
Argh.. Rintihku kesakitan sambil menutupi lukaku. Darah mengalir dari perutku dan tak kunjung berhenti. Orang-orang disekitarku tambah panik dan segera menelepon ambulans.
Wiung.. wiung.. wiung..
Suara ambulans bergema di telingaku. Setibanya di rumah sakit aku segera dibawa ke IGD dan mendapat perawatan khusus. Aku sekuat tenaga berusaha untuk tetap tersadar, namun semakin lama aku tak kuat. Dokter segera memeriksa keadaanku, mengecek lukaku, dan mengobatinya. Saat ditengah pengobatan berlangsung, aku pun tak sadarkan diri. Seketika tubuhku lemas, aku pun mengalami koma.
Beberapa hari berlalu, kondisiku semakin memburuk hingga akhirnya aku mengalami kritis. Malam itu, tepat pukul 12 malam aku terbangun dan melihat sekitarku, tampak orang tuaku sedang tertidur. Kupegang tangannya dan kupeluk, aku pun menangis.
"Loh?" pikirku.
"Ayah? Ibu? Aku udah sehat," jelasku sambil tersenyum.
Tak ada respon dari keduanya, aku semakin merasa tak enak. Kulihat tubuhku yang lain sedang terbaring di atas ranjang dengan wajah pucatnya dengan infus ditangannya.
"Loh?" Aku pun terkejut dan menangis sambil meremas rambutku dengan kedua tanganku.
"Haha, ga mungkin!" Teriakku tak terima sambil berjalan mundur.
"Hahaha, ibu. Ayah. Aku disini. Kenapa kalian ga peduli? Haha, kalian jahat. Kalian jahat!" Teriakku lagi sambil menutupi wajahku dengan kedua tanganku dan perlahan jongkok di dinding dekat pintu itu.
Seketika aku berfikir apakah aku sedang bermimpi? Ataukah ini seperti dalam film?
Tanpa fikir panjang aku pun datang menghampiri tubuhku yang lain itu dengan berjalan sempoyongan. Kupegang tangannya, sangat dingin. Dia sangat mirip denganku, karna tak percaya aku pun menutup mulutku sambil menangis dengan tanganku yang lainnya.
Sekilas ada bayangan orang melintas didepan pintu kamarku. Aku pun segera menengoknya karena penasaran dan mengikuti kemana perginya orang tersebut. Sesampainya aku pada sebuah ruangan yang entah aku pun tak tau ruangan apakah itu, kulihat seorang wanita duduk di lantai pojokan ruangan dengan dress-nya yang bewarna putih dengan rambut panjangnya yang tergerai, ia menutupi wajahnya dan menyatukan kakinya dengan kedua tangannya sambil menangis.
Hiks.. hiks.. hiks..
Suara tangisnya yang terisak seperti memenuhi ruangan tersebut. Suasana keheningan dan dinginnya malam, ditambah ruangan tersebut yang cukup gelap membuat suasana di ruangan tersebut menjadi horror.
Seketika suasana berubah menjadi semakin mencekam dan wanita itu pun menghentikan tangisnya, ia pun terdiam sambil mematung. Disitulah perasaanku makin tak enak dan mulai berjalan mundur menjauhinya. Baru dua langkah pijakan, wanita itu seketika menengok ke arahku dan menatapku. Segeralah ia berdiri dan berjalan dengan cepat ke arahku dan mendorongku. Sekilas kulihat wajahnya yang pucat dengan luka-luka yang ada, dengan darah di beberapa bagian tubuhnya. Sambil terkejut dan tubuh yang tak siap, aku terjatuh dan kepalaku pun terantuk ke lantai.
Bruk...
"Argh.. sakit.." rintihku.
Dengan sekuat tenaga aku berusaha untuk bangkit, namun aku sudah tak kuat lagi. Sedikit demi sedikit pandanganku pun mulai kabur, bayangan wanita itu pun tidak bisa kulihat dengan jelas. Aku pun terpejam dan tak lama kemudian sekilas serpihan-serpihan masa lalu pun berterbangan di benakku. Aku merasakan bahwa aku terjatuh ke jurang yang amat sangat dalam. Rasanya sangat menyiksa, itu membuatku sesak dan tertekan.
Huft.. huft..
Sesak rasanya namun aku tetap berusaha untuk tetap bernafas. Kepalaku sakit seperti ingin meledak rasanya.
Byurr..
Blubug.. blubug.. blubug..
Buih air itu terdengar di telingaku. Aku merasakan pukulan yang sangat keras pada tubuhku, seperti akan patah rasanya. Aku tenggelam dan tak bisa bernapas. Berusaha untuk berenang menuju permukaan. Namun tubuhku sangat tak berdaya dan aku pun menyerah dan berpasrah padaNya. Aku merasakan kehampaan dan ketakutan. Tiba-tiba suara indah seperti instrumen musik muncul seolah seperti aku sudah berada di surga.
"Apakah sudah berakhir? Apakah aku sudah mati?" Pikirku sambil menengok ke kanan dan ke kiri perlahan sambil mengedipkan mata.
Aku pun merasa bahwa kakiku pun sedang memijak tanah. Aku merasakan bahwa aku sedang berada di dasar laut. Dengan memegang dadaku aku pun menengadah untuk memastikan bahwa aku telah terjun hingga jatuh ke dasar laut.
Seketika tanah itu seperti longsor, aku terperosok dan terpental ke atas. Tubuhku sangat lemas dan seperti terombang-ambing kian kemari, instrumen itu pun seketika berubah menjadi makin mencekam. Ritme dan melodi dimainkan dengan kasar dan tak karuan. Aku semakin tertekan, seperti sedang dicekik.
Perih.. sakit..