
Sesampainya di sekolah, kita segera bergegas ke kelas untuk menyiapkan diri.
"Wait. Mau ke toilet bentar, cek sesuatu," ucapku didepan pintu kelas.
"Oke. Tas biar aku yang bawain ya," sahut Putra sambil mengambil tas dari tanganku.
Aku pun segera meninggalkan mereka dan berjalan ke toilet untuk mencuci wajahku agar terlihat lebih segar.
Tok tok tok...Tok tok tok... (Suara ketukan pintu dari toilet paling ujung).
"Siapa?" tanyaku bingung sambil mendekat ke arah suara dan memandangi pintu tersebut.
Karena tak ada balasan, aku segera mencuci wajahku dan merapikan pakaianku dan berjalan ke keluar menuju kelas.
Tok tok tok tok...
"Suara itu lagi? Siapa disana?" tanyaku memberanikan diri.
Kring kring kring kring... ( Suara bel masuk kelas berbunyi)
Tanpa banyak pikir aku segera pergi meninggalkan toilet tersebut dan masuk ke kelas.
"Hallo selamat pagi anak-anak. Mari kita mulai pelajarannya dan siapkan buku Matematika kalian," ucap Pak Handoko dengan semangat sambil mengacungkan jempolnya.
Pelajaran Matematika pun berlangsung dengan lancar, hingga suatu waktu.
"Loh siapa murid disana? Anak baru? Kenapa belum pernah liat?" tanyaku bingung saat tak sengaja memandang kursi yang biasanya kosong di sudut kelas.
"Hah? Ngigo lu?" sahut Rachel tak percaya.
"Ih apaan sih kalian berisik tau. Ntar Pak Han denger kalian bisa-bisa kena omel lagi," jelas Rika.
"Kalian belum kenal sama murid yang di belakang kan?" tanyaku.
"Loh kapan kita ada murid baru?" tanya Nanda.
"Hey, kalian ribut apaan?" tanya Pak Han ke arahku, Nanda, Rika, dan Rachel.
"Eh pak, kita ada murid baru ya?" tanya Rei.
"Siapa? Sebelumnya belum ada informasi lho," jawab Pak Han bingung.
"Dia siapa pak? Gak mungkin kalau kesasar kan? Cakep gitu lho," tanya Rei sambil bercanda memandang ke sudut kelas.
"Nak siapa namamu?" tanya Pak Han sambil mendekatinya.
"Jessica," jawabnya dingin dengan menundukkan kepalanya.
"Jessica? Sebelumnya seperti pernah mendengar," jawab Pak Han sambil mengusap keningnya.
Ding dong.. Ding dong.. ( Suara bel istirahat )
Para murid pun segera keluar kelas dan menikmati jam istirahat mereka, terkecuali Jessica. Mengapa dia tetap diam ditempatnya? Apakah dia sangat kesepian dan pemalu? Tanyaku dalam hati.
"Hey Jessica. Ga keluar?" tanyaku membujuk.
What? Kacang? OMG! Pertanyaanku tak dihiraukan? Ia masih sama seperti sebelumnya, diam, dingin, dan tetap menunduk?
"Hm oke. Dia sombong gitu, mubazir donk waktu kita" sahut Rika jengkel.
Rika yang sebal itu pun menarik lenganku dan keluar.
Saat tiba di kantin, kami memesan beberapa makanan untuk kami makan. Tiba-tiba ada seorang laki-laki yang menawarkan dirinya untuk bergabung dengan kami.
"Boleh ikut gabung?" tanyanya ramah.
"Boleh," jawab Rika singkat.
"Bro? Jarang liat, siapa nama lu?" tanya Rei agak sinis.
"Andra," jawabnya singkat sambil mengunyah bakso tusuk ditangannya.
"Kelas berapa? Jurusan apa nih?" tanya Nanda kepo.
"IPA kelas 3," jawabnya sambil menepuk pundak Putra.
"Seinget gua dulu pernah ada anak kelas 3 IPA yang sempet bolos sekolah gatau kemana, kabarnya sih baru beberapa bulan lalu baru mau masuk lagi," tanya Putra.
"Iya, gua sendiri" jelas Andra.
"Oops. Ada masalah bro?" tanya Rei sedikit bercanda.
"Bro? Masa lalu," jawabnya sedikit rasa menyesal.
Kenapa tiba-tiba dia jadi aneh gitu? Tanyaku dalam hati. Sekilas aku melihat arah lapangan dan aku melihat Jessica sedang berjalan ke arah gudang toilet lama. Aku yang terkejut melihatnya berjalan sendirian hanya bisa memandanginya dari kejauhan.
"Woy! Liat arah lapangan donk, dia Jessica kan?" tanyaku sambil menyikut Rika.
"Gua ga peduli lah, orang sombong gitu ngapain diurusin. Sebel gua," jawabnya dengan tiba-tiba kesal.
"Bro gua pamit," sahut Andra.
Dia kenapa lagi? Denger nama Jessica dia pergi gitu aja? Aku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi, tapi ya sudahlah tak ada urusannya denganku juga.
Kring kring kring kring...
Para siswa segera kembali ke kelas mereka masing-masing. Dan setibanya kami dikelas, aku terkejut melihat Jessica yang duduk disudut kelas dengan menatapku dengan cukup tajam. Aku tak menghiraukannya dan segera duduk ditempat ku, secarik surat pun ada di laci mejaku.
Hey, maaf untuk yang tadi. Aku tak bermaksud untuk mengabaikanmu. Tolong, tolong aku. Aku hanya bisa berharap padamu. Aku ingin segera tenang. Jika kau setuju, sepulang sekolah kau dapat tersenyum padaku. Dan aku akan datang kerumahmu malam ini. From: Jessica.
Ada apa dengannya? Apakah ada masalah? Pikirku tak tenang.
Dong... Dong... Dong.. (Bel pulang sekolah berbunyi)
"Yuhuu balik, abis ini ntar sore kita main ke rumah lu ya," ujar Rachel sambil menepuk pundakku.
"Mumpung besok kita libur gimana kalau kita nginep semalem aja," sahut Rika semangat.
"Emm,"
"Oh ayolah," sahut Rika memutus percakapanku.
"Okey, tapi kalian janji jangan nakal-nakal ya" jawabku sambil tersenyum.
"Wuih asik nih, ikutan donk," sahut Rei sambil menyikut Rika.
"Kalo kalian para cowo mau ikut boleh-boleh aja. Asal kalian mau suruh jagain kita di ciwi-ciwi ini dan ga boleh bandel yah" sahut Rika sambil tertawa.
"Yaudah buru kita balik," ajak Putra.
"Kalian duluan aja, gua masih ada sedikit urusan bentar," jawabku tak enak.
"Okay beb," sahut Rachel menggoda.
Mereka pun pergi meninggalkanku. Karena ingin segera pulang, aku pun mencari Jessica dan menengok ke arah belakang, saat kulihat badannya sedang mematung di pojok perpustakaan, aku hanya tersenyum dan melambaikan tanganku. Setelah ia membalas lambaian ku dan segera pergi, aku pun bergegas pulang kerumah.
Sesampainya dirumah aku segera merapikan diri dan bersiap. Tiba-tiba ponselku berbunyi menandakan ada sebuah pesan masuk.
Klunting.. ( Suara massage masuk )
Maaf jika aku akan merepotkanmu bahkan akan merepotkan kalian. Pukul 11 malam, siapkanlah beberapa lilin dan sebuah mangkuk berisi air. Jika temanmu bersedia membantu juga, tolong ajak mereka dan mintalah untuk duduk melingkar mengelilingimu untuk berjaga. Terimakasih. From: Jessica
What? Kenapa massage ini terlihat agak aneh? Firasatku mulai buruk.
"Fan bukain napa, seneng biarin kita nunggu diluar nih?" teriakan Rei memecahkan lamunanku.
"Wait," jawabku berjalan membukakan pintu.
"Sepi banget nih rumah, pada pergi ya?" tanya Rika.
"Iya, ayah gua dinas luar kota, ibu sama adek gua ke tempat sodara ada urusan," jawabku.
"Wuih pemberani banget lu," sahut Putra sambil menepuk kepalaku.
"Gua ga ikut karna udah bilang duluan kalau kalian dateng," sahutku sambil menatap Putra.
"Tante baik banget deh, ngertiin kita," sahut Rei tak tahu malu.
"Disini cuma ada 1 kamar tamu yah, jadi Rika sana Rachel ikut gua ke kamar gua and kalian para cowo bisa tidur di kamar tamu oke," jelasku sambil mengantarkan mereka.
Setelah mengantarkan mereka, kami segera duduk di ruang tamu dan berbincang.
"Guys, menurut kalian Jessica tuh gimana?" tanyaku ragu.
"Ngapain bahas dia lagi, dia tuh sombong tau, bikin ilfeel aja deh," balas Rika.
"Nih gua kasi kalian liat deh," jawabku sambil menyodorkan sebuah surat dan memperlihatkan massage Jessica padaku.
"Dia kenapa, aneh banget. Suer jadi ngeri gitu lho," jawab Rei.
"Woy Nanda, lu kenapa? Dari tadi diem Mulu, ga asik lu mah," sahut Rachel menepuk pundak Nanda.
"Gua dari tadi mikir, hari ini bener-bener aneh tau ga sih. Pertama, Jessica murid baru. Kedua, kakel yang mendadak deketin kita. Ketiga, Jessica ngapain ngomong gituan sama Fanny?" jawab Nanda menjelaskan.
"Eh iya loh, kalau gua liat di film-film horror gitu kan biasanya yang minta bantuan pake cara aneh gini lagi ada masalah. Ih ngeri deh," jawab Rika.
"Siapa tau kalau dia emang butuh bantuan, bantuin aja napa," jawab Putra santai.
"Gua setuju, kasihan juga dia. Kita sesama temen kan harus saling membantu," sahut Rei.
"Tapi kenapa dia cuma ngomong sama gua?" tanyaku ragu.
"Santai donk, ada kita-kita" sahut Rachel meyakinkan.
Setelah menunggu cukup lama, tibalah saatnya. Sebelum jam 11 malam, kami mempersiapkan segala sesuatunya. Kami pun memulai petunjuk yang diberikan Jessica dan aku merasakan bahwa ragaku sedang pergi ke dunia lain.
"Fan, maaf mungkin cara gua ga enak banget buat kalian. Gua bener-bener minta tolong. Gua ga tenang. Sebenernya gua udah ga ada. Gua minta tolong sama kalian, buat temuin gua sama Andra dan minta dia kasih menjelasan." ucap Jessica.
"Sebenernya ada masalah apa?" tanyaku ragu.
Setelah ia menceritakan semua kejadian itu, barulah aku mengerti. Aku pun merasa kasihan pada Jessica dan mulai bertekad untuk membantunya.
"Gua mau bantu, asal lu janji setelah itu lu harus relain semuanya dan pergi dengan tenang" jawabku meyakinkan.
"Gua janji Fan," jawabnya.
Setelah itu aku tersadar dan segera bangun dari meditasiku dan merapikan semuanya. Aku pun menceritakan kejadian barusan pada sahabatku dan mereka pun cukup terkejut.
"Wow? Ternyata gitu? Jadi yang waktu itu di gosipin tuh Jessica?" tanya Rika.
"Ya gitu deh setau gua," jawabku sambil mengusap kening.
"Gua ada dapet nomer sama alamatnya Andre, besok kita berangkat ke rumahnya langsung selesaiin urusannya gimana?" tanya Rachel.
"Kenceng bener lu," sahut Nanda sambil menatap Rachel.
Setelah berbincang kami segera beristirahat. Keesokan harinya, kami mempersiapkan diri untuk datang ke rumah Andre. Setibanya disana.
"Permisi," ucapku sambil mengetuk pintu rumah Andre.
"Oh temennya Andre ya? Dia lagi di belakang, kesana aja ga papa," jawab kakak Andre sambil membukakan pintu.
"Makasih kak," jawab Putra.
Tanpa basa-basi kami segera berjalan ke tempat Andre berada, halaman belakang.
"Andre? Ngapain lu sendirian gitu? Lagi ada masalah?" tanya Rei yang tiba-tiba mendekat.
"Ah, oh kalian. Kalian tau dari mana rumah gua?" tanya Andre gugup.
"Dari temen sih, btw kita kesini ada urusan loh," jawab Rachel.
"Apaan?" tanya Andre singkat.
"Lu pasti kenal sama Jessica kan?" tanya Rika tanpa basa-basi.
"Jessica? Banyak orang namanya Jessica," jalas Andre.
"Jessica, mantan lo," sahut Putra.
"Bukannya ini masalah gua ya?" sahut Andre.
"Dia minta tolong ke kita biar Lo kasih penjelasan ke dia, sekarang ikut kita ke sekolah dan kasi penjelasan sejelas jelasnya oke. Biar dia tenang dan masalah ini cepet kelar, kasihan dia." sahut Nanda.
"Kenapa gua?" tanya Andre gugup.
"Dia mintanya kamu ya kamu. Buru selesaiin masalahnya dan kelar." jelas Rei serius.
Kami pun segera pergi ke sekolah dan berdiri di depan toilet dekat gudang yang sudah lama tak terawat itu.
"Disini tempat gua buang buku diary dia, gua nyesel." jelas Andre gugup.
"Buru cari barangnya dan kita temuin Jessica," tegas Rika.
Setelah cukup lama mengobrak-abrik gudang, kami pun pergi ke sekolah dimana Jessica berada.
"Sekolah yang waktu itu kita dipergokin sama satpam itu?" tanya Putra.
"Iya, dia gantung diri disana. Isunya langsung dihapus permanen buat jaga-jaga biar gak kesebar dan gak ngerusak reputasi sekolah," sahutku.
Setibanya disana, kami segera menyelesaikan permasalahannya itu.
"Ini udah ada Andre, dia siap jelasin semuanya dan buku diary juga ada sama dia, nanti kita balikin" ucapku sambil mempersilahkan Andre dan Jessica.
Tak tau apa yang mereka bahas aku dan sahabatku hanya menunggu dari kejauhan. Kami mempercayakan Andre sepenuhnya. Tak lama setelah itu, Andre pun mendatangi kami dan mengajak kami pergi ke rumah Jessica untuk mengembalikan buku diarynya. Sesampai dirumah Jessica, kami bertemu dengan orang tua Jessica dan menyerahkan buku diary milik Jessica dan langsung berpamitan.
"Fanny, makasih buat kalian yang mau bantu dan mau ngertiin. Gua udah bisa tenang, semuanya udah jelas. Maaf udah repotin kalian," ucap Jessica kepadaku.
"Asal kamu tenang," jawabku.
Setelah itu kami pun mengantar Andre pulang. Andre terlihat sangat menyesal dan sedih, namun akhirnya ia lega dan berterimakasih pada kami.
"Kita langsung balik ya, makasih udah mau kerja sama," ucap Nanda.
Andre hanya membalasnya dengan mengangguk dan melambaikan tangannya. Kami pun segera pulang dan bernafas lega.
"Makasih guys," ucapku bersyukur.
"Kita kan sahabat Fan," sahut Rei sambil tertawa.
"Apa pun masalahnya, cerita aja ke kita." jelas Rika.
Aku pun hanya membalasnya dengan senyuman. Sorenya mereka pun pergi kembali ke rumah masing-masing dan meninggalkanku seorang diri. Untung saja tak lama kemudian ibu dan adekku segera pulang. Lega rasanya bisa saling menolong, aku juga bersyukur masih ada orang yang peduli dan sayang.