What's Wrong With My Boss

What's Wrong With My Boss
Hubungan




POV; Zhan


Aku menatap jam miniatur menara Big Ben di atas meja dengan gelisah, sudah cukup lama semenjak Reba pergi ke ruangan YangYang.


"Kenapa lama sekali? Apa menandatangani beberapa dokumen saja harus memakan waktu sebanyak ini?" Aku mulai bicara sendiri karena kesal.


Aku melepas kacamata, menaruhnya di atas meja kemudian berdiri dari kursi. Sialnya, perasaanku semakin tidak enak saja, aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi dengan pekerjaanku.


"Apa aku susul saja ke sana? *Bèndàn! Memangnya dia siapa sampai aku harus menyusulnya?"


Aku kembali duduk di kursi, mencoba fokus dengan pekerjaanku dan melupakan sekretaris bodoh itu, tapi ini terlalu sulit. Bagaimana kalau sampai YangYang berbuat sesuatu padanya? Aku tau betul bagaimana watak pria mesum itu.


Aku segera berdiri dan melangkah keluar ruangan, menurutku ini sudah tidak bisa dibiarkan. Dengan langkah cepat aku bergegas ke ruangan YangYang, di sepanjang koridor menuju ke sana para pegawai yang melihatku melintas langsung berdiri kemudian menunduk untuk memberi hormat. Mereka terlihat kaget dan bingung, aku memang jarang ke luar ruangan di waktu jam kerja seperti ini, biasanya aku hanya meminta sekretaris untuk melakukan berbagai hal agar aku tidak perlu ke luar ruangan.


Begitu pula saat aku memasuki lift untuk naik ke lantai atas, para pegawai yang kebetulan juga berada di dalamnya langsung kaget dan kompak menundukkan kepala. Sebenarnya tidak perlu sampai setakut itu padaku, aku ingin menyapa mereka untuk mencairkan suasana, tapi aku sedang terburu-buru sekarang, mungkin lain kali saja.


Aku disambut oleh Lisa, sekretaris YangYang saat tiba. Begitu aku ingin masuk ke ruangan, Lisa terlihat tergesa-gesa ingin melapor ke atasannya, tapi aku segera mengangkat tanganku dan menyuruhnya untuk duduk kembali. Aku lalu sengaja membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dulu.


Ceklek!


Sontak YangYang terlihat kaget melihat kedatanganku. Begitupun Reba yang langsung menoleh ke arahku. Ada apa ini? Mereka terlihat sangat akrab bersama, Reba berdiri hanya berjarak kurang dari satu meter dari YangYang, sedangkan YangYang malah duduk di atas meja kerjanya, sungguh tidak tahu diri.


"*Biàntài! Apa yang kalian lakukan di jam kerja seperti ini?" tanyaku sambil menatap dingin ke arah mereka berdua.


"Pak Zhan." Reba langsung berpaling dari YangYang kemudian berjalan menjauh dan berdiri di dekatku.


"Zhan, tidak perlu kasar seperti itu, kami hanya mengobrol." YangYang memutar matanya lalu berdiri dari meja tempatnya duduk.


Aku mengacuhkan YangYang dan memilih untuk melampiaskan kekesalan pada sekretarisku. "Reba, aku tidak perduli apa hubungan kalian berdua, tapi tolong bersikaplah profesional di tempat kerja!"


Reba menunduk setelah aku membentaknya. Mungkin aku sedikit kejam, tapi ini untuk kebaikannya.


"Zhan." YangYang terlihat melipat kedua tangan di dada, sebaiknya aku berbicara empat mata saja dengannya.


"Reba, kenapa kamu masih di sini? Kamu tidak punya pekerjaan lain?" tanyaku sinis. Mendengarnya Reba segera mengambil tumpukan berkas di atas meja kemudian ke luar ruangan meninggalkan aku dan YangYang.


"Ada apa dengan sikapmu itu, Zhan? Jangan bilang kamu sedang cemburu?" tanya YangYang sambil menyeringai seolah meremehkan.


"Pikirlah sesukamu, aku tidak perduli," jawabku ambigu. Sepertinya tidak ada gunanya berbicara panjang lebar dengan YangYang, toh, dia tidak akan menggubrisnya.


"Selesaikan saja kewajibanmu, berhentilah bermain-main." Aku berpaling dari YangYang, walaupun terlihat jelas ia masih tidak puas dengan pembicaraan ini.


"Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya, mana pernah kamu marah karena hal sepele seperti ini."


Aku mendengar perkataannya dari balik punggungku, tapi aku tidak ingin berbalik untuk menatap lawan bicara dan memilih untuk terus melangkah menuju pintu keluar.


"Jadi, semudah itu kamu sudah melupakan Dewi?" tanya YangYang dengan nada tinggi agar aku bisa mendengarnya dengan jelas.


Aku melepaskan gagang pintu yang sudah terlanjur kupegang, berbalik dan melangkah maju ke hadapan YangYang. Dengan jarak sedekat ini, dia akan mendengar kata-kataku meski aku berbisik sekalipun.


"Jangan pernah kamu sebut nama istriku dengan mulutmu itu. Kamu sama sekali tidak tahu apa artinya cinta, kamu hanya tau bagaimana mempermainkan hati wanita," ucapku pelan, tapi penuh emosi yang berusaha aku tahan.


YangYang menatapku dengan tajam, membuatku harus mundur satu langkah darinya. Dia benar aku tidak punya hak untuk melarang apapun hubungan mereka kelak, tapi posisinya sekarang sama seperti aku, YangYang juga pasti belum menyatakan apapun pada Reba.


"Kamu memang benar, aku tidak berhak melarang, karena memang tidak ada hubungannya denganku, tapi apa kamu sendiri yakin kalau Reba menyukaimu? Ha?" tanyaku.


YangYang mendengus mendengar pertanyaanku. "Aku tidak pernah gagal mendapatkan apa yang aku mau," lontarnya penuh percaya diri.


Sudah cukup apa yang aku dengar, aku tidak ingin hubungan kami memburuk hanya karena seorang sekretaris baru.


"*Nǐ fēngle."


Aku pergi meninggalkan YangYang, lebih baik aku mengerjakan sesuatu yang lebih berguna daripada berdebat masalah wanita.


...***...


Setelah kembali dari tempat YangYang aku malah berjalan mondar-mandir dalam ruanganku. Kata-kata kalau dia yang lebih dulu menyukai Reba selalu terngiang di kepalaku. Aneh sekali, setelah mendengar penyataan YangYang itu, aku jadi merasa tidak tenang.


Apa mungkin benar yang dikatakan YangYang kalau aku sedang cemburu? Yang benar saja! Dia baru jadi sekretarisku dua bulan lebih, apa yang bisa membuatku jatuh hati padanya?


Semampunya aku mencoba menyangkal apa yang ada dalam benakku, kemudian aku berhenti berputar-putar dan berjalan ke arah jendela kaca satu arah di samping pintu, dari dalam sini aku bisa melihat meja kerja Reba. Bidadari itu masih setia di belakang mejanya mengerjakan banyak pekerjaan yang sengaja kuberikan padanya. Apa boleh buat aku tidak punya alasan lain untuk memanggilnya kalau bukan karena pekerjaan.


Tak lama kulihat ia berdiri dari duduknya. Aku sedikit panik saat kulihat dia menuju ke ruanganku. Setengah berlari aku kembali duduk manis di balik mejaku, menghidupkan kembali laptop dan berpura-pura sedang mengerjakan sesuatu.


Tok tok tok


Reba mengetuk pintu, aku langsung menjawab dengan santai, "masuk."


Aku melirik sekilas, kulihat wajah Reba tidak seperti biasa, apa dia marah padaku? Entah kenapa aku jadi sedikit gugup dan mencoba menghindari kontak mata dengannya.


"Pak Zhan." Reba menyebut namaku, seperti ingin mengatakan sesuatu hal yang penting.


"Hm." Aku menyahut, tapi tetap menatap layar laptopku.


"Maaf sebelumnya, saya sudah bekerja selama dua bulan lebih di perusahaan ini, walaupun sekarang saya masih dalam masa percobaan, tapi bolehkah saya meminta gajih di muka?" tanya Reba.


Saat mendengar pertanyaan Reba, aku segera mengalihkan perhatianku padanya. Ternyata dia sedang punya masalah keuangan, kami bertemu sebelumnya pun karena adiknya terlilit hutang. Bisa kulihat Reba menggenggam tangannya dengan kencang, pasti sulit baginya mengatakan hal ini padaku.


"Masa percobaanmu belum selesai, aku belum bisa memberimu gajih," jawabku, mendengarnya Reba terlihat sangat kecewa.


"Tapi kalau memang sangat butuh uang, kamu bisa jadi supir sementara, antarkan aku pulang setelah bekerja, aku akan membayar langsung perjamnya."


Bersambung


Note*


Bèndàn \= Bodoh


Nǐ fēngle \= kamu gila


Biàntài \= mesum