![Absently [ON GOING]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/absently--on-going-.webp)
"Nya, lo berangkat bareng gue aja hari ini".
Ajak gue pada adik tiri gue
"Kenapa gue harus sama lo?". Tanyanya seperti biasa dengan nada datar yang khasnya
"Yaa karena kita punya jadwal kelas yang sama. Nggak ada salahnya kan kakak adek berangkat barengan. Emang lo nggak mau disopirin sama manusia paling cakep ini".
"Sejak kapan kita sedekat itu?". Lagi-lagi dia bertanya dengan datarnya.
"Sejak lo resmi jadi adik tiri gue lah. Amnesia lo. Lagian nih ya gue udah diamanahin sama Ayah buat jagain lo".
"Lo nggak perlu repot-repot. Gue bisa jaga diri sendiri".
"Et et et nggak bisa. Pokoknya nggak ada penolakan. Mulai hari ini setiap hari Selasa lo dan gue berangkat bareng". Gue merebut kunci mobil dari tangan Nyanya dan menarik nya masuk ke mobil
"Anteng-anteng aja ya disini adekku". Goda gue pada Nyanya yang terlihat kesal
"Emang yah dari awal gue ketemu lo gue udah nggak srek. Emang dasarnya lo tu nyebelin dan bikin orang naik darah. Nggak nyangka aja sekarang lo jadi saudara tiri gue. Kalau nggak udah gue bikin babak belur lo". Gue yang melihatnya ngomel-ngomel hanya tersenyum kecil dan semakin meledeknya.
"Lo jaga mobil gue baik-baik. Awas aja sampai lecet. Wajah lo gantinya". Sesampainya di kampus Nyanya keluar mobil dengan wajah juteknya sambil sedikit membanting pintu mobilnya. Aneh katanya nggak boleh dibikin lecet. Itu malah dia sendiri yang mau rusakin mobilnya. Setelah itu gue menjalankan mobilnya kembali. Namun secara nggak sengaja gue lihat buku di bawah tempat kaki Nyanya duduk tadi. Emang dasar teledor. Akhirnya gue memundurkan mobilnya lagi.
"Nyaa". Teriak gue
"Apa lagi?".
"Lo tu ya jadi orang teledor banget. Nih buku lo ketinggalan dimobil. Untung gue lihat tadi kalau nggak pasti lo udah kesusahan nggak ada buku buat referensi belajar nanti". Nyanya mengambilnya dan pergi begitu saja.
"Nya. Lo nggak berterimakasih dulu gitu". Gue menahan tasnya hingga membuat Nyanya sedikit tersentak
"Hufft...Thanks". Dengan nafas kasar dan terpaksa Nyanya berterimakasih ke gue, walaupun gitu gue tetap biasa aja, nggak sakit hati kok tenang.
"Yaudah, yang rajin belajarnya ya adikku. Semoga bisa jadi dokter yang sukses". Gue lagi-lagi menggoda Nyanya sambil mengelus lembut kepalanya.
"Yaudah sana pergi. Udah nggak ada urusan lagi kan sama gue".
...----------------...
"Selamat siang semuanya. Pertama Ibu ucapkan selamat untuk kalian yang terpilih untuk bisa menempuh pendidikan di universitas ini. Dan karena kalian adalah mahasiswa baru mari kita mulai dari perkenalan diri. Kalian pasti sudah tau nama Ibu dari krs yang kalian ambil. Tapi ibu akan memperkenalkan diri lagi, nama Ibu Lestari Hernawati. Ibu sudah mengajar di universitas ini selama lebih kurang 8 tahun. Dan ibu bertanggungjawab terhadap mata kuliah ilmu penyakit dalam. Baik, setelah perkenalan diri Ibu, mari kita memilih perangkat kelas. Sekarang siapa yang ingin mengajukan diri untuk menjadi komting dan wakomting". Saat itu gue melihat ternyata tidak ada yang mengangkat tangan atau mengajukan diri. Gue berfikir lagi akan ada bagusnya kalau gue ngajuin diri karena bisa jadi ini salah satu kesempatan gue untuk berkembang terutama bisa jadi pemimpin yang baik nantinya diberbagai kegiatan. Apalagi gue dengar-dengar jadi komting juga bisa dapat nilai bagus
"Saya Bu". Akhirnya dengan tekad yang bulat gue mengajukan diri
"Iya, silahkan perkenalkan diri kamu".
"Perkenalkan nama saya Anggia Denise Seleyyia. Bisa dipanggil Nyanya. Angkatan 21 dengan No Bp 211001227".
"Baik, bagaimana mahasiswa ibu. Apakah setuju untuk memilih Nyanya sebagai komting, melihat tidak ada yang mau mengajukan diri".
"Setuju Bu". Sekelas serempak setuju, mungkin mereka tidak ingin berlama-lama untuk pemilihan.
"Kalau begitu, siapa yang mau menjadi wakil komtingnya? Kalau tidak ada yang mau Ibu yang akan menunjuk". Namun, tetap tidak ada yang berani. Mungkin karena masih pertama kali banyak yang sedikit ragu untuk mengambil tanggungjawab dikelas sebagai ketua ataupun wakil.
"Baik, Ibu tunjuk Cowok yang ditengah pake kacamata itu". Gue sama sekali nggak melihat siapa itu, karena nanti juga dia bakal hubungi atau nyamperin gue sendiri.
"Saya bu". Suaranya terdengar berat
"Iya kamu yang pake kemeja biru kotak-kotak. Perkenalkan diri kamu".
"Saya Almahen Rhys Garvez. No Bp 2008050317 "
"Oke sekarang kita udah punya komting dn wakomting. Nanti kalian yang bertanggungjawab terhadap urusan kelas ini, mulai dari kehadiran hingga pembagian kelompok. Nanti Nyanya selaku komting temui ibu diruangan fakultas untuk mengambil buku absen. Peraturan dikelas ini pertama tidak ada yang boleh absen selama satu semester lebih dari 3 kali. Kedua jika ada yang berhalangan hadir ke kelas tolong hubungi komting atau wakomting dengan alasan yang bisa diterima. Ketiga siapa saja yang menitip absen maka akan dapat pengurangan nilai. Keempat, mahasiswa ibu yang ikut organisasi atau kepanitiaan silahkan memberi surat izin dari organisasi atau acara yang diikuti. Sampai sini mengerti".
"Mengerti Ibu". Kami sekelas kompak untuk menjawab ibu Tari
"Baik kita lanjut. Mengenai mata kuliah Ilmu penyakit dalam kita akan membahas beberapa materi yang nantinya akan kita langsung praktek diminggu berikutnya. Dan sebelum itu ibu sudah mengirim diportal krs kita selama 1 semester ini silahkan dibuka dan dibaca dulu. Ingat 1 semester ini kita ada 14 kali pertemuan belum termasuk minggu ujian dan hari libur nasional jadi kita akan memaksimalkan jadwal kuliah. Ibu permisi keluar sebentar". Setelah itu ibu Tari keluar selama beberapa menit dan beberapa orang terlihat saling berkenalan. kecuali gue.
Jujur gue bukan orang yang social butterfly. Cukup susah juga sih bagi gue untuk berteman dengan orang baru. Apalgi gue tipe orang yang cukup cuek. Tapi karena gue adalah komting dikelas ini mau nggak mau gue harus sedikit ramah pada teman-teman sekelas.
"Teman-teman semua ini absennya nanti tolong dijalanin ya. Tolong sekalian nanti Dibuat no wa nya biar aku gampang add ke grup wa nantinya. Untuk absennya nanti nitip ke wakomting aja atau nanti siapa aja yang terakhir megang absennya bisa ngasih ke aku dikelas E1.5".
Gue sudah bersiap untuk keluar kelas. Namun tiba-tiba ada yang mendobrak meja gue. Gue sama sekali nggak kaget cuma heran aja sama orang satu ini.
"Ini nih cewe keganjean yang deket-deket sama Mahesa anak arsitektur". Gue yang melihatnya marah-marah hanya mengernyitkan wajah.
"Lo siapanya Mahesa emang?". Gue balik bertanya
"Calon pacarnya kenapa? nggak suka? Bentar lagi gue bakal jadi pacarnya dan lo gue peringatkan jangan dekat-dekat sama dia".
"Masih calon kan dan belum tentu juga dia nerima lo jadi pacarnya. Dan lo nggak punya hak untuk ngatur-ngatur apalagi ngancem gue".
"Oh jadi lo berani sama gue HAH!!! Nggak ada hormat-hormatnya lo ya sama kating". Dia semakin menjadi berteriak dan gue mulai berdiri dari duduk gue
"Jadi lo kating. Denger ya kating terhormat lo kalau mau dihormati tolong hormati orang lain. Dengan lo bersikap begini siapa yang mau segan sama lo. Yang ada orang ilfeel sama lo, apalagi lo mempermalukan diri lo sendiri kaya gini mana didepan junior lo lagi". Gue mengambil tas gue dan pergi melenggang keluar dan bertepatan gue berpaspasan sama Dea kakak tiri gue.
"Lo diapan sama dia?". Tanyanya
"Udah lo mau ngapain. Nggak usah digubris orang stress kaya gitu. Mending lo pulang, udah nggak ada kelas kan".
"Gue bela-belain dari fakultas gue kesini buat ngajak lo makan siang dan gini balasan lo".
"Sejak kapan lo jadi sok care gini ke gue?". Gue menunjukkan smirk
"Bodoh amatlah, Buruan gue laper". Dan kakak tiri gue berjalan duluan ninggalin gue.
"Lo bayarin". Sesampainya dicafe fakultas kami memesan makanan dikasir dan setelah itu gue pergi meninggalkan dea sendirian di meja kasir dan gue pergi dengan santai mencari meja kosong.
"Tumben banget lo nyamperin gue ngajak makan bareng". Ucap gue tanpa menatapnya
"Gue yang heran sama lo. Apa susahnya sih lo bawa bekal dari rumah. Mama tuh cemas sama lo karena lo hobby telat makan, lo kan punya maag. Ntar siapa yang repot kalo maag lo kambuh dikelas". Gue hanya meledeknya. Disaat asik-asiknya gue berdebat sama manusia satu ini. Tiba-tiba seorang cewe datang ngehampiri kita.
"Hii Nyanya kenalin nama aku Azalea Salsadilla. Panggil aja lea Angkatan 21 juga. Kita sekelas mata kuliah ilmu penyakit dalam 1.3 tadi. Salam kenal yaa.".
"Hai juga Lea. Aku Nyanya salam kenal juga".
"Nyanya aku boleh satu kelompok sama kamu ngga? Tapi kalau nggak boleh juga nggak papa heh". Tanyanya dengan sedikit ragu dan gue bukan tipe orang yang pilih-pilih teman. Bagaimanapun juga kalau gue dapat teman sekelompok yang hanya nompang nama yah nggak bakal mau lah gue. Tapi jika dia mau sekelompok sama gue dan mau bekerja sama gue sih okeoke aja
"Boleh silahkan, dengan senang hati". Gue tersenyum padanya agar kami tidak terlalu canggung".
"Makasih banyak Nyanya". Dengan refleks dia memeluk gue yang agak kaget
"Aku pikir kamu bakalan nolak aku untuk jadi teman sekelompok kamu". Ucapnya setelah melepaskan pelukan tadi.
"Haha santai aja. Gue juga nggak milih-milih teman sekelompok kok. Gue nggak mau repot-repot, kalau gue dapet anggota kelompok yang nggak mau kerjasama alias hanya nompang nama gue sih nggak bakal buat namanya di laprak. Tapi kalau bisa bekerjasama dengan baik gue bersyukur banget".
"Oh ya aku boleh gabung makan bareng nggak?".
"Iya duduk aja. Lo udah mesen makanannya?. Tanya dea
"Dia Dea kakak gue". Ucap gue pada Lea yang keliatan binggung mau memanggil siapa pada dea
"Oh gitu hehehe, udah kak".
"Oh iya hampir lupa, nih absen tadi. Kebetulan tadi aku yang ngisi terakhir. Terus tadi aku juga denger kelas E1.5, aku juga ada mata kuliah dikelas itu juga nanti jadi aku pikir mungkin kita sekelas lagi. Eh nggak taunya aku lihat kamu dikantin, yaudah aku nyamperin kamu mau kenalan sekalian ngasih absen". Ucapnya panjang lebar. Lea ini terlihat seperti anak yang seru dan periang. Bisa dilihat dari caranya berbicara dan selalu tersenyum cerah.
"Bagus dong kalau kita sekelas lagi". Kebetulan pesanan kami sudah datang jadi ucapan gue sedikti terpotong
"Eh tapi tadi kamu keren banget loh waktu balas kating itu". Gue yang mendengarnya hanya tertawa canggung.