cepat Gladys mengusap pipinya agar semburat merah itu bisa pudar.


Galdys memasuki kelasnya dengan normal kembali, tidak seperti saat dikoridor ssbelumnya. Pagi pagi dirinya sudah disuguhi pangeran tampan yang mungkin Tuhan jatuhkan dari genteng lalu mendarat tak sempurna dibumi mungkin? Argh Gladys malas memikirkanya, tapi jika dipikir pikir bagaimana bisa seorang psikopat bisa setampan itu?


Psikopat tetaplah psikopat, bagaimana pun ia tetaplah orang berbahaya pikir Gladys.


Saat Gladys menuju tempat duduknya, ia sudah disuguhi dua mahkuk tak kasat mata didepannya ini. Mereka bersidekap dada berdiri bagai manekin hidup tepat dibangku Gladys.


“Mau apa Lo berdua?”tanya Gladys yang tak bisa nyantuy.


“Hhehehhe eleh santuy kali,”ucap resa.


“Tau tuh, yang tadi mesra mesraan di koridor sama cowo sekarang beda dong ya,”kompor Megan.


“Iya, yang tadi diteriakin sayang mah sekarang sombong nih ye,”timpal resa lagi.


Plak...plak...


Satu jitakan mulus mendarat dikepala keduanya dengan aman dan tentram. Keduanya mengelus kepala mereka, jaga jaga siapa tahu mungkin keduanya akan mengalami gegar otak bahkan gegar ginjal.


“apaan sih Lo berdua?”sungut Gladys yang sudah jengah kali ini.


“Asal Lo berdua tau ya, gua ga kenal sama tuh cowo rese. Tau deh itu siapa, intinya gua ga tau,”final Gladys.


“eleh, sok Sokan gan tau Lo glad. tadi aja mesra banget, ih,”sungut Resa yang disetujui Megan.


Akibat lelah meladeni kedua mahluk tersebut Gladys memilih menidurkan kepalanya di meja. Lelah ia dipagi hari ini bertemu dengan mahluk mahluk yang tak seharusnya ada dibumi pertiwi ini. Saat hendak menutup mata, tiba tiba saja Megan berkata.


“Dia cowo yang kita maksud buat dare Lo kemarin,'’ucap Megan dan...


“What?!”seketika Gladys terbangun samabil menggebrak meja dihadapannya.