
Hah! Hari ini aku lagi-lagi harus ketemu client. Dan yah aku harus berbasi-basi muntah, memprentasikan proposal kembali.
Huh?!
Yah mau gimana lagi, sebagai marketer proyek, memang harus gini. Ngobrol ngebawa proposal, menang project, dan tanda tangan kontrak harus di jalani, supaya dompet tetep tebel tiap bulan.
"Moga-moga clientku kali ini tertarik lagi. Lumayankan jadi nambah list bonusku bulan ini."harapku
Hm...
Ok proposal sudah siap, notebook, bajuku udah rapi. Dan dandananku udah ok.
Tinggal berangkat meeting.
*****
Sudah 30 menit aku sampai disebuah coffee shop bergaya cukup modern. Tempatnya lumayan tertata rapi dan cozi ala zaman ini. Warnanya di donamasi dua warna kalem. Hitam dan coklat seperti coffee shop kebanyakan.
Hari ini client ku bernama bu Dewi Mursi, seorang wanita yang udah cukup sukses wara wiri di bisnis properti. Ia katanya sangat detail serta perpektsonis orangnya dalam hal apapun. Tapi by the way, dia seorang janda. Kata kabar burung sih, udah nikah tiga kali nikah.
"Huh hebat bener"
Tapi sudahlah itu urusan pribadi. I'm no coment. Setiap orang punya pilihan masing-masing for the life journey.
Dan untuk hal lain yang diperlukan tentang info klienku. Langsung aja aku stalking instagram dan profilenya. Foto-fotonya amat yah sangat sosialita banget. Tas bermerek, jam, kendaraan udah banyak jadi potret instagramnya.
Yah ok..
Tapi by the way, lama banget ni, wanita bermerek nyampe. Apa karena ia menyepelekan proyek investasi yang akan kupersentasikan kali ini.
Huh come on. Investorku bukan dia aja kale. Sudah lima belas orang masuk proyek ini. Walaupun Sekalipun anda menolak, aku masih punya masih list lain yang bersedia join.
"Huhhh buang buang waktu!!!"kesalku menunggu dan tetiba pandanganku mengarah pada wanita berambut panjang bergelombang.
Ia mengenakan dress merah menyala, sangat pendek nan seksi. Ia berlenggak lenggok aduhai layaknya seleb tengah Menenteng tas hermes merah berjalan menuju arahku.
"Apa dia orang nya, memang benar dia sih, penampilannya gak jauh beda dengan foto instagram"bandingkanku
Tapi tunggu dulu siapa tu disampingnya yg mengikuti? Lelaki muda, tinggi, dengan setelan jas kasual biru dan daleman kaos coklat bata melangkah pasti bak model menggandengnya mesra. Ia mengenakan kaca mata hitam, dan tampak begitu maskulin.
"Hai tunggu sebentar, itu kan suaminya elsi. Rendi, O my gad, jangan-jangan"kenalku seketika saat ia membuka kacamata.
"Dengan melisa ya"sapa wanita itu tersenyum manis sesaat sampai ditempatku.
"Ya bu, saya melisa, melisa purnomo"kenalkanku berdiri menyodorkam tangan.
"Ok. Saya Dewi mursi dan ini Rendi nugroho, pasangan saya"sambutnya menyalamiku dan aku memandangi Rendi yang agak gelisah melirikku
"O.. iya, mari silahkan duduk"persilahkanku hangat
"O... Tentu"terimanya kemudian kami duduk.
Ok harus profesional. Mengenai kehadiran Rendi diantara kami. I don't care, urusanmu-urusanmu deh. I must positive minded, now.
Huhhh!!
Hah!!!
"Ok, bu, saya akan mulai saja prenstasinya".
"Stop" perintahnya halus menutup segera notebookku.
Seketika aku bingung dibuatnya.
"...."
"Apa maksud wanita ini?"gundahku dalam hati
"Baiklah, Tidak perlu presentasi apapun melisa purnomo, saya akan langsung saja akan invest sebesar 30 persen saham di proyekmu"
"30%...."bingungku segera.
"Hm... kau wanita yang cerdas, kau pasti ingin tau alasannya?"tanyanya tersenyum.
"Mengenai itu, jujur saya juga penasaran"
"Emmm. Ya, saya tahu, kamu tahu kan Rendi ini suami Elsi pertiwi"
"Itu.." kejutku parah. Apakah pertemuan kali ini bukan pekerjaan. Apakah ini hanya drama.
"Saya juga tahu, kamu bersahabat dengannya bukan?"
"Saya tidak mengerti, apakah ini adalah suatu hal mengenai persyaratan"
"Cerdas"sebutnya tersenyum lebar.
"Saya dan Rendi, ingin segera meresmikan hubungan kami. Hanya saja, elsi tidak mau bercerai dari Rendi. Bahkan dia bersedia berbagi suami dan saya tidak suka hal itu"lanjutnya
"What.."sebutku dalam hati menelan ludah.
Ini sungguh diluar dugaanku. Yang benar saja, elsi dan Rendi sudah menjalin hubungan yang gak sebentar. Mereka sudah pacaran dari umur lima belas tahun. Gak kebayang kalau Rendi selingkuh dengan seorang janda tiga kali, lalu sekarang mau ninggalin elsi begitu aja.
"Oh no..no.. si, elsi betapa tragis kisahmu"ibaku dalam hati akan penghianatan berengsek rendi
"Hm... Jadi saya akan intinya saja, cukup anda menyakinkan sahabatmu, untuk bercerai dari Rendi, maka saya akan tanda tangan kontrak investasi ini dan kau pasti tahu bonusmu akan cukup besar, jika proyekmu ini mendapat investor sepertiku".
"Bonus..."sebutku gak bersuara.
"Kontrak senilai 30%, lolos, jadi sekitar 5%dari 9 milyar, maka bonusku jadi, 450 juta, what's,
That's true"khayalku senang
"but, no...no... Ini gak bener"pikirku seketika melihat Rendi yang tersenyum licik..
"Gak, bu, sepertinya ini tidak benar. Saya harus profesional. Saya tidak bisa mencampurkan masalah pribadi dengan pekerjaan"jawabku langsung logis.
"Wait itu kata-kata dari mana, kok bisa keluar dari mulutku"heranku aneh
"Hm,, kau ada benar juga, tetapi pikirkan kembali, saya pikir kau juga tidak ingin melihat sahabatmu itu, menderita dengan pernikahan yang gak sehat kan"
"…...."
"…....."
Hening
"Wow amazing words, aku gak bisa menyanggahnya, wanita ini benar benar licik, pintar sekali memainkan permainan ini"kagumku dalam hati.
"Baiklah, beby, kau ingin menyampaikan sesuatu"mesranya mengelus pipi.
Dan si brengsek itu hanya tersenyum menggelengkan kepala.
Yu... Jijik banget ngeliatnya. Mau-maunya elsi nikahx dengan makhluk setan ini.
"Baiklah, sepertinya pertemuan ini sampai disini, ini kartu namaku melisa, disitu ada nomor pribadiku, bukan asistanku, kau bisa berpikir dulu, dan menyampaikan keputusanmu langsung padaku"sodorkannya kertas biru diatas meja, dan ia berdiri bersama Rendi lalu berbalik meninggalkanku begitu saja.
"Sialan, ini apa lagi"keluhku mengambil kartu tersebut
"Dewi mursi, Ceo of Arka corporation, and xxxx"
Bacaku kemudian meremasnya marah.
"Cring!!"nada whattsup di handphoneku berbunyi dan segera ku buka.
"Rendi"bacaku. Dan tanpa berpikir langsung ku buka
"Sa, Elsi cuman bisa dengerin kata-katamu".
"Haha!!, Mati aku".