Absently [ON GOING]

Absently [ON GOING]
5



Pagi ini gue bangun sedikit kesiangan. Karena semalam gue benar-benar tidak bisa tidur. Gue masih kepikiran mengenai rencana pernikahan Papa dengan mama dari 2 orang itu. Semalam setelah gue sejam lebih berjalan nggak tau arah dan berujung berhenti di taman dekat rumah. Sampai akhirnya Ayah berhasil nemuin gue di taman dekat rumah. Setelah itupun gue pulang ke rumah tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada Ayah dan melenggang masuk ke kamar.


"Ayah udah pergi Mbok?". Tanya gue ke si Mbok yang sedang sibuk memasak sesuatu. Karena biasanya setiap gue bangun pasti Ayah lagi duduk diruang makan sambil menunggu gue turun.


"Eh Udah bangun si eneng. Udah Neng, nggak lama ini baru berangkat kantor".


"Ayah emang nggak sarapan mbok. Kok makananya nggak rusak?". Tanya gue agak cemas. Karena jangan sampai Ayah nggak jadi sarapan gara-gara nungguin gue bangun.


"Tadi Bapak buru-buru pergi karena mau ketemu client katanya Neng". Ucap Mbok sambil menyajikan teh hangat di depanku.


"Yaudah mbok, tolong dibungkusin ya mbok, biar aku yang nganter ke kantor Ayah". Akhirnya gue sarapan sendiri dalam keadaan merasa bersalah karena susah berlaku seperti itu pada Ayah kemarin.


"Mbok dengar-dengar Bapak mau nikah lagi neng. Tapi Neng nggak setuju ya. Maaf yang neng, bukan maksud Mbok ikut campur urusan Neng sama Bapak. Tapi mbok juga kan udah lama kerja sama keluarga Neng, bahkan sejak Ibuk masih hidup Mbok juga udah kerja disini. Mbok juga lihat gimana neng tumbuh jadi gadis cantik seperti sekarang ini. Kadang mbok kasihan lihat Bapak neng, kalau neng lagi nggak dirumah atau pulang telat, bapak ngapa-ngapain sendirian, nggak jarang juga mbok lihat bapak ketiduran di ruang tengah lagi megang foto". Mbok bercerita padaku sambil memegang tanganku.


...........................................


"Ma, aku sama Mahesa pergi dulu ya". Gue yang baru keluar dari kamar langsung menghampiri Mama di teras depan.


"Kalian mau kemana?". Tanya Mama


"Mau pergi Jogging bentar ma ke taman". Ucap gue dan Mahesa berbarengan.


"Yaudah kita berangkat ya Ma. Assalamualaikum". Kita mencium Mama dan pastinya nggak lupa bersalaman.


"Hati-hati ya nak". Dan kita hanya tersenyum.


Akhirnya gue dan Abang kembar Gue, Mahesa, berdua ke taman menggunakan motor. Kita Jogging di taman sekitar 10 kali putaran dan itu menghabiskan waktu sekitar 45 menitan. Gue yang lelah akhirnya memilih duduk di bangku taman.


"Lo tunggu sini bentar. Gue mau ke toilet". Mahesa berlari kecil ke toilet. Kadang gue berfikir, kedekatan kami sampai sekarang membuat kami tidak memiliki pacar. Mungkin orang-orang mengira gue dan Bang esa adalah pasangan. Tapi gue dan Bang esa sendiri pun juga sampai sekarang tidak kepikiran untuk mencari pacar. Ya karena gue merasa dengan punya Bang esa sama aja dengan pacar sekaligus kakak sendiri.


"Yuk". Mahesa yang entah kapan datangnya langsung saja tanpa ba bi bu langsung menarik tangan gue hingga hampir saja lutut gue menabrak kursi taman.


"Ya sarapan lah. Nggak lapar lo". Ucapnya menoyor kepala gue.


"Ya laper lah. Lo tadi ngomongnya nggak jelas. Cuma yuk doang, mana ngerti gue. Pake acara dorong kepala gue lagi". Sambil mengerucutkan Bibir gue balas menoyor kepala Mahesa, Namun Mahesa berhasil mengelak.


"Buruan Nying". Lagi-lagi sifat nyebelin Mahesa keluar.


"Nyang nying mulu Lo. Yaudah buruan masuk".


"Eitsss, bentar". Tiba-tiba saat kami baru ingin memasuki Cafe, Mahesa berhenti mendadak membuat gue yang sedang sibuk melihat Ponsel, menabrak punggung Mahesa.


"Buset lo. Ngapain lo berhenti".


"Noh lo liat, siapa tuh cewe". Mahesa menunjuk ke cewe yang sedang berdiri sendirian sambil menyilangkan tangannya.


"Ngapain sih gue harus lihat dia sekarang. Bikin nggak mood aja deh". Gue kesal setelah melihat siapa yang ditunjuk Mahesa. Siapa lagi kalau bukan cewe yang katanya ogah jadi saudara kita.


"Ngapain ya tuh cewe sendirian pagi-pagi disitu". Mahesa berniat ingin menghampirinya


"Eh lo mau ngapain?".


"Ya nyamperin dia lah".


"No. Nggak ada cerita. Kita kesini mau sarapan. Udah nggak usah peduliin dia. Mending kita masuk, gue udah lapar. Tuh denger perut gue udah bunyi".


"Eihh, gila lo ya. Dia itu bentar lagi bakalan jadi saudara kita". Dengan bersikeras Mahesa ingin tetap menghampiri Nyanya.


"Bacot lo. Saudara apaan. Dia sendiri juga nggak sudi jadi saudara kita. Gue juga ogah jadiin dia adek gue. Iyuuhh". Gue akhirnya menarik Mahesa ke dalam cafe walaupun sejujurnya gue juga kepo ngapain cewe ngeselin itu pagi-pagi disana sendirian kaya orang binggung lagi. Apalagi kalau dilihat-lihat dari wajahnya tadi keliatan kaya ada masalah gitu. Eh ,kenapa gue jadi mikirin dia sih.