Abstract

Abstract
6



bagi sebagian orang tidur adalah hal yang paling nikmat rasanya. begitu pun dengan Gladys yang kini tengah berguling manja dengan kasur beserta guling kesayangannya.


dirinya tengah berkelana menuju dunia impian berlayar menyusuri dunia fana yang diimpi impikan. bermimpi bersama seorang pria tampan beserta pria yang paling ia puja puja. siapa lagi jika bukan Zayn Malik.


scene mimpi pun dimulai dimana Gladys tengah berjalan jalan ditengah tengah taman yang indah dengan rumput hijau beserta bunga sakura yang berwarna pink menyeruak menghiasi kisah ala Gladys dan Zayn Malik.


saat keduanya bermadu kasih hingga tiba saatnya keduanya berada disebuah jalan setapak yang berada tak jauh dari Taman tersebut. dimana Zayn Malik bersimpuh didepan Gladys dan memperlihatkan sebuah kotak kecil beludru berbentuk hati dengan warna merah, dimana didalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang indah.


Gladys menutup mulutnya saking kagetnya karena tak menyangka sang idola Zayn Malik melamarnya di tempat yang seindah ini. Namun, saat Zayn Malik akan memasangkan cincin pertunangan mereka tiba tiba saja...


bruk!


"aww... pantat gua tolong, aduh,"ringis Gladys saat terjatuh dari tempat tidurnya. ia mengusap ngusap pantatnya dan segera bangkit dari lantai, mengingat kejadian yang dia alami barusan adalah sebuah mimpi belaka tanpa bisa jadi sebuah fakta. kembali meringis menatap nasibnya yang kandas saat akan bertunangan dengan Zayn Malik harus tiada.


saat hendak bangun dari lantai tiba tiba saja suara seseorang menginterupsi nya dan membuatnya terlonjak kaget saking terkaget kagetnya.


"hai,"sapaan seseorang. Gladys yang hendak berdiri harus bernasib sial untuk kedua kalinya sebab tak sengaja lengan sikunya yang harus berciuman dengan ujung kasur. uh... terbayang bukan rasanya bagaimana. rasanya seperti anda menjadi Ironman. ngilu guri guri nyoss gtu...


seketika mata Gladys melotot melihat siapa yang membuatnya terkaget kaget hingga harus bernasib sial.


dia Devano, dengan wajah tanpa dosa ia memandang Gladys yang mati Matian meredam amarahnya agar tidak meledak. bukannya Devano tidak peka, namun baginya wajah Gladys Yang sedang marah ditambah dengan semburat merahnya membuat devano menjadi betah memandang. ya, menurutnya lucu. tapi dimana lucunya Ngan? yang ada serem bagi gau hahaha


sungguh devano memang minta ditampol. kalo di adegan adegan kartun atau film, mungkin saja kedua telingan Gladys sudah ngebull akibat asap yang keluar dari sana hihihi.


karena tak kuasa tawa devano pun pecah, membuat Gladys tambah kesal dan juga jengkel yang sudah berada di ujung tanduk.


tanpa belas kasihan Gladys dengan sadisnya menjambak rambut devano hingga membuat sang empu meringis karena tarikan yang cukup kuat dari Gladys ditambah lagi dengan tendangan maut yang ia layangkan pada tulang kering Devano. untung saja keadaan rumah kini sepi, jika ramai habis sudah Gladys oleh kedua orang tuanya karena ketahuan membawa laki laki masuk kedalam kamar.


Devano dan Gladys bertatapan satu sama lain. bukan tatapan saling memuja atau tatapan kasih sayang, melainkan tatapan maut dari keduanya. Gladys menaikkan salah satu alisnya bertanda "apa"


devano ikut menaikkan salah satu alisnya juga, "apa?" tanyanya dengan santai.


Gladys mendengus dan membuang nafas kasar, ia harus mengalah karena jika terus seperti ini. ia pasti yakin bahwa pertengkaran pasti akan terjadi.


"ngapain Lo disini?"tanya Gladys sembari duduk dimeja nakas samping tempat tidurnya dengan kedua tangan yang dilipat didepan dada menatap lurus pada devano.


devano berdehem mengubah mimik wajahnya seperti biasa yaitu datar dan dingin, "emang kenapa kalo gua disini, suka suka gua lah!" sewot devano. lah, otaknya devano konslet kali yak.


satu lemparan buku tulis mendarat mulus di wajah devano.


"Lo ngapain lemparin gua pake buku anjir!"sungut devano sambil menyingkirkan buku tadi.


"ya gua nanyak bener bener anjir, ngapain Lo disini?" sungut Gladys yang tak mau kalah.


"gua kangen pacar gua, emang ga boleh?"


sesuatu yang hangat seketika menjalar ditubuh Gladys, ia seperti terkena sengatan listrik mendengar ucapan devano. padahal ia tau itu hanyalah bualan semata, namun efeknya mampu membuat spot jantung padanya. tolong lama lama Gladys bisa bisa terkena penyakit jantung akut.


"cie yabg blushing,"goda Devano sambil berjalan mendekat dan mencolek dagu Gladys dengan jari telunjuknya.


Gladys menepis tangan devano, "apaan sih Lo, gaje banget!" sanggah Gladys yang sudah mulai salting.


devano tiba-tiba memajukan wajahnya, dengan refleks Gladys menahan nafas. hembusan nafas hangat dari devano yang mengenai kulitnya sukses membuatnya kembali merasakan aliran listrik dan juga sengatan sengatan aneh ditubuhnya. ia sangat-sangat merasakan bahwa kini pipinya pasti sudah seperti kepiting rebus.


devano terus saja mengikis jarak diantara mereka hingga berhenti tepat di sebelah telinga Gladys lalu berbisik, "badan Lo bau," ucap devano.


refleks Gladys menjadi melotot dan mendorong tubuh kekar devano hingga membuat laki laki itu terjatuh diatas kasur, Gladys yang merasa pipinya masih memerah dengan kecepatan kilat berlari kedalam kamar mandi.


tawa renyah dari devano terdengar menggema dipenjuru kamar.


"cie yang blushing hahhaa, mandi yang bersih ya sayang!" teriaknya di luar kamar mandi.


---000---


sebuah motor besar sudah terparkir rapi didepan pekarangan rumah Gladys, siapa lagi yang pemiliknya jika bukan Devano.


Gladys memutar kedua bola matanya jengah, dirinya masih sebal akibat ulah devano kemarin malam. walau demikian diam diam dirinya tersenyum mengingat kejadian kemarin, itu kali pertamanya ia dibuat blushing oleh seorang laki laki yang belum lama ia kenal. sebelumnya saat seseorang mengatakan hal hal seperti itu pasti ia akan merasa ilfeel bahkan eneg dibuatnya. namun, guyonan receh yang dibuat devano mampu membuat dirinya menjadi blushing bahkan salting. satu hal lagi yang terungkap dari diri devano, sosok humoris yang dimilikinya.


"Lo mau sampai kapan berdiri disana?"tanya Devano yang sudah adem ayem nangkring diatas motor dengan helm berwarna hitam ditangannya.


Gladys tersadar,"Lo ngapain disini?" tanya Gladys dengan bodohnya.


Devano mendengus kesal, "nungguin dagang sayur yang biasa lewat depan rumah Lo!" jawab devano asal.


Gladys pun mencibik kesal lalu mengerucutkan bibirnya. kemudian melangkah menuju devano.


"udah deh itu mulut kaga usah dimonyong monyongin, ngode mau dicium hm?" goda devano dengan alis dinaik turunkan.


Gladys menggeplak kepala devano yang terbalut helm full face membuat sang empu meringis. kemudian langsung merebut helm hitam yang berada ditangan devano dengan kesal.


lama devano menunggu Gladys yang tak kunjung selesai memakai helm, hingga membuat dirinya menjadi ikutan kesal. dengan sabar Devano meraih kaitan helm milik Gladys dan sedikit mencondongkan tubuhnya didepan Gladys agar mudah memasangkan kaitan helm. namun, perlakuan devano sukses membuat Gladys menjadi bushing dan juga spot jantung. oh tuhan, apa devano ga sadar apa yang dia lakuin bikin orang jadi terkena penyakit jantung?


selesai memakaikan helm devano segera menyuruh Gladys naik dan menyalakan mesin motornya.


"pegangan di pinggang gua Glad," titah devano yang ditolak oleh Gladys.


sebuah ide jahil muncul di otak mungil Devano, ia segera menggas motornya dan membuat Gladys refleks memeluk pinggang devano erat karena takut terjatuh.


"devano sialan!" teriak Gladys tepat disamping telinga devano yang membuatnya tertawa terbahak bahak di balik helm full face nya.