![Absently [ON GOING]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/absently--on-going-.webp)
"Eh lo". Akhirnya gue dengan terpaksa pergi menghampiri tuh cewe yang keliatan kebinggungan
"Ada apa?". Tanyanya datar. Heran gue, tu cewe nggak punya ekspresi apa gimana. ngeliat gue sama Mahesa tiba-tiba didepan dia, nggak ada ekspresi kaget atau gimana gitu.
"Ngapain lo pagi-pagi disini sendirian?". Tanya Mahesa menyilangkan tangannya di dada.
"Suka-suka gue dong". Ucapnya lagi-lagi datar.
"Kok lo nyolot sih. Kita kan nanya baik-baik. Itu juga artinya kita peduli sama lo". Emosi gue sedikit terpancing dengan sikapnya. Nih anak kaya punya kepribadian ganda. Malam waktu ribut itu gue pikir dia orang yang bacot, tau-taunya cuek banget.
"Siapa yang nyolot. Gue kan cuma bilang suka-suka gue. Lagian nih tempat kan untuk umum. Dan juga lo berdua ngapain tiba-tiba didepan gue". Gue dan Mahesa sedikit tersentak dengan sifat cewe yang sebentar lagi mungkin saja jadi saudara tiri kami.
"Capek ngomong sama lo. Kita ma..".
"Yaudah nggak usah ngomong sama gue. Gitu aja kok repot". Dia memalingkan wajahnya dari kami.
"Gue belum selesai ngomong".
"Jadi tadi kita selesai jogging nggak sengaja ngeliat lo sendirian disini makanya kita samperin. Mana tau lo butuh bantuan".
Mahesa mengambilalih pembicaraan. Tapi nih cewe sama sekali nggak menjawab dan hanya menatap kami bergantian.
"Nggak salah? Kalian? Mau bantuin gue? Tumben?". Tanyanya tersenyum miring.
"Karena bentar lagi kita saudaraan". Gue berucap tanpa menoleh sedikitpun dan Cewe bernama Nyanya itu hanya tersenyum tipis dan gue nggak bisa mengartikan senyuman itu.
Gue nggak tau apa yang terjadi tapi tatapannya berbeda dari sebelumnya. Tatapan yang aneh dan nggak pernah kita lihat selama 2 kali pertemuan itu. Tapi gimanapun juga gue juga harus tetap jaga image gue saat ini, jangan sampe emosi gue memuncak didepan umum.
.............................................................
"Yah, aku lagi didepan kantor Ayah". Gue mengirim pesan ke Ayah tapi nggak ada balasan. Jadi gue tanpa pikir panjang langsung masuk ke kantor dan menuju keruangan ayah dilantai paling atas.
"Iya, mas benar-benar minta maaf sama kejadian yang kemarin ya. Mas benar-benar akan usahain supaya Nyanya bisa nerima kamu jadi ibu sambungnya". Gue nggak sengaja mendengar pembicaraan ayah ditelepon dengan seseorang yang gue duga itu calon istri Ayah. Gue nggak tau harus gimana sekarang. Gue serba salah. Disatu sisi gue pengen ngeliat ayah bahagia , tapi disisi lain gue juga susah nerima mereka berdua jadi saudara gue. Bukan karena masalah malam itu, tapi gue hanya merasa bahwa mereka berdua nggak akan cocok ada di hidup gue, apalagi kalau Ayah benar-benar menikahi Mama mereka, pasti kami akan berasa di satu atap yang sama. Gue juga nggak tau, Tante itu benaran tulus sama Ayah atau ada hal lain yang diincar dari Ayah.
Pada akhirnya gue hanya bisa memandangi ayah dari luar ruangannya beberapa menit. Wajah yang penuh kesedihan. Gue merasa berdosa sebagai anak. Dan gue nggak tahan melihat wajah itu, gue memilih pergi keluar kantor ayah untuk menenangkan perasaan gue dan saat itu gue bertemu dengan kedua orang adik kakak itu. Hati gue semakin bersalah setelah gue mendengar wanita yang mungkin menjadi kakak tiri gue mengatakan 'karena sebantar lagi kita akan saudaraan'. Apakah itu artinya mereka sudah menerima gue dan ayah. Itu artinya mereka semua hanya menunggu keputusan gue. Semua lamunan gue buyar saat ponsel gue berdering, telpon masuk dari ayah.
"Sayang tadi kamu ngirim pesan ke ayah katanya didepan kantor ayah. Kok belum nyampe sampai sekarang?"
"Tadi ke toilet bentar. Ini udah dilift mau keruangan Ayah". Gue berkilah dan berbalik arah ke kantor ayah.
"Maaf ya yah nunggu lama. Ini aku bawain bekal Ayah". Gue meletakkan makanan itu di meja kerja Ayah dan Ayah hanya tersenyum. Setelah itu hanya ada keheningan selama beberapa waktu.
"Kamu tumben banget dateng ke kantor Ayah?". Tanya Ayah penasaran dan duduk disamping gue.
"Kan mau nganterin sarapan Ayah". Ucap gue singkat, gue masih sedikit canggung untuk berbicara dengan Ayah saat ini. Mungkin karena perasaan gue yang sedang kurang baik.
"Ayah nanti biasa sarapan diluar sayang. Kan bikin kamu repot aja, mending tadi kamu istirahat aja dirumah". Ayah mengelus lembut rambut gue, padahal gue sudah bersikap buruk sama Ayah kemarin, bahkan gue udah mempermalukan Ayah didepan Banyak orang.
"Nggak repot kok Yah. Lagian aku tau, Ayah juga nggak bakalan makan diluar, itu alsan Ayah doang. Makanya aku kesini buat mastiin Ayah benar-benar makan".