Absently [ON GOING]

Absently [ON GOING]
3



"Eh sumpah ya, tuh cewe berani banget main-main sama kita". Ucap gue ke Mahesa, si saudara kembar gue.


"Udah lah, mending sekarang kita pergi ke kantor mobil derek itu. Keburu malam". Mahesa menarik gue begitu saja hingga membuat gue sedikit tersentak.


"Mahesa lepasin. Gue capek tau. Masa iya kita mau jalan kesana, jauhhh. Pake taxi aja lah biar cepat". Keluh gue


"Jangan manja deh lo. Paling juga 20 menit nyampe".


"Gila lo. 20 menit tu berapa kilometer?!". Gue menoyor kepalanya


"Pake taxi aja ayokkk, Gue yang bayar". Akhirnya gue menawarkan sesuatu yang tidak akan ditolah sama Mahesa, Abang gue yang pelit kebangetan".


"Yaudah gue setuju". Ucapnya dengan wajah tidak bersalah


"Giliran gue yang bayar, mau lo". Gue memutar bola mata gue melihat kelakuan abang kembar gue.


"Baru itu doang. Tadi lo makan didalam berapa hah? siapa yang bayar? Terus yang kemarin-kemarin itu lo jajan untuk perawatan lo siapa juga yang bayar. Kadang nggak tau diri ya lo". Mahesa menarik sedikit rambut gue. Bukan kekerasan dalam bersaudara tapi hanya sekedar candaan yang biasa dilakukan kakak adik. Apalagi jarak umur kami hanya beberapa menit saja.


...----------------...


"Yah". Panggil gue pada bokap yang baru memasuki rumah setelah pulang kerja.


"Iya sayang?". Seperti biasa bokap menghampiri gue, memeluk dan mencium puncak kepala gue dan tak lupa suaranya yang lembut menenangkan hati gue. Tidak peduli walaupun gue marah-marah kemarin Ayah tidak akan pernah balik marah ke gue.


"Ayah pasti capek. Aku udah buatin makan malam buat ayah. Sekarang mending ayah bersih-bersih dulu aja, aku panasin dulu makanannya . Sini aku bawain tas ayah". Gue mengambil alih tas yang ada di tangan Ayah dan membawanya ke ruang kerja Ayah.


"Makasih ya sayang". Ayah tersenyum dan gue hanya mengangguk. Gue benar-benar nggak tega melihat ayah. Nggak tau kenapa tapi setiap gue melihat wajah ayah yang baru pulang kerja hati gue merasa seperti tidak karuan.


Beberapa menit kemudian.....


"Yah". Gue kembali memanggil bokap setelah selesai bersih-bersih dan sekarang sudah berasa di ruang makan.


"Kamu mau ngomong sesuatu?". Tanya bokap seakan mengerti.


"Yah, aku minta maaf ya kemarin aku marah-marah sama Ayah". Gue mulai berbicara sedikit untuk memulai pembicaraan intinya.


"Nggak papa sayang. Ayah ngerti, itu nggak mudah bagi kamu untuk menerima itu".


"Ayah tau kan kalau Aku sayang banget sama Ayah. Aku sedih ngeliat Ayah kaya gini". Gue mengambil jeda sebentar sebelum melanjutkan perkataan gue.


"Jadi setelah aku pikir-pikir lagi, Aku pengen ayah bahagia juga. Ayah juga butuh seseorang yang bisa ngertiin ayah, yang bisa selalu ada disisi ayah. Aku ikhlas kalau ayah ingin melanjutkan hidup dengan wanita lain selain Bunda ". Dengan menahan tangis gue berucap.


"A-apa, Ayah nggak salah dengar kan?". Ayah menatap gue dengan tatapan campur aduk. Mata ayah berkaca-kaca sama seperti gue.


"Sayang kamu serius kan?". Tanya bokap seakan-akan tidak percaya bahwa gue merestui untuk menikah lagi.


"Iya Yah, Aku serius. Ayah kan juga butuh pendamping. aku nggak bisa selalu ada di sisi ayah".


"Terimakasih ya sayang". Ayah memeluk gue dengan sangat erat.


"Tapi ada syaratnya". Ucap gue membuat pelukan Ayah merenggang.


"Syarat apa sayang?".


"Aku mau nanti setelah Ayah menikah, kasih sayang ayah ke aku nggak berkurang. Walaupun nanti ada istri baru ayah, Ayah harus adil beri kasih sayang untuk aku dan istri Ayah. Aku mau kasih sayang dan cinta Ayah tetap sama seperti kemarin dan sekarang. Yang pasti 100 persen kasih sayang ayah ke aku nggak boleh dibagi 2. Kalau mau ayah bisa tambahin kapasitanya jadi 200, jadi untuk istri Ayah juga dapat 100 persen kasih sayang Ayah". Gue bercanda agar situasi tidak terlalu dramatis seperti saat ini. Karena gue bukan tipe orang yang suka dengan keadaan saat ini.


"Oh iya pasti dong sayang. Ayah sekarang kan udah punya 200 persen. Seratus persen buat kamu dan 100 persen lagi buat istri Ayah. Jadi nanti kalian tetap dapat kasih sayang yang full dari Ayah. Tidak akan berkurang sedikitpun". Dan gue hanya tersenyum memeluk Ayah, walaupun senyum gue sedikit terpaksa, tapi melihat senyum Ayah yang sangat bahagia, gue jadi lebih sedikit ikhlas untuk tersenyum.


"Kalau gitu Ayah mau setelah selesai Ujian SBMPTN nya, kita ketemuan ya sama calon mama kamu. Ayah mau kamu fokus dulu untuk ujiannya, Ayah nggak mau kamu terbebani juga nantinya. Ayah mau yang terbaik untuk putri kesayangan Ayah ini". Dan gue lagi-lagi hanya mengangguk mengiyakan.


2 Bulan kemudian...


"Sayang, Ayah yakin kamu pasti lulus. Jadi kamu juga harus yakin ya. Kamu udah ngelakuin yang terbaik sejauh ini". Saat ini gue dan Ayah sedang berada dikamar gue. Dan kami saat ini tepat berada di depan layar laptop gue untuk menunggu pengumuman hasil ujian SBMPTN sebulan yang lalu. Gue deg-degan banget. Gue sangat berharap kalau gue bakalan bisa lulus masuk ke Universitas. Waktu 1 bulan itu bukan waktu yang singkat untuk belajar persiapan ujian itu.


"Ya Allah kok jam 3 lama bangat ya rasanya". Gue merasa 3 menit lagi itu waktu yang lama.


"Bismillah, bismillah". Tangan gue semakin dingin setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 3 siang. Itu artinya sekarang pengumumannya sudah keluar.


"Yah, ayah aja yang bukain deh. Aku nggak sanggup rasanya". Akhirnya Ayah mengambil alih untuk membuka website kelulusan dan gue hanya mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Nak". Ayah berucap pelan.


"Nggak lulus ya Yah". Ucapku seakan merasa panggilan Ayah barusan adalah kegagalanku masuk Universitas Internasional Moraine Fields.


"Selamat sayang". Senyum Ayah melebar.


"Apa? Selamat? Yah?!". Gue masih belum ngerti maksud perkataan singkat ayah barusan. Eh bukan gue nggak ngerti, hanya saja tiba-tiba otak gue konslet.


"Anak Ayah akhirnya jadi mahasiswi juga. Selamat Sayang. Ayah bangga sama kamu". Ayah memeluk gue yang masih membeku tidak percaya dengan apa yang gue dengar. Gue, seorang Nyanya berhasil masuk dan jadi mahasiswi Moraine fields University. Universitas yang banyak pesaingnya dan sangat diincar-incar untuk orang yang ingin ikut program pertukaran pelajar seperti gue. Seakan-akan semuanya seperti mimpi gue kembali melihat hasil pengumuman kelulusan tersebut dan setelah gue lihat dengan mata gue sendiri itu adalah keajaiban yang nyata.


"Alhamdulillah berkat doa Ayah". Gue memeluk erat Ayah.


"Makasih Ya Allah". Gue sujud syukur setelah melepaskan pelukan Ayah.