
Oh no..
Aku gak suka dalam posisi seperti ini. Posisi yang mengharuskanku berpihak dan memilih. Aku bukan orang yang suka dengan pembelaan atau dibela. Aku juga tak suka mencampuri atau dicampuri segala urusan apapun.
Oh
Come on.
I want get my life without them in my way.
Posisi ini seperti sebuah jebakan masa lalu yang memaksaku mundur kembali lagi ke jalan itu.
Hah!!,
Aku sudah berlari sejauh ini. Aku sudah mengatur waktuku sejauh mungkin. Aku sudah berada dalam posisi, untuk tak ada urusan lagi diantara aku dan mereka semua itu. Tapi apa ini, aku benar-benar gak ada pilihan lagi.
"Hah!! Ok"keluhku menekan kontak lamaku di handpone
"Elsi"bacaku ragu hendak menekan tombol call.
"Hah!! Baiklah"putusku dalam hati
"Tut...tut...tut"panggilannya tersambung.
"Tut..tut'' call ended pencetku segera
"Nggak-nggak, aku gak mau berurusan lagi dengan mereka"urungku langsung
"Drrrrt... Drrrrt..."
"Elsi calling"bacaku langsung
"Hah!!!"helaku binggung
"Drrrrtttt...drrrrrttttt"
"Hah baiklah, the games begin"
"Hallo"angkatku langsung
"Hallo lisa hikssss hiksss"tangisnya terdengar
"Sepertinya kita harus ketemu el"
"Ya lis, aku minta maaf, aku kangen"
"Baiklah, ditempat biasa"ajakku seketika.
"Mmm..."terdengar suaranya seperti setuju.
Xxxxxx
Baru beberapa hari aku dengan Ria dia ditempat ini. Hari ini kembali lagi di tempat yang sama, tetapi dengan orang yang berbeda. Sekarang dengan elsi. Gadis yang paling cantik diantara kami.
Aku masih ingat perawakannya dua tahun lalu. Ia seorang wanita yang berparas anggun, modis, berkulit berkulit putih bersih, mulus, langsing, tinggi aduhai bak model. Wajahnya rupawan, dengan hidung tidak teralu mancung, bermata besar dengan bulu mata lentik natural. Mungkin jika dia jadi artis kala itu pasti laku keras. Dan Diantara kami berempat jelaslah banyak lelaki tertarik padanya, tapi yah, dia hanya setia dengan brengsek itu saja hingga kini.
"Drrt...drrt....drrrt"handponeku di meja berdering
"Elsi calling"bacaku dan segera ku angkat.
"Hallo, el"
"Kamu dimana sa?"
"Aku dipojok nih"
"Oh, yang baju kuning ya?"
"Ya"jawabku seketika melihat wanita gendut, semok tak berbentuk melambaikan tangannya tersenyum"
"Tut... Tut... Tut"panggilannya berakhir. Dan aku masih terkejut luar biasa, memperhatikan wanita berparas pipi ekstra cubby, dengan rambut sebahu dengan badan bulat itu, perlahan menghampiriku.
"Lis, aku kangen!!!!"peluknya ramah seketika. Dan lumayan membuatku sesak.
"Kamu gak berubah ya, masih seperti dulu"ungkapnya melepas pelukannya Lalu duduk dihadapanku.
"He.. Ya"jawabku lalu meminum lemon tea di hadapanku.
"Ya aku masih gini aja, el, nyaman dengan diriku sendiri, I'm single but still happy, kamu yang sepertinya penuh perubahan"ungkapku ringan, dan membuktikan kalianlah yang menderita selama ini.
"Hm... Ya.. lis, aku memang banyak berubah. Dan aku menyesal berubah, harusnya dulu aku denger kata kamu, gak nikah sama dia, harusnya aku perbaiki karirku dan aku gak terjebak kayak gini"
"Apa yang membuatmu terjebak, bukankah kamu cinta mati sama brengsek itu. Maaf ya aku bilang gitu, tapi memang kenyataanya suamimu begitu".
"Hiksss.. hiksss. Ya lis, aku minta maaf, aku bodoh, harusnya aku dengerin kamu waktu itu. Aku harusnya gak nikah sama dia. Aku juga tahu, dia sempet naksir sama kamu, makanya aku marah, dan ngotot untuk nikah sama dia"
"Apa naksir aku?"kejutku seketika
"Ya lis, aku perhatiin dia terus aja mandangin kamu, waktu itu, terus aku nanya, apa dia punya perasaan ke kamu, dia jawab iya, dan hampir aja kami putus waktu itu, tapi karena aku hamil anaknya makanya dia nikahin aku"
"What's kamu hamil sebelum nikah?"kejutku lagi
"Ya lis, kamu tahu rendi gimana, dia itu gak setia, akhirnya karena aku hamil anaknya, makanya dia janji, akan setia sama aku"
"Awalnya kami bahagia, apalagi semenjak kehadiran Arka diantara kami, tapi semenjak usia Arka setahun, dia mulai aneh, hikss..hikss... Hiksss"
"Ia selingkuh lagi, dan itu yakitin hati aku banget, apalagi dia selingkuh, sama tante-tante...hikssss.... Hikssss" tangisnya pilu
"Sabar el"nasehatku mengusap tangannya lalu memberi tisu.
"Makasih lis"ucapnya menghapus air mata.
"Ya, mau bagaimana el, kamu sudah tahu dia seperti itu, seharusnya kamu minta cerai"nasehatku marah
"Aku gak bisa lis, anak aku masih kecil, lagian mertuaku sayang banget sama aku, mereka gak mau aku pisah, aku juga sayang sama mereka. Ditambah lagi aku gak ada kerjaan, gimana aku harus hidupin, anak aku, hikss.. hiksss"
"Hah!!?, Yayyya.."sebutku kesal kembali minum
"Oh ya el, kamu mau minum apa?"tawarku berharap mengalihkan perhatiannya
"Ya lis, kebetulan aku juga dari rumah laper banget, waiter!!"panggilnya segera tanpa berpikir dan seorang lelaki bercelemek hitam menghampirinya
"Ya mbak, mau pesen apa?"tawar lelaki itu ramah.
"Ya, m.. apa ya, oh nih nasi gorengnya 2 porsi, tapi telornya gak usah diceplok, didadar aja, terus sandwichnya satu, tapi gak usah pakai selada yah, nah satu lagi chocolate puddingnya dan ice cream vanilanya ini satu.."tunjuknya satu persatu ke buku menu yang ia buka dan what's itu banyak banget.
"Minumnya apa mbak.."
"Oh ya lupa, milk shake strowbery deh tapi porsi jumbo ya"
"Ada lagi mbak"
"Mmm..m itu aja, aku lagi diet"
"Apa.. diet yang bener aja, makanan loe sebanyak ini"ketawaku dalam hati.
"O.. ya lis, kamu pesan apa, nanti aku traktir deh?"tawarnya ramah
"Ah gak el, aku juga lagi diet"sindirku halus.
"Ok. Nasi goreng 2, sandwichnya 1, chocolate puding, vanila ice cream, dan milkshake strowbery satu"sebut waiters itu ramah dan sepertinya menyambung asas sindiranku
"Aaaa itu.. aku, Ya"jawabnya ragu
"Baiklah, kami proses pesanannnya"senyumnya ramah meninggalkan kami ramah.