What's Wrong With My Boss

What's Wrong With My Boss
Keluarga




POV ; Reba


Dini hari saat daun-daun dan rerumputan masih basah setelah diguyur hujan semalam, aku terjaga. Angin dingin yang terasa tajam menusuk tulang, menyeruak di udara membuatku enggan untuk keluar dari balik selimut walau hanya sejengkal saja.


Waktu terus berjalan, fajar pun perlahan menyingsing, samar-samar kudengar bunyi langkah kaki di luar pintu kamar disusul oleh suara ketukan.


"Reba, bangunlah. Bukankah kamu harus bersiap pergi bekerja?" Suara tidak asing yang bertanya dari balik pintu itu adalah ibuku. Walaupun sebenarnya aku sudah terjaga dari tadi, tapi aku sengaja tidak menyahut dan malah menarik selimut hingga menutupi tubuh kurus ini sepenuhnya.


Tak lama aku mendengar bunyi pintu kamar dibuka, ibuku melangkah mendekati ranjang kemudian duduk di dekatku. "Apa kamu sakit? Tidak biasanya kamu sampai dibangunkan begini," tanya ibu. Ada sedikit kekhawatiran dari nada bicaranya.


Aku segera menyibak selimut lalu duduk tegak. "Reba baik-baik saja, Ibu tidak perlu khawatir," jawabku lalu turun dari ranjang kemudian melangkah menuju kamar mandi. Andai saja aku benar-benar sakit, mungkin itu bisa jadi alasan kenapa aku tidak harus bangun pagi hari ini.


Setelah rutinitas di kamar mandi selesai, aku menuju lemari baju memilih kemeja putih dengan rok span hitam yang biasa ku kenakan untuk pergi bekerja. Aku berpakaian rapi seperti biasanya, tapi sekarang terasa menyedihkan saat memandang pantulan diriku di cermin. "Bagaimana ini? Aku tidak bisa bilang ke Ibu kalau aku sudah dipecat," gumamku lirih.


Aku menunduk sesaat, menarik napas panjang lalu kuhembuskan dengan kencang. "Kamu akan baik-baik saja Reba, semangat!" seruku menyemangati diri sendiri.


Kini aku sudah siap untuk mengawali pagi ini dengan pikiran positif. Aku melangkah dengan ceria seperti tidak terjadi apa-apa.


"Ibu, Reba pamit pergi dulu, ya," ucapku seraya mencium tangan Ibu.


"Reba gak sarapan dulu? Ibu sudah buatkan telur setengah matang untukmu," tanya ibu.


"Tidak usah, Reba buru-buru," jawabku yang kemudian segera berangkat menaiki motor matic yang selalu setia mendampingi selama tujuh tahun ini. Tidak ada waktu, aku harus segera fotocopy surat lamaran kerja dan mengisi daftar riwayat hidup untuk melamar pekerjaan baru.


...***...


Beberapa lembar berkas sudah disusun rapi di dalam map, sekarang aku tinggal mencari lowongan pekerjaan yang sesuai dengan jenjang pendidikan. Menjadi sekretaris atau asisten pribadi tidak masalah buatku, lagipula aku memiliki penampilan yang cukup menarik. Rambut lurus panjang sepinggang, tubuh tinggi semampai, mata bulat dengan iris kecoklatan, ditambah lagi dengan hidung mancung dan bibir yang penuh. Tentunya aku cukup percaya diri dengan kecantikan yang kumiliki.


Aku juga sudah memastikan beberapa perusahaan besar yang sedang mencari pekerja sesuai kriteria sepertiku, aku akan melamar di tiga tempat berbeda dan berharap akan diterima di salah satunya.


Sebelum mengantar surat lamaran, aku tidak lupa memeriksa keadaan motor matic kesayanganku. Bensinnya sudah hampir habis, aku memeriksa isi dompet yang ternyata hanya tersisa empat lembar lima ribuan kembalian dari tempat fotocopy tadi. Akhirnya aku singgah di ATM terdekat, untung saja aku masih memiliki tabungan dari sisa uang gajiku bulan lalu.


Awalnya tidak ada yang mencurigakan sampai aku sadar mesin ATM di hadapanku ini tidak bisa mengeluarkan nominal uang yang diminta, lalu seketika mataku terbelalak lebar saat memeriksa saldo rekening yang ternyata isinya sudah terkuras habis.


"Haoxuan!"


Bukan orang lain, ini pasti adik lelakiku itu yang mengambil semua uang simpanan. Harusnya aku membuat nomor sandi yang lebih rumit dari sekedar tanggal lahirku sendiri untuk kartu tarik tunai ini. Apalagi Haoxuan memang sering menyusup ke kamarku yang kerap kali tidak dikunci. Aku harus segera menghubungi berandalan itu, semoga saja ia belum menghabiskan semua uang milikku.


"Tuut... Tuut...."


"Padahal hanya tinggal itu saja uang yang aku punya. Haoxuan, kau memang keterlaluan," lirihku mencoba menenangkan diri.


...***...


Dengan perasaan jengkel aku berhasil sampai ke rumah. Untung saja motor kesayangan tidak sampai mogok di tengah jalan. Begitu masuk rumah aku langsung mencari sosok berandal yang mencuri semua uangku. Aku menemukannya duduk selonjoran di depan layar TV sambil bermain Nintendo tidak menyadari kehadiranku. Aku membuka helm SNI yang masih melekat di kepala lalu melemparkannya ke arah Haoxuan.


"Kembalikan uangku!" kataku geram.


Haoxuan yang kaget langsung terlonjak dan segera berdiri. "Uang apa?" tanyanya. Aku yakin dia hanya pura-pura tidak tahu.


"Jangan bohong, Haoxuan! Kamu yang ambil semua uangku, kan?" tanyaku sekali lagi dengan nada tinggi. Aku tidak bisa bicara baik-baik, Haoxuan sudah sering kali membuatku kesal.


Mendengar keributan, ibuku segera mencoba melerai kami berdua. "Kalian cuma dua bersaudara, jangan berkelahi seperti ini. Haoxuan, kamu bikin ulah apalagi kali ini?" tanya ibu.


"Si bodoh itu mengambil uang Reba, Ibu," sungutku sambil berusaha menjitak kepala Haoxuan.


"Haoxuan, kamu gunakan untuk apa uang itu? Kembalikan pada kakakmu." Perintah ibu tentu saja tidak dihiraukan, Haoxuan malah cengengesan seperti biasa.


"Tenang saja, uangnya akan aku ganti nanti," ujar adikku itu lalu berlalu pergi. Aku berusaha untuk mengejarnya, tapi ibu mencegahku untuk meminta penjelasan lebih.


"Memangnya adikmu mengambil berapa?" tanya ibu penasaran.


"Semua uang Reba ibu, hampir dua juta rupiah. Reba baru saja diberhentikan dari perusahaan, hanya itu yang Reba punya." Aku menunduk tidak bisa menatap wajah ibu.


Ibuku langsung terlihat mengelus dada. Kaget dan marah pasti ia rasakan sama sepertiku, tapi ibu juga tidak bisa berbuat apa-apa.


...***...


Aku naik ke lantai atas menuju kamar Haoxuan berharap menemukan petunjuk sudah digunakan untuk apa uang itu. Saat membuka pintu aku langsung disuguhi pemandangan kamarnya yang sangat berantakan dan berbau rokok. Tempat ini terasa pengap dan sesak, aku mana mau masuk ke sini kalau tidak mendesak.


Aku kemudian membuka jendela dan sedikit berbenah, sambil memeriksa laci dan lemari pakaiannya. Dia gunakan untuk apa, sih, uang itu? Apa jangan-jangan dia pakai Narkoba? tanyaku dalam hati.


Setelah tidak menemukan hal yang mencurigakan dalam kamarnya, aku lalu merapikan buku-buku yang berserakan di atas meja belajarnya. Dulu adikku itu sangat pintar, dia pernah jadi adik yang manis dan baik. Semuanya berubah setelah kawan baiknya meninggal bunuh diri. Tak lama setelah itu Haoxuan dikeluarkan dari sekolah karena berkelahi sampai membuat anak dari seorang Guru masuk rumah sakit. Sekarang Haoxuan jadi sering berbuat ulah, ibuku saja tidak tahu harus bagaimana menghadapi kelakuan adikku itu.


Aku merapikan sebuah bingkai foto yang terbalik di atas meja, dua orang remaja terlihat sangat ceria di foto itu, Haoxuan dan kawan baiknya semasa hidup. Saat bingkai foto itu diangkat, aku menemukan sebuah poker chip bertuliskan Club' Stardust di bawahnya. Aku menduga pasti di sana Haoxuan sering menghabiskan uang.


Bersambung.