
POV; Reba
Aku membuka pintu perlahan takut membangunkan orang rumah, sekarang sudah pukul sebelas malam ibuku pasti sudah tertidur. Lampu di ruang tamu sudah dipadamkan, aku melepaskan sepatu kemudian meraba-raba rak untuk mencari sendalku.
Klik!
Lampu tiba-tiba menyala, begitu terang aku langsung dapat melihat sosok ibuku yang menekan tombolnya.
"Kamu pulang malam lagi," ucap Ibu.
"Iya, seharusnya Ibu tidur saja, tidak perlu menunggu Reba." Aku melangkah mendekati Ibu kemudian mencium tangannya.
Aku ingin menjelaskan kenapa sampai terlambat pulang, tapi kulihat perhatian ibuku segera teralihkan dengan mobil Audi Silver yang diparkir di depan rumah.
"Reba, Mobil siapa itu? Kenapa dibawa pulang?" tanya Ibu.
"Punya atasan, Bu, Reba diminta antar jemput beliau, itu sebabnya Reba pulang terlambat," jawabku.
Aku merogoh tas selempang hitam yang kubawa kemudian menyerahkan dua lembar uang seratus ribu ke tangan ibu.
"Ibu pegang segini dulu, nanti kalau sudah terima gajih Reba akan kasih lebih."
Ibuku menunduk, menerima uang itu dengan ikhlas. Selama beberapa bulan ini kami memang mengalami kesusahan. Aku juga tahu ibu sudah berhutang ke sana-kemari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kalau bukan karena Haoxuan hal ini tidak akan terjadi.
"Di mana anak nakal itu, Bu? Dia belum pulang juga?" tanyaku saat tidak melihat tanda-tanda keberadaan berandal itu.
Ibu tidak menjawab, malah terlihat sedang menutupi sesuatu. Hal ini malah membuatku curiga, ada yang tidak beres dengan ekspresi wajah ibu, jangan-jangan Haoxuan berbuat ulah lagi.
"Bu? katakanlah, Reba janji tidak akan memarahinya," ucapku mencoba membujuk Ibu.
Ibu kemudian mulai menangis dan berkata,"Haoxuan diseret keluar rumah oleh orang yang tidak Ibu kenal."
Aku terbelalak kaget lalu bertanya, "Siapa? Seperti apa orangnya?"
"Seorang pria tinggi, putih, dengan mata sipit, dan dua orang pria botak," jawab Ibu.
"Ahceng!"
Bagaimana ini? Apa aku harus hubungi Polisi? Tidak, aku masih belum tahu apa masalahnya, kalau hutang piutang lagi, Haoxuan pasti akan tutup mulut seperti sebelumnya.
Aku mencoba berfikir tenang, mencari cara untuk menghubungi Haoxuan. Aku mulai mengutak-atik Smartphone, puluhan panggilan tidak satupun yang diangkat, aku juga mencoba mengirim banyak pesan chat, tapi tetap tidak dibalas.
"Dasar bodoh!" Aku mulai kehilangan kesabaran.
Saat sedang dalam kepanikan, tiba-tiba saja nama Pak YangYang muncul di kepalaku, dia pasti tau bagaimana cara menghubungi Ahceng, dengan begitu keberadaan Haoxuan juga pasti ketemu.
Aku mencari nama Pak YangYang dalam daftar telepon dan segera menghubungi.
Ini sudah terlalu larut, mungkin saja yang dihubungi sudah tertidur, aku hampir menyerah, saat sudah akan memutus panggilan tiba-tiba tersambung.
"Halo, ada apa Reba?" tanya Pak YangYang
Aku mendengar suara serak Pak YangYang diujung sana.
"Iya, Pak, maaf saya menghubungi larut malam begini," jawabku kaku.
"Ahceng? Ada urusan apa lagi kamu sama orang itu? Apa kamu punya masalah dengannya?" Pak YangYang balik bertanya.
"Maaf, Pak, ini sangat mendesak, akan saya ceritakan nanti, saya butuh nomornya sekarang," jawabku.
"Tidak bisa seperti itu, Ahceng bukan orang baik, dia cukup berbahaya, ceritakan masalahmu, mungkin aku bisa bantu," bujuk Pak YangYang. Sebenarnya aku sama sekali tidak ingin merepotkan beliau, tapi tidak ada orang lain lagi yang bisa dimintai tolong.
...***...
Aku menunggu dengan cemas, berharap jam-jam kecil ini segera berlalu, dan pagi segera datang. Mungkin seharusnya aku menelpon Polisi saja, menunggu seperti ini sungguh sangat menyiksa batin.
Entah jam berapa aku dan ibu tertidur bersandar pada sofa di ruang tamu, jam tujuh pagi aku mendapat panggilan telepon dari atasan.
"Ya, Halo," jawabku sambil menyentuh leher yang kaku lalu duduk tegak.
"Bagaimana ini? Aku ingin pergi bekerja, tapi aku baru ingat kalau aku punya seorang supir sementara," tanya pria di seberang panggilan telepon.
Aku segera tersadar akan tugas yang harus dikerjakan. "Maaf, Pak, saya segera ke sana," jawabku lalu segera beranjak menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi dan sebagainya, aku berpakaian rapi kemudian segera akan berangkat ke rumah Pak Zhan untuk menjemput beliau. Kulihat ibu juga sudah bangun dan mulai beres-beres rumah seperti biasa. Aku mendekati ibu kemudian berkata,"Ibu tak perlu khawatir, Haoxuan akan baik-baik saja, setelah mengantar atasan Reba akan minta ijin kerja dan segera kembali ke rumah."
Ibuku menunduk kemudian berkata,"Ke mana perginya anak itu, semoga benar dia baik-baik saja."
Aku sangat sedih melihat ibu begini, awas saja nanti kalau Haoxuan pulang, aku pasti akan memarahinya habis-habisan
...***...
Aku masuk ke dalam kompleks perumahan elit untuk menjemput Pak Zhan. Begitu masuk dalam garasi rumahnya yang mewah aku langsung bisa melihat sosok pria yang terlihat sudah rapi memakai kemeja putih lengan panjang dengan dasi polos warna merah maroon, ia menggantung jasnya di lengan kanan sambil terus memperhatikan jam tangannya. Mungkin aku akan kena marah karena membuatnya terlambat hari ini.
Aku tidak sempat turun dari mobil, Pak Zhan sudah bergegas masuk dan duduk di kursi belakang. Lalu aku segera menyalakan mesin mobil dan memutar kemudi, saat kendaraan sudah mulai melaju, kami hanya diam, bahkan sampai separuh perjalanan menuju ke kantor masih belum ada kata-kata yang keluar, mungkin akan terkesan tidak sopan, tapi aku tidak berani menyapa duluan.
Kalau dipikir aku memang belum tau sama sekali tentang atasanku ini. Aku hanya mendengar desas-desus tentang dirinya dari gosip yang beredar di kantor, yang kutahu hanya dia seorang duda anak satu yang baru saja ditinggal pergi istrinya. Aku tidak bisa bertanya apapun, bahkan untuk sekedar basa-basi sekalipun.
"Lain kali kamu harus menjemput sebelum aku duluan yang menghubungi." Komentar Pak Zhan akhirnya memecah keheningan di antara kami.
"Baik, Pak," jawabku.
Seberat apapun masalah yang dihadapi, seharusnya aku tetap harus profesional dalam pekerjaan.
"Maaf, Pak, saya mau minta ijin, hari ini setelah mengantar Bapak saya ingin minta cuti kerja satu hari," tutur aku saat kami hampir tiba di kantor.
"Apa kamu ada urusan mendesak?" tanya Pak Zhan.
"Iya, Pak, mohon pengertiannya," jawabku.
Begitu tiba di parkiran kantor, kami keluar hampir secara bersamaan, aku berdiri menghadap Pak Zhan ingin menyerahkan kunci mobilnya.
"Bawa saja," ujar Pak Zhan sambil memakai jas dan mengancing ujung lengan bajunya. "Kamu harus menjemput kalau kupanggil nanti."
"Tapi, Pak...." Belum selesai aku bicara Pak Zhan langsung mengangkat tangannya. Aku jadi tidak bisa berkata-kata lagi.
"Selesaikan saja urusanmu dulu," ujarnya kemudian.
Aku mengangguk pelan dan tanpa sengaja melihat dasi yang dipakai Pak Zhan ternyata sedikit miring. Aku maju satu langkah mendekat dan mengangkat tanganku untuk meraihnya, karena tinggi kami hampir sama aku bisa dengan mudah memperbaiki letak dasi yang miring itu. Setelah rapi aku kembali mundur dan tersenyum padanya, anehnya Pak Zhan hanya diam saja tanpa respon apapun. Aku lalu kembali masuk dalam mobil dan memutar kemudi, aku harus segera kembali ke rumah, semoga saja sudah ada kabar dari Haoxuan.
Bersambung