What's Wrong With Me?!

What's Wrong With Me?!
Chaky



Sepulangnya aku di rumah, aku merapihkan barang-barangku. Chaky yang dari tadi menempel padaku pun mengikutiku hingga ke kamar.


"Chaky ikut kamu terus lho dari tadi," ucap ibuku.


"Mungkin Chaky nyaman sama Fanny," balas ayahku.


"Kakak curang, Chaky lebih sayang sama kakak," sahut adikku cemberut.


"Uh Chaky sayang," ucapku sambil mengelus kepala Chaky.


Chaky hanya diam seperti layaknya anjing, tapi yang lain darinya adalah dia seperti mengerti perasaanku. Saat aku sedih Chaky selalu datang padaku dan menempelkan dirinya padaku sambil mengusap-usapkan tubuhnya ke tubuhku dengan maksud menenangkanku. Saat aku senang Chaky selalu ikut senang, ia akan mengibas-ibaskan ekornya dan mengusap-usapkan tubuhnya ke kakiku. Ia selalu mengerti perasaanku dan selalu ada untukku. Aku bersyukur karena nenek masih sayang padaku.


"Fan, itu temen-temenmu pada dateng. Suruh masuk gih," kata ibuku yang membuyarkan lamunanku.


"Ah iya bentar," sahutku sambil menghampiri sahabatku itu.


"Ah kalian dateng ga bilang-bilang sih," ucapku.


"Yo sis, kau cek hp kau lah," jawab Rei.


"Gua tadi udah bilang ya, lu aja yang ga baca chat gua," sahut Rika.


"Emang tuh, makanya jangan sedih-sedih banget, jadi tambah **** kan lu," sahut Rei sambil mengelus kepalaku.


"Sorry hp lagi gua charger tadi," balasku sambil menyikut Rei.


"Sebenernya kita kesini cuma mau main aja sih, tante bilang lu udah balik. Yah sekalian kita mau jenguk lu, kali aja lu lagi sedih banget butuh sandaran," ucap Rachel.


"Aww kalian emang deh. Gua sayang banget sama kalian," balasku dengan terharu.


"Uh punya kawan baru nih rupanya," sahut Putra sambil mengelus Chaky.


"Oh ini, dari nenek gua. Namanya Chaky, anjing kesayangan nenek gua," jelasku.


"Ih imut gini loh," sahut Rika.


"Pasti seneng deh," sahut Rachel.


"Yo cuma anjing kok bangga," sahut Rei pedas yang disusul dengan sikutan Nanda.


"Ah gua ambilin sesuatu ya," balasku sambil pergi meninggalkan mereka.


Chaky yang dengan santainya mengekor aku hingga ke dapur. Bahkan ia selalu mengikutiku kemana pun aku pergi, terkecuali saat aku mandi. Menurutku ia adalah anjing yang baik dan setia. Tak lama kemudian aku kembali dengan membawakan beberapa camilan dan minuman.


"Anjing lu lumayan ya," sahut Nanda.


"Lumayan gimana nih?" tanyaku.


"Kalo gua liat dia tuh sayang banget sama lu, sampe ngekor segala," jelasnya.


"Ah, gua juga ngerasa gitu sih. Beruntung banget gua punya nih anjing," balasku.


Kami pun berbincang cukup lama dan pergi meninggalkan rumah untuk keluar sambil berjalan-jalan. Tempat yang kami tuju ialah sebuah cafe yang tidak terlalu jauh dari alun-alun kota.


"Gimana nih tempat?" tanya Putra.


"Lumayan nih, tau tempat ini dari mana lu?" tanya Rei.


"Waktu itu gua mau beli buku di deket sini, ga sengaja liat nih tempat. Karna menurut gua nih tempat lumayan banget, gua cobain tuh mampir sini," jelas Putra.


"Aiyo, pas banget, gua suka," balas Rika sambil menepuk pundak Putra.


Tak lama kemudian pelayan cafe pun datang menghampiri kami sambil membawa secarik kertas dan menu.


"Mau pesan apa kak?" tanya pelayanan cafe sambil menyodorkan menu.


Setelah selesai memesan pelayan itu pun mengoreksi pesanan kami dan meninggalkan meja kami. Kami pun berbincang hingga pesanan yang kami pesan pun tiba. Saat sedang asyik menikmati pesanan kami masing-masing, Rika menghentikan aktivitas kami.


"Eh woy, gua mau ngomong nih," ucapnya serius.


"Ngomong tinggal ngomong aja apa susahnya," balas Rei sambil memakan makanannya.


"Kalian pasti tau kan rumah gua," ucap Rika.


"Woy kita udah sahabatan lama banget ya, ga mungkin kita ga tau lah, lagian kita juga kadang ke rumah lu," balas Rei sambil sesekali memakan makanannya.


"Ih dengerin dulu Reinandra Anggara Chandra," balas Rika sambil menyipitkan matanya kepada Rei.


"Emang kenapa?" putus Rachel.


"Beberapa hari yang lalu ada orang pindah ke rumah yang deket rumah gua, kalian tau kan rumah kosong yang ga jauh banget dari rumah gua itu, yang agak rusak juga, yang rumahnya tuh agak didalem gitu," ucap Rika.


"Yang kelilingnya kek kebon gitu?" tanya Nanda.


"Iya itu," balas Rika sambil mengacungkan garpunya.


"Bukannya itu agak jauh dari warga? Setau gua itu tempat udah lama ga ditinggali, rumahnya pun udah agak rusak gitu, harus kasih sedikit renovasi baru bisa nyaman dipake," sahut Putra.


"Nah itu, gua sempet beberapa kali nengok tuh tempat abis ditempatin dan gua tuh ga pernah liat tuh orang renovasi rumah gitu. Yah jadi orangnya tuh tinggalin tempatnya apa adanya," jelas Rika.


"Kok bisa nyaman banget gitu," sahut Rei.


"Orangnya juga agak tertutup gitu, agak aneh juga. Awalnya gua sih biasa aja waktu ngerti ada yang bakal nempatin tuh rumah. Tapi kan semenjak dia ngeliatin gua, gua jadi merinding," tegas Rika.


"Mulai kan," sahut Rei.


"Dih, orangnya tuh kalo ngeliatin gua kek ada hawa membunuh gitu menurut gua. Ih suer ngeri banget bawaannya," jelas Rika.


"Sampe segitunya kah?" tanya Rachel.


"Behh, kalian belum pernah liat sih. Selain nakutin dia juga jarang keliatan gitu loh," jelas Rika.


"Maksudnya gimana ngomong yang jelas atuh neng," sahut Nanda.


"Dia jarang keliatan di masyarakat gitu, yah maksudnya jarang minta tolong gitu, orangnya tertutup banget lah pokoknya," jelas Rika.


"Udah gausah dipikirin ah, mending abisin dulu terus kita balik. Udah jam segini juga," sahutku.


"Yang cowo cowo sih gampang, pulang malem juga ga masalah. Nah yang ciwi ciwi nih ribet, ntar ini lah itu lah. Biasanya," sahut Rei.


"Udah buru daripada gua tinggal nanti, lu juga bayarin makanan kita," sahut Putra sambil menyikut Rei.


Setelah selesai makan dan membayar pesanan kami, kami pun segera meninggalkan cafe tersebut dan beranjak pulang. Saat kami sedang ditengah perjalanan, sebuah mobil seperti mengikuti kami dari belakang, orang yang mengendarai mobil tersebut sangat misterius karena kaca mobil tersebut sangat gelap dan mobil yang ia gunakan berwarna gelap.


"Serius tuh mobil ngikutin kita?" tanya Putra.


"Gatau tuh, dari tadi kita keluar sampe sekarang satu jalur mulu. Heran gua," balas Rei.


"Emang sih, tuh mobil kek ngikutin kita mulu," sahut Nanda.


"Kok gua jadi merinding gini sih," sahut Rika sambil memeluk Rachel.


"Udah-udah positif thinking aja," balas Rachel sambil mengelus kepala Rika.


"Ih siapa sih tuh orang, bikin greget aja," sahut Putra.


"Mending kalian diem, positif thinking aja napa sih. Biar kita juga enak, pulang dengan tenang," balasku.


Seketika seisi mobil pun diam sambil menikmati perjalanan. Putra yang dengan sabarnya selalu mengantarkan kami sampai tujuan dengan selamat dan memberikan kenyamanan. Sesampainya aku dirumah..


"Makasih ya buat hari ini," ucapku.


"Yoo, santai aja sis," balas Rei.


"Besok gua jemput lagi, kek biasanya ya," balas Putra.


"Iya gua tunggu kek biasanya," balasku.


"Awas lu masih ngebo," sahut Rika.


"Ntar kita bawain air dingin lu," sahut Rachel.


"Yaudah gua pinjel wajannya tante," sahut Nanda.


Hahahaha tawa kami sebelum akhirnya meninggalkan rumahku.


"Yaudah kita cabut dulu, jan lupa besok," ucap Putra.


Mereka pun meninggalkanku, aku yang masih heran pun berdiri beberapa saat di depan pintu dan memandangi mobil yang dari tadi mengikuti kami. Bagaimana bisa mobil tersebut mengikuti kami sampai rumahku? Bagaimana bisa dia masih mengikuti? Setelah mobil tersebut tak nampak aku pun segera masuk ke rumah dan menuju kamarku. Chaky yang menyadari kepulanganku pun segera menghampiriku dan mengikutiku ke kamar tidurku. Aku sudah lelah dan segera beristirahat.


Pagi hari pun tiba, kali ini selain alarm Chaky menggantikan ibuku untuk membangunkan ku. Aku segera bangun dan melakukan aktivitas seperti biasa yang ku lakukan saat akan sekolah. Merapihkan tempat tidur, merapihkan tas, mandi, makan, dan menunggu sahabatku datang menjemput. Tak lama kemudian sahabatkupun datang dan kami pun berangkat. Chaky dengan setianya menghantarkan ku hingga depan pintu.


Sesampainya di sekolah kami pun mengikuti pembelajaran seperti biasanya, namun hari ini berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Seorang siswi di kelas kami yang sangat gemar bergosip pun memamerkan sesuatu dikelas dan membuat ulah.


"Eh liat deh ganteng kan," ucap Siska ratu gosip kelasku.


"Siapa nih, gebetan baru ya?" tanya salah seorang siswi yang ikut menimbrung.


"Ah iya donk, gua sama dia udah pacaran beberapa hari lalu, hampir 2 minggu sih," ucap Siska.


"Halah gitu aja belagu," sahut Rei sinis.


"Hari ini gua jadian sama dia loh," sahut Siska tidak menghiraukan ucapan Rei.


"Paling-paling beberapa hari lagi udah ganti," sahut Rika.


"Iri bilang boss," sahut Siska melirik ke arah Rika.


"Yuk mending pergi, disini unfaedah banget," sahut Rachel sambil menarik lenganku dan Rika.


"Hah panas banget," sahut Nanda sambil memainkan kerahnya.


Aku, Rika, Rachel, Nanda, Rei, dan Putra pun meninggalkan kelas dan menuju parkiran.


"Ah sayang kamu jemput aku," ucap Siska manja kepada pacarnya yang menghentikan langkah kami.


"Huek jijik banget gua liat kek beginian," sahut Rika.


Siska yang baru menyadari kehadiran kami pun segera mengengok ke arah kami dan pergi, begitu pula dengan pacar barunya.


"Ah sayang ada nyamuk disini, kita pulang yuk," ajak Siska manja kepada pacarnya.


"Suer gua enek banget, mau mual rasanya," ucap Rika tak tahan.


"Udah-udah, ntar ribut lagi, lagi," sahut Rachel.


"Tuh cowo siapa sih?" tanya Nanda.


"Iya tuh, kenapa bisa sama Siska gitu," sahut Rei bingung.


"Kalo diliat-liat sih mirip orang baru yang gua ceritain ke kalian waktu di cafe itu," balas Rika.


"Serius lu," sahut Putra.


"Gua ga tau juga sih, mirip gitu soalnya," jelas Rika.


"Mau sampe kapan kita diem disini sambil bahas orang gak penting?" tanya Rachel.


Tanya Rachel membuat kami melanjutkan langkah kami. Setibanya kami di parkiran kami segera pulang.


"Bagian mananya?" tanya Rika.


"Tentang sikap, sifat, yang tentang psikologis gitu," tegas Rei.


"Lumayan sih," balas Rachel.


"Gatau gua, gak paham banget dah," balas Nanda.


"Buat lu gua ga tanya, lu tidur tadi," balas Rei.


"Siapa lagi kalau bukan dia si kang molor," balas Putra sambil mengintip Nanda yang duduk di belakang.


Hahahaha tawa kami membisingkan mobil.


Sesampainya dirumah, lagi-lagi Chaky yang menyadari kepulanganku pun menyambut kami. Kami pun masuk dan beristirahat sebentar hanya dengan sekedar duduk-duduk dan bermain gadget sambil memakan camilan.


Setelah Rika, Rachel, Rei, Nanda, dan Putra pergi, aku pun kembali ke kamarku dan memainkan gadget ku.


Kalian udah sampe? -Fanny


Barusan sampe nih. -Putra


Gua udah makan hehe. -Rika


Gua udah mau tidur. -Nanda


Biasaan lu kang molor. -Putra


Dih jam segini tidur? -Rachel


Iya donk, gua~ -Nanda


Rei kemana nih? -Rika


Eaaa cariin donk:3 -Rachel


Tau tuh, cari cewe kali wkwk -Putra


Enak aja, gua abis mandi. -Rei


Manteb tuh... -Fanny


Bro, kalian gak mandi? -Rei


Dih seenak jidat lu-_ -Rika


Mueheheheh-, -Rei


Setelah chat itu berakhir aku pun merebahkan diriku diatas ranjang yang empuk bersama Chaky. Malam pun berlalu, pagi pun datang.


"Ah aku ketiduran," ucapku.


Aku pun segera beranjak dan mempersiapkan diriku untuk bersiap ke sekolah. Kulihat jam masih sedikit lama lagi dan aku pun memainkan gadget ku.


Fan? -Putra


Hm? -Putra


Stelaxia Fanny? -Putra


Stelaxia Fanny Berlianda-_ -Putra


Oke centang 2 abu-abu') -Putra


Intinya jan lupa besok gua jemput, jan lupa besok sekolah :) -Putra


Aiyo, maaf semalem gua ketiduran, heheh gua tunggu') -Fanny


Sambil menunggu mereka datang, aku bermain game moba kesukaanku. Tak lama kemudian mereka pun datang.


"Ayo buruan," ucap Putra.


Tanpa basa-basi aku segera masuk dan kami pun segera berangkat.


"Minggu depan kita libur lagi," ucap Putra.


"Hah serius?" tanya Rika tak percaya.


"Iya, sekolah ada acara gitu setau gua," balas Putra.


"Akhir-akhir ini sekolah sering banget kosong," sahut Rachel.


"Kenapa lu? Sedih gitu," sahut Rei.


"Yah cuma kurang seneng aja gitu, heran gua," balas Rachel.


"Kalo dipikir-pikir emang bener sih," sahut Nanda.


"Yaudah sih ga papa, lagian juga gak masalah kok," sahut Rei mengakhiri pembicaraan.


Sesampainya di sekolah kami pun mengikuti pelajaran seperti biasanya dan saat waktu pulang tiba...


"Sis, katanya pacar barumu mau jemput?" ucap salah seorang siswi di kelasku.


"Jelas donk," balas Siska bangga.


"Pulang yok," ajak Rei sengaja mengeraskan suaranya sambil menarik Nanda dan Putra.


"Kok gua jadi penasaran sama pacar barunya Siska sih?" ucap Rika setelah di pintu gerbang sekolah.


"Jangan bilang lu cemburu," sahut Rei.


"Eaaa yang jomblo," goda Nanda.


"Apaan kau," tanya Rachel sadis.


"Udah, ngapain juga berantem," sahutku.


"Mending kita cari makan," sahut Putra.


"Ikutin mereka aja, gua penasaran sama cowonya, kek orang baru di deket rumah gua gitu soalnya," ucap Rika.


"Oh ayolah," sahut Rei malas.


"Daripada ga ada kerjaan," sahut Putra sambil mengikuti mobil Siska dan pacarnya.


Kami pun mengikuti mobil Siska dan pacarnya, setelah Siska turun dari mobil dan masuk ke rumahnya. Entah apakah pacarnya menyadari bahwa kami mengikutinya sejak tadi atau tidak. Setibanya kami di rumahku...


"Apa lagi?" tanya Rei sinis.


"Hehe aku gak liat pacarnya tadi," balas Rika.


"Bukannya mobil di belakang mobil pacarnya Siska?" tanyaku.


"Ah iya juga, dia ganti ngikutin kita," balas Nanda.


"Ngapain juga dia ngikutin kita? Mau perhitungan?" tanyaku.


"Mending ati-ati aja dah," balas Putra.


"Hoo tuh, daripada ntar kenapa-kenapa," sahut Rachel.


Dua hari berlalu dan seperti sebelumnya, mobil pacarnya Siska pun sering menghantui kami. Hingga pada suatu hari....


"Aiyo Rika, rumah kau sepi kali," ucap Rei.


"Ortu belum balik," balas Rika.


"Untung malem mesti balik yakan," sahut Nanda.


"Iya, untungnya sering balik," balas Rika.


"Kalau tinggal sendiri kan enak juga ada tetangga," balas Rachel.


"Pasti ada temen juga kan lu, ada bibi juga disini," balas Putra.


"Iya," balas Rika.


Tiba-tiba sebuah mobil melintas dan kami pun melihatnya.


"Emmm, guys?" tanya Rei.


"Yang gua bilang itu," sahut Rika.


"OMG," sahut Nanda.


Tulilit tulilit... (Nada dering telepon)


"Wait," ucapku sambil mengangkat telepon.


"Hallo?" ucap ibuku.


"Iya buk?" jawabku.


"Chaky. Chaky, Fan," balasnya.


"Kenapa?" tanyaku.


"Dia mati," balasnya.


"Hah?! Gimana bisa?" tanyaku kaget.


"Dia berdarah di halaman luar," jelasnya.


"Oh my God. Kenapa bisa? Biasanya dia didalem kan?" tanyaku tak percaya.


"Ibu juga gak tau, waktu ibu keluar buat cari Chaky, dia udah berdarah gak bernyawa gitu, ibu kaget Fan," jelasnya.


"Yaudah bentar lagi aku balik," balasku sambil mengakhiri telepon.


"Ah guys, gua harus balik duluan," ucapku.


"Kenapa?" tanya Nanda.


"Chaky mati," balasku pasrah.


"Hah? Serius lu?" tanya Rachel kaget.


"Ibu gua telfon tadi, bilang Chaky mati," balasku.


"Yaudah ayok kita kesana," sahut Putra.


Kami pun segera pulang ke rumahku dan melihat keadaan Chaky. Kami pun terkejut saat kami benar-benar melihat Chaky sudah mati dengan banyak darah di sekitarnya. Bibi dengan cemasnya membawa beberapa orang untuk membantu menguburkan Chaky. Saat aku ke kamarku, aku menemukan secarik surat yang didalamnya berisi sebuah pernyataan.


Bagaimana rasanya? Enak bukan? Aku sangat puas jika aku bisa melihatmu menangis. Aku akan sangat puas jika aku dapat mendengarkan jeritanmu. Aku akan sangat bahagia jika aku bisa membuatmu frustasi. Aku ingin mencicipi darahmu dan menikmatimu.


Sebuah pesan tanpa nama itu pun seperti datang untuk menerorku. Aku takut akan terjadi sesuatu padaku nanti, dan disisi lain aku sangat sedih karena harus ditinggal orang yang kusayang dan peliharaan kesayanganku.