Abstract

Abstract
9



tepat pukul 3 sore Devano mengantar Gladys untuk pulang kerumahnya karena jam pelajaran sudah selesai dan semua siswa diperbolehkan untuk pulang.


mereka berjalan beriringan di koridor sekolah, sekolah kini sudah tak seramai saat tadi pagi. hanya tersisa beberapa siswa maupun siswi yang tengah menjalankan rutinitas mereka sebagai anggota OSIS atau kegiatan ekstrakulikuler wajib.


keduanya kini sudah berada di parkiran motor siswa, namun saat akan perjalanan pulang Gladys meminta izin kepada Devano untuk pergi kekamar mandi sebentar karena merasakan kebelet buang air kecil.


"Van, aku ke kekamar mandi dulu ya. ga tahan ini dari tadi," ucap Gladys sembari menahan sesuatu.


"mau aku anterin?" tawar vano pada Gladys yang dijawab gelengan kepala lalu segera ngacir lari kearah kamar mandi sekolah.


Devano yang melihat tingkah kekasih kecilnya hanya geleng geleng kepala kemudian menunggu di atas motor ninja merah kesayangannya.


di perjalanan menuju kamar mandi Gladys terus saja mengumpat pada dirinya sendiri akibat rasa pipis yang terus saja tak bisa di tahan. terbayang bukan bagaimana rasanya menahan rasa buang air kecil yang sudah di ujung tanduk, mana kamar mandinya agak jauh.


sesampainya di depan pintu toilet perempuan, Gladys segera membukakan pintu dan masuk ke salah satu bilik yang kosong lalu mengeluarkan segala keluh kesah yang ia tahan sejak perjalanan menuju toilet tadi.


namun saat keluar dari toilet, tiba2 saja seseorang menjambak rambut Gladys dari belakang dan mendorongnya kembali ke dalam bilik tersebut. Gladys yang merasakan perih yang menjalar di sekujur kepalanya akibat jambakan yang cukup keras berusaha melepaskan diri. namun nihil, Gladys yang sendiri harus kalah dengan tiga orang yang kini berada di depannya.


"heh jalang! gua kasih tau beberapa kali, napa sih Lo ga ngerti ngerti juga?!" bentak salah satu siswi tadi yang menjambak rambut Gladys.


"nyadar diri Man, yang jalang disini siapa? yang ngemis ngemis minta perhatian ke cowo orang itu siapa?" jawab Gladys tepat menohok ke pada Manda. ya, gadis yang menjambak rambutnya adalah Manda beserta beberapa dayang dayang pengikutnya.


"heh dasar cewe ga tau diri Lo!" maki Manda lalu mendorong tubuh Gladys hingga membentur tembok cukup keras.


aakhh...


"gila ya Lo Man!" maki Gladys sambil menahan sakit yang menjalar ditubuhnya.


"makanya Lo tuh tau diri bangsat, Devano sampe kapanpun punya gua. Lo tuh cuma Upik abu!" maki Manda lagi sambil mencengkram kuat kedua pipi Gladys membuat sang empu menjadi kesakitan.


kedua anak buah Manda kini siap dengan dua ember ukuran besar di tangan mereka masing masing yang berisi dengan air dan juga campuran telor busuk didalamnya.


disisi lain devano uring uringan menunggu Gladys di parkiran sejak tadi, dirinya tak tahu mengapa ia merasa bahwa Gladys sedang dalam masalah.


hingga salah satu siswa yang berambut ikal tadi yang sempat merecoki mereka di kelas mendatangi Devano dengan tergesa gesa.


"Van, gua tadi liat Gladys lagi di keroyok sama Manda di toilet cewe!" ucap laki laki itu dengan nada ngos ngosan.


Devano yang mendengar pun langsung berlari menuju toilet perempuan sambil umpatan yang tak henti hentinya keluar dari mulutnya.


"bangsd cewe jalang, liat aja apa yang gua lakuin kalo sampe cewe gua kenapa Napa!" ucap Vano dengan nada amarah.


di toilet perempuan, keempatnya masih terus saja beradu. Gladys yang sudah tak bisa berkutik pun hanya pasrah dalam hati kalau ada seseorang yang bisa menolongnya sekarang.


vano Lo dimana tolongin gua, batin Gladys dalam hati.


jambakan demi jambakan pun terus saja dilakukan oleh Manda hingga membuat beberapa rambut Gladys menjadi rontok dan juga jangan lupakan rasa perih yang terus menjalar. sedangkan kedua dayangnya ikut turun tangan menampar kedua pipi Gladys kanan dan kiri.


saat akan menumpahkan kedua ember itu di atas tubuh Gladys suara dobrakan pintu membuat ketiganya kaku di tempat.


brak!


vano dengan kilatan amarah di kedua matanya menatap satu persatu yang ada di dalam toilet.


"apa yang Lo lakuin sama cewe gua bangsd?!" teriak vano dengan kobaran kilat amarah menatap Manda.


"sayang, gu- gua cuma kasih pelajaran aja sama jalang ini," ucap Manda membela diri yang justru membuat vano makin bertambah emosi.


"siapa yang Lo bilang jalang bangsatttt!" maki vano membuat seisi toilet menjadi kaku tak bisa berkutik.


Gladys yang berada di ujung toilet pun juga tak bisa berbuat apa apa, ia juga merasakan hawa yang mencekam menyeruak di dalam toilet ini. ia tak pernah membayangkan jika Devano yang ia kenal dengan sifat yang tenang bisa semengerikan ini.


Devano mendekat kearah Gladys yang sudah tertunduk lemah di ujung toilet.


ia menyampirkan jaket jeasnya ke tubuh Gladys agar menutupi tubuh bagian atas gadis itu yang sedikit basah.


"oh, ini ember buat apa?" tanya Devano menatap ember yang tak jauh dari tempat kedua dayang Manda berada.


ketiganya semakin ketakutan ketika melihat Devano berjalan kearah mereka lalu...


byur!


kedua ember yang tadi berisikan air dan telor busuk ia siram tepat diatas Mada dan kedua dayangnya membuat ketiganya berteriak.


lalu tak lupa juga bonus satu tamparan tepat di pipi mereka satu persatu.


niatnya Devano juga ingin menguliti satu persatu tubuh dari ketiga gadis didepannya. namun mengingat Gladys yang masih lebih membutuhkannya ia mengurungkan niatnya dan akan memberikan mereka hadiah lain waktu.


tunggu saja kelanjutan permainan Devano ciwi ciwi.


dengan entengnya Devano mengangkat tubuh Gladys ala bridal style lalu keluar dari bilik toilet menuju ruang UKS.


di ruang UKS Devano dengan telaten mengompres bekas lebam akibat tamparan Manda tadi dengan air dingin agar tidak menimbulkan efek kebiruan.


Gladys terus saja menatap devano lekat sambil tersenyum.


"aku tau aku ganteng, jadi gapapa deh kalo diliatin terus kek gitu," ucap vano dengan gaya ke pd-annya.


Gladys tertawa, "iya iya kamu ganteng," ucap Gladys menggantungkan omongannya.


"kalo diliat dari ujung Monas pake sedotan teh gelas!" lanjut Gladys dengan diiringi suara tawa yang pecah membuat seisi ruangan menggema dengan tawanya.


Devano mencubit hidung Gladys, "dasar ya!"


selesai mengompres bekas tamparan tadi. Vani menatap lekat manik mata Gladys yang duduk didepannya.


satu tangannya terulur mengelus bekas tamparan di pipi Gladys, "masih sakit?" tanya Devano pada Gladys.


Gladys menggeleng, " engga, udah ga sakit. cuma tamparan doang kan," ucap Gladys dengan senyum yang mengembang.


sungguh Gladys adalah perempuan yang kuat pikir devano dalam hatinya.


"maaf ya, aku gagal jagain kamu, coba aja aku tadi nekat ikut kamu. ga bakalan kayak gini," ucap Devano meminta maaf dengan nada bersalah.


Gladys menggenggam kedua tangan vano lalu menatap manik mata vano lekat, "ga usah minta maaf, kamu ga salah. toh aku baik baik aja," ucap Gladys meyakinkan.


Devano tersenyum lalu mengecup tangan Gladys yang terpaut pada tangannya.


"cie yang blushing," goda vano pada Gladys yang pipinya sudah memerah.


" apaan sih, udah ih," elak Gladys memalingkan wajah.


tawa Vano pecah, " duh... imut banget pacar aku," puji vano pada Gladys.


" udah ah, beli es krim yuk!" ajak Gladys lalu menarik tangan lelaki itu keluar.