
*Ayah tuh ya,kerjaannya hanya bisa buat masalah.Ayah enggak bisa apa,dalam hidup ayah,ayah enggak jadi biang masalah.Enggak kerja,enggak di rumah aja,yang ayah bisa cuma buat masalah.Apa sih yang ayah senangi dari membuat barang-barang aneh kayak gini? Enggk ada manfaatnya tau enggak.Mana ada manfaatnya,yang ayah bisa hanya membuat onar dengan barang-barang aneh yang ayah buat,ayah tuh enggak mikir apa untuk kembali bekerja lagi.Ooo jangan-jangan ayah enggak mau kerja lagi karena takut nantinya aku ceraikan karena berselingkuh lagi,iya.Terus habis itu ayah jadi miskin karena enggak punya apa-apa,dasar laki-laki tidak berguna.Ayah tuh kenapa sih cuma bisanya...
Cukup,cukup,cukuuuuuup
Aina..
Sudah cukup ya ibu bentak-bentak ayah seperti itu,aku lelah bu dengarnya.Setiap ibu pulang,yang ibu lakuin hanya bentak ayah.Ibu pikir,ayah enggak marah apa,ibu bentak-bentak kayak gitu.Ayah marah bu dalam hati,tapi ayah hanya bisa menahannya hanya karena kesalahan yang ayah buat dulu. Ayah berusaha untuk tidak membentak ibu karena ayah enggak mau buat ibu tersakiti lagi.Meskipun perempuan selalu ingin menang sendiri,sesekali dia juga harus mengalah dan menghargai perasaan laki-laki. Aku lelah sama ibu,jika ibu hanya bisa marah-marah enggak jelas kalau pulang ke rumah,ibuk mendingan jangan pernah pulang deh. Lagian aku juga udah terbiasa kok enggak ada sosok ibu dalam hidupku,dan lagi meskipun ibu pulang,yang ibu lakuin hanya menyalahkan kesalahan ayah di masa lalu.Ibu enggak pernah melihat aku lalu menanyakan kabarku atau apalah untuk basa basi,emang ibu pernah sekali aja mencari anakmu ini lalu bertanya 1 pertanyaan,kamu baik-baik aja.Ibu yakin,aku bukan puteri yang tertukar.Karena aku tidak pernah merasakan kehangatan pelukan seorang ibu dari ibu,aku juga sudah lupa kapan terakhir kali ibu peluk aku.
Aina....ibu..
Angkat aja telponnya,pasti itu dari kantor kan. Kayaknya aku emang enggak pernah ibu inginkan,yang selalu ibu pentingkan hanya kantor kantor dan kantor.
Ini semua ibu lakukan untuk kamu sayang. Kamu lihat sendiri kan,ayah kamu enggak bisa menafkahi kita.Kalau ibu enggak kerja, masa depan kamu akan bagaimana nantinya*?
Itu adalaha gertakan pertama yang aku lakukan selama ini.Selama ini aku enggak pernah ikut campur masalah ayah dan ibu, bagaimana pun ibu membentak bentak ayah aku enggak pernah pedulikan.Entah dari mana rasa ingin membela itu datang
*Aina
Ayah,ada apa?
Ayah cuma mau bicara sama kamu nak,boleh kan.
Iya..
Ayah apa-apaan sih
Kamu udah besar ya nak,ayah mau minta maaf ya sama kamu.Karena,ayah memberikan contoh enggak baik,dari selingkuhnya ayah,dari pertengkaran ayah sama ibu kamu,sampai ayah enggak pernah mengobrol dengan Aina padahal ayah selalu di rumah.
Enggak apa-apa*
*Ayah enggak pernah berani untuk menatap wajah yang pernah ayah sakiti.Ibumu dan kamu adalah dua wanita yang menjadi korban dari kesalahan ayah.Kalian,sudahlah ini sudah larut besok kamu sekolah kan.
Iya
Tidur gih,kapan-kapan kita ngobrol lagi ya.
I LOVE YOU
Haah...I..i..iya
Selamat tidur*
Itu adalah malam yang sangat berbeda dari malam-malam yang sebelumnya.Malam itu, untuk pertama kalinya aku berani mengeluarkan isi hatiku yang aku pendam selama ini,dan pada malam itu juga,untuk pertama kalinya dari sekian lama,aku berbicara dengan ayah ku lagi.Aku merasa senang,meski hanya sebentar,itu jadi malam yang entah apa yang paling tepat untuk dikatakan.Yang jelas,malam itu adalah malam dimana aku tak pernah merasakan hatiku terasa di cengkeram,rasanya begitu sakit. Namun pada malam itu,aku juga tidak pernah merasakan hatiku bergejolak riang dan senang,mungkin itu karena pada malam itu untuk pertama kalinya aku berbicara dengan ayahku.Seperti inikah rasanya bisa berbicara dengan laki-laki pertama yang menyayangimu sebelum laki-laki lain?