What's Wrong With Me?!

What's Wrong With Me?!
Nenek



Sore itu aku sudah kembali ke rumah. Ibuku dan adikku menyambutku pulang dan menghidangkan makanan kesukaanku.


"Fan, kenalin ini Mbak Par. Besok dia bakal nemenin kamu di rumah kalau apa kamu butuh biar ada yang bantu," ucap ibuku memperkenalkan pembantu itu.


"Ah iya, makasih," ucapku sambil tersenyum.


"Panggil saya bibi jika perlu non," ujarnya ramah.


"Ah makasih bi, panggil aja Fanny," balasku tersenyum.


Beberapa hari telah berlalu, Mbak Par sangat baik padaku. Ia menganggapku seperti anaknya sendiri dan aku tak keberatan akan hal itu. Namun, masa lalu yang dialaminya sangat membuatku turut prihatin. Ia sempat bercerita bahwa anaknya meninggal beberapa tahun yang lalu setelah suaminya menceraikannya. Mbak Par sangat terpukul dan terpuruk, sebagai seorang janda ia harus melewati hari-harinya sendiri tanpa ada yang menemani. Ia sangat menyayangi anak semata wayangnya itu, tak terbayangkan jika ia harus kehilangannya.


"Lho bibi jangan sedih gitu donk, kan bibi masih ada aku juga. Bibi gak sendiri kok," ucapku menghibur.


"Fanny ini memang yang paling baik, bibi seneng dengernya," ucapnya sambil tersenyum.


"Ah bibi bisa aja, bibi juga orang baik. Mau bantu kalau aku butuh bantuan," balasku.


"Itu kan emang tugas bibi," jawabnya.


Suatu siang saat libur sekolah, saat aku sedang video call dengan sahabatku tiba-tiba ibuku mendatangiku dan berkata...


"Fan, besok kita pergi ke tempat nenek ya. Nenek sakit," ucapnya panik.


"Hah? Nenek sakit? Sejak kapan?" tanyaku panik.


"Tadi barusan dapet info dari temen disana, katanya nenek sakit. Nenek juga ngomong kalau mau ketemu kita," ujarnya.


"Ya udah besok kita pergi, lagian udah lama juga gak main kesana kan," jawabku.


Setelah ibuku pergi aku pun melanjutkan video call ku.


"Nenek lo sakit ya Fan?" tanya Rika.


"Iya eh, udah tua juga. Kadang suka kepikiran gitu," jawabku.


"Berarti besok lu nginep disana?" tanya Rachel.


"Harusnya sih iya, lagian besok juga libur sekolah kan. Mungkin beberapa hari gitu," jawabku.


"Wuih asik tuh, kapan-kapan ajakin napa Fan," rayu Rei.


"Gampang sih, nunggu waktu aja gua ajak kalian ke rumah nenek gua," jawabku.


"Eh ya udah, lu siap-siap gih," ucap Nanda.


Akhirnya kami pun mengakhiri video call kami. Aku pun segera merapikan barang untuk persiapan menginap dirumah nenek. Keesokan hari sesampainya kami disana..


"Ah Fanny, nenek kangen," ucap nenek sambil memelukku.


"Fanny juga kangen nenek, maaf nek Fanny jarang jenguk nenek," ujarku merasa bersalah.


"Fanny kan sekolah, Fanny juga sibuk. Ayah juga kadang di luar kota, ibu juga kadang sibuk. Adek? Dia juga sekolah kan, nenek bisa ngertiin," jawab nenek sabar dan penuh perhatian.


"Iya nek," jawab ayahku.


"Lho nenek sakit apa?" tanya ibuku.


"Lho kok nenek bilang gitu," jawabku merajuk.


"Hahaha sayang, nenek cuma mau kalian, nenek lega kalian sayang nenek juga" tegasnya.


"Udah sepantasnya sebagai anak menyayangi orang tua, bu," jawab ayah.


Kami menginap 3 hari disana. Awalnya tak ada apa-apa, kebahagiaan kami menghiasi seisi rumah. Namun, pada hari kedua, peristiwa tak diduga pun datang kepada kami.


"Nek? Ayo bangun kita sarapan," ujar adikku Intan.


"Nenek masih ngantuk ya? Ya udah nanti makanannya dimakan kalau nenek udah bangun ya, Intan tunggu sama kakak di depan," ujarnya lagi.


Sudah cukup lama sejak terakhir kali Intan membangunkan nenek dan nenek tidak bangun juga? Tak seperti nenek yang sebelumnya yang membangunkan kami di pagi hari hanya untuk menengok matahari terbit. Nenek kenapa?


"Ibu, udah siang ibu nggak bangun?" tanya ibuku.


"Ibu bangun, udah waktunya sarapan," ujar ayahku berusaha membangunkan.


"Nek?" tanyaku sedikit panik.


Aku hanya bisa melihat wajah pucat nenek.


Ia tak terlihat seperti biasanya. Ia sedikit berbeda!


"Nenek bangun, jangan buat kami panik," ucap ibuku mulai panik.


Tanpa basa-basi ayahku segera menelpon rumah sakit untuk segera menolong nenekku.


Ku kira kemaren nenek hanya bercanda. Ku kira nenek hanya bergurau. Mengapa ini begitu mendadak? Apa lagi ini?


Oh Tuhan, ucapku dalam hati sambil menitikkan air mata.


Beberapa kenangan sebelum kejadian itu terjadi pun mulai berlalu lalang dipikiranku.


"Fan, ini ada lonceng buat Fanny. Dulu waktu Fanny kecil suka banget sama lonceng ini lho. Fanny juga pengen punya anjing dari kecil, nenek ada anjing yang bisa temenin Fanny lho," ucap nenek.


"Ah nenek bisa aja, udah lama juga masih inget. Fanny aja udah lupa nek," balasku.


"Fanny jaga buat nenek ya?" tanyanya.


"Iya nek," jawabku sambil memeluk nenek.


Lagi-lagi setiap aku memikirkan dan merasakan kehangatan yang diberikan nenek, tubuhku seperti tak berdaya, lemas rasanya. Air mata yang sudah lama dibendung pun akhirnya mengalir dengan deras membasahi wajahku. Muka ku tak karuan, hatiku kacau. Ku pandangi kuburan nenek dengan hati teriris-iris. Sakit rasanya, ditinggal pergi begitu saja.


Hari terakhir dimana aku menempati rumah nenek, hatiku masih tidak terima akan kenyataan yang aku alami. Namun pesan nenek tertanam di hatiku.


Fan, kamu adalah anak yang baik. Siapapun itu akan beruntung jika ia bertemu denganmu. Kau bagaikan malaikat yang diutus oleh Tuhan dan membantu orang-orang yang sedang sedih dan terpuruk. Kau tulus dan banyak yang mencintaimu. Terkadang hidup memang pahit, tak selamanya kita berada di atas. Kau adalah wanita yang tangguh.


Kalimat itu membuatku sedikit terpukul dan menggugah jiwaku.


Aku tak akan mengecewakanmu nenek, aku akan berusaha.


Kami pun pulang dengan perasaan duka menyelimuti diri kami. Lonceng yang diberikan nenek padaku kusimpan dengan sangat hati-hati dan kurawat Chaky, anjing kesayangan nenek dengan penuh kasih sayang.