What's Wrong With Me?!

What's Wrong With Me?!
Kemah



Malam ini adalah malam yang cukup indah, bintang bertaburan di langit menghiasi cahaya rembulan di iringi suara hewan malam.


Klunting.. ( Suara ponsel ).


Fan, jangan lupa tidur. Hari ini gak usah terlalu dipikirin. Daripada gak ada gunanya, cuma buat lu capek aja. Jangan lupa jaga kesehatan juga. Besok sekolah, besok kita juga jemput lu. See you:3 From: Putra


Aku yang membaca chat itu tanpa sengaja tersenyum. Apakah dia sangat peduli padaku? Tanyaku dalam hati dan segera membalas chatnya.


Iya, bentar lagi juga tidur. Lu juga, jangan lupa doa:) See you:3 From: Fanny


Segera aku meletakkan ponselku di meja dan segera merebahkan diri. Memang benar, ranjang adalah solusi tepat untuk menenangkan pikiran dan terlebih sangat nyaman.


Pagi itu pukul 05.00 WIB aku terbangun dari tidurku. Aku pun segera merapihkan tempat tidur dan beranjak mandi. Setelah mandi barulah aku bersiap dan menuju meja makan untuk menikmati sarapan. Tampaklah piring berisikan telur dadar dan roti bakar yang menggugah selera dengan ditemani segelas susu hangat. Sebenarnya hanya sarapan biasa, namun kali ini membuat air liurku ingin terjun, perutku pun sudah tak sabar untuk menerimanya. Mungkin karena semalam aku tak makan? Pikirku.


Setelah sarapan selesai aku segera berpamitan dan tak lama kemudian sahabatkupun datang. Kami selalu pergi ke sekolah bersama.


"Gimana semalem? Kalian bisa tidur kan ya?" tanya Rika memulai pembicaraan.


"Jelas, gua tidur nyenyak banget," jelas Rei.


"Gua biasa aja kali, kek biasanya," jawab Rachel.


"Wait. Kalian bisa tidur nyenyak?" tanya Nanda tak percaya.


"Nah gini nih, biasanya," canda Putra.


"Kemaren sodara gua main ke rumah, ga bisa tidur gua. Sodara gua sama adek gua jadi satu. Uh mau merem aja susah banget," sahut Nanda mengadu dengan kesal.


"Hahahaha enak tuh," jawab Rika sambil tertawa.


Tak lama kemudian sampailah kami di parkiran sekolah. Kami berjalan menuju kelas dan duduk di tempat biasanya kami duduk. Ya, kemarin adalah hari pertama dan terakhir aku bertemu Jessica. Memanglah pertemuan yang sangat singkat, Andra pun tak kelihatan lagi.


"Hari ini Andra anak kelas 3 IPA yang kemaren itu baru aja pindahan. Dia ikut abang sama ortunya ke Medan." ucap Putra.


"Tau dari mana lu?" tanya Rika.


"Gini-gini gua tau lah, gampang aja donk gua kan ikut OSIS," jawab Putra bangga.


"Jadi ga ketinggalan info donk," sahut Rei.


"Ga tau juga kapan, intinya sekolah mau adain kemah loh," ucap Putra.


"Wow? Really? Gua pengen banget, udah lama ga kemah. Gua kangen," jawab Nanda penuh harap.


"Semoga aja jadi, kasihan dia kalo batal," sahut Rachel menyindir Nanda.


Hahahaha tawa kami menyelimuti ruang kelas.


Pelajaran berlangsung hingga sore hari. Sebelum pulang sekolah, guru piket mengunjungi tiap kelas dan membagikan secarik surat. Dan benar apa yang dikatakan Putra, akan ada kemah.


"Anak-anak surat itu untuk kalian berikan pada orang tua ya. Minta persetujuan dan tanda tangan, jangan lupa kalian juga ikut tanda tangan. Bagi yang tidak bisa mengikuti kegiatan, dimohon untuk memberikan alasan yang logis. Vote untuk pelaksanaa akan diadakan dua hari mendatang," ucap Pak Yanto.


Setelah menerima surat tersebut kami segera pulang dan meminta persetujuan orang tua. Hari yang dinanti pun tiba, vote dimulai. Hasilnya adalah jadi kemah.


"Kemah akan kita adakan untuk kelas 2 minggu yang akan datang. Kurang lebih 2 hari 1 malam lamanya, untuk kelas 3 tidak ada kemah dan kelas 1 mendapat jatah bulan depan," ucap Kepala Sekolah memberi pengumuman.


Bravo.. Nanda yang tak sabar itu pun tersenyum lebar-lebar dan sangat berbinar.


"Dasar bocah," gumam Rachel sambil menepuk pundak Nanda.


Hari yang dinanti pun tiba, akhirnya sore itu kami sampai di tempat dimana kami akan berkemah. Tempat yang sangat sejuk, nyaman dan menenangkan itu pun memanjakan diri kami.


"Disini adem ya, pegunungan gini emang paling enak buat bersantai," ucap Rei.


"Ga sia-sia kita jalan, tempatnya bagus pula. Harus seneng donk," balas Nanda.


"Eh tapi kalian kek ngerasa aneh gitu gak sih? Tadi gua liat ada rumah gitu," adu Rachel.


"Mana ada sih. Ini daerah jauh dari orang, ga mungkin kan ada orang yang mau tinggal sendirian di alam liar gini?" tanya Rika.


"Tapi bener kata Rachel, gua tadi liat ada rumah gitu waktu jalan. Keliatannya sih masih bagus," balas Putra.


"Nohkan kalian ga percayaan, Putra aja liat eh," sahut Rachel.


"Ga cuma itu, dari tadi gua juga ngerasa aneh sejak kita turun dari bus. Gua juga ngerasa kek ada yang ngawasin kita gitu," ucapku.


"Ah yang bener aja lo Fan, paling juga pengawas atau guru aja," jawab Nanda.


"Ga tau juga, orang gua ga kenal," balasku singkat.


"Anak-anak mari merapat, siapkan tenda masing-masing. Untuk putra dilarang satu tenda sama putri ya. Buat posisi melingkar dan sebagian membantu pengawas. Karena sudah cukup sore dimohon untuk segera mempersiapkan diri," ucap Pak Pras salah seorang pengawas.


Para siswa pun dibuatnya sibuk bukan main, ada yang mendirikan tenda, mengumpulkan kayu bakar, membuat api unggun, bahkan ada pula yang mengambil air di sungai. Kira-kira jam 7 malam pun kami sudah selesai berbenah dan memulai sesi acara.


Api unggun pun dinyalakan dan menerangi tempat perkemahan kami dan diadakanlah kegiatan mencari jejak.


"Anak-anak kegiatan kita kali ini adalah mencari jejak, setiap regu boleh memilih anggotanya sendiri dan minimal 6 orang. Diharap kalian berhati-hati dan tetap bersama. Jangan meninggalkan teman yang lainnya dan jangan bermain-main. Sebelum berangkat kalian membawa kotak peralatan yang sudah disediakan, disitu ada barang yang dapat membantu kalian. Ingat pesan saya," ucap Pak Martis memberikan pengumuman.


"Bagi anak yang ragu untuk ikut, bisa tetap tinggal di perkemahan," tambah Bu Tri.


Aku dan sahabatku segera berangkat dan menyusuri hutan dan sungai hanya dengan cahaya rembulan dan bantuan senter. Saat ditengah-tengah perjalanan....


"Eh woy balik aja yuk ah," ucap Rachel.


"Yeee lu mah ga asik emang, udah segini juga ngapain balik. Tanggung amat." balas Nanda.


"Iya deh, makin gelap gini juga gua ngerasa kalo kita tuh kek ga jelas gitu," sahut Rika.


"Kalian sih banyakan nonton horror yakan, harusnya kita tuh enjoy nikmati suasana malem gini. Gausah takut juga, kan ada panglima Putra," balas Rei merayu.


"Apa pun masalahnya pasti gua yang kena," balas Putra sambil melirik ke arah Rei.


"Heh iya, gua juga agak ngerasa gitu. Kek dari tadi kita disini mulu. Kita ga nyadar kan?" tanyaku ragu.


"Ya ga tau lah, emang gua yang punya nih tanah?" balas Rei.


"Loh didiemin malah ngelunjak lu," balas Rika.


"Kita balik aja ya? Balik cari sungai terus ikutin aja, tadi gua juga udah buat tanda kok," balas Rachel.


Kami pun berjalan berbalik ke arah perkemahan. Aku merasa hanya ada aku dan sahabatku di hutan yang amat luas itu. Rombongan lain pun sudah lama tak nampak, seharusnya kami tak terlalu jauh dari mereka. Aku merasa bahwa aku hanya berputar-putar saja, tak ada ujung hingga tengah malam kami pun berhenti karena sudah cukup lelah berjalan terlalu lama.


"Kenapa ga nemu sungai sih, gua capek banget," ucap Rei.


"Tau nih, kita kaya dipermainkan gitu." tegas Nanda.


"Gimana kalau kita cari tempat yang agak enak terus besok baru lanjut balik? Daripada kita makin kesasar kan, toh udah gelap banget gini," ucap Rachel.


"Ya udah ga papa, buru cari tempat yang enakan dikit lah," ajak Rika.


Kami pun berjalan ke dalam hutan dan berhenti di sebuah rumah yang cukup megah. Bangunannya masih terlihat kokoh walau ada beberapa bagian yang rusak. Rumah itu sangat sepi dan seperti sudah sangat lama tak terurus.


"Ini tuh rumah yang gua liat tadi," tegas Rachel.


"Serius lo?" tanya Rei terkejut.


"Gua ga bercanda, emang muka gua ini kek lagi bercanda apa," jawab Rachel melirik.


"Udah-udah. Gini aja masih ribut, mending kita positif thinking aja deh. Istirahat bentar disini terus besok pagi baru lanjut balik ke tenda," ucapku.


Kami pun segera beristirahat. Di tengah-tengah kami pulas, Nanda yang terbangun pun membuat aku dan yang lainnya ikut terbangun.


"Ih apaan sih lo, rese banget deh," ucap Rei kesal.


"Kalian bangun lah, ada yang mau gua omongin. Penting banget," tegas Nanda.


"Kalian bangun, gua juga mau ngomong sesuatu," tegasku.


Rei yang tadinya kesal segera bangun, Rachel dan Rika yang dengan wajah pasrah pun harus memaksakan dirinya untuk membuka matanya, begitu pula Putra yang cukup sial karena baru saja tertidur harus segera bangun lagi.


"Gua tadi liat sesuatu, dan aneh gitu. Gua takut," ucap Nanda.


"Lu emang gitu ya," balas Rika kesal.


"Gini doang harus bangunin kita, rese emang lo," sahut Rei.


"Bener yang dikata Nanda, ada yang minta tolong lagi ke gua," ucapku menyela.


"Hah?" tanya Rei, Putra, Rika, dan Rachel bersamaan.


"Ada cewe anak pemilik rumah ini yang datengin gua, dia minta tolong biar kita cariin sesuatu buat dia," ucapku.


"Ih gua merinding," sahut Rika.


"Gua juga, ada anak cowo gitu yang dateng ke gua terus minta tolong cariin mainannya gitu. Tapi gua ga paham, gua takut banget," sahut Nanda.


"Ya udah kita bantu mereka aja gimana? Ga ada salahnya juga kan ngebantu? Kalau emang kita bisa kenapa engga?" tanya Putra santai.


"Lu emang ya, sok banget tau ga," sahut Rei.


Tak sempat membalas dua sosok anak itu pun berdiri di hadapan kami dan memohon.


"Kakak, tolong kita," ucapnya.


"Ahhh!!" teriak Rika terkejut.


"Kita bisa tolong kalau emang kita bisa, sebelumnya kalian mau minta tolong apaan?" tanya Putra percaya diri.


"Tolong temuin mainan ku, itu terkubur di tanah dan aku tak sanggup mengambilnya," ucap anak kecil laki-laki itu.


"Bawain baju kesayanganku kembali dan album fotoku. Mereka membunuh keluargaku yang tak bersalah, kami tak tau apa-apa. Mereka jahat!" tegas sosok anak perempuan itu.


Kami pun membantu anak-anak itu dengan bantuan kertas yang diberikannya.


"Ah?! Bukannya ini kuburan?" tanya Rachel kaget.


"Kenapa serem gini sih?" tanya Nanda.


"Kita harus bisa bantu anak itu, kasihan mereka jadi arwah penasaran gitu," tegas Rika.


"Rei tolong ambil benda yang bisa buat gali," ucap Putra.


Rei pun segera mencari sesuatu yang menurutnya bisa untuk menggali kuburan tersebut. Kami pun sudah dapat mengambil album foto dan mainan anak itu. Saat langkah kami yang terakhir, disaat kami akan mengambil baju kesayangan anak perempuan itu, muncul sosok mengerikan dengan muka setengah hancur yang menakuti kami.


"Kami orang baik, cuma mau bantu," ucap Nanda kaget.


"Kalian mau apa? Kalian tak akan bisa selamat!" tegas sosok itu.


"Oh ayolah, kita kerjasama saja. Kami juga punya niat baik buat membantu anak itu, kami tak bermaksud jahat," tegas Rei.


"Kalian harus merasakan apa yang aku rasakan! Kalian harus merasakan pedihnya kehilangan sosok yang kalian sayangi! Hahahaha" tegas sosok itu.


"Kamu orang jahat, orang jahat!" tegas sosok anak-anak itu.


"Hei bocah, kau terlalu bahagia sebelumnya. Kalian pantas mendapatkannya!" tegas sosok itu.


Kami yang mendengar pembicaraan mereka pun terdiam takut, keringat mulai bercucuran membasahi badan dan wajah kami. Bulu kuduk kami pun tak kalah lagi, tegak seperti habis tersengat listrik. Aku dengan batin yang kuat dan iman yang tinggi pun mengangkat suara untuk mengakhiri semuanya.


"Aku hanya ingin kalian bahagia, aku tak ada maksud untuk mengganggu ataupun mencampuri urusan kalian. Aku hanya ingin membantu." tegasku.


"Hahaha!!" teriak sosok itu setengah tertawa dan mencekik Putra.


"Argh!" teriak Putra kesakitan.


Aku pun berdoa dalam hati, menarik nafas dan membuangnya.


"Aku tau kau adalah orang baik, namun kau merasa tak adil. Kau merasa bahwa orang lain lebih beruntung dari pada apa yang kamu rasakan. Kami memiliki hati dan perasaan. Kami akan merasa sakit jika kami disakiti. Kami memiliki orang yang kami sayangi masing-masing dan pasti akan sangat berat jika kami akan kehilangannya. Tapi asal kau tau? Jika takdir harus seperti itu, siapa yang akan kau salahkan? Kita hanya bisa menerima." tegasku sambil sesekali bernafas.


"Percuma kau hanya membuang waktumu untuk melampiaskan dan membalas dendam, hanya ada balas dendamlah yang ada dipikiranmu. Relakan apa yang sudah terjadi," tegasku lagi.


"Jika aku jadi kau dan aku merasa terpuruk kehilangan apa yang kita impikan, aku akan sangat susah melepaskan. Aku hanya bisa meratapi nasib dan menangis. Dan itu? Tak ada gunanya." tegasku sambil memejamkan mata.


"Dan aku pernah merasakannya." tegasku sambil meneteskan air mata.


Seketika itu juga, sosok itu melepaskan tangannya dan mulai menjauh dari Putra. Sepertinya ia tersadar? Oh aku yakin sebenarnya dia adalah orang yang baik, hanya saja benar apa yang aku katakan. Dia tak sanggup merelakan apa yang ia impikan.


"Aku meminta maaf, aku mengaku salah. Aku sangat tertekan. Aku menghancurkan impian orang lain, aku membiarkan orang lain ikut menderita sepertiku!" jawabnya menyesal.


"Itu belum terlambat, kau bisa mengubah nasibmu dan merelakan apa yang sudah terjadi. Tenanglah," balasku sambil tersenyum.


Sosok itu pun memberikan baju kesayangan sosok anak kecil tersebut dan segera menghilang dari hadapan kami. Kami pun segera membawa apa yang diminta oleh sosok anak-anak itu ke rumahnya. Dan benar, mereka menghilang setelah mengucapkan kata terimakasih. Setelah mereka menghilang aku pun memeluk sahabatku dan meneteskan air mata.


"Makasih kalian udah mau selalu ada buat gua, sorry kalau gua sering nyakitin kalian," gumamku.


"Kita udah ditakdirkan jadi saudara Fan, gua juga seneng bisa kenal kalian," balas Rika.


"Gua bersyukur kalian masih mau ngertiin gua," sahut Rei.


Tak terasa fajar mulai menampakkan dirinya, suara burung liar berkicauan pun membangunkan kami. Ternyata semalam kami ketiduran karena lelah menangis? Tanyaku dalam hati.


Kami pun kembali ke perkemahan, disepanjang jalan senyumlah yang menemani langkah kami. Sesampainya disana, kami disambut oleh para pendamping dan murid yang lainnya yang panik menunggu kami semalaman. Dan benar saja, kami mendapat teguran.


"Semalam kalian menghilang. Jelaskan alasannya," tegas Pak Pras.


"Semalam kami tersesat pak, kami juga sudah mengikuti arahan. Karena takut tersesat lebih jauh lagi kami berhenti di sebuah tempat dan menunggu hingga fajar," tegas Putra.


"Untung kalian tak apa, bapak tenang. Karena kalian sudah kembali, kegiatan bisa kita lanjutkan dan kita bisa kembali sore ini," ucap Pak Pras.


Kami tahu bahwa kejadian semalam adalah kejadian yang tak biasa, tak semua orang akan mengerti dan memahaminya. Kami memilih untuk menyembunyikan kejadian semalam untuk diri kami sendiri, karena kami tahu percuma juga jika dijelaskan.