Abdi Negara

Abdi Negara
10



Hareudang hareudang hareudang...


Panas..panas..panas...


Selalu..selalu..selalu...


Sama seperti lagu tikt*k yang lagi viral begitulah keadaan cuaca hari ini.posisi matahari tepat diatas puncak kepala,terasa menyengat. begitu panasnya cuaca disiang hari ini, ditambah hamburan gas karbondioksida hasil pembuangan kendaraan darat yang lalu lalang disepanjang jalan membuat atmosfer diudara semakin terasa panas.


Dibawah pohon beringin yang tak begitu tinggi namun rimbun Gladis duduk diam sambil nangkring di atas jok motornya. Tanpa melepaskan pengaman kepala ia sengaja menghentikan laju motornya tepat di depan depot makanan yang sudah menjadi langgananya selama ini.depot masakan padang.Entah rasanya terhitung mulai satu minggu ini ia enggan mampir lagi kerumah makan tersebut untuk sekedar membeli rendang kesukaanya.Jangankan untuk membeli dan masuk kedalam,hanya sekedar lewat dan berada tepat dipelataran depot tersebut meski dalam jarak 15 meter dari posisi gadis itu saat ini membuat luka lamanya seakan ditetesi asam.


Mungkinkah ia merasa trauma atas kejadian yang tak lama ini ia alami?atau hanya rasa tidak terima yang ia rasakan? Sehingga hatinya selalu berusaha mencegah langkah kakinya untuk singgah ditempat tersebut. Entahlah yang pasti ia juga tak mengerti dengan hatinya yang begitu berkecamuk tak menentu. Melihat rumah makan yang tak jauh dari posisinya membuat ia kembali mengingat akan kenangan semasa ia masih bersama dokter muda itu, kenangan yang selalu membuat dadanya bergemuruh, membuat hatinya sakit kala mengingat apa yang sudah dilakukan lelaki itu dan dengan mudah mengucapkan kata maaf seenak jidatnya tanpa memperhatikan gadis yang seketika matanya merah melihat kelakuan kekasihnya saat itu yang telah tertangkap basah.


"Maaf,gladis,aku nggak bisa lanjutin hubungan ini" ucapnya tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana perasaan sakit hati gladis yang tengah berdiri didepan dua sejoli yang sudah tertangkap sedang berselingkuh.


"sejak kapan kamu bermain curang dengan wanita ini?" tanya gladis dengan wajah datar tanpa harus menunjukkan emosi didalam hatinya yang sudah membuncah, namun ia harus menahanya.kedua tangannya mengepal dengan sekuat tenaga mencoba menahan tangisnya yang hampir tumpah. Dilihatnya wanita disamping lelaki itu yang kini sedang terdiam entah ia merasa sangat berdosa atau justru merasa menjadi wanita paling bahagia dimuka bumi ini karena sudah berhasil menghancurkan sebuah hubungan.Yang pasti Gladis ingin menjambak rambut yang terurai berwarna kecoklatan milik wanita itu begitu keras bahkan kalau bisa sampai membuatnya botak


"baru lima bulan" jawab aldi dengan entengnya


Gladis mengembuskan napas pelan.BARU?! lelaki itu menganggap lima bulan itu baru?! Tidak tahu apa lagi yang harus ia lakukan.Meminta sebuah penjelasan rasanya tidak mungkin,sosok aldi sudah tertangkap basah oleh kedua bola matanya sendiri. Memegang tangan wanita itu dengan mesra bukankah itu sudah menjadi bukti yang nyata? Ditambah pula pengakuan yang keluar dari mukut lelaki bajin*an itu,lelaki penghianat,lelaki yang tak pandai memegang janjinya sendiri. Rasanya mengingat janji yang terucap dari mulut buaya itu membuat hati gladis semakin tersulut. Janjimu palsu! seperti berlian yang dijual seratusan


"baiklah"ucap Gladis tanpa harus memberi embel embel panjang lebar,tanpa harus jambak jambakan dan tanpa harus mencaci maki. Dilangkahkan kakinya dan pergi menjauhi mereka berdua yang telah membuat hatinya remuk berkeping keping. tak berdarah namun sakitnya menusuk sampai kerelung yang terdalam. Harapanya hancur, keinginan bersama sosok yang diinginkannya selama ini yang sesuai kriterianya sudah tidak ada lagi, semuanya terputus oleh namanya sebuah penghianatan.


Setelah melihat kenyataan pahit yang harus ia telan, Galdis mulai menata hati seketika itu. Ia harus terbiasa hidup tanpa bergantung pada lelaki itu lagi, melupakan semuanya meski semua itu memang terasa sulit bahkan membutuhkan waktu yang tak singkat. Walau sudah terlupakan namun bekas itu masih ada. ia juga tak memungkiri hari harinya akan terasa berbeda setelah ini, namun ia harus mampu menjalani semua itu.Dan mungkin tuhan telah menyelamatkannya dari cinta abal abal.


Deringan ponsel mengalun keras dalam saku celana Gladis, membuat gadis itu terbangun dari ingatan akan masa lalunya.Ia merogoh saku celananya mengambil benda persegi panjang itu.


echa


udah didepot masakan padang dis?


Dengan cepat jari lentik gladis menekan setiap digit digit huruf yang ada di layar ponsel pintar miliknya


Gladis


nggak,kita beli ayam siap saji aja ya? lagi pingin makan itu deh.


echa


terserah,asal jangan pingin makan orang.


bahaya!


Gladis tertawa kecil setelah membaca balasan dari rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.secerewetnya echa bahkan kerap mulut pedasnya bak sambal setan level keramat tak membuat Gladis mengambil hati atas ucapanya. Bagaimanapun sikap echa,ia tetap sahabat terbaik bagi Gladis.


setelan jalanan terasa lengah ia kembali melajukan motornya lebih cepat sedikit. namun saat ia hampir saja sampai di tempat tujuannya,ia mendapati sekelompok polisi lalu lintas tergah beroprasi dijalan.Ia pun digiring seorang polisi untuk menepikan motor matic yang ia kendarai.


"selamat siang,maaf menganggu perjalanan anda.Bisa tunjukkan surat suratnya bu gladis"


Gladis sontak menoleh saat namanya disebutkan oleh salah satu anggota polantas yang sedang dihadapannya. Dilepaskan helm yang melekat dikepalannya "Bapaknya arsya?" lagi lagi ia dihadapkan dengan sang wali anak didiknya.


gladis mengela napas. Diambilnya dompet didalam jok motornya. Diutak atik seluruh isinya namun ia tak menemukan surat izin mengemudinya terselip disana.sudah dapat dipastikan SIMnya tertinggal di nakas kamar kontrakan.


"bagaimana bu,bisa ditunjukkan kelengkapan surat suratnya?" tanya reyhan yang mendapati gladis sibuk mengutak atik dompet miliknya.


Gladis meringis"ketinggalan dikontrakan pak"


mendengar jawaban dari gladis membuat rayhan menghela napas. Gadis yang berstatus menjadi guru TK tersebut sudah dipastikan adalah gadis yang ceroboh."Ibu saya tilang" tegasnya.


"eh,pak"seru gladis yang tanpa sadar memegang pergelangan tangan polisi gagah itu sehingga membuat sang empunya hanya melirik tangan lembut gadis itu menyentuh pergelangan tanganya. Deg!


"Kita damai aja ya pak,terlalu ribet kalau harus sidang.nggak ada waktu" tawar Gladis


Reyhan melihat Gladis,menatapnya tajam dengan kedua alisnya yang hampir bertautan. "ibu mau nyuap saya?"


Reyhan menghela napasnya kembali"saya bukan polisi yang bisa anda suap dengan sesuka hati.tugas saya disini untuk menertibkan lalu lintas sesuai aturan yang ada. jika anda melanggar aturan maka itu sudah menjadi konsekuensinya yang harus anda terima,yakni surat tilang dari saya"ucapnya dengan tegas


begitu malunya gladis.wajahnya menciut saat mendapati reyhan berdalih dari A sampai Z dengan suara yang lantang dan tegas sehingga membuat dua anggota polantas dan sebagian pengendara lainnya yang tak jauh dari mereka berdua pun saat ini tengah memperhatikan dirinya dan reyhan.Malunya dua kali lipat.


"amit amit ya allah punya suami macam beginian"gumamnya pelan.lagi lagi reyhan mendengarnya namun ia hanya tersenyum tipis tanpa terlihat oleh gladis.


"STNKnya saya tahan dan ini surat tilang anda,jangan lupa ikut sidang" diberikannya lembaran surat tilang itu kepada gladis"Hati hati dengan ucapannya bu,jangan suka mengumpat.punya suami polisi bisa histeris anda"godanya,sehingga membuat gladis memandangnya tak percaya.Dilangkahkan kakinya sembari memberikan satu kedipan mata kearah gadis mungil itu.


Dasar suami orang.sinting!


____


****haii haii pernah ketilang polisi gak?


masih suka sama ceritanya?


aku berharap kalian masih suka hikss...


jangan lupa vote like dan koment ya😉**


btw aku belum dapet visualnya arsya,kalau kalian ada saran untuk visualnya arsya bisa koment ya.tengkyu😍**