Absently [ON GOING]

Absently [ON GOING]
2



Kenalin, Gue Anggia Denise Seleyyia. Panggil aja gue Nyanya. Tahun ini gue baru memasuki usia 18 tahun sekaligus tahun ini juga gue tamat SMA. Dan keinginan gue adalah masuk Universitas Internasional Moraine Fields . Karena gue dari dulu sangat menginginkan menjadi mahasiswi disana. Bukan karena itu sekolah favorit saja, tapi universitas itu juga sangat banyak melaksanakan program pertukaran pelajar. Dan gue sangat ingin nantinya gue bisa ikut program pertukaran pelajar ke Los Angeles atau Jerman. Setidaknya diantara dua negara itu.


Gue adalah anak pertama dan juga terakhir, karena gua adalah anak tunggal dari Bunda dan Ayah. Bunda gue udah meninggal 2 tahun yang lalu karena penyakit jantungnya dan sekarang gue hanya tinggal berdua sama Ayah.


Gue suka dengan Matematika, tapi gue sangat ingin masuk ke sesuatu yang berhubungan dengan kesehatan. Gue juga merupakan atlet taekwondo dan judo.


Dan malam ini gue reunian bareng teman-teman SMA gue. Kalau biasanya orang orang reunian setelah sukses atau paling lama sekali setahunan, beda sama circle pertemanan gue. Kita reunian setelah 2 bulan sejak terakhir kali kelulusan sekolah. Kenapa? Karena setelah ini juga kami bakalan sangat sangat lebih sibuk untuk mempersiapkan ujian masuk perguruan tinggi, ada juga yang persiapan masuk sekolah kedinasan. Dan juga ada teman-teman gue yang udah lulus masuk perguruan tinggi jalur beasiswa dan SNMPTN, jadi mereka juga bakalan segera siap-siap menjadi anak kost ke luar kota. Makanya kita menyegerakan reuni.


Malam ini juga gue perasaan gue campur aduk. Bahagia karena bisa ngumpul bareng teman-teman lagi setelah dua bulan, tapi juga sedih karena bakalan pisah sebentar lagi untuk mengejar mimpi masing-masing. Gue juga merasa kesal karena harus ketemu sama dua orang pasangan itu. Dan kali ini gue merasa kecewa dan sedih mendengar perkataan Ayah yang ingin menikah lagi. Hari yang sulit.


......................


"Kenapa lagi sih lo?". Tanya sahabatku.


Setelah Ayah mengatakan ingin menikah lagi aku benar-benar marah dan meninggalkan rumah pergi ke rumah Anggun, sahabat gue sejak SD.


"Marah".


"Ya gue juga tau lo marah. Tapi kenapa sih. karena cowok?".


"Iya"


"Hah, sumpah karena cowok. Sejak kapan lo jadi marah cuma karena cowok". Ucap Anggun tak percaya.


"Iya cowoknya Bokap gue".


"Issh, sialan lo. Gue pikir cowo beneran".


"Terus lo pikir Papa gue bukan cowo beneran gitu".


"Ya bukan gitu maksud gue. Udah-udah sekarang lo kenapa. Cerita ke gue?!".


"Ayah mau nikah lagi". Gue mulai duduk di kasur Anggun.


"Terus, kenapa lo marah. Seharusnya lo senang dong bokap lo udah bisa buka hati untuk wanita lain".


"Ini baru dua tahun loh nggun. Dan Ayah gue udah punya wanita lain dan bahkan mau menikah. Kok bisa-bisanya Ayah secepat itu ngelupain bunda. Dan lo pikir gue bisa gitu dengan mudah nerima wanita lain sebagai nyokap gue. Nggak mudah nggun, Susah".


"Kok tiba-tiba lo jadi bukan kaya Nyanya yang gue kenal ya".


"Maksud lo apaan barusan ngomong gitu?". Gue semakin marah sekarang.


"Yang gue tau, lo itu punya pemikiran yang dewasa dan hari ini tiba-tiba pikiran lo jadi dangkal kaya gini".


"Emang salah ya gue mikir kaya gini?!". Dengan nada dongkol, gue mulai berdiri menjauh dari Anggun.


"Iya salah, salah besar. Seharusnya lo mikir dong Nya. Ini udah dua tahun, lo dan bokap lo cuma hidup berdua. Dua tahun itu bukan lagi waktu yang singkat. Udah seharusnya lo punya sosok ibu yang bisa ngejagain dan ngasih kasih sayang juga sama lo. Dan bokap lo lihat, dia pulang balik keluar kota, bolak balik kantor tiap hari sampe malam dan nyampe rumah, nggak ada siapapun yang nyambut dia, ngelayanin Bokap lo. Bokap lo juga butuh pendamping. Dan lo nggak mungkin selamanya ada disisi Bokap lo kan. Lo kadang pulang malam dan kedepannya lo juga bakal akan lebih sibuk dan jarang ada dirumah. Bokap lo bakal lebih kesepian. Dan bokap lo nggak mungkin kan ngandelin lo atau bibi doang untuk nyiapin makan. Mikir deh lo". Anggun mulai kesal dan mendekat pada gue sambil memegang kedua bahu gue.


"Gue juga tau itu. Tapi".


"Apa yang tapi?". Belum selesai gue melanjutkan perkataan gue, Anggun sudah duluan berbicara


"Ini terlalu cepat Nggun. Gue belum siap ada orang yang gantiin posisi bunda gue di hidup Ayah dan hidup gue".


"Terus sampai kapan. Kapan lo siapnya. Lo mau nunggu Bokap lu menua sendirian. Egois ya lo. Itu sama aja lo nggak mikirin bokap lo demi perasaan lo sendiri".


"Kasih gue waktu dong Nggun. Lo jangan marah-marah kaya gini ke gue. Gue juga pasti mikirin bokap kok. Gimana hidup bokap kedepan gue mikir. Tapi gue masih belum bisa menerima Wanita yang akan jadi istrinya. Iya oke gue egois. Silahkan bilang gitu. Posisi gue juga sulit sekarang. Lo maupun bokap gue juga nggak tau kan gimana perasaan gue. Nggak semua orang bisa menerima keadaan secepat itu. ". Gue menangis untuk pertama kalinya setelah dua tahun setelah kematian Bunda.


"Nya, Nya, gue minta maaf. Nggak maksud gue marah dan ngebentak lo kaya gitu. Tapi gue cuma mikirin lo, untuk lo juga". Anggun mendekati gue dan gue memilih menghindar.


"Gue pulang". Gue berjalan kekasur Anggun untuk mengambil Handphone dan tas gue.


"Nya, please lo jangan kaya gini dong. Lo lagi marah dan gue nggak akan biarin lo pergi sendirian. Gue anterin lo ya". Anggun tetap kukuh menahan gue


"Nggak usah".


"Gue mintamaaf sekali lagi Nya. Gue harap lo mikirin baik-baik". Anggun melepaskan tangan gue dengan berat hati.


"Kabarin gue kalau lo udah dirumah. Nya lo dengerin gue kan. Kalau lo udah dirumah kabarin gue, setidaknya kalau lo nggak mau nelpon balas aja chat gue".