What's Wrong With My Boss

What's Wrong With My Boss
Pegawai Baru




POV; Reba


Aku bangun sebentar dari kursi, lalu meregangkan tanganku di atas kepala, sedikit gerakkan leher, lalu menggerakkan badan ke kanan dan kiri. Kuharap rasa kantuk yang tiba-tiba menyerang ini akan sedikit berkurang. Aku kemudian kembali duduk dan berkonsentrasi dengan pekerjaanku.


Saat ini aku bekerja sebagai sekretaris di YangZhan Glow, perusahaan kosmetik milik dua orang pria yang telah menolongku beberapa waktu lalu. Setelah adikku, Haoxuan, berbuat ulah dan membuatku harus berhutang kepada CEO perusahaan ini, aku diterima bekerja dengan syarat harus melewati masa percobaan selama tiga bulan.


Awalnya kupikir itu hal yang sangat mudah, tapi setelah dijalani ternyata tidak seperti yang kubayangkan. CEO perusahaan ini, Pak Zhan, benar-benar orang yang sangat menuntut. Selama jam kerja, aku harus melakukan banyak sekali pekerjaan, pantas saja tidak ada yang betah jadi sekretarisnya.


Kriiiiiing


Dering panjang telepon di atas meja membuatku tersentak, aku segera mengangkatnya.


"Iya, Pak."


"Bagaimana dengan laporan survey yang aku minta, apa sudah selesai?" tanya Pak Zhan di ujung panggilan telepon.


"Sudah hampir selesai, Pak, akan segera saya kirim laporannya," jawabku.


Tut-tut.


Aku menghela nafas setelah Pak Zhan menutup panggilan, menaruh kembali gagang telepon kemudian kembali fokus pada layar komputer di hadapanku.


Kriiiiiing.


Hanya sekian detik, telepon di sudut kanan meja itu kembali berdering, aku mengangkat gagangnya sekali lagi.


"Iya, Pak."


"Buatkan Kopi hangat, antarkan ke ruanganku, sekarang."


Tut-tut.


Aku menaruh kembali gagang teleponnya, menunduk sebentar kemudian langsung berdiri. Aku merapikan sedikit rok span yang kupakai, lalu melangkah menuju pantry.


Saat berada di pantry, salah satu karyawan, Lisa, datang menghampiriku. "Bagaimana? Apa kamu masih betah bekerja di sini?" tanyanya.


"Pak Zhan memberimu banyak pekerjaan, ya? Sebenarnya kamu tidak harus mengerjakan semua, kamu bisa minta tolong OB untuk membuatkannya Kopi," ucapnya kemudian.


Aku sudah pernah melakukan itu, alhasil aku dibentak karena tidak membuatkannya sendiri.


"Pak Zhan memintaku untuk membuatnya sendiri," jawabku.


"Bagaimana menurutmu? Kau setuju, kan? kalau Pak Zhan itu sangat cerewet dan menuntut." Lisa memelankan suaranya lalu mendorongku pelan dengan bahunya.


Alisku terangkat ke atas, tapi aku merapatkan kedua bibir, walaupun yang Lisa katakan itu benar adanya, sebisa mungkin aku harus menghindari bergosip di jam kerja.


"Maaf, aku harus segera mengantarkan ini." Aku segera berlalu pergi sambil mengangkat secangkir kopi yang telah selesai dibuat.


Seperti biasa setelah tiba di depan pintu ruangan Pak Zhan, aku mengetuk pintunya tiga kali.


"Masuk."


Setelah mendengar suara dari dalam, aku baru membuka pintu, dan perlahan aku taruh secangkir kopi di atas mejanya. Kulihat Pak Zhan sedang melakukan video call menggunakan smart phone miliknya, aku melirik ke benda persegi itu karena penasaran, ternyata dia sedang melakukan panggilan video dengan Pak YangYang.


Dengan raut wajah kesal ia meminum Kopi yang baru saja aku antarkan. Hanya seteguk, cangkir kopi segera diletakkan kembali ke atas meja.


"Apa ini? Terlalu manis! Kamu bikin Kopi apa kembang gula?" tanyanya dengan nada tinggi.


"Ma-maaf, Pak. Akan saya ganti." Aku segera mengambil cangkir kopi itu dan membuatkan yang baru.


Setelah kembali dengan Kopi yang baru, kulihat wajah Pak Zhan sudah lebih tenang. Ia sedang memeriksa laporan dengan teliti sambil sesekali membenarkan letak kacamatanya. Dia terlihat sangat berkharisma, wajahnya begitu manis berbanding terbalik dengan sikap dinginnya.


Tanpa sadar aku mulai memperhatikan dia dengan seksama, walaupun menggunakan kacamata, aku tetap bisa melihat sudut matanya yang panjang seperti ekor phoenix, dia juga memiliki hidung yang mancung, tapi aku lebih fokus pada sepasang daging merah muda lengkap dengan tahi lalat kecil di sudut bagian bawahnya ... Oh, Tuhan, seperti kue Bolu lembut yang ingin kusantap perlahan....


"Reba." Pak Zhan memanggil namaku, rupanya ia sadar sudah diperhatikan dari tadi.


"Kue Bolu!" seruku. Aku malah keceplosan dan langsung menutup mulutku.


"Kamu lapar? Memangnya kamu tidak sarapan dari rumah?" tanya Pak Zhan.


"Bu-bukan, maksud saya, siapa tau Bapak mau kue Bolu untuk teman minum kopinya," jawabku gelagapan. Kenapa juga aku bisa membayangkan hal seperti ini, aku sangat malu.


"Kamu boleh kembali, besok jangan lupa untuk menemui Yangyang, suruh ia segera menandatangani berkas laporan yang kuminta," pinta Pak Zhan sambil kembali berkonsentrasi dengan pekerjaannya.


"Baik, Pak." Aku berpaling dengan sedikit kaku, berusaha menutupi rasa malu.


"Reba."


Aku kembali menoleh saat namaku disebut dan langsung menjawab, "Iya, Pak."


"Hari ini setelah jam kerja jangan pulang dulu, kamu ke ruanganku untuk membuat diary report," tuturnya.


Aku mengangguk. "Baik, Pak."


Akhirnya aku keluar dari ruangan itu dan kembali ke meja kerjaku yang berada tak jauh dari sana, hanya berjarak dua meter dari pintu ruangan.


Beginilah hari-hariku bekerja di YangZhan Glow, tidak terasa masa percobaan kini tinggal sebentar lagi, selama dua bulan ini aku selalu bekerja lembur, aku baru boleh pulang kalau Pak Zhan sudah mengijinkan. Ini tidak masalah buatku, karena aku selalu berusaha bekerja dengan maksimal setiap harinya, tapi meski begitu tetap saja aku masih sedikit risau, mungkin aku baru bisa tenang kalau sudah diangkat jadi pegawai tetap.


...***...


Keesokan paginya....


Aku berjalan menuju ruangan milik Pak YangYang yang juga merupakan CEO di perusahaan ini. Berbeda dengan Pak Zhan, Pak YangYang lebih jarang hadir di kantor, tapi aku sudah menanyakan kepada sekretarisnya, dan beliau memastikan kalau hari ini Pak YangYang akan datang. Aku merasa senang saat mengetahuinya, aku dan Pak YangYang bisa dibilang memiliki hubungan yang baik, ia juga sudah seperti pahlawan yang membantuku saat mengalami kesulitan tempo hari. Walaupun aku tidak berani berharap lebih dengan hubungan ini, karena biar bagaimanapun dia tetap seorang atasan sedangkan aku hanya seorang pegawai di perusahaan miliknya.


Begitu tiba di depan pintu ruangan Pak YangYang aku mengetuk pintu lalu masuk membawa beberapa berkas untuk ditandatangani. Saat masuk kulihat Pak YangYang sedang bermain Mini Golf di ruangan yang cukup luas ini.


"Permisi, Pak. Pak Zhan meminta saya untuk membawakan berkas yang harus segera ditandatangani," ucapku sambil menaruh berkas itu di atas meja.


Pak YangYang langsung mengalihkan perhatiannya padaku kemudian menaruh stik Golf di tempatnya. Ia kemudian menghampiriku lalu duduk tepat di tumpukan berkas di atas meja dengan santai.


Aku sedikit gugup dengan caranya memandangku, tapi aku berusaha untuk tetap profesional dalam bekerja. "Kalau bisa, tolong ditandatangani sekarang, Pak," kataku sedikit memaksa. Aku harus segera mengantarkan kembali berkas ini supaya Pak Zhan tidak melampiaskan kekesalannya kepadaku lagi.


Pak YangYang malah tersenyum ke arahku dan berkata, "Kamu tidak perlu memanggilku Pak saat kita hanya berdua, panggil saja YangYang."


Bersambung