![Absently [ON GOING]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/absently--on-going-.webp)
"Iya Yah, ini aku juga udah mau pulang kok. Aku mampir bentar ke supermarket beli sesuatu".
"Iyaaa Ayahhh. Nggak bakal lama kok. Iya iya sampai jumpa di rumah. love you too ". Gue masuk ke supermarket, setelah mengakhiri telepon dengan ayah. Gue pergi berkeliling mencari beberapa barang yang saat ini dibutuhkan wanita sekali sebulan, apalagi kalau bukan pembalut. Sekalian gue membeli beberapa cemilan dan minuman untuk stok dikamar, biasa untuk teman belajar.
kurang lebih 30 menitan gue berkeliling mencari barang dan sekarang gue ke kasir untuk membayar belanjaan gue. Tiba-tiba HP gue berdering.
"Ya Allah, iya yah. Ini aku udah selesai kok".
"Semuanya 147.800 dek". Mbak kasir menyerahkan barang belanjaan gue.
"Ini mbak". Gue memberi selembar uang 100 dan 50 ribu.
"Iya yah. Aku jalan sekarang. Terimakasih ya mbak". Gue kerepotan menenteng 2 kantong belanjaan ditambah lagi Papa sedang menelpon, jadinya gue menahan HP dengan bahu gue.
"Eh dek, kembaliannya".
"Ambil aja mbak atau masukin kotak amal". Gue nggak peduli dengan kembalian yang 2 ribu itu, karena gue sedang kesusahan sekarang. Padahal hanya 2 kantong tapi begitu berat.
Gue berjalan ke mobil gue yang terletak diparkiran dan meletakkan barang belanjaan gue di kursi belakang. Saat gue menyalakan mobil dan berniat pergi dari parkiran itu, gue menyadari ada mobil tepat dibelakang mobil gue.
Awalnya gue mengabaikan mobil itu, karena gue pikir ada orang didalamnya dan pasti saat gue lewat dia bakalan pindahin letak mobilnya. Tapi setelah gue klakson-klakson berulang kali, tuh mobil nggak bergerak sedikitpun. Akhirnya gue keluar dari mobil dan nyamperin mobil dibelakang.
"Mbak...Mas Tolong pindahin mobilnya". Ucap gue sambil memukul-mukul pelan kaca mobil orang itu.
"Hello, ada orang nggak sih. Buruan pindahin mobil anda". Lagi-lagi gue memukul-mukul kaca mobil itu tapi kali ini dengan emosi yang sebentar lagi akan semakin menggebu. Gue mengintip ke dalam mobil berkaca hitam, tapi ternyata tidak ada orang. Akhirnya gue balik ke dalam mobil gue, sembari menunggu orang itu datang.
Tapi ternyata hampir 20 menitan gue menunggu, pemilik mobil dibelakang mobil gue, nggak kunjung datang. Akhirnya, gue yang kesal memukul-mukul setir mobil gue dan teriak-teriak seperti orang gila. Gue benci menunggu. Oke kesabaran gue udah habis.
"Halo. Pak saya mau minta tolong. Disini ada yang parkir liar pak dan mobil orang ini menganggu kenyamanan dan jalan orang lain Pak. Bisa Bapak datang kesini untuk mengangkut mobilnya?!". Akhirnya gue menelpon kantor mobil derek yang suka ngangkut-ngangkut kendaraan yang tidak taat aturan.
"Oh, lokasinya di Jalan Tandean, dekat Supermarket Starvoy, lebih tepatnya di dekat cafe yang baru buka itu Pak yang lagi viral". Gue menjelaskan lokasinya pada bapak pengangkut ini.
"Iya, baik, Terimakasih banyak Pak". Gue mengakhiri telepon itu dan lagi-lagi harus menunggu, kali ini adalah menunggu kedatangan bapak pengangkut itu untuk mengangkut mobil dibelakang gue. Dan disini gue udah nunggu 15 menitan dan si pemilik mobil ini juga belum datang.
"Ah sial pake mati lagi nih HP". Umpat gue yang kesal. Padahal gue baru aja mau angkat telepon Ayah, eh HP nya keburu mati. Gue yakin ayah sekarang khawatir dan cemas karena gue nggak jawab panggilan teleponnya.
"Pak, pak sini". Gue bergegas keluar mobil dan melambaikan tangan pada mobil besar yang sedari tadi gue tunggu-tunggu kedatangannya.
"Haha, rasain lo. Makanya jadi orang jangan seenaknya". Gumam gue pada diri sendiri.
"Nih pak, mobil yang saya bilang. Mobil ini parkir sembarangan pak. Tolong diangkut aja ya pak". Ucap gue pada bapak pengangkut itu.
"Baik, terimakasih laporannya dek". Ucap bapak itu tersenyum.
"Saya yang harusnya makasih Pak". Gue mulai tersenyum walaupun lebih banyak kesalnya, saat mobil itu diangkut karena sebentar lagi gue bisa segera pulang.
Setelah mengangkut mobil tadi, Gue mulai berjalan ke arah mobil gue. Namun, langkah gue terhenti saat gue lihat dua orang, cewe dan cowo baru aja keluar cafe itu sambil mengejar mobil pengangkut itu. Mungkin itu pemiliknya.
Namun, setelah melihat pemilik mobil itu berbicara dengan pak pengangkut, gue langsung masuk ke mobil, walaupun gue tau dan lihat tuh pemilik mobil mulai berjalan ke arah gue. Bukannya gue takut, tapi gue nggak mau buang-buang waktu lagi untuk hal nggak berguna.
"Keluar lo". Ucapnya mengedor kaca mobil gue.
"Wooii lo denger nggak. Buka gue bilang". Ucap si cewe terdengar kesal, mungkin lebih tepatnya marah. Gue yang awalnya bodoh amat, jadi semakin kesal setelah langsung dari dekat melihat wajah pemilik mobil liar itu.
"Apaan sih lo". Gue akhirnya keluar mobil dan berbicara pada mereka dengan wajah yang sudah memerah menahan emosi.
"Apaan lo bilang. Heh, kurangajar banget yah loh. Ngapain lo manggil-manggil orang buat derek mobil kita". Ucap si cewe
"Lo yang apaan. Emangnya lo nggak punya mata hah. Lihat tu disekeliling lo, luas. Banyak kok tempat yang bisa lo gunain untuk markir mobil lo. Tuh, kosong. Tuh, disana juga kosong. Ngapain lo parkir dibelakang mobil gue. Lo pikir ini punya Buyut lo, sampai-sampai lo bebas parkir sembarangan gitu". Cerocos gue sambil menunjuk tempat- tempat parkir yang kosong itu.
"Ya tetap aja, lo nggak bisa seenaknya dong, ngangkut-ngangkut mobil kita". Si cowo mulai bersuara.
"Eh, asal lo tau aja ya, gue udah nungguin lo berdua disini hampir sejaman. Terus lo pikir gue mau nungguin kalian lebih lama lagi gitu. enak di lo nggak enak di gue dong. Yaudah mending gue pilih jalan mudahnya. Masih mendingkan mobil lo cuma diangkut, untuk tuh mobil nggak gue bakar tadi". Gue membuka pintu mobil agar bisa segera pergi dari tempat itu.
"Eh, sialan lo ya". Ucapnya menarik lengan gue dan menutup pintu mobil.
"Mau kemana lo. Enak aja main pergi. Nggak bisa semudah itu. Lo harus tanggung jawab". Ucap si cowo
"Ogah". Gue menepis kasar tangannya yang memegangi lengan gue dan gue kembali membuka pintu mobil dan lagi-lagi si cowo menutupnya.
"Eh lo jangan buang-buang waktu gue lagi ya. Cukup sejam tadi aja gue kehilangan waktu berharga. Nggak lagi". Gue semakin kesal sekarang.
"Nggak peduli. Sekarang lo tanggungjawab. Karena lo udah ngelaporin mobil gue, sekarang lo harus anter kita ke kantor pengangkut mobil itu".
"Pergi aja lo sendiri. Ngapain nyusahin gue. Minggir". Lagi-lagi dia mencegat gue untuk masuk ke mobil.
"Nggak. Lo anterin kita dulu".
"Eh lo yang salah dan udah seharusnya lo tanggungjawab sendiri. Ambil mobil lo dengan usaha lo sendiri. Lo yang salah malah nyusahin orang. Kalau emang lo nggak bisa ngambil mobil lo, ya biarin aja disana selamanya. Lagian lo udah parkir di belakang mobil gue dan di sini posisinya gue adalah orang yang harusnya marah, bukan lo". Gue mungkin sebentar lagi bisa saja menendang cowo ini dengan jurus taekwondo yang gue kuasai.
"Sekarang minggir". Gue mendorong mereka dari menghalangi pintu mobil gue dan akhirnya gue berhasil masuk mobil. Namun, si cowo langsung mengambil kunci mobil yang baru saja gue masukkan.
"Nggak bisa". Ucapnya dengan senyum miring. Dan akhirnya gue kembali keluar dari mobil dan mengambil HP gue yang sedang di charger di mobil.
"Halo pak, saya mau melaporkan disini ada orang yang ngancam mau mengambil mobil saya Pak. Dia ngancam saya dan ma...". Ucapan gue terpotong saat dia mengode akan mengembalikan kunci mobil gue.
"Matiin. Gue balikin kunci lo". Ucapnya berbisik. Dan gue menadahkan tangan agar si cowo itu meletakkan kuncinya ditangan gue. Dan setelah itu barulah gue mematikan telepon.
"Bagus, daritadi kek". Gue langsung masuk ke mobil dan membanting pintu mobil dengan keras.
"Minggir".
"Awas ya lo, kalau gue ketemu lagi sama lo, gue bales lo". Si cewe marah-marah sambil menunjuk-nunjuk gue dan gue langsung membunyikan klakson pada kedua orang itu.
Sesampainya dirumah gue langsung memarkirkan mobil di garasi depan dan mengambil barang belanjaan gue tadi.
"Ya allah sayang kamu kemana aja. Ayah telepon tadi nggak aktif". Ayah mungkin akan mengomelin gue sebentar lagi.
"Iya, sorry yah". Gue menjawab singkat karena masih kesal dengan dua orang tadi.
"Ini ni, mukanya. Kenapa gitu?. Kamu kesal sama Ayah?". Tanya Ayah melihat raut wajahku yang kesal.
"Ya nggak lah yah. Mana mungkin aku kesal sama ayah".
"Ya terus kenapa?". Tanya Ayah lagi.
"Aku kekamar dulu deh yah". Gue langsung menaiki tangga menuju kamar gue yang terletak dilantai atas".
...----------------...
"Kenapa sayang?". Tanya Ayah saat gue kembali dari kamar dan duduk di ruang tamu
"Ngga papa yah".
"Yaudah kalau gitu kita makan dulu". Ajak Ayah
"Ayah belum makan". Kaget gue saat Ayah mengajak makan. Kenapa gue kaget. Ya karena sekarang udah jam 9 lewat , tapi Ayah belum makan malam. Biasanya kami makan malam jam 8 atau setelah selesai shalat isya .
"Kan Ayah nungguin anak kesayangan ayah".
"Ayah kenapa nggak makan duluan aja. Ngapain nungguin aku". Gue kesal karena orang berdua itu, Bokap gue jadi terlambat makan malam.
"Nggak enak makan sendirian sayang. Kesepian dong Ayahnya".
"Besok-besok kalau aku pulang terlambat, Ayah makan duluan aja ya". Dan Ayah hanya menunjukkan jempolnya.
"Eh tadi kamu kenapa keliatan kesal gitu?". Tanya Ayah lagi.
"Jadi tuh aku udah mau pulang, tapi ada mobil yang ngalangin mobil aku. Jadinya aku nggak bisa keluar dan nungguin mereka hampir setengah jam".
"Terus kenapa kamu nggak angkat telepon Ayah?".
"HP aku mati, habis baterainya yah".
"Terus kan yah tadi si pemilik mobil itu nggak kunjung datang, jadinya aku telepon aja kantor untuk ngangkut mobil mereka. Eh merekanya marah-marah sama aku".
"Yaiyalah mereka marah sayang. Kan mobil mereka diangkut". Ucap ayah tertawa
"Kan itu salah mereka juga parkir sembarangan".
"Itu baru anak Ayah. Pemberani". Lagi-lagi ayah tertawa dan setelah itu Ayah mulai terdiam seperti berusaha ingin mengatakan sesuatu pada gue.
"Kenapa yah?". Gue menaikan sebelas alis gue sembari mengunyah makanan.
"Sayang, Ayah mau bicara serius sama kamu".
"Bicara aja yah. Aku dengerin kok". Gue memperhatikan wajah Ayah dengan serius.
"Tapi, Ayah nggak yakin kamu setuju". Perkataan Ayah barusan membuat gue menjadi penasaran sekaligus deg-degan
"Nggak papa, Ayah ngomong aja".
"Sayang, jadi...Ayah mau minta izin kamu". Papa berhenti berbicara sebentar.
"Izin apaan Yah?". Senyum kecil terlukis diwajah gue.
"Ayah mau minta izin sama kamu untuk menikah lagi". Perkataan Ayah barusan membuat gue langsung terdiam, tangan gue yang masih memegang sendok langsung melepaskan sendok itu dan wajah gue yang awalnya tersenyum antusias langsung datar. Gue kaget.
"Yah, Ayah serius!?". Mata gue mulai berkaca-kaca.
"Ayah serius Sayang".
"Nggak. Nggak bakalan. Aku nggak bakalan setuju kalau Ayah nikah lagi". Gue langsung meninggalkan meja makan dan berlari ke kamar.