
POV; Zhan
Hujan deras mengiringi langkah kakiku saat mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhir, seolah langit juga turut menangis pilu atas kepergian insan yang dikasihi. Setelah berbulan-bulan hanya bisa terbaring lemah karena penyakit Leukemia yang diderita, istriku, Dewi, akhirnya berpulang ke haribaan Sang Pencipta.
Sekarang hanya tinggal aku dan si kecil Xiao Yuan. Aku tidak tahu bagaimana caranya menjalani hidup tanpa seseorang yang selama ini selalu mendukungku. Hanya dia yang bisa memahami dan terus berada di sisiku sampai akhir hayatnya.
"Jangan biarkan pendapat orang lain tentangmu menjadi pendapatmu terhadap diri sendiri," sebuah pesan dari mendiang istriku yang akan terus kuingat sampai kapan pun.
...***...
Setelah cukup lama berkabung, kini aku mencoba menata kembali hati ini. Aku berusaha kembali kepada rutinitas biasa. Walau bagaimanapun, aku tetap harus menjalani kehidupan sebagaimana mestinya.
Hari senin pagi saat matahari bersinar cukup cerah, aku berangkat kerja mengendarai mobil Audy silver seorang diri tanpa supir pribadi yang biasanya mengantarkan ke tempat kerja. Aku berkendara dengan santai diiringi musik jaz dari pemutar lagu pada perangkat mobilku, tidak membutuhkan waktu lama aku akhirnya tiba di gedung YangZhan Glow, perusahaan kosmetik yang sudah dirintis selama lima tahun bersama kawan baikku, Yangyang.
Saat pertama kali Yangyang mengajak untuk memulai bisnis industri produk kecantikan di Indonesia, aku sempat ragu, tapi sahabat baik sejak kuliah itu berhasil meyakinkanku bahwa dengan jumlah penduduk lebih dari 240 juta jiwa, peluang pasar kosmetik nasional sangatlah besar. Selain itu kosmetik juga merupakan barang esensial yang selalu dibawa oleh kaum hawa, paling tidak di dalam tas mereka harus memiliki lipstik, bedak, dan pensil alis agar berpenampilan menawan.
Aku sendiri juga sangat setuju kalau penampilan yang rapih dan menarik adalah pintu pertama bagaimana seseorang akan menilai diri kita. Jadilah sekarang kami membangun bisnis ini bersama. YangZhan Glow kini tumbuh dengan pesat dan menjadi salah satu perusahaan kosmetik yang cukup populer di pasar nasional, tetapi aku tidak cepat berpuas diri, masih banyak yang harus dicapai kedepannya.
"Zhan," sapa partner kerjaku Yangyang. Ia berdiri di koridor tak jauh dariku, sengaja menghentikan langkahnya saat melihat kedatanganku.
"Kamu tidak harus pergi bekerja, aku tahu kamu masih dalam keadaan berduka." Yangyang menarik sudut bibirnya hingga membentuk garis lurus. Aku tahu dia hanya mencoba memberikan perhatian, tapi aku sedang tidak ingin dikasihani sekarang.
"Sudah lebih seratus hari kematiannya, aku tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan," ucapku sambil melewatinya berjalan menuju ruangan tempat meeting hari ini. Yangyang sedikit memiringkan kepalanya kemudian memutar tubuhnya lalu mengikuti gerak langkahku hingga kami akhirnya berjalan beriringan.
Aku memutar kepala ke arah Yangyang dan bertanya, "Apa agenda rapat hari ini?"
"Kenapa kamu bertanya padaku? Itu, kan, tugas Sekretaris." Yangyang mencebik mendengar pertanyaan ku alih-alih memberikan pertanyaan baru. "Kamu belum menemukan Sekretaris pengganti?"
"Belum," jawabku seadanya. Sekretaris yang lama sudah diberhentikan sejak enam bulan lalu. Satu hal yang kusadari, memang aku terkadang sulit mentolerir kesalahan sekecil apapun itu. Entah sudah berapa orang yang bekerja sebagai Sekretaris di sini, tidak ada yang pernah bertahan lama di posisi itu.
"Sudah kuduga, tidak ada yang betah jadi Sekretaris mu," ledek Yangyang sambil terkekeh ria.
"*Qu xia di yu, mereka saja yang tidak becus bekerja." Aku bercicit kesal kemudian mendorong pintu kaca ruang rapat hari ini, di dalam ruangan sudah ada empat buah laptop yang dijejer rapi di atas meja bundar beserta dua orang pria yang kukenal baik.
Mereka adalah Manager Keuangan kami, Xu Kai,
dan Kepala bagian perencanaan produk, Lin Yi.
Karena kami berempat sudah hadir di sini aku mempersilahkan Xu Kai untuk memulai rapat.
"Penjualan produk tahun ini tidak secerah tahun lalu," Xu Kai membuka pembicaraan setelah mengirim file melalui laptopnya, laporan penjualan dalam bentuk diagram batang dikirim ke padaku dan juga Yangyang.
Aku membuka berkas itu, dan mulai membaca laporan yang diberikan secara seksama. Laporan itu Xu Kai buat dengan sangat terperinci, memang tidak salah aku mengangkatnya menjadi Manajer Keuangan.
Xu Kai kemudian melanjutkan, "Penjualan produk tahun ini mencapai 9,76 miliar rupiah, sedangkan tahun lalu bisa mencapai 11,2 miliar rupiah. Terdapat penurunan 10% sampai 15%."
Aku menautkan alis saat mendengar penjelasan dari Xu Kai. Tahun ini kami memang mendapat banyak kendala dari mulai banyaknya peraturan baru kemudian adanya sistem outsourcing, hingga gejolak akibat penaikan harga bahan bakar minyak subsidi.
"Kalau terjadi penurunan itu berarti kita harus bekerja lebih maksimal lagi, kita harus bisa memenuhi kualitas dan kebutuhan konsumen, dengan begitu pendapatan perusahaan juga pasti akan meningkat," tutur Yangyang. Seperti biasa ia memang selalu optimis walau dalam keadaan apa pun.
"Lin Yi, bagaimana dengan desain merk terbaru yang aku minta, apa sudah bisa dipresentasikan sekarang?" tanyaku pada pria yang duduk di sebelah Xu Kai. Aku sengaja memancingnya karena kulihat sedari tadi Lin Yi hanya diam saja.
"Maaf Pak, saya masih butuh waktu untuk membuat konsep produknya, saya tidak ingin terburu-buru dalam membuat desain kemasan agar hasilnya bisa memuaskan nantinya," jawab Lin Yi. Aku memang menghargai ketelitiannya, tapi menurutku Lin Yi terkesan hanya mengulur waktu.
Rapat berlangsung selama hampir dua jam, setelah rapat selesai aku yang lebih dulu berdiri disusul oleh Yangyang. Ketika kami melangkah keluar, Xu Kai dan Lin Yi sedikit menunduk memberikan penghormatan kemudian mulai merapikan meja.
Walaupun aku dan Yangyang sama-sama CEO di perusahaan ini, tapi sikapku dan dia sangat jauh berbeda. Aku selalu serius setiap mengerjakan sesuatu, sedangkan Yangyang terlihat sangat santai, seperti tidak terlalu perduli dengan sekitarnya. Kadang aku mempertanyakan, sebenarnya apa motivasinya membangun perusahaan ini bersama.
"Kamu mau ke mana setelah ini?" tanya Yangyang. Ia menghentikan langkahnya, membuatku ikut terhenti dan menoleh ke arahnya.
"Aku mau ke ruanganku dulu, banyak berkas yang harus ditanda-tangani," jawabku sambil menunjuk ke arah ruang kerjaku berada.
"Kamu harus segera mencari Sekretaris baru, kamu akan semakin sibuk kedepannya," celetuk Yangyang dengan senyum miringnya.
"Salah siapa aku jadi sibuk begini, hn?" tanyaku pada pria yang langsung menyibak rambutnya itu.
"Aku punya kesibukan lain, makanya aku menyerahkan segala urusan kepada yang lebih berkompeten," jawab Yangyang sambil mempertahankan senyum palsunya itu.
"Kamu menyerahkan semua kewenangan padaku agar bisa pergi bersenang-senang, kan?" protesku sambil bertolak pinggang.
"Jangan terlalu serius menanggapi segalanya, Zhan, santai saja." Yangyang memegang pundakku kemudian bertanya lebih santai, "Malam ini aku akan pergi ke Club' Stardust, kamu mau ikut?"
Aku menurunkan tangan Yangyang dari pundak kemudian berkata, "*Bai mu, jangan berbuat ulah, kamu masih ingat skandal kamu dengan artis ibukota tahun lalu? Harga saham kita sampai merosot tajam, bukankah aku sudah sering memperingatkan untuk menjaga nama baik perusahaan?"
"Iya, aku ingat, aku memang terlalu sering merepotkan, kalau begitu aku pergi dulu, ok? Aku serahkan urusan perusahaan padamu." Yangyang langsung melenggang pergi dengan langkah cepat sebelum aku sempat mengomelinya.
...***...
Harus kuakui, pekerjaan memang sudah aku jadikan pelarian untuk mengatasi kesedihan. Aku lebih memilih hanyut dalam kesibukan daripada berada di rumah yang membuat selalu terkenang mendiang istri. Aku baru mau pulang ke rumah setelah larut malam.
Saat tiba di rumah, putraku Xiao Yuan sudah tertidur pulas. Aku masuk ke kamarnya yang gelap, memandangnya terlelap dalam mimpi lalu perlahan aku mendaratkan ciuman di dahinya, setelah itu meninggalkan Yuan sendiri agar tidak mengusik tidurnya.
Aku keluar dari kamar Yuan dan menutup pintunya perlahan, tak berapa lama Bi Irah yang selama ini mengasuh Yuan menghampiriku dan berkata, "Akhir-akhir ini Tuan sering pulang larut malam, Yuan jadi sangat merindukan sosok ayahnya."
"Aku tahu," kataku lirih. Memang karena kesibukanku bekerja, aku hampir tidak ada waktu untuk Yuan.
"Maaf kalau saya lancang, tapi Anda harus sering menghabiskan waktu bersama Yuan, Tuan. Kasihan dia, Yuan sudah kehilangan kasih sayang seorang ibu di usia begitu muda, ditambah lagi ayahnya juga sibuk bekerja," tutur Bi Irah panjang lebar.
Aku hanya bisa tertunduk lesu mendengarnya, aku tahu yang dikatakan itu benar adanya, tapi aku juga tidak tahu apa yang harus kulakukan.
Suara smartphone yang diletakkan di atas meja mengalihkan perhatianku. Aku meninggalkan Bi Irah untuk segera menghampiri gadget itu. Saat mengintip layarnya, tertera panggilan dari Yangyang di sana. Aku membuang napas kesal, entah urusan apalagi sampai ia menghubungiku pada jam segini.
Meski begitu aku tetap mengangkat panggilan itu, "Halo?"
"Halo, Zhan! Kamu harus menolongku!"
Keningku seketika mengkerut, suara Yangyang di seberang sana terdengar genting.
Bersambung
Note*
qu xia di yu; pergilah ke neraka
Bai mu; mata putih