
Aku capek banget. Perasaanku, jiwaku, batinku serasa sakit banget. Semuanya tahulah kenapa, kenapa?. Ya, jelaslah karena mereka.
hah!!!
Ingin ku melompati waktu atau berekenkarnasi, ke kehidupan lain. Sungguh aku lelah jadi Melisa. Aku sangat lelah.
Aku ingin kehidupan ku dulu. aku ingin kehidupanku tanpa mereka. Sendiri, bahagia, tak merisaukan masalah-masalah, yang memang juga bukan masalahku. Kekerasan rumah tangga, Perselingkuhan, Perceraian, Kemelaratan mereka dalam pernikahan, tak ingin kudengar lagi.
Andai waktu bisa berputar kembali, sungguh aku mengabaikan mereka. Aku tak akan menjawab panggilan, membalas chat kepahitan hidup yang mereka jalani.
"**** of their life"
"aku gak akan terjebak lagi dilingkaran bodoh ini.
Tolonglah aku ingin bebas. Aku ingin sendiri. Menyepi, dari drama drama pernikahan yang mempertontonkan perselingkuhan, perceraian, dan kebodohan mereka. Sungguh ironis, bagi sahabat sahabatku menganggap pernikahan adalah kehidupan segalanya bagi seorang wanita.
"Brakkkkk"
Sepertinya aku menabrak sesuatu.
"Hey mbak, keluar mbak!!!" ketuk seorang kasar memakai helm di jendela mobilku..
"Aduh gawat, ada apa ini, aduh!"Panikku menatap sekeliling ku, yang berangsur penuh orang berkerumun
"Mbak..mbak..oe .. buka jendelanya"Teriak lagi seorang lebih kasar dan seketika membuatku membuka pintu mobilku.
"Ya.. ya.. ya.."Jawabku pura pura kuat keluar dengan percaya diri
"Punya mata nggak sih, seenaknya nabrak motor kakak gue. lihat ni kakak gue, luka, bisa nyetir mobil gak;!!"
"Sialan, bawel banget ni, bocah"Tatap ku sinis pada remaja tomboy yang nyolot memakai helm. Dari suaranya dia nampak seperti seorang wanita.
"Udah Sinta, udah"Hentikan seorang pemuda bersarung dan berpeci putih membelaku. Ia berjalan sedikit tak normal, sepertinya kakinya berdarah.
"Kenapa diam aja. Tanggung jawabnya mana, diam aja kaya patung, kakakk gue kakinya patah no"
"Iya aku tanggung jawab. Ayo kerumah sakit terdekat, sewot awet kamu"
"Udah ga pa2 mbak, gak pa2, ini cuma luka kecil"yakinkannya menahan sakit. dan seketika ku memandangi sosoknya yang berkharisma.
"Ya ampun. boleh juga ni orang, ganteng putih, tingggi, kalau seandainya gak ada janggutnya, pakai pakai stylish, tipe gue banget siih"pelonggoku dalam hati
"Apaan luka kecil, lihat tu kakak gue gak bisa jalan, gara-gara elo tabrak!!!"teriaknya sekita semua orang menatap sinis padaku
"Ya udah, aku tanggung jawab, sewot amet sih kamu bocah, ajak kakakmu masuk ke dalam mobil".marahku pura pura kuat padahal dalam hati takut amat, kalau kalau aku di amuk masa.
"hm.. ada ada aja hidup"
...----------------...
Selama diperjalanan, aku tak menoleh ke belakang. Ku setir mobil penuh kontrol, gak gegabah lagi, kayak tadi.
"Yah, aku harus fokus"ungkapku dalam hati memperhatikan spion kaca mobil, sedikit melirik lirik wajah tampan di bangku belakang mobilku yang sepertinya tengah tertidur.
"Aduh, pengen banget aku kenalan, tapi gimana caranya, enak aja aku, carper, carper gak jelas, gak mutu banget aku jadi cewek, jaga image dong".
"Setir, yang bener mbak, jangan ngelamun aja, Ntar nabrak lagi gimana"sewot lagi si bocah.
"Dari pada ngedumel, mending aku diam aja, males banget, ngeladenin bocah tengil"sabarku dalam hati, sambil memperhatikan google map, mencari navigasi, rumah sakit terdekat.
"Udah, Sinta, kamu jangan ganggu konsentrasi, mbak itu menyetir, kamu diam aja ya"nasihat lelaki itu terbangun. Rupanya dia gak tertidur.
"Ah, mas Aryo selalu gitu, ngebelain orang salah"protesnya menyebut nama kakaknya.
"Kamu ini dek selalu, berpikir buruk, gak boleh gitu ya dek"elus lembut kepala adiknya. Dan kulirik sedikit, si bocah itu, udah, agak reda.
"Maafnya, mbak, adikku agak rewel, m.. saya Aryo mbak, saya guru ngaji, ini dengan mbak siapa?, maaf saya bertanya sambil ada menyetir"ungkapnya sopan
"What's, dia memperkenalkan diri,sebelum aku minta, mana sopan banget"kagumku dalam hati
"Apa dia jodohku, bisa baca pikiranku. Ih nggak deh, pikiran loe, terlalu jauh, tampangnya aja ustadz, loe, gak deh, lagian siapa yang mau nikah, pernikahan adalah hak yang sangat gue benci, apalagi harus berjodoh, sama pak ustadz ngaji kayak dia"gerutuku dalam hati.
"Nama saya Melisa, panggil aja Mel, Lisa, terserah anda"jawabku ringan
"Oh Melisa!!"sebut gak sopan si bocah
"Dasar ni si bocah, awas ya, kalau sampai rumah sakit, ku getok"keselku dalam hati.
meliriknya sesekali
...----------------...
Setengah jam, aku menunggu di ruang tunggu. Akhirnya selesai juga. Kata dokter, cederanya ringan, hanya luka gores, dan sedikit luka yang robek. Syukurlah.
Dan tak berapa lama Aku segera ke administrasi, dan melangkah menyelesaikan semua tanggung jawabku.
"Terimakasih mbak Melisa, saya berterima kasih sekali"sopannya padaku.
"nggak usah berterima kasih kak, ini kan tanggung jawabnya"sewot bocah gendeng ini lagi.
"m.. ya dia bener pak Aryo, ini memang tanggung jawab saya, m... urusan kita selesai kan"jelasku angkuh.
"Enak aja selesai, klo kakakku gak sembuh gimana, siapa yang nanti kerja, biayain ibu, sama aku sekolah, bapak kami sudah gak punya"
"huffff"Dia menutup mulut adiknya
"Udah selesai Kok mbak, saya yang merepotkan"pertegasnya masih menyumpal mulut adiknya dengan tangan. Itu lucu banget.
"O begitu, ini kartu nama saya, anda bisa menghubungi saya, kalau ada butuh bantuan!"tawarku gak enak. Jujur, walaupun anak itu sewot, tapi setidaknya dia gak munafik, dengan keadaannya. Banyakkan diluarsana
yang keliatan sok baik, padahal butuh.
"O ya"terimanya sopan, dan menghentikan bungkaman pada si sewot.
"Aduh mbak, saya minta maaf merepotkan"malunya menundukkan pandangannya.
"Ya udah deh,kalau gitu. Aku harus pergi. O ya, ni aku ada cash, Tapi aku rasa cukup untuk, ongkos pulang".Beriku lima lembar uang kertas seratus ribuan padanya
"Gak usah mbak, berobat begini aja, udah cukup untuk saya. Alhamdulillah"tolaknnya halus.
"Nah gini dong, ini baru bertanggung jawab"sambar seketika si bocah sewot, uang dari tanganku.
"Kembalikan, Sinta!!"marahnya melotot dan bocah itu takut seketika.
"Ini mbak, maaf, cuman becanda"Malunya memberikan langsung uang itu padaku
"gak apa-apa, ambil aja"tolakku tersenyum "Aku rasa kalian lebih butuh"
Seketika ia meraih uang bocah itu. dan menaruh ditas yang kugandeng.
"Kami memang butuh Uang mbak, Tapi uang bukan segalanya bagi kami, Insya Alloh rezeki, Alloh sudah jamin untuk kami, jadi kami tak perlu meminta minta, Dan kami juga punya harga diri yang lebih besar dari sekedar uang, terima kasih atas bantuannya"senyumnya berlalu begitu saja meninggalkanku dengan kharisma nya.
"what's the ****"
"No .. no I 'm not Falling love okay, its impossible"