What's Wrong With My Boss

What's Wrong With My Boss
Kesan Pertama




POV; Zhan


Sebuah panggilan telepon membuatku terpaksa harus bergegas keluar rumah. Walaupun kesal, rasa enggan itu tak bisa jadi pilihan. Ini bukan kali pertama si bodoh itu terlibat dalam masalah, aku sendiri heran kenapa Yangyang selalu saja berbuat semaunya, kalau sudah begini mau tak mau aku harus turun tangan, kalau tidak, aku juga akan terkena imbasnya.


Aku pun mengendarai mobil menuju kantor polisi tempat Yangyang berada secepat mungkin, yang ada dalam pikiranku cuma satu, bagaimana caranya supaya masalahnya cepat selesai jangan sampai tersebar luas.


Begitu tiba di kantor polisi, aku melihat Yangyang duduk santai dengan wajah tanpa dosa, tingkahnya tak ayal membuatku geram.


"Shen jing bing! Apalagi ulahmu kali ini?"


Yangyang langsung menghindari tatapan mataku.


"Kali ini bukan kesalahanku," jawabnya datar.


"Anda penjamin tuan ini? Silakan duduk." Petugas yang duduk di depan Yangyang bertanya dan langsung mempersilahkan. Dengan wajah yang masih tertekuk, aku lalu duduk di samping Yangyang.


Melihatku belum mengerti apa yang terjadi sebenarnya, petugas itu lalu memberikan penjelasan.


"Saya akan memberitahu garis besar kasus ini, jadi Yangyang sudah membuat keributan di Club' milik Ahceng dengan cara melakukan panggilan ke 110, setelah anggota kami tiba di tempat itu ternyata tidak ada ******* seperti yang dilaporkan sebelumnya, sekarang yang bersangkutan masing-masing membuat laporan, Ahceng meminta ganti rugi atas kekacauan yang terjadi, sedangkan Yangyang melaporkan Ahceng atas tindakan penganiayaan."


Aku mencoba memahami apa yang petugas itu sampaikan lalu mulai memeriksa Yangyang dari atas sampai bawah tubuhnya, aku lalu mencengkram dagunya sampai bibirnya maju ke depan, tapi tetap tidak menemukan bekas penganiayaan.


"Aw, aw! Apa yang kau lakukan?" rintih Yangyang.


"Kamu baik-baik saja, kenapa melaporkan penganiayaan?" Aku malah balik bertanya.


Yangyang melepaskan cengkraman tanganku pada wajahnya lalu menjawab, "Bukan aku, tapi adiknya." Yangyang menunjuk ke arah seorang wanita yang sedari tadi berdiri tak jauh dari tempat kami duduk, karena hanya fokus pada Yangyang aku sampai tidak memperhatikan.


Setelah menoleh ke arah wanita itu, aku sempat terdiam selama beberapa detik saat kami saling menatap. Ada perasaan aneh yang timbul saat dua bola mata kami bertemu.


Mungkin aku hanya bingung karena belum mengerti duduk masalahnya, tapi wanita itu memang terlihat berbeda, bukan karena cara berpakaiannya, bukan juga karena parasnya yang harus kuakui memang cantik, sangat cantik malah.


Seperti bidadari dengan wajah cantik khas timur tengah begitu pula hidung mancungnya, tapi uniknya kulitnya putih bersih terkesan oriental. Ia terlihat seperti wanita baik-baik, sungguh aneh kenapa dia sampai terlibat di situasi macam ini. Aku menarik napasĀ  kemudian berpaling darinya. Berusaha kembali fokus, dan mencari jalan keluar dari masalah ini.


Aku kembali mengintimidasi Yangyang dengan tatapan sengit. "Lantas? Kamu jadi pahlawan kesiangan lagi?" tanyaku sinis.


"Itu tindakan tidak manusiawi, Ahceng membawa pria babak belur untuk diperlihatkan ke orang-orang, mana bisa aku diam saja," sanggah Yangyang.


"Itu bukan urusanmu! Urus saja urusanmu sendiri!" Pria yang duduk di meja petugas yang satunya kemudian menyalak lantang.


"Karena yang kamu pukuli adalah adik kenalanku, sekarang ini jadi urusanku!" seru Yangyang tak kalah nyaring hingga membuat pria yang bernama Ahceng itu berdiri dari kursi dan hendak melawan, tapi petugas yang menanganinya segera meminta untuk duduk kembali.


"Haoxuan sama sekali tidak keberatan, ini hanya konsekuensi yang harus dia terima karena masalah hutang piutang, tidak bisa jadi alasan untuk menahan saya, sebaliknya Yangyang sudah membuat kegaduhan dengan membuat laporan palsu sehingga para pengunjung Club' kami menjadi panik, saya tidak terima!" Ahceng menggebrak meja di depannya.


Petugas itu lalu bertanya kepada Haoxuan yang duduk di sebelah Ahceng, "Apakah benar Anda tidak keberatan dengan penganiayaan yang dialami?"


Kulihat pemuda yang dipanggil Haoxuan itu lalu mengangguk pelan, wanita yang semula berdiri di dekat Yangyang kemudian berpindah mendekatinya.


"Haoxuan! Katakan yang sebenarnya! Jangan diam saja!" bentaknya.


"Hei! Perempuan! Dia bilang tidak apa-apa berarti tidak masalah tolong suruh teman laki-lakimu itu berhenti ikut campur urusan orang!" Ahceng memutar matanya sambil memiringkan sudut bibirnya, terlihat sekali kalau lelaki itu sangatlah menyebalkan.


Aku tidak ingin Yangyang semakin masuk dalam masalah yang tidak perlu, akhirnya aku mencoba bernegosiasi dengan kedua petugas yang menangani.


"Sepertinya ini hanya kesalahpahaman kecil, saya mewakili Yangyang meminta maaf kepada para petugas dan juga Ahceng, tapi karena tidak ada kerusakan fatal yang ditimbulkan saya harap Ahceng mau mencabut laporannya dengan begitu kami juga akan mencabut laporan kami," tuturku.


Melihat tatapan itu aku membalas dengan senyuman lalu berkata, "Nona, sebaiknya kamu merawat adikmu dengan baik, aku tahu bagaimana sifat Yangyang yang suka sok jadi pahlawan, tapi sebenarnya ini bukan masalah kami, kuharap Nona bisa mengerti." Aku berusaha tersenyum senatural mungkin, tapi wanita cantik itu terlihat tidak senang. Caranya melihat membuatku merasa sedikit tidak nyaman, tapi itu tidak berpengaruh buatku, lagipula ini sudah keputusan terbaik menurutku, jangan sampai masalah dia membuat kami ikut terseret.


"Baiklah kalau sudah ada kesepakatan kalian boleh pulang," ucap pria yang duduk di depanku, para petugas ini juga pasti sudah jemu dengan hal sepele ini.


Aku segera berdiri kemudian memegang lengan Yangyang berusaha menariknya keluar, tapi Yangyang langsung menepis tanganku. Firasatku mengatakan si bodoh ini akan kembali berbuat ulah.


"Bagaimana dengan tindakan kekerasan yang terjadi, Pak! Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja," bantah Yangyang di hadapan petugas.


"Er bai wu." Aku refleks ingin menoyor kepala Yangyang, tapi 'ku urungkan karena pasti tidak ada gunanya. Bukan mendengar perkataanku sebaliknya Yangyang malah menatap wanita itu dengan sok keren.


Ahceng yang kesal kembali buka suara, "Saya akan bertanggungjawab dengan Haoxuan, tapi dia juga harus membayar semua hutangnya!"


"Baiklah, kami akan membayar semua hutangnya, jadi kamu juga harus mempertanggungjawabkan perbuatanmu," ucap Yangyang mantap.


"Apa yang kau maksud dengan kami?" tanyaku pada si bodoh itu.


"Tolong, ya, Zhan."


Sialan. Yangyang memperlihatkan wajah itu lagi padaku, dia memang menyebalkan seperti rubah yang licik.


...***...


Kami akhirnya keluar dari kantor polisi bersama. Yangyang satu langkah di depanku berdampingan dengan wanita yang bahkan belum kutahu namanya, tapi sudah membuatku mengeluarkan banyak biaya.


"Aku sungguh sangat berterimakasih padamu," ucap wanita itu pada Yangyang sambil tersenyum manis. Ternyata dia sangat manis saat tersenyum, mereka berdua terlihat sangat akrab, aku jadi merasa terabaikan.


"Ehem!" Aku sengaja membuat suara.


"Oh, iya, kalian belum berkenalan." Yangyang berhenti sejenak kemudian aku melangkah mendekatinya.


"Reba, kenalkan ini sahabat baikku, Zhan."


Oh, ternyata Reba namanya, nama yang cantik sesuai dengannya.


Reba langsung ingin menjabat tanganku, tapi aku membiarkan tanganku tetap di dalam saku celana kemudian memberikan pertanyaan, "Sekarang bagaimana caranya kamu mengembalikan uang itu, Reba? Kau tahu, 'kan? Itu jumlah yang tidak sedikit."


Reba terlihat menurunkan tangannya kemudian menunduk tak bisa menjawab pertanyaanku.


"Tenang saja, Reba bisa bekerja di perusahaan untuk melunasinya," malah Yangyang yang menjawab dengan entengnya.


Aku sedikit ragu, mana bisa semudah itu mempekerjakan seseorang yang baru saja dikenal seperti ini.


"Sebenarnya saat ini saya juga sedang menganggur. Kalau tidak keberatan, saya ingin bekerja untuk melunasinya." Reba lalu mengangkat kepalanya dan menatapku penuh harap.


Sebenarnya aku tidak ingin bersikap dingin, tapi memang harus ada beberapa prosedur untuk masuk bekerja di perusahaan kami, mana bisa aku langsung menerima seperti ini.


"Ayolah, Zhan, bukankah kamu sedang membutuhkan seorang sekretaris?" Yangyang terus berusaha membujuk.


"Baiklah, aku akan menerimamu dengan satu syarat ...," ujarku.


Yangyang dan Reba lalu menatapku secara bersamaan.


Bersambung