
suasana sekolah kini sudah cukup ramai saat Gladys dan Devano memasuki area SMA Pancasila. banyak pasang mata yang menatap keduanya heran bahkan ada juga yang sampai berteriak histeris saking hebohnya. udah kayak liat manusia punya kepala tiga njjer.
Gladys menyusuri koridor menuju kelasnya yang berada dilantai tiga.
bukannya devano kembali kelasnya sendiri ia malah mengikuti Gladys hingga gadis itu sampai didepan kelasnya sendiri baru ia pergi.
"belajar yang rajin sayang," ucap Devano lalu mengecup pucuk kepala Gladys sekilas.
teriakan heboh pun terdengar menggema dari dalam kelas, mereka yang melihat menjadi iri sebab Devano yang mereka puja puja kini telah menjadi milik orang lain.
"seharusnya gua tuh yang ada di posisi Gladys bukannya si Gladys!" geram siswi yang berambut sebahu.
"aaa... gua iri, mama kapan jodoh gua nongol!"teriak siswi kedua yang ikutan heboh.
banyak teriakan, umpatan bahkan cacian yang terdengar. tpi, Gladys berusaha terlihat cuek dan biasa saja sebab beginilah konsekuensi jika berpacaran dengan salah satu most wanted sekolah. tapi, seharusnya mereka berterima kasih sebab mereka tidak berurusan dengan psikopat gila!
jika kalian bertanya tentang jantung Gladys, beh... jangan ditanya lagi bagaimana keadaannya. so pasti sudah jedag jedug tidak karuan, tapi untung saja semburat pipinya yang berwarna merah mampu ia kendalikan. berdekatan dengan devano sungguh mampu membuat siapa saja menjadi spot jantung pagi pagi, hais...
Gladys mendudukkan pantatnya di kursi yang berada di dekat tembok nomor dua didepan tempat duduk Resa dan Megan.
kenapa ia memilih tempat duduk didekat tembok urutan nomor dua?? jawabannya hanya nyaman saja. so, simple guys jawaban Gladys.
ok, Gladys menaruh tas beserta semua bawaannya dimeja. ia hari ini terlalu malas untuk keluar kelas sekedar pergi ke kantin. pdahal ia sama sekali tidak sarapan hari ini sebab Devano yang menjemputnya kerumah.
"heh! Lo ko bisa sih kegatelan sama devano, pake pelet apa Lo?!" tuduh salah satu siswi yang tadi berambut pendek yang diketahui bernama Manda dari name tag yang terpasang di bajunya.
Gladys memutar jengah bola matanya, " mau tau gua pake pelet apa?" tanya Gladys menggantungkan omongannya.
Manda tetap menatap Gladys dengan tatapan sengit, sebab ia sendiri telah mengklaim devano sebagai kekasihnya. namun, hanya sepihak. dasar gila!
"gua pake pelet jaran goyang asal Lo tau," lanjut Gladys. Manda yang mendengar pun menjadi geram, pasalnya jaman sekarang siapa yang menggunakan pelet modelan seperti itu. dasar naif!
"heh, gua kasih tau, Devano cuma milik gua seorang!"tekan Manda diakhir kalimat. Gladys hanya mengedipkan bahu tanda tak peduli lalu melirik Manda, "emang gua pikirin!" ejek Gladys.
"Lo!"geram Manda sambil menunjuk tepat didepan wajah Gladys.
Manda yang sudah terlampau kesal dengan sikap Gladys, hendak menjambak rambut gadis itu, namun sebelum tangannya menyentuh rambut Gladys suara dingin seseorang langsung menginterupsi membuat pergerakannya terhenti dengan tangan yang masih melayang di udara.
"berani Lo sentuh milik gue, Lo berurusan dengan belati yang ada di saku gua!" ancam lain laki itu. siapa lagi jika bukan devano.
seketika Manda merasakan tubuhnya meremang mendengar pernyataan devano dan segera menarik tangannya lalu pergi begitu saja dengan perasaan yang dongkol bercampur dengan takut akibat tatapan intimidasi yang dilayangkan devano.
Gladys menoleh mengapa devano yang berdiri diambang pintu, "ngapain Lo disini?" tanya Gladys heran.
devano berjalan santai memasuki ruang kelas Gladys, " gua kangen my pacar, emang ga boleh?" jawab vano dengan suara yang sengaja ia tinggikan supaya para ciwi ciwi di kelas itu tau diri bahwa ia sudah menjadi milik Gladys seorang.
Gladys mengedikkan bahunya acuh, "paan sih Lo, jayus tau ga," malas Gladys. tapi tak bisa di pungkiri bahwa pipinya sudah memerah ditambah jantungnya yang sudah mau copot.
"yailah bilangnya jayus, tapi pipi Lo aja blushing," ejek vano sambil menoel pipi Gladys.
"woi, kalo mau pacaran Sono di lapangan jangan di mari, ga kasian lu Ama kita semua yang jomblo?!" teriak salah satu siswa laki laki yang berambut ikal yang berada di pojokan kelas bersama temannya.
"tau tuh, kita jomblo mah bisa apa ****!" saut yang berambut lurus satunya lagi menimpali.
"Yee... makanya kalo lu pada jomblo mending nonton aja, ketahuan bat lu pada kaga laku!" saut devano sambil berteriak. cibiran demi cibiran dilayangkan pada devano karena membuat mereka kesal akibat kejonesan yang menimpa.
Gladys menutup wajahnya karena malu, sungguh mulut devano jika sudah nyeplos ga bisa di rem lagi. tapi, satu hal lagi yang terungkap pada diri devano, kebucinan yang akut.
\-\-\-000\-\-\-
"sekarang yang udah ada pacar mah beda ya," ejek Resa pada Gladys yang duduk disampingnya.
"bener tuh, temen aja sekarang mah ditinggal ya," sindir Megan menimpali.
mereka berdua bersekongkol mengejek Gladys yang kini lengket dengan devano. ralat, bukan Gladys yang lengket dengan devano, tapi vano sendiri yang lengket dengan Gladys.
"Lo berdua bisa diem ga sih, mau gua sumpel tuh mulut pake sambel?"geram Gladys pada kedua setan yang berada di sampingnya. sedari tadi mulut mereka tak pernah bisa diam sesampainya mereka di kantin, selalu nyeroscos tanpa lampu merah.
"ye, dasar lu kecot!" ucap keduanya. Gladys hanya mengedikkan bahu acuh.
"Ra, hubungan lu sama devano gimana?" tanya Megan.
Gladys menoleh kearah Megan, "gimana maksudnya?"
"ya intinya gimana gtu, aduh susah gua jelasinnya," ucap Megan sedikit gelisah.
"maksud Lo gimana sih, gaje tau ga!" kesal Gladys.
"aduhh... Gladys maksudnya hubungan Lo udah tahap mana sama devano, soalnya kemarin gua sama Megan ga sengaja ngintip devano malem malem masuk kamar lu," terang Resa dengan wajah polosnya.
shit!
Gladys menatap kedua temannya dengan pandangan tak percaya. Megan sibuk mencaci maki Resa yang mulutnya tidak bisa diajak kompromi barang sedikit saja. kenapa selalu asal nyeplos kek telor ceplok sih!
"Lo berdua tau dari mana ha?!" tanya Gladys mengintimidasi.
"hm... itu kita ga sengaja lewat depan rumah Lo, Trus kita ga sengaja liat devano masuk kekamar Lo lewat jendela," jelas Megan hati hati.
Gladys menghembuskan nafas jengah, "gua ga ngapa ngapain sama vano. tu anak aja tiba tiba asal nyelonong kek maling ke kamar gua,"
kedua temannya pun hanya manggut manggut paham dan tak ingin bertanya lebih dalam lagi.
"ini semua gara gara kalian berdua tau ga sih, gua jadinya harus berurusan sama Devano," ucap Gladys membuat aksi makan Resa dan Megan berhenti. mereka saling adu tatap.
"udah lah jalannin aja, ga susah ko cinta sama Devano. buktiin deh," saut Megan diakhiri dengan cekikikan.
"sialan Lo berdua!" sungut Gladys.