Absently [ON GOING]

Absently [ON GOING]
7



Malam ini, setelah pembicaraan panjang gue dan Ayah di kantor waktu itu akhirnya gue dan ayah datang kerumah calon istri ayah.


"Assalamualaikum". Ayah mengetok pintu rumah calon istrinya.


"Waalaikumussalam". Terdengar suara cowo dari dalam rumah dan tak lama pintu dibuka oleh Cowo bernama Mahesa itu.


"Silahkan duduk dulu Om. Aku panggil Mama dulu ke kamar". Setelah mempersilahkan kami masuk, Mahesa pergi ke kamar memanggil Mamanya. Tak lama Cewe rese itu keluar dari kamar mandi.


"Om". Sapanya sembari salam pada Ayahku.


"Mas...kok nggak bilang-bilang mau datang".


"De tolong buatin minuman ya". Perintah calon istri ayah pada Redea.


"Nggak usah repot-repot, mas rencananya mau jemput kalian kesini mau makan malam bareng diluar".


"Kok mas nggak bilang dulu. Jadi tadi kami bisa siap-siap dulu biar mas sama Nyanya nggak nunggu lama". Terlihat Tante Dian merasa tidak enak.


"Udah, nggak papa kok tante. Kami juga nggak keberatan nungguin". Gue mengatakan hal itu tentunya demi Ayah. Jujur, gue bukan tipe orang yang suka berpura-pura, tapi ini semua demi Ayah.


Di cafe sembari menunggu makanan datang


"Jadi tujuan mas ngajak makan bareng diluar, mas mau meluruskan kesalahpahaman beberapa hari yang lalu. Sebelumnya mas minta maaf karena sikap Nyanya waktu itu. Sekalian makan malam kita hari ini sebagai pengganti makan malam yang gagal waktu itu". Setelah itu Ayah melihat kepada gue sebentar. Gue yang mengerti kode Ayah, akhirnya angkat suara.


"Sebelumnya aku minta maaf tante karena kejadian itu acara perkenalan dan makan malam kita jadi kacau. Aku juga minta maaf kalau waktu itu aku juga nggak sopan dan terkesan mempermalukan Tante dan anak-anak Tante. Dan aku nggak keberatan kalau Tante nikah sama Ayah". Gue mencoba menenangkan hati gue untuk bersikap biasa saja pada orang yang akan jadi keluarga baru gue nanti.


"Iya benar. Setelah mas dan Nyanya bicara lagi baik-baik. Akhirnya Nyanya setuju untuk kita bersama". Ayah berucap sambil tersenyum cerah. Gue bahagia dengan senyum Ayah. Sudah lama gue nggak melihat senyum Ayah seperti itu, senyum yang hanya diberikan Ayah pada Bunda, sekarang sudah diperlihatkan juga pada calon istri Ayah.


"Mas". Panggil calon istri ayah yang bernama Dian seakan tak percaya. Terlihat matanya berkaca-kaca.


"Tante nggak salah dengar kok. Setelah aku pikir-pikir lagi bahwa Ayah butuh Tante dihidup Ayah. Kalau tante nikah sama ayah, aku yakin Ayah sangat bahagia. Aku harap tante bisa jadi pendamping hidup terakhir ayah dan aku berharap kebahagiaan Ayah kembali lagi". Gue mengucapkan kata itu dari hati yang masih setengah menerima dan setengah bimbang. Dan setelah tercengang cukup lama, tante Dian akhirnya menganggukkan kepalanya. Walau akhirnya air matanya luruh dan memeluk gue terlebih dahulu dibandingkan Ayah.


"Kenapa Tante nggak meluk Ayah dulu?". Tanya gue pada Tante Dian yang masih memeluk gue.


"Karena kamu akan menjadi anak tante". Jawaban yang menurut gue sedikit ambigu.


Setelah kami sedikit tenang dan selesai makan malam barulah Ayah mulai melanjutkan pembicaraan.


"Kalau gitu sekarang kita cari tanggal yang pas untuk acaranya ya".


"Aku pikir juga lebih baik gitu Om". Ucap Mahesa.


...----------------...


Hari ini adalah hari yang ditunggu-tunggu, yaitu hari pernikahan Mama dan Om Lerri. Jujur gue nggak pernah menyangka bahwa mama membuka hati lagi untuk laki-laki lain setelah ditinggal pergi Papa 4 Tahun yang lalu. Secara gue tau betapa traumanya kehilangan. Dan gue juga nggak pernah menduga bahwa orang rese malam itu akan segera menjadi adik tiri gue dalam hitungan jam saja.


"Ma, aku seneng banget akhirnya hari yang kita tunggu-tunggu datang juga. Aku harap mama bahagia dipernikahan ini ya. Mama jangan sedih-sedih lagi, jangan pernah netesin air mata lagi yaa kecuali air mata bahagia. Dea nggak suka mama sedih". Gue memeluk mama dengan erat sebelum membawa mama keluar ruangan untuk memulai acara akad nikah.


"SAHHH". Terdengar suara orang-orang bersamaan yang menandakan bahwa saat itu juga Mama sudah resmi menjadi istri orang lagi. Gue bersyukur acara berjalan lancar tanpa kendala sedikitpun.


"Om, hari ini secara resmi mama sudah jadi istri om. Artinya mama udah jadi tangunggan om, kami lepas Mama ke om. Aku harap om bisa jagain mama dengan baik. Tolong jangan sakitin mama, jangan buat Mama nangis. Dan jika suatu saat om udah nggak bisa bareng Mama lagi, tolong balikin Mama ke kami dengan cara yang baik-baik". Bang Esa bergetar mengatakan itu dan memeluk Om Lerri yang sekarang sudah resmi jadi Papa kami dan pelukannya dibalas hangat. Seharusnya kata-kata itu diucapkan oleh Papa pada calon suami gue kelak. Tapi justru sekarang kata-kata itu keluar dari mulut Bang esa pada suami Mama.


"Om janji dengan segenap jiwa bakalan jagain Mama kalian dengan baik dan hati-hati. Om nggak akan ngecewain mama kalian. Dan sekarang kalian jangan manggil om lagi, tapi panggil Ayah". Om Lerri tersenyum tulus pada kami, sedangkan Nyanya hanya berdiri dibelakang Ayah sambil memandangi kami dengan senyum tipisnya.


"Nya kita udah saudaraan sekarang". Goda bang Esa sambil menaik-naikan alisnya ke Nyanya yang awalnya tersenyum berubah menjadi datar.


"Ya terus". Balasnya jutek.


"Ya artinya lo harus manggil kita Kakak gitu bukan lo gue lagi". Gue menyela dengan nada menjengkelkan. Gue nggak tau kenapa setiap ngeliat Nyanya bawaannya pengen ribut mulu. Tapi bukan berarti gue membencinya seperti dulu. Ada sedikit perubahan bahwa gue nggak boleh membencinya karena dia sekarang resmi menjadi saudara tiru gue.


"Males banget". Gue heran deh sama tuh cewe. Gampang banget berubahnya, tadi senyum sekarang jutek lagi. Terlihat Nyanya menghampiri Mama.


"Selamat Tante udah sah jadi Istri Ayah. Aku harap Tante bisa setia sama Ayah, menghormati Ayah, dan bisa mendampingi Ayah sampai maut memisahkan". Gue memeluk Tante Dian, kalau boleh jujur itu adalah sekedar formalitas. Gue nggak tau lagi sama diri gue sendiri, entah apa yang membuat gue sampai sekarang masih belum bisa menerima mereka dalam hidup gue dan Ayah. Tapi apalah daya gue, Demi Senyum Ayah gue rela harus berpura-pura seperti ini.


Setelah acara selesai kami pergi kerumah untuk mengambil barang-barang Tante dian dan kedua saudara itu untuk segera dipindahan ke rumah kami.


...----------------...


Besok Malamnya setelah makan malam hanya ada aku dan Tante Dian diruang makan. Ayah pergi keluar untuk mengambil beberapa barang dirumah Tante Dian sedangkan kedua kakak beradik itu pergi beres-beres barangnya dikamar rumahku.


"Tante aku mau ngomong". Gue dan mama tiri gue pergi ke taman belakang rumah untuk berbicara.


"Ada apa nak?". Tanyanya dengan wajah berseri.


"Aku nggak mau berbelit-belit , jadi aku langsung ke intinya aja. Aku mau jujur sama tante, karena aku nggak mau ada kesalahpahaman diantara kita dan membuat tante kecewa sama aku nantinya. Aku memang nggak tau apa alasan tante mau nikah sama ayah. Tapi yang pasti apapun alasan tante, mau itu tante tulus dengan ayah atau tidak, aku masih belum bisa nerima tante jadi mama aku. Jadi jangan salah artikan sikap baik aku ke tante, itu hanya sebatas formalitas aku didepan ayah. Aku nggak mau ngecewain ayah, jadi bagaimanapun aku akan bersikap seakan menerima tante hanya didepan ayah. Jadi jangan berharap lebih". Ucapku tanpa jeda dan bisa kulihat wajah dari mama tiriku yang seperti kecewa dan ingin menangis. Walaupun begitu aku tetap mengabaikannya dan berdiri hendak pergi dari sana. Mungkin jika ada orang yang melihat gue seperti itu apalagi pada seseorang yang baru saja resmi menjadi Mama tirunya, mereka akan beranggapan bahwa gue orang yang nggak punya perasaan, egois dan hanya mementingkan diri gue sendiri. Dan bahkan setelah mengatakan hal itu pada Tante Dian gue sama sekali nggak memiliki penyesalan untuk itu.


"Oh ya dan satu lagi. Jangan harap aku akan memanggil tante, Mama. Aku masih butuh waktu untuk itu".