
Aduh kepalaku mau botak, diteror oleh si janda itu, ia terus saja menelponku, menanyakan perkembangan urusanku dengan Elsi.
ughhh!!! come on.
Kok hidup ku jadi begini. Aku sudah bahagia dengan keadaanku, single I'm happy, but now. Tiba-tiba muncul, manusia-manusia aneh ini membawa masalah padaku.
Ada yang selingkuhlah, Ada yang kekurangan uang, keadaan ekonomi, lalu apa lagi nanti.
heg!!!? kok hidupku kayak gini.
"Tringgg... Tringgg"
"Dena Calling"Bacaku
"Dena, Tumben Nelpon, Jangan-Jangan"pikirku pasrah gak karuan
"Tring... Tring"
"Aduh angkat gak ya"Bingungku
"Tring...Tring"
"Aku tahu dah ni, Yang satu ni nelpon, lagi butuh aje"
"males ah!!!!"keselku meletakkan hanphone diatas kasur
"Tring... Tring"
"oh come on"
"hah ok"pikirku singkat dan mengangkatnya.
"Hallo"
"lis... hiksss..hiksss, tolong aku isaknya"
"..dakkkk!!!!"suara dentuman keras terdengar.
"Apa itu Na,"
"Suami gue, lis... suami gue ngamuk lagi... Dia mau mukulin aku lagi lis,,, hiksss hiksss"suaranya serak terdengar
"Keluar, kamu, Wanita Laknat, jangan coba bersembunyi lagi"teriak laki-laki keras terdengar
"dakk!!!"
"Elo, dimana na?"
"Aku dikamar mandi lis, tolong aku.. tolong aku..hikss,,, hiksss"
"Dakkk!!!!"
"Brakk!!!"Sesuatu terdengar rusak
"Berani macam-macam kamu hah!!!?"
"Aduh!!, sakit bang, sakit!!"
"plak... plak"suara tamparan terdengar jelas
"ini sakit, hah"
"prang!!!!!"suara benda jatuh menggema
"aduh aku gak bisa biarin ini"pikirku panik, dan langsung menekan record calling. Aku berniat merekam semua yang terjadi, sebagai bukti.
"Ampun bang, jangan pukulin, aku bang, ampun"
"Ampun katamu, laknat"
"plak!!!!" suara tamparan terdengar kembali, kali ini ku rekam rapi.
" Dasar lelaki jahanam"geramku mengenggam tinju.
"Dasar kau wanita setan!, sudah tau kewajibanmu apa, masih saja kau ulangi kesalahanmu"
"Aku minta maaf bang, Tolong...!!! hiksss...hiksss... jangan pukul aku lagi"
"Ingat ya"
"..aaaa...Jangan Bang,,, Jangan Bang"
"cuih!!!, diam kau, sekarang layani aku"
"jangan bang, jangan, aku sakit!"
"diam kau!!"
"plak.plakkkk"tamparan terdengar berkali-kali.
"hah sudahlah, aku gak nafsu lagi, jijik aku dengan wanita sepertimu, gini-gini aja pingsan, nyesel aku nikah sama kamu, sudah penyakitan, gak bisa hamil, sekarang kayal gini"
"prang!!!"suara barang terlempar
"......"
"....."
sepi tak ada suara
"hallo dena, dena,"panggilku
"hah!!!, aku harus hubungi polisi pikirku, yah, yahh"
Tekanku segera emergency calling.
...****************...
Betapa Terkejutnya aku menyaksikan Dena bersimbah darah disekujur tubuhnya. Ia ditemukan pingsan sendirian di kamar mandi setelah polisi berhasil mendobrak kamar apartemennya.
"Dena!!!Dena"sebutku menangis menutup mulutku.
Tiga puluh menit sebelum menyaksikan ia dalam kondisi kritis saat ini. Aku menelpon Ria, menanyakan alamatnya yang sekarang. Aku tahu, pasti hanya Ria yang selalu terhubung dengan Dena yang lainnya, karena dari semuanya, aku tahu, hanya Ria yang jarang bermasalah diantara kami.
"Iak, kamu tahu dimana Dena tinggal sekarang"
"Ada apa lis, tumben kamu tanya Dena"
"Ini darurat iak, nanti aku ceritain, kirim alamatnya dari chat ya"
"ya, ya sa"
"tut..tut.." panggilanku berakhir
"Apartement elit Mekar Indah Xxxxxx"Bacaku lalu menelpon polisi kembali.
Selang beberapa saat dirumah sakit, dokter langsung mengambil tindakan. Dena di operasi, karena otaknya mengalami benturan parah dan mengalami pendarahan. Selain itu tulang belakanngnya retak, benar-benar parah keadaannya, aku tak sanggup lagi menyaksikannya yang terbaring kritis sekarang di ICU.
"Oh Come on Dena, Rumah tangga apa yang kau jalani. Di siksa hampir mati seperti ini.
Apa pernikahan yang kau jalani ini. Apa?"
Termenungku dirumah sakit sendirian menyaksikannya terbaring lemah dengan banyak selang dan alat pendektesi denyut jantung yang menempel di tubuhnya.