
POV; Reba
Hidup memang tidak selamanya berjalan mulus, apa yang kuinginkan tidak serta merta terjadi sesuai kehendak. Seperti saat ini, aku tersadar mencari lowongan pekerjaan rupanya begitu sulit. Walaupun aku sudah berusaha mengirim lamaran kerja di berbagai tempat, tetap saja aku harus menanti lama untuk mendapatkan jawaban, padahal inilah yang paling tidak kusukai, yaitu menunggu tanpa ada kepastian.
Kini setelah cukup lama berada dalam ketidakpastian, akhirnya secarik kertas yang merupakan balasan dari perusahaan sudah berada di tanganku, dan untuk kesekian kalinya, aku kembali ditampar kenyataan.
Aku memandangi surat penolakan itu sembil menyibak rambut, perasaan kecewa dan putus asa kini bercampur menjadi satu, dan sekarang diperparah karena aku sudah tidak punya uang barang sepeser pun.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?"
Rasanya belum cukup waktu yang dibutuhkan untuk menguatkan hati ini, tapi kedatangan Ibu ke kamar membuatku berusaha tersenyum, setidaknya aku harus terlihat tegar di hadapannya.
Kulihat Ibu melangkah dengan tergesa-gesa ke arahku, ada raut kekhawatiran dari wajahnya yang sudah semakin keriput. Penasaran, aku mencoba mengira-ngira apa yang hendak ibuku itu bicarakan. Lalu dengan cepat Ibu memegang pergelangan tanganku kemudian bertanya, "Reba, Nak, bisakah kamu menghubungi adikmu? Sudah jam segini dia belum juga pulang."
Aku berdecak, lalu berpaling muka saat mendengar pertanyaan Ibu, aku merasa sangat kesal karena Haoxuan selalu saja berbuat ulah. Di saat seperti ini dia malah pergi entah ke mana, sama sekali tidak mengerti dengan keadaanku. Sebenarnya aku sudah muak dengan tingkahnya, tapi mana mungkin aku bisa acuh tak acuh, apalagi setelah melihat bagaimana Ibu sangat mengkhawatirkannya.
Aku kembali menatap wajah Ibu dan berusaha meredakan emosiku. Kemudian sambil melepaskan tangan Ibu dengan halus aku berusaha menenangkannya.
"Reba belum bisa menghubungi Haoxuan, tapi Ibu tak perlu khawatir, Reba akan mencarinya sekarang," ucapku kemudian melangkah meninggalkan Ibu. Aku bergegas keluar rumah lalu mengendarai sepeda motor, sepertinya aku tahu di mana dia berada. Berbekal petunjuk sebuah poker chip yang kutemukan tempo hari aku pun pergi ke Club' Stardust, firasatku mengatakan kalau Haoxuan sedang berada di sana.
***
Aku berhenti di parkiran sepeda motor tepat di depan Sky Garden, gedung empat lantai tempat Club' Stardust berada. Sedikit ragu, tapi aku tetap nekat masuk ke sana untuk mencari keberadaan Haoxuan.
Begitu masuk ke dalam barulah aku merasa menyesal, seharusnya aku memang tidak datang ke tempat ini. Semua orang memandangku dengan tatapan yang aneh, apa karena aku tidak memakai busana yang sesuai dengan tempat ini? Aku hanya memakai kaus putih dengan blazer warna krem dan celana jeans, sedangkan mereka semua berbusana mewah dengan gaun, dan jas pesta. Sangat canggung, aku bagaikan mahkluk asing di antara mereka semua. Dugaanku sepertinya salah, mana mungkin Haoxuan bisa berada di tempat seperti ini.
Melihatku yang terlihat bingung seorang pria berbadan tegap datang menghampiriku, memakai kaos tanpa lengan berwarna hitam, dengan wajah terlihat garang ditambah lagi dia memakai kalung rantai besar yang sangat mencolok, dari perangainya aku bisa menebak kalau pria botak itu adalah staff keamanan di tempat ini.
"Apakah Anda datang ke sini seorang diri? Sepertinya Anda baru pertama kali ke tempat ini, di sini Anda harus memesan tempat terlebih dahulu tidak boleh langsung masuk," tutur pria itu. Awalnya dia masih sopan tidak seperti penampilannya.
"Aku hanya mencari adikku, sepertinya dia pernah datang kemari." Aku merogoh saku celana lalu menunjukkan poker chip kepada pria itu.
"Ini properti milik Club' kami seharusnya tidak boleh dibawa pulang." Mendadak perlakuannya berubah, pria itu lalu mengambil poker chip dari tangan dan mulai menarik lenganku dengan kasar.
"Kalau Anda tidak ada urusan di sini sebaiknya segera pergi," ucapnya saat mengiring paksa aku menuju pintu keluar.
"Tunggu-tunggu aku—" saat aku mencoba membela diri, seorang pria dengan jas beludru warna biru dolken menarik tangan pria botak itu hingga membuatnya melepaskan cengkeramannya pada lenganku.
"Jangan kasar dengan perempuan," tuturnya sambil tersenyum renyah.
"Maaf tuan, Nona ini asal masuk saja dan belum memesan tempat," sanggah si pria botak.
"Tidak harus sampai di seret keluar, anggap saja dia datang bersamaku." Pria itu berkata dengan nada monoton namun tetap tegas. Ajaibnya si pria botak langsung patuh padanya.
Akhirnya pria botak itu membiarkan aku tetap berada di sini. "Terima kasih," ucapku sambil tersenyum manis.
Tingkahnya berubah jadi aneh dengan senyum yang terlihat dibuat-buat, bagaimana aku menyikapinya? Aku bahkan belum mengenalnya, bagaimana kalau nanti pria ini minta yang aneh-aneh.
Secara spontan ekspresi wajahku juga langsung berubah, aku diam tidak ingin menjawab pertanyaan pria itu. Keadaan mulai terasa canggung.
"Hahaha." Pria itu malah tertawa.
"Kamu diam saja, apa kamu sengaja tidak menghiraukan aku? Baru pertama kali aku bertemu perempuan jutek seperti ini," gelaknya.
"Siapa namamu?" tanyanya lagi.
"Bukankah sebelum bertanya harusnya kamu memperkenalkan diri dulu?" Aku balik bertanya.
Pria beralis tebal itu kembali tersenyum lebar, kalau dilihat-lihat sebenarnya dia terlihat cukup tampan, bentuk matanya tajam hidungnya juga tidak terlalu mancung sesuai dengan wajahnya yang tirus, ditambah bibirnya yang tipis membuat penampilannya semakin menawan.
Setelah puas tertawa pria itu akhirnya menjawab, "Namaku Yangyang, sekarang aku harus tau namamu."
"Panggil saja Reba," jawabku seadanya.
"Jadi, kamu mau tetap di sini, atau mau ikut denganku ke dalam?" Yangyang menaikan alisnya saat bertanya.
Aku tidak tahu apa niatnya hingga mau membantuku, tapi paling tidak aku harus bersikap baik kepada orang yang telah menolongku ini.
"Kalau boleh, saya memang sedang mencari seseorang," jawabku sopan.
***
Aku mengikuti Yangyang, pria yang baru saja kukenal itu dari belakang. Suasana riuh mulai terasa saat aku semakin masuk ke dalam, alunan musik menghentak membuat orang jadi ingin menggerakkan badan, tapi aku tidak terlalu menyukai tempat seperti ini. Aku memasukan tangan ke dalam saku sambil terus mengikuti Yangyang sampai kami masuk ke dalam sebuah ruangan khusus yang cukup mewah dengan interior klasik ala barat.
Lampu cristal warna-warni di tengah langit-langit ruangan membuat tempat itu terkesan mewah, warna merah maroon mendominasi tempat ini, mulai dari gorden sampai taplak mejanya juga berwarna senada. Yangyang lalu duduk di depan sebuah meja bundar berukuran cukup besar, di kiri dan kanannya sudah ada yang mengisi, aku kemudian berdiri tepat di belakang Yangyang.
"Buatlah dirimu berguna," cetus Yangyang saat menyerahkan gelas berisi wine yang sedari tadi dia pegang. Aku menyambut gelas itu dengan patuh, imbalan yang dia maksud tadi apakah aku harus jadi pelayannya? Padahal bukan itu tujuanku ikut masuk ke sini.
"Siapa gadis cantik yang kau bawa itu Yangyang?" Pria yang duduk di sebelah kiri tiba-tiba bertanya.
"Peri keberuntunganku malam ini," jawab Yangyang.
"Kenapa Ahceng lama sekali? Aku tidak sabar ingin memulai permainan," celetuk pria yang duduk di samping kanan.
Tak lama seorang pria berwajah oriental berkulit putih masuk ke ruangan bersamaan dengan itu di belakangnya seorang pria yang sudah babak belur juga diseret masuk oleh dua orang pria tegap. Aku mengenali pria yang berjalan sempoyongan itu!
"Haoxuan!"
Bersambung