
dilihatnya sang atasan,nursitia endawati,tengah memasang mimik yang kurang mengenakan.mimik yang kentara sekali kalau sang atasan sedang tak mau bermain-main
gladis berbalik arah,dilangkahkan kakinya menjauhi sang atasan.berjalan menghampiri lelaki yang kini masih tetap dalam posisinya,duduk manis disofa.lelaki itu melihat saat gladis sudah sampai dihadapannya dan duduk kembali disofa yang berada didepannya
"bisa kita bicara diluar saja pak reyhan?"pinta gladis dengan raut wajah datar yang dibalas anggukan kepala oleh lelaki itu
gladis sengaja mengajak reyhan berbicara diluar agar aksi negosiasinya lancar dan berjalan mulus.ia juga tidak suka jika ibu tia ikut campur dan asal sumbang pembicaraan yang ujung-ujungnya malah bikin masalah makin runyam.sang atasan yang tak mau kalah dan ngeyel merasa dirinya seperti ratu sejagat raya apapun perkataannya harus dilaksanakan.seperti yang dialami gladis saat ini
gladis menarik napas sejenak sebelum memulai pembicaraanya dengan sosok lelaki yang lebih tinggi darinya sehingga saat ini posisi kepalanya harus sedikit mendongak "maaf kan kesalahan saya waktu itu,pak reyhan"ia sedikit membungkukkan tubuhnya.biarlah kali ini ia salah dan mengalah meskipun ia ingat lawan bicaranya saat ini sebenarnya sudah leloloskan dirinya setelah mendapati panggilan telpon waktu itu.otomatis urusanya sudah berakhir kala itu.namun,yang ia lakukan kali ini murni hanya demi sang atasan "saya mohon bapak mencabut ucapan bapak tentang memikirkan kembali untuk mendaftarkan anak bapak kemari" pintanya dengan memohon.
reyhan menarik tinggi sebelah alisnya.diliriknya nametag yang tersemat dibagian dada sebelah kanan yang bertuliskan nama berserta gelar gadis itu "gladis anisahputri Y.,S.Pd.AUD" kemudian matanya beralih melihat wajah gladis yang tengah memelas kepadanya.
gladis yang tengah sadar sedang menjadi objek penglihatan oleh reyhan merasa canggung "bapak ngapain ngeliatin saya?"tanyanya,reyhan bahkan semakin menatap tepat dikedua bolamatanya
gladis yang merasa tak enak ditatap seperti itu oleh reyhan mengalihkan pandangannya.sudah dapat dipastikan lelaki itu melihat kedua matanya yang sedikit sembab akibat tangisannya tadi bersama echa
reyhan berdehem kecil setelah menyadari ia telah menatap ibu guru itu tanpa sadar.bahkan membuatnya kini merasa lebih sungkan"ehm maaf sebelumnya bu gladis saya hanya takut jika nanti anda tidak bertanggung jawab dalam mendidik anak saya,seperti apa yang sudah anda lakukan ke mobil saya"ucapnya,penekanan kalimat terakhir membuat gladis menoleh kembali kearahnya"saya akan mencabut ucapan saya asalkan anda mau bertanggung jawab atas kerusakan mobil saya"sambungnya lagi.
gladis mengernyitkan kedua alisnya "lantas,bagaimana saya harus bertanggung jawab?"tanyanya kemudian dibalas senyum miring yang tersungging disudut bibir lelaki itu.
"ganti rugi sebagaimana mestinya,biaya kerusakan mobil saya"tegasnya sontak membuat gladis lebih mendonggakan kepalanya
"bapak,please! bagaimana saya bisa mengganti biaya kerusakan mobil bapak? saya hanya guru honorrer pak?!" gladis sedikit menaikan nada bicaranya yang dibalas tatapan datar oleh reyhan
reyhan yang melihatnya dibuat terkekeh dalam hati.sosok gladis benar benar dibuat kebingungan .bahkan tanpa disadari gadis itu telah masuk dalam perangkapnya.menggoda seorang gadis yang ada dihadapannya saat ini memang menyenangkan
"baik,jika anda tidak bisa mengganti rugi kerusakan mobil saya ada dua pilihan yang harus anda pilih" tawarnya
gladis menoleh.mata yang semulanya sayu kembali berbinar ketika reyhan memberikan sebuah tawaran yang mungkin saja bisa melegakan sistem kerja jantungnya yang sedari tadi dipacu over sejak mendapati panggilan dari ibu tia.
"pilihan pertama kita selesaikan dijalur hukum dan pil...."
reyhan semakin dibuat girang.ia harus hati hati dalam menahan tawanya"pilihan kedua,berikan waktu anda untuk membimbing belajar anak saya ketika dirumah"tawarnya lagi
option kedua memang tak terlalu mengerikan tapi bagi gladis suatu tawaran yang konyol bahkan keduanya bukan tawaran yang bisa dipilih.
"tanpa digaji"sambungnya "yah...kita fifty fiftylah.imbangkan?dengan begitu anda tidak perlu mengganti kerugian mobil saya dan anak saya akan menjadi murid anda"ucap reyhan sambil menaikturunkan alisnya
sekarang gladis sadar kalau dirinya sudah dijebak
"bagaimana ibu gladis? Deal?" reyhan menunggu kalimat yang akan keluar dari mulut gladis
reyhan tersenyum menawan,tentu senyuman itu tak luput dari penglihatan gladis.jika saja mereka tidak dalam mode berselisih paham begini pasti gladis sudah dibuat terpesona medapat suguhan senyuman maut mematikan dari sosok pria bertubuh ideal dan mempunyai wajah yang...not bad lah.
He is good looking man.
namun fokus gladis sedang tidak berada kearah sana.ia merasa tidak puas dengan hasil perundingan dengan wali anak beberapa detik yang lalu.ia hanya bisa pasrah
kalah dalam medan perang. *ambyarrrr
____
kalo lebih banyak vote sama like aku bakalan rajin up.aku janjiiiiiππππ*
**anddddd
kira kira sosok si gladis dustypink kaya gini,manis dan keibuan.ini baru si gladis dan untuk si reyhan aku bakalan up di part 8π**