Absently [ON GOING]

Absently [ON GOING]
4



Malam ini, gue dan Ayah akan segera bertemu dengan calon Mama dan Istri Ayah. Jujur gue sendiri masih nggak yakin apakah gue bisa menerima Wanita itu menjadi Mama gue. Bukannya gue membenci wanita yang akan menjadi Istri Ayah, hanya saja gue masih belum bisa menjadikan orang lain sebagai Mama dan menggantikan posisi Bunda kandung gue.


"Ponsel aku ketinggalan di mobil. Ayah duluan aja ke dalam ya". Saat sampai di pintu restaurant, gue baru teringat ponsel gue yang sedang di charger di mobil. Akhirnya gue kembali ke mobil.


"Cepat ya sayang". Dan Ayah masuk ke lift menuju lantai 3 restaurant.


"Maaf ya jadi menunggu lama". Gue meminta maaf saat sampai di tempat.


"LO". Tiba-tiba seseorang dari kursi sebelah gue berdiri dan gue juga kaget saat melihat siapa orang itu.


"Kalian". Gue memang kaget tapi gue berusaha terlihat biasa saja.


"Yah, maksud Ayah, Tante ini yang jadi calon istrinya Ayah?". Tanya gue masih berdiri menahan rasa kaget.


"Iya sayang. Tapi tunggu, kalian kok kaget gitu, udah pada kenal?". Tanya Ayah heran


"Nggak, nggak nggak. Jadi ini dua orang anak Tante ini. Jadi maksudnya aku sama mereka jadi saudaraan gitu". Gue nggak percaya dengan semua ini.


"Memangnya kenapa sayang. Ada apa?". Ayah terlihat semakin binggung, tidak terkecuali Tante ini, Mama dari dua orang yang mencari masalah dengan gue malam itu.


"Gue sih juga ogah saudaraan sama Lo". Si cewe ikut berdiri dan mengibaskan rambutnya.


"Lo pikir gue mau gitu. Gue juga ogah kali punya saudara yang punya sopan santun dan nggak bisa menghargai orang lain. Yah aku nggak setuju, kita pulang aja". Gue beranjak pergi dari sana dan menuju ke mobil.


"Mas minta maaf ya sama kejadian barusan. Mas nyusul Nyanya dulu. Nanti mas kabarin lagi". Calon suami Mama pergi menyusul si cewe rese itu.


"Kalian berdua kenal sama anak om itu?". Mama bertanya pada kami dengan raut wajah yang terlihat sedikit sedih dan kecewa.


"Mahesa, Redea. Lain kali jangan gitu sama dia ya. Bentar lagi dia bakalan jadi adek kalian juga". Dari kata-kata Mama barusan, sudah mengartikan bahwa Cewe yang dipanggil Nyanya itu akan benar-benar menjadi Saudara kami nantinya.


"Adek apaan sih ma. Orang dia sendiri yang bilang tadi ogah saudaraan sama kita". Redea terlihat santai berbicara itu. Adek gue bener-bener ya. Kalau ngomong suka bener. Tapi gimanapun, perasaan Mama adalah yang utama bagi kami. Melihat perjuangan Mama sebagai single parent selama beberapa tahun ini dan jadi tulang punggung keluarga. Mama pantas bahagia dan punya pendamping hidup. Gue pikir harus mengurangi ego gua dan Adek gue Redea.


.........................................


Gue benar-benar nggak habis pikir, ternyata Wanita yang ingin dinikahi Ayah itu adalah Mama dari kedua orang itu. Dua orang yang bikin gue kesal. Dan apa? Saudaraan? Mendengar kata itu aja udah bikin gue bergidik.


Pada akhirnya gue pergi dari restaurant itu dengan taksi dan pergi ke rumah sahabat gue, siapa lagi kalau bukan Anggun. Gue kadang nggak habis pikir sama diri gue sendiri. Justru setelah gue lulus SMA, gue mulai bersikap kekanak-kanakan seperti ini. Gue juga nggak tau kenapa gue sering kesal dan berdebat sama siapapun, nggak terkecuali Papa.


"Anggun". Gue memanggil Anggun sambil membelakangi pintu rumahnya.


"Anggun lo dirumah nggak sih". Beberapa kali gue memanggilnya tetap tidak ada jawaban. Akhirnya gue menelpon langsung ke Anggun.


"Gue didepan rumah lo". Ucap gue to the point


"Kenapa lo nggak bilang dulu sih Nya. Gue lagi nggak dirumah".


"Kemana lo?".


"Ke rumah Oma. Kangen katanya".


"Yaudah gue pulang aja". Gue langsung mematikan panggilan telepon itu, padahal gue merasa Anggun masih ingin mengatakan sesuatu. Tapi, bodohlah, gue nggak mikirin itu sekarang. Tapi, gue binggung arah tujuan gue sekarang. Kalau pulang ke rumah gue masih merasa males, apalagi kalau nanti gue nggak bisa menahan sifat emosian gue yang ada gue bakal berdebat lagi sama Ayah dan ujung-ujungnya gue juga yang sedih karena menyakiti perasaan Ayah. Dan apa sekarang, gue cuma jalan nggak tau arah tujuan.