
"What?!" tanya Putra kaget.
"Suer ngeri, siapa sih nih orang?" tanya Rei kesal.
"Kita bisa lapor polisi," sahut Rachel.
"Tapi kan kalo kita bisa selesain sendiri kenapa engga?" tanya Nanda.
"Iya juga, daripada ribet nantinya, tapi resikonya agak berat juga," sahut Rika.
"Udah gausah dipikirin, mungkin cuma orang iseng karna gabut aja, positif thinking donk," ucap Putra menghiburku.
"Tapi tetep aja donk, gua ngeri, gua takut," jelasku.
"Kan ada kita Fan," sahut Rika sambil menepuk pundakku.
"Kalau lu ada masalah, lu bisa cerita ke kita. Kalau lu pengen nangis, ada kita yang bisa ngehibur lo. Inget kan, kita sahabat," jelas Rei sambil tersenyum.
"Kalau pun kita gak bisa bantu, setidaknya kita ada disaat lu butuh," jelas Rachel sambil memelukku.
Tanpa pikir panjang aku pun memeluk mereka dengan rasa haru. Terimakasih Tuhan atas orang-orang yang sangat sayang padaku.
"Yaudah Fan, kita pulang duluan ya," ucap Rika.
"Besok kita sekolah kan, kek biasanya dan kau jangan terlalu mikirin masalah ini. Ikhlasin aja semuanya Fan," sahut Putra.
"See you Fan," ucap Rei sambil berjalan keluar.
Mereka pun pergi, aku yang masih sangat sedih hanya bisa terdiam dan berdoa. Semoga saja hari esok akan lebih baik lagi.
Pagi hari pun tiba, semalam aku tidur tak nyenyak. Mungkin karena semalam aku sangat sedih. Saat aku akan berangkat sekolah, tiba-tiba sebuah pesan tanpa nama pun mengejutkanku. Kali ini beda, bukan secarik kertas lagi melainkan chat! Bagaimana dia bisa dengan mudahnya mendapat nomorku? Siapa dia?!
Hai sayang. Jujur sejak pandangan pertama aku langsung jatuh hati. Setiap hari memikirkanmu. Tak peduli kau akan menerimaku atau tidak, intinya kau harus jadi milikku. Tak lama lagi semuanya akan terwujud.
Hah?! Apa-apaan ini?! tanyaku dalam hati.
Oh my God, runtukku.
Siapa kau? Balasku membalas chat tersebut.
Tak penting siapa aku, cepat atau lambat kau akan jadi milikku! Balasnya.
Oh shit, mengapa ini harus terjadi padaku? tanyaku dalam hati.
Tak lama kemudian sahabatku pun datang, seperti biasanya kami berangkat ke sekolah bersama.
"Aiyo, Fanny," ucap Rei.
Aku yang segera naik ke mobil pun tak menjawab sapaan Rei karena memikirkan orang dibalik chat tadi.
"Uh kacang lagi mahal nih," ucap Nanda.
"Rei emang udah biasa digituin kan," ledek Rika.
"Enak aja," sahut Rei kesal.
"Fan?" ucap Putra lembut.
"Fanny! Lu gak lagi sakit kan?" ucap Rei sedikit berteriak karena aku mengabaikannya.
"Rei!" bentak Nanda.
"Ah? Sorry," ucapku.
"Ngalamun apaan lu?" tanya Rika.
"Coba liat deh," balasku sambil memberikan gadgedku.
Tak lama setelah melihatnya mereka mengembalikan gadgedku.
"Uh siapa tuh," tanya Rei.
"Hahah nambah lagi peminatnya nih," sahut Nanda.
"Udah-udah. Kali ini jangan candain Fanny dah," sahut Rika.
"Kasihan tau, bantuin kasi solusi engga ledekin iya," sahut Rachel.
"Pada ngomongin apaan?" tanya Putra yang sedang menyetir.
"Ada orang ga jelas yang ngejar-ngejar Fanny, ntar liat sendiri aja dah," balas Rika.
"Uwu," balas Rei.
Setibanya di sekolah kami segera menuju kelas. Bel berbunyi dan kami menunggu guru yang akan mengajar kelas hari ini. Sudah beberapa menit berlalu dan guru mapel belum segera menunjukkan dirinya. Tak lama kemudian seorang guru piket, Pak Mar datang dan menyampaikan info.
"Pagi anak-anak. Hari ini untuk kelas kalian kosong, guru yang mengampu sedang ke luar kota tugas sekolah. Jadi untuk hari ini guru mapel kalian memberikan tugas, harap untuk dikerjakan dan dikumpulkan diruang guru sebelum pulang sekolah. Sekian dan terimakasih, bila ada pertanyaan silahkan bertanya," ucap Pak Mar.
"Apakah kita akan kosong sampai sore pak?" tanya salah seorang murid.
"Hah? Hari ini kalian pulang agak siangan kan?" tanya Pak Mar bingung.
Seisi kelas pun terdiam, karena mendapati para murid yang kelihatannya kebingungan Pak Mar pun menjelaskan.
"Bukannya sekolah sudah mengumumkan bahwa hari ini anak-anak akan pulang lebih awal dari jadwal biasanya? Itu dikarenakan sebagian guru-guru akan mengikuti study," jelas Pak Mar.
"Aiyo, sejak kapan ada pengumuman seperti ini?" sahut Rei.
"Apa?!" tanya Pak Mar menatap Rei.
"Haha sebelumnya tidak ada pengumuman sama sekali pak," tegas Putra.
"Bagaimana bisa? Kepala sekolah sudah meminta para wali kelas untuk mengumumkannya via online," balas Pak Mar.
"Mungkin lupa pak, lagian kemaren wali kelas kita gak keliatan," sahut Nanda.
"Ah baiklah, intinya kalian pulang awal, saya akan kembali ke kantor," balas Pak Mar.
Setelah Pak Mar meninggalkan kelas, para murid pun hanya terdiam. Seketika kelas sepi seperti tak berpenghuni. Siswa yang ada di kelasku pun saling menatap dan tak lama kemudian suara sorakan pun terdengar sangat jelas memenuhi ruangan.
"Kebiasaan banget dah kalau jamkos," ucap Rei sambil merapihkan rambutnya dan memandangi cermin.
"Siapa juga yang gak seneng kalau ada jamkos?" tanya Nanda semangat.
"Oh iya Fan, gw jadi kepikiran tadi," sahut Rika.
"Eh iya, terus mau gimana nih?" tanya Rachel.
"Gw bingung sih, orangnya misterius banget. Males gw ladeninya," balasku.
Jam sekolah pun berakhir, murid-murid pun pulang.
"Tempat Rika lagi, gimana?" tanya Nanda.
"Boleh banget donk," sahut Rika.
"Ntar kita masak bareng," sahut Rachel.
"Uh seru banget donk, pas rumah gua sepi lagi sepi," sahut Rika.
"Yaudah skuy," sahut Putra.
Saat berjalan keluar gerbang, kami tak sengaja melihat Siska sedang dijemput pacarnya. Rasanya ingin mengikutinya lagi, tapi ya sudahlah. Kami pun segera pergi dan membeli beberapa bahan masakan dan sesudahnya segera menuju rumah Rika.
Setelah selesai masak kami pun memakannya. Makanan kami pun habis, setelah membersihkannya kami pun mengobrol santai dan bercanda. Ditengah-tengah kami sedang bercanda, tiba-tiba sebuah mobil hitam melintas di depan rumah Rika.
"Gila kacanya gelap kali, mana mobilnya udah gelap lagi," ucap Nanda.
"Mungkin biar lebih enak kali," sahut Rei.
"Sa ae lu, tapi kalo dipikir-pikir tuh mobil kek mobil pacarnya Siska tadi kan?" tanya Rachel.
"Bener juga, agak mirip sama yang ngikutin kita waktu itu, plat nomornya juga," ucapku sedikit ragu.
"Kalo diliat-liat sih bener," sahut Putra.
"Gak mungkin kan kalau Beno orang yang waktu itu gua ceritain pacarnya Siska kan?" tanya Rika ragu.
"Hah? Beno?" tanya Rei bingung.
"Orang yang gua ceritain ke kalian itu namanya Beno, waktu itu gua tanya sama temen gua yang di depan," jelas Rika.
"Yang orang baru itu?" tanya Rachel.
"Iya itu," balas Rika.
"Ikutin aja gimana? Gak terlalu jauh kan dari sini? Kita bisa jalan aja donk?" tanya Rei.
"Kita harus bareng terus oke, kalau ada apa-apa kita langsung lari aja, langsung kesini lagi," jelas Rika.
Setelah semua sepakat kami pun berjalan menuju rumah Beno. Rumah yang sedikit jauh dari pemukiman warga, sedikit tak terawat dan daerahnya sepi di antara kebun-kebun itu pun membuat kami semakin bertanya-tanya. Bagaimana bisa dia sangat nyaman ditempat seperti ini?
Kami pun berjalan mengendap-endap dan mengintip apa yang dilakukan orang tersebut. Alangkah terkejutnya kami saat melihat Siska duduk di dalam rumah tersebut dan memeluk seorang pria.
"Eh itu Siska?" tanya Rei kaget sambil berbisik.
"Ah iya, itu Beno," bisik Rika.
"Ah jadi mereka pacaran?" bisikku.
"Gua gak abis pikir," bisik Rachel.
Kami pun menguping dan mengintip gerak-gerik mereka, tiba-tiba Beno mencium Siska dan pergi.
"Mau kemana?" tanya Siska.
"Aku ke dapur ambil minuman bentar, kamu pasti haus kan sayang," ucap Beno meyakinkan.
"Ah makasih sayang," balas Siska.
Aku dan Putra pun mengikuti Beno ke dapur dan mengintip apa yang akan diberikannya. Kami terkejut saat melihat dan mendengar apa yang dilakukan dan diucapkan oleh Beno. Dia akan meracuni Siska dengan obat penenang!
"Selamat tinggal Siska, terimakasih atas sumbangannya. Setelah aku membereskanmu aku akan menaklukkan dia," ucap Beno sambil mengaduk-aduk teh buatannya.
Tak lama setelah selesai membuat teh ia kembali ke tempat Siska sambil membawakan camilan.
"Diminum gih," ucapnya.
"Ah makasih, sebenernya gausah buatin teh segala sih," ucap Siska malu-malu.
"Hahah biasa kok buat kesayangan," balas Beno sambil mengusap dan mencium rambut Siska.
Tanpa pikir panjang Siska segera meminum teh tersebut.
"Ah, aku sedikit pusing, agak sedikit panas," ucap Siska.
"Ah benarkah? Ayo ikut aku," balas Beno.
Beno pun membawa Siska pergi, Rika dan Rei pun mengikutinya.
Alangkah terkejutnya Rika dan Rei saat melihat apa yang dilakukan Beno. Dia mengikat Siska dengan tali dan memborgolnya di kamar yang penuh dengan botol-botol minuman keras.
"Astaga, walaupun Siska agak ngeselin tapi dia kasihan juga," bisik Rei.
"Kita harus tolongin dia," bisik Rika.
Rachel dan Nanda pun pergi ke halaman belakang rumah tersebut. Kami berpencar berpasang-pasangan. Betapa terkejutnya Rachel dan Nanda ketika memasuki sebuah ruangan yang banyak dengan darah, kain yang berserakan, rambut yang ada di sana-sini, bed berlumuran darah, beberapa benda tajam, dan sebuah pistol.
"Ah, apakah dia seorang pembunuh?" bisik Rachel.
"Astaga disini gak enak banget," bisik Nanda.
Bau amis, bunga, kemenyan, dan bau mayat menjadi satu dan membuat bau ruangan itu tak karuan.
"Kita keluar aja, mau mual rasanya," bisik Rachel.
Tanpa pikir panjang Rachel dan Nanda pun keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke tempat semula kita berkumpul.
Karena mendapati Beno pergi untuk mandi, Rei dan Rika pun pergi ke tempat awal.
Aku dan Putra pun berjalan ke samping rumah dan masuk ke sebuah ruangan, kami berharap tak mendapati sesuatu yang aneh dan ketahuan oleh Beno.
"Aiyo, tempat apaan ini?" bisikku kaget.
"Manusia disini terlihat asli, organ-organ disini juga terlihat seperti nyata," bisik Putra.
"Bagaimana mungkin?" bisikku ragu.
"Ahh ini manusia, aku bisa merasakannya," bisik Putra setelah memegang salah satu benda mirip manekin.
"Ini lab?" bisikku.
"Ah ngeri banget, gua merinding," bisik Putra.
Kami pun mengecek tempat tersebut. Benar sekali, banyak manekin yang jika dirasakan seperti manusia, banyak pula organ-organ yang ditaruh di sebuah tempat, sepertinya akan dijual.
"Ah buruan sembunyi, ikut aku," ucap Putra sambil menarik lenganku.
"Ah kenapa kita harus sembunyi dibawah meja?" bisikku.
"Gua denger step," jelasnya.
"Gua merinding," bisikku.
"Hahaha hidup memang indah," ucapnya.
"Siska, kau bodoh!" tegasnya.
"D-dia Beno?" bisikku pada Putra.
"Gua rasa, dia monster," bisik Putra.
"Ah aku harus mengurus sesuatu," ucapnya.
''Hallo sayang, sekarang kita harus urus kamu," ucapnya.
Aku dan Putra pun mengintip apa yang dilakukannya. Aku terkejut melihatnya membawa sebuah pisau dan mengarahkannya pada seorang wanita yang terbaring diatas ranjang dengan pakaian sobek-sobek.
"Sayang, lihat bagaimana aku akan mengurusmu hahahaha," ucapnya sambil tertawa.
"Dasar psikopat," bisikku pada Putra.
"Kita harus segera mungkin lari dari sini dan telfon polisi," bisik Putra.
"Haha sangat disayangkan, kau cukup cantik dan tubuhmu indah," ucapnya.
"Apakah kau lihat, kau akan bernasib sama. Oh, tapi tak apa, kau berjasa. Kau memberikanku uang dan kepuasan hahahaha," ucapnya sambil mengapitkan mulut wanita tersebut dengan tangannya.
Ia pun menyobek pakaian wanita tersebut dan memandikannya menggunakan air dan bunga.
"Sayang kau sangat wangi dan cantik, kau menggodaku," ucapnya sambil mengelus pipi wanita tersebut.
"Emang bener-bener psikopat gila," bisikku pada Putra.
"Jangan banyak bicara, jangan sampai kita ketauan," bisik Putra.
Beni pun menyuntikkan obat pada wanita tersebut dan beberapa menit setelah itu wanita tersebut terbangun.
"Ahhhh siapa kau! Apa yang kau lakukan padaku? Lepaskan aku!" bentak wanita tersebut.
"Hey sayang, kau sudah bangun," ucapnya sambil menjilat wanita tersebut.
"Ahhh enyah!" bentak wanita tersebut.
"Ah kau sangat galak sayang," ucapnya.
"Lepaskan aku," ucap wanita tersebut sambil menangis.
"Hahahaha menangislah sepuasmu, menjerit lah sekencang-kencangnya. Aku menyukainya! Tunggu aku menikmatimu sayang," ucapnya sambil menggeliat di tubuh wanita tersebut.
"Kumohon lepaskan, jangan menyiksaku," berontak wanita itu dengan air mata yang mulai membanjir.
"Aiyo, air matamu sangat nikmat sayang. Ah tunggu," ucapnya sambil mengambil sebuah pisau.
"Ahh jangan," berontak wanita tersebut.
"Hahaha lihat. Ahh, dadamu indah dengan gambaran seperti ini, pahamu sangat mempesona jika seperti ini sayang," ucapnya sambil menulis sesuatu dengan pisau di tubuh wanita tersebut.
"Ahh sakit," tangis wanita itu kesakitan.
"Kau tau? Ini sangat nikmat, menangislah selagi sempat, berontaklah hahahaha!" ucapnya sambil tertawa puas.
Aku yang tak tahan melihat dan mendengar semuanya itu segera memikirkan cara untuk segera keluar dan menunggu ia akan pergi lagi.
"Hahah, giliran selanjutnya. Fanny! Aku datang hahaha," ucapnya mengagetkanku.
"Hah? Aku? Dia tau kita disini?" bisikku pada Putra.
"Fan, tenang, gua ga bakalan biarin dia sakitin lu," bisik Putra sambil mengelusku.
"Fanny, Fanny. Asal kamu tau, aku tergila-gila karna kau! Cepat atau lambat kau akan jadi milikku hahaha," ucapnya sambil memandangi sebuah foto dan menggambarinya dengan darah dari wanita itu.
Foto itu di terbangkannya ke udara dan jatuh tepat disebelahku. Aku terkejut melihat foto tersebut, fotoku dengan tanda silang bekas darah wanita itu!
"Sayang aku akan membereskanmu, tunggu aku," ucapnya sambil memainkan jarinya dan pergi.
Karena mendapati Beno sudah pergi, Putra pun mengajakku untuk segera keluar dari ruangan itu. Aku pun kasihan melihat wanita itu sangat tersiksa olehnya, namun apa boleh buat, aku tak dapat menolongnya. Aku dan Putra pun mengendap-endap berjalan keluar.
Saat berdiri didepan pintu, aku menangis dan memeluk Putra kuat-kuat. Lemas rasanya melihat apa yang dialami tadi. Tak habis pikir, kesalahan apa yang sudah ku perbuat? Terdengar suara jeritan dan rintihan yang semakin menjadi-jadi di dalam ruangan tersebut. Aku yang tak kuat untuk mendengarkannya lagi segera meninggalkan tempat tersebut dan menemui Rika, Rachel, Rei, dan Nanda.
"Fan, kamu kenapa?" tanya Rika kaget.
"Kita pulang dulu ke rumah Rika, baru cerita. Disini udah gak aman, buru kita pergi," ucap Putra.
Kami pun segera meninggalkan tempat tersebut dan kembali ke rumah Rika.
"Gua rasa tuh orang udah gila. Gua tadi liat ada banyak organ manusia juga ada manekin manusia. Ngeri parah," ucap Rei.
"Gua sama Rachel tadi juga kaget waktu pergi ke halaman belakangnya, ih amit-amit. Gua rasa dia juga pembunuh," ucap Nanda.
"Gua sama Rei kasihan liat Siska jadi korbannya," ucap Rika.
"Gak abis pikir lagi sama orang itu," sahut Rachel.
"Parah emang sih," sahut Rei.
"Fan?" tanya Rika.
"Dia lagi syok banget, ternyata orang yang selama ini kasih pesan tanpa nama itu Beno," jelas Putra sambil menenangkanku.
"Astaga Fan," sahut yang lainnya kaget.
"Dia juga kaget, waktu dia liat fotonya dikasih darah," jelas Putra.
"Yaudah, jangan dipikirin lagi Fan. Besok kita harus selesaiin ini semua," tegas Rachel.
Aku hanya membalasnya dengan anggukan. Tiba-tiba gadged kami bergetar.
Drtt.. drtt.. ( getar handphone )
Anak-anak besok kelas kita libur untuk ujian kelas 3, menurut jadwal sekolah siswa akan diliburkan hingga minggu depan. Diharap untuk belajar dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. -Bu Sri
"Guys?" tanya Nanda.
"Bagus, kita libur agak lama. Kita bisa urus masalah ini baik-baik," sahut Rachel.
"Ah yaudah, kita urus besok. Sekarang kita pulang," ucap Rei.
"Gua takut sendiri, bibi udah pulang. Ortu gua pulangnya besok," ucap Rika.
"Yaudah malem ini kita nginep tempat lu aja gimana?" tanya Rachel.
"Ga papa, biar gua ada temen kan. Gua ikut kalian pulang, kalian bawa barang kalian terus balik lagi," ucap Rika.
Kami pun pulang dan mengemas barang kami, tak lupa kami berpamitan agak tidak mengkhawatirkan orang lain dan kami pun kembali ke rumah Rika.
Malam berlalu, pagi pun tiba. Kami bangun pagi dan sarapan. Setelah itu kami mengobrol untuk menyelesaikan masalah hari lalu.
"Gak usah basa-basi langsung ke kantor polisi aja," ucap Putra.
"Ya udah, go!" sahut Rei.
Tanpa pikir panjang kami segera meninggalkan rumah Rika dan menuju kantor polisi, sesampainya disana kami melaporkan kejadian kemarin pada polisi dengan membawa barang bukti fotoku.
Setelah polisi menyetujui, kami pun segera bergegas ke rumah Beno. Agar menghindari kaburnya Beno, kami dan polisi pun menyamar. Saat kami mengetahui bahwa Beno sudah pulang, kami pun bergegas ke lokasi untuk menangkap Beno. Rencana awal adalah datang sebagai tamu warga sekitar.
"Permisi," ucapku mengetuk pintu.
"Tunggu sebentar," ucap Beno dari dalam rumah sambil berjalan membukakan pintu.
"Hallo mas Beno, saya RT di desa ini dan ini anak saya. Saya kemari untuk meminta anda untuk tanda tangan surat pengakuan sebagai warga desa sini," ucap salah seorang polisi.
"Silahkan masuk, maaf agak berantakan. Saya masih perlu beres-beres lagi, saya juga sibuk hehe," ucapnya.
"Baiklah, anda silahkan tanda tangan," ucap polisi tadi sambil menyodorkan sebuah berkas.
Putra, Nanda, Rei, Rika, Rachel, dan polisi lainnya berada diluar dan mengepung rumah tersebut.
"Jangan bergerak, anda akan kami tangkap!" ucap salah seorang polisi yang tiba-tiba menerobos masuk sambil membawa senjata yang diarahkan pada tubuh Beno.
"Apa-apaan ini?" tanya Beno kaget dan panik.
"Anda akan kami tangkap dengan tuduhan pembunuhan dan lain-lain, ikut kami untuk pemeriksaan lebih lanjut," ucap polisi tersebut.
Akhirnya Beno pun diborgol dan dibawa ke kantor polisi, aku dan sahabatku ikut mengantar. Karena merasa sudah aman, aku pun melepas jaketku dan menampakkan diriku yang sesungguhnya. Alangkah terkejutnya dia melihatku.
"Kau!" teriaknya sambil menatapku.
"Kenapa?" ucap Putra sambil merangkulku.
"Haha! Aku sudah katakan, cepat atau lambat kau akan jadi wanitaku! Tunggu aku kembali, kalian akan menerima akibatnya!" ucapnya.
Aku pun menghela nafas dan membuangnya.
"Huh. Semoga kau bisa merenungkan diri baik-baik. Mimpikanlah hari esok dimana kau bisa keluar haha," ucapku dan berbalik pergi.
"Argh! Sial! Hahaha," teriak Beno sambil tertawa.
Akhirnya Beno pun dipenjara seumur hidup. Ia sempat mengakui perbuatannya dan tetap bertekad untuk memilikiku. Aku bersyukur karena bisa terlepas dari orang yang menurutku benar-benar gila, namun disisi lain kami menyesal karena tak bisa menyelamatkan Siska. Sore hari setelah kejadian, kami mengunjungi rumah Siska untuk mendoakannya, kami juga ikut menguburkannya.
Kami sangat menyesal dan sedih ketika melihat dan mendengar tangisan ibunya yang sangat terisak-isak dan tak kunjung henti karena ditinggal putri semata wayangnya. Kami pun pulang dengan perasaan duka menyelimuti diri kami. Meskipun begitu, keluarga Siska sangat berterima kasih pada kami karena telah menolong putrinya meski dalam keadaan tak bernyawa.
Sesampainya di rumah aku segera membersihkan diri. Kupelut erat ibu dan ayahku yang sedang asyik menonton televisi.
"Fanny? Kenapa?" tanya ibuku.
"Fanny seneng buk," ucapku sambil menceritakan kejadian itu.
"Astaga, kenapa kamu gak bilang dari awal. Kalau kamu kenapa-kenapa gimana?" tanya ayahku kaget.
"Yang penting sekarang Fanny selamat ibu udah seneng, lain kali kalau ada masalah cerita, apalagi kalau Fanny lagi susah," ucap ibuku sambil menyentuh hidungku dengan jari telunjuknya.
"Iya," balasku sambil memeluk mereka lagi.
Hari ini pelajaran paling berharga yang bisa aku terima adalah kepedulian dan keterbukaan. Sebagai seorang anak, kita harus terbuka kepada orang tua dalam segala hal untuk lebih mengokohkan keharmonisan. Disisi lain kita juga harus peduli kepada orang lain, entah itu yang membenci kita ataupun menyayangi kita.
Terima kasih Tuhan atas hari ini, aku masih Kau beri kesempatan dan keselamatan untuk tetap bertahan menjalani hidup. Semoga esok engkau masih memperbolehkan aku melihat dan merasakan betapa hangat dan nyamannya hidup.
Esok pun tiba, polisi menelfon kami untuk datang ke kantornya. Siapa sangka bahwa Beno akan mencari kami dan tidak melepaskan kami. Kami pun mengunjungi Beno dengan harapan dia akan menyesal dan ia akan berubah.
"Hahaha kalian datang!" teriaknya.
"Apakah kami tuli? Apakah menurutmu ini hutan? Tempat semaunya teriak-teriak?" ucap Rika.
"Apa?! Dimana Fanny!" teriaknya dengan emosi.
Saking takutnya aku hanya mengikuti jalan mereka dan bersembunyi di belakang tubuh mereka tanpa berkata-kata.
"Haha aku melihatmu, jangan sembunyi!" godanya yang akhirnya mengeraskan suaranya hingga membuatku kaget.
"Seberapa bencinya kamu?" tanya Putra.
"Kalau aku mati, kita juga harus mati bareng. Haha, dia adalah kekasihku," jelasnya sambil tersenyum jahat.
"Tidak!" teriakku tanpa ku sadari.
"Kemari sayang, lapaskan aku. Hmmm," ucapnya sedikit menggoda.
"Apa permintaan terakhirmu? Setelah itu kita tak akan pernah bertemu," ucap Rachel.
"Hei sobat, pikirkan matang-matang dan kami tak ada urusan," ucap Rei.
"Aku hanya ingin Fanny kemari dan menuliskan sesuatu untukku," katanya.
Tanpa pikir panjang aku mengambil sebuah kertas dan menuliskan dua patah kata dengan tebal-tebal.
GILA! ENYAH!!
Aku pun melipat kertas itu dan memberikannya padanya. Alangkah terkejutnya kami setelah ia membacanya.
"Hahaha aku suka!" teriaknya sambil menutup sebelah mukanya dan sedikit menangis.
"Hmm? Berikan aku alat untuk menulis!" teriaknya lagi.
Aku yang langsung mengambil sebuah pulpen pun memberikannya padanya. Ia pun mulai menulis dan memberikannya padaku.
I LOVE YOU, BABY!
MARI PERGI :)
Alangkah terkejutnya kami ketika aku membaca tulisan tersebut. Sebuah tusukan mendarat di bagian perutku. Aku dengan segala kekuatanku melemparkan diriku agar segera menjauh dari sel.
"Ahhhhhh!" teriakku kesakitan.
Beberapa polisi pun datang menengok apa yang sebenarnya terjadi. Dengan terkejut mereka segera menolongku. Darah terus mengalir dari tubuhku, aku lemas dan akhirnya pingsan.
"Hahaha aku suka teriakanmu! Lanjutkan sayang," ucapnya setengah menggoda.
"Kemari! Kita belum selesai!" teriaknya lagi sambil berusaha untuk menggapaiku.
"Tak ada kesempatan lagi! Kau akan berakhir!" balas Putra berteriak dengan sedikit emosi.
Kami pun meninggalkan dia dan sahabatku yang baik itu pun segera membawaku ke rumah sakit. Setelah proses pemeriksaan selesai, diputuskan bahwa aku harus dirawat inap. Rika dengan segala kepanikannya segera menelpon orang tuaku. Orang tuaku pun datang dan menangis di sampingku sambil menggenggam tanganku, begitu pula dengan sahabatku. Meski aku tak dapat membalasnya, aku hanya bisa merasakan kehangatan dan kasih sayang yang diberikannya padaku. Aku hanya bisa tertidur dan berusaha untuk terbangun.