
"Tring!!! tring"
"Ibu calling"bacaku dan segera kuangkat.
"Hallo lisa, kamu dimana nak?"
"Aku di rumah sakit Bu,"
"Siapa yang sakit?"
"Teman aku Bu"
"Oh begitu, kamu bisa jemput Dila sekarang, Nal"
"Jemput Dila, tengah malem gini Bu, ada apa?"
"Nanti ibu jelasin, Kamu jemput aja adikmu, ibu sudah lelah menyimpan semua ini"Keluh ibu dan aku gak mau bertanya. Ku tahu ibu, seorang yang susah menceritakan masalah, kalau tidak perlu.
"Ya Bu, lisa kesana"Akhirku menutup telepon.
...----------------...
Rumah Dila, gak jauh-jauh amat dari rumah orang tuaku. Yah hanya terpisah jalur barat dan timur. Cukup menempuh waktu 30 menit dengan mobil Honda jazz ku maka sampailah tanpa hambatan.
"Trit..trit"segera kumatikan mesin mobil dan keluar tanpa berpikir dari Mobil.
Ku langkahkan kaki menuju gerbang biru muda tinggi dan segera ku tekan bel rumah, disamping pagar.
"Ting tong"
"Tintong .."
"Ting tong"
"Lama banget si Dila keluar, mana tengah malem lagi, hah!!!"kesalku kedinginan
"Ting tong"Bel rumahnya ku tekan lagi.
"Tring... tring"Handphoneku berbunyi.
"Dila calling"bacaku dan segera ku angkat
"kamu dimana, lama banget keluarnya"
"Aku lagi, di dalam taksi kak"
"Apa!, Taksi, yang bener aja kamu, aku mau jemput, kamu malah naik taksi, hah! bikin repot aja"
"Maaf kak, maaf banget, aku tadi dah bilang ke ibu, mau pulang sendiri, tapi ibu, maunya kakak yang jemput, karena kelamaan dan takut Deni kenapa-kenapa? aku jadi naik taksi kak"
"Hm... ya udah deh, aku pulang aja, nanti kita ngomong dirumah. ruwet pikiranku".
"Tut .Tut...Tut. "
"Huh!!! kebiasaan anak ini, gak sabaran"kesalku Masuk mobil.
...----------------...
Aduh!!!.
Kenapa hidupku gak tenang gini. Sahabat-sahabatku, jalan hidupnya begini. Pernikahannya gak ada yang bener. Hancur, amburadul, Di siksa, di khianati, dan sekarang bagaimana lagi adekku. hah!!! aku gak tahu lagi dah. Mau meledak, rasanya kepalaku.
Aku harap, gak ada yang serius nanti sama Dila. Jangan sampai, nasib pernikahannya, sama bobroknya sama mereka. huh!!!
Aku gantung kunci mobil di tempat biasa dan langsung ke ruang tamu. Aku mau langsung ketemu ibu dan Dila. Banyak pertanyaan yang menancap di otakku tentang apa yang terjadi ini.
"Mana Deny"basa-basiku mencoba mencairkan suasana, menanyakan keponakan yang baru berumur tiga tahun, anak Dila, adikku.
Aku kemudian duduk dan meletakkan jaket hitamku, disamping sofa biru muda. Aku duduk memandang mereka yang lelah menangis.
"Hm.. sudah tidur di kamar kak"jawabnya serak dan kuperhatikan ibu baru saja menghapus air mata dengan tisu tipis di tangannya yang sudah keriput.
"Hm.. .ok, lalu bagaimana?"tanyaku ambigu, berniat ingin tahu apa yang terjadi.
"Aku ditalak kak"jawabnya singkat sementara ibu menangis kembali.
"Apa!, ditalak, cerai, maksudmu".
"Ya, kak, sudah 3 kali, ini yang ke 3"
"Apa?, talak 3!" sebutku kencang dan geram
"Ya, kak aku dan Edo, udah gak bisa memperbaiki lagi semuanya"
"Aku udah capek kak,,, hiksss.. hiksss"lanjutnya lalu menangis deras.
"Kok, bisa mudah sekali, si manusia jaelangkung itu nalaq kamu, apa yang kalian sembunyikan dari aku"marahku memuncak , berdiri.
"Tenang Lisa, Tenang"ucap ibu menarik lenganku dan aku kembali duduk dengan amarahku yang belum reda.
"Dari dulu, ibu sudah gak setuju kamu nikah, sama Edo itu, tapi yah mau gimana ini, jalan hidupmu, ini yang kau pilih. sekarang kamu baru dengar kata ibu"kecewa ibu menangis.
"Maafin aku bu, aku memang, bodoh hiksss hikss"
"Apa maksudmu dek, bukannya kamu cerita Edo itu bahagiain kamu, selama ini"
"Dila bohong kak, Dila, selama ini menutup semua nya, Edo gak pernah bahagiain Dila kak, Dia lelaki gak berubah, gak bertanggung jawab"
"Apa maksudmu dia gak bertanggung jawab, bukan nya dia kerja, nafkahin kamu?"
"Gak kak, gak seperti yang kalian bayangkan, dari awal pernikahan, dia gak kerja, semua biaya hidup rumah tangga, Dila yang nanggung selama ini, Dila kerja, walaupun hamil, Walaupun cuti beberapa hari melahirkan, Dila kuatkan diri cari nafkah, sementara dia, gak pernah sekalipun berubah, dia selalu nggak tanggung jawab, alasan sama, ia bilang, ia nyesel nikah sama Dila, karena Dila, ia jauh dari keluarga besarnya, karena Dila, makanya karirnya terhambat di dunia entertainment. Ia sepi job, dan selalu bilang Dila ini pembawa sial di hidupnya. Dila, sudah lelah mengalah kak.. hiksss...hikssss"tangisnya menjelaskan lemah.
"Lalu apa maksudnya selama ini dia mesra sama kamu di hadapanku, akting gitu".
"Iya kak, dia memang jago akting, dan dia harusnya jadi aktor terkenal, tapi sayang dia harus pindah agama dan nikah sama Dila, dan dia selalu berpikir itu yang membuat karirnya redup"
"Oh... begitu, dan kalian simpan semua ini dari aku"kecewaku
"Bukan gitu nak, ibu tahu, kamu pribadi yang Keras,jadi ibu sengaja menyimpan semua ini, supaya gak ada konflik diantara kalian, ibu gak mau kamu bermasalah lelaki jahanam itu"jelas ibu meremas tanganku dan aku memandanginya teramat kasian.
"hah!!! baiklah, Aku lelah Bu, aku mau kekamar"akhiriku kecewa.
Aku gak hanya kecewa dengan keluargaku, yang menganggap ku gak ada untuk mereka. Aku juga kecewa dengan berbagai pernikahan yang hancur dihadapan ku ini.
"What is Married?"
"Apa itu pernikahan?"
Apa arti ikatan pernikahan?. Jika kekecewaan di hadapanku ini bertubi-tubi terjadi. Wanita yang selalu tersiksa fisik dan batin. Wanita yang berkorban demi anak untuk menghidupinya. Wanita yang sakit di selingkuhi. Wanita dan selalu wanita. Wanita menjadi sang korban yang bertahan demi ikatan pernikahan yang bodoh.
hah!!! untuk sekian kalinya aku menjadi anti dengan pernikahan.
Mending juga sendiri. Bahagia dan enjoy your life.
oh come on!!! Wanita!!
pernikahan itu Adah Bulshit!!