What Is Married?

What Is Married?
Apakah ini Menyesal?



Sore ini, aku ada janji dengan Ria. Teman sekelasku waktu SMA. Dia anak yang baik dan ceria. Sering tersenyum, dan yah, sopan sifatnya, maklum dia gadis agamis yang mengenakan jilbab.


Ria memang telah banyak mengisi banyak hariku. Ia juga tanpa sadar jadi penasehat pribadiku, dikala aku agak error dengan hubungan menjijikan yang pernah kualami. Ya taulah walaupun aku nggak percaya tentang sebuah hubungan tapi yah, aku pernah yg namanya pacaran. Walaupun akhirnya berkali-kali sad ending. Dan itu membuatku lelah.


But anyway, sudahlah hidup must go on, tidak penting membahas masa lalu yg busuk itu. Ugh!


Hah!.


Gak kerasa, Udah tiga tahun ini aku gak ketemu Ria. Dan yah ada alasan tersendiri, yang membuatku menghilangkan jejak setelah dia menikah.


Ria gak lagi, mengisi akhir pekanku seperti dulu. Karena aku tahu kehidupannya sudah berbeda. Aku nggak mau mengganggunya. Ia sibuk jadi seorang istri dan kini ibu dari dua anak masih kecil-kecil.


Tetapi bukan hal itu aja yang membuatku renggang selama beberapa tahun ini. Diantara empat temanku Ria, Elsi, Dena, dan Yuli, hanya aku yang belum nikah. Hanya seorang cewek bernama Melisa kusomo yang betah masih single. Dan you know lah rasanya gimana, serasa hidup ini tersisihkan.


Sebenarnya aku awalnya gak merasa agak terkucilkan kala, itu. Menurutku status bukan penghalang buat kami masih berteman.


Tetapi semua senyap, ketika menghadiri pernikahan terakhir dari keempat sahabatku, si Yuli. Sungguh ku merasa minder bukan alang kepalang.


"O my gad!"


"Kapan nyusul sa?"


"Iya sa, kapan nikah?"


"Kapan berpasangan kayak kami ini"


"Iya nih, entar jadi perawan tua lo"


"Iya sa, entar nyesel lo, gak nikmatin surga dunia"


"Atau mungkin kamu, gak laku laku sa, Ha....ha... Ha..."


Canda mereka mentertawakan ku parah sekali. Duniaku seakan runtuh waktu itu.


Tak berhentinya mereka mengejek serta menghinaku. Sementara itu aku tak bisa berbuat apa-apa hanya diam dan pura pura tersenyum.


Dalam hatiku, berkata


"Suatu saat kalian pasti akan menyesal dengan penghinaan kalian ini"


Semenjak itulah kuputuskan sedikit menjauh dari mereka. Ku rasa sudah sangat keterlaluan candaan mereka waktu itu. Hatiku teiris gak karuan.


Dan lihat saja who's winner of the games next?


Tetapi ironisnya hari ini. Yah aku mengiyakan pertemuan salah satu dari mereka. Ku pikir tidak ada salahnya juga, untuk bisa memperbaiki hubungan yang agak renggang. Terlebih menurutku hanya Ria yg mengenggam tanganku kala itu, saat merasa amat marah di pernikahan yuli. Cuman dia yang peduli amarahku kala itu. Selain itu jujur, aku kangen banget obrolan dengannya.


"Pengen ketemu"chat Ria


"Ya baiklah"blsku sederhana


Dan cafe yang dulu jadi pilihan pertemuan kami jadi tujuan.


Aku duduk seperti biasa di bangku pojok, dengan dua kursi kayu bercat coklat.


Dan sekarang, sudah 15 menit ku menunggunya dengan segelas lemon tea tanpa gula.


"Asalamu'alaikum Lisa!"suara itu ku langsung kenali


"Wa'alaikumsalam, Ria"jawabku tersenyum manis buatan.


Kuperhatikan seketika tampilannya kini berubah. Ia nampak sederhna mengenakan jiljab lebar hitam dengan gamis coklat. Jauh dari yang dulu bergaya, modis, berjilbab pasmina moderen, blezer dengan celana kain serta aksesorisnya lengkap. Tubuhnya juga sedikit gemuk. Ya aku maklum lah dia kan sudah melahirkan dua anak. Jadi pasti bodynya gak jauh dari tampilan emak-emak.


Dan dari kesemuanya perbedaan yang mencolok yang tak lain adalah wajahnya. Tak nampak cerah seperti dulu, terlihat lebih kusam kurang terawat.


"Ayo duduk dong"sambutku ramah.


"Iya lis"angguknya lalu duduk meletakkan tasnya di meja


"Lama ya kita gak ketemu"bukaku akrab


"Iya lama"jawabnya singkat dengan mimik wajah yg sepertinya ingin mengungkapkan sesuatu. Dan gak ada kalimat yang keluar dari lisannya.


"Kamu minum apa?"tanyaku ingin mencairkan suasana


"Aku pesenin"


"Nanti aja lis?"jawabnya sendu


"Ok"


"Kamu apa kabar?" Tanyanya agak canggung.


"Ya gini aja, seneng sendiri aja"


"Oh"pandangannya kosong seperti ada sesuatu.


"Kamu, kenapa sih, ada masalah, ayo cerita dong!"paksaku memegang tanganya


"Gak kok, gak ada apa-apa"jawabnya biasa tetapi aku perhatikan kedua bola matanya berair.


"Ya udah, aku pesenin minumnya"


"....."


Dia tidak menjawab. Aku rasa dia setuju.


"Mbak!"panggilku


Seorang wanita becelemek hitam dengan topi menghampiriku.


"Minum apa iak?"


"...."


Dia masih diam, kali ini merunduk, seperti ingin mengusap air matanya.


"Mbk lemon tea ya satu, dan pasta panggangnya dua ya"


"Ada lagi mbak"


"Ya, dua lagi pasta panggangx nanti dibungkus ya"


"Yap"anggukku, dan waiters itu berlalu


"Kamu pesen banyak sekali, untuk siapa?"kalimat agak cair mulai keluar dari lisannya


"Ya untukmu dan aku"


"Dibungkus juga"


"Oh kalau itu, buat kamu dan anak anakmu, tenang aku yang bayar semuanya"jelasku tersenyum


"Maaf ya lis, aku ngerepotin, padahal kita baru ketemu"


"Nggak kok, aku ngerti"


"Aku dah denger semuanya, dari tante lilik"


Yakinkanku padahal aku belum tau apa-apa. Karena ketemu tante lilik pun itu agak jarang, kalau gak penting-penting amat, walaupun ia atasanku dikantor.


Aku hanya memancingnya bicara. Karena ku tahu sebagai orang yang kenal cukup lama, Ria itu sosok yang susah sekali menceritakan tentang dirinya. Bisa di bilang dia pribadi yang cukup tertutup.


"Ah, jadi mama cerita semuanya ke kamu, mama udah cerita masalah rumah tanggaku"


"Ya, gak semua sih, tapi ya aku sudah bisa tebak, kamu pasti lagi kesulitan, ya kan"


"Ayo cerita dong, aku siap ngedengerin semuanya"


"Makasih ya lis, hah!!" Dia menghela napas


"aku gak tahu lis, apa aku menyesal atau tidak, harusnya aku selesein dulu pendidikanku, kerja, lalu menikah, gak kayak gini, seharusnya aku denger kata mama dulu"


"Maksudmu kamu menyesal menikah"


"Aku gak tau lis, yang jelas sekarang aku gak tau, mau menuju kemana, aku bingung, sementara itu, mama terus nyalahin aku. Karena nikah muda"


"Sekarang, tiap hari dalam keadaan kekurangan, ya sangat kekurangan, harus siap, tiap hari, kadang makan kadang enggak, bertengkar terus, karena nafkah ini dan itu, hidupku hancur seperti dineraka"


What, Ria sesengsara itu, yang ku tahu keluarganya cukup berada. Bahkan tante lilik salah satu alasanku di kantor.


"Memangnya suamimu kerja apa sekarang ia"


"Ya masih jadi guru, tapi taulah gaji guru gimana, apalagi dia honorer. Hanya tiga ratus ribu perbulan"


"300rb yng bener aja, itu mah uang pulsaku sebulan"


"Ya, lis, uang segitu buat apa, memang masalah beras, dan kebutuhan pokok, ditanggung pihak sekolah, karena kami juga tinggal disekolah itu untuk bersih-bersih dan menjaga sekolah. tetapi susu anak, makanan pedamping dapat dari mana, ditambah lagi uang ini, tuk berobatlah kalau eza, dan nino sakit tiba-tiba, gimana, harus hutang sana sini terus!, Aku capek liz, benar-benar capek hiksss hikss"Curhatnya menangis. Kali ini air matanya mengalir deras. Tak ditahan lagi


"Aku nyesal, lis, aku ingin cerai, hiksss hiksss"lanjutnya menangis dengan suara serak.


"Sabar iak"nasehatku mendekatkan kursi, mengelus punggungnya dan memeluknya. Betapa ibanya aku, aku juga bingung harus berbuat apa. Aku juga merasa kian takut dengan pernikahan.


"Iak, bagaimana dengan anak-anakmu, mereka kan masih kecil"


"Ya, lis, cuman mereka yang membuatku bertahan begini"tegarnya menghapus air mata. Dan aku melepas pelukanku.


"Kenapa kamu gak kerja aja?"saranku ringan


"Ya, aku mau, tapi dia gak ngijinin aku, dan alasannya selalu anak-anak, gak ada yang urus"


"Hm!!!"helaku sambil minum lemontea


"Aku pasrah lis, pasrah dengan hidupku"


"Gak boleh nyerah gitu iak, kamu jual online aja, kan katanya bisa tu, sambil ngurus anak"


"Hahh!, Jual online apa lis, modal darimana, tuk makan aja nggak cukup, mau minta ke mama, malu liz, sudah banyak hutangku ke mama"


"Hm...kamu kan pinter masak iak, kenapa kamu gak jual makanan aja?"


"Mbak ini pesanan anda"ucap waiters yang tiba membawa nampan berisi pesananku. Dan 2bungkus pasta.


"Oh ya, makasih mbak"ucapku


Dan waiters itu tersenyum lalu berlalu.


"Hm.tapi masalahnya?"


"Modal, tenang aja aku bisa usahain"


"Bukan itu, lis, aku tu gak pinter bisnis, berapa kali juga jualan, ya itu baju, makanan, semuanya yang modalin mama, tapi ujung-ujungnya, gak jalan, modal abis, buat kebutuhan aja, aku pengennya kerja, tapi hah! kerja apa, dengan lulusan SMA, selain itu si kecil nino juga masih ASI"


"Hm.., jujur iak, aku bingung, kalau aku saranin buat cerai, kayaknya aku gak pantes deh, kasih saran terbaik itu, karena kamu tahu sendirinlah, aku bukan ahli pernikahan. Tetapi kalau kamu tanya tentang kata hati, cuman aku saranin aja, tuk nurutin apa kata hatimu, kita kan hidup untuk bahagia, bukan mau sengsara, kamu kan pasti tau apa yang membuatmu bahagia"


Ria tersenyum hangat padaku.


"Hm ya lis, kamu bener, maafin aku dulu ya, yang diem ajaikut-melihat mereka, ngeledek kamu yang belum nikah, aku pikir pernikahan itu indah awalnya, tetapi kenyataannya gak lebih kayak penjara, tanpa sel tahanan"


Aku memandangi, Ria penuh ketulusan yg tak kusangka. Aku gak tahu kalau dia bisa dengan mudah mengatakan sesuatu penyesalan yang amat mendalam.


"Iak, aku gak tahu, kamu mikir apa, waktu itu, aku udah maafin kok semuanya. Gak apa-apa deh kalian nikah, aku gak, alias seneng sendiri. Karena Jujur aja ya, aku gak percaya dengan pernikahan, aku gak percaya dengan adanya pasangan itu membuat kita bahagia, tetapi sekarang coba deh kamu pahami, keadaanmu dan keadaanku jelas berbeda. Aku hanya bertanggung jawab atas diriku sendiri, sementara kamu harus bertanggung jawab dengan dua anak kecil, yang butuh kamu sebagai seorang ibu. Gak mungkin kan bagi kamu, jadi tiba-tiba kejam ninggalin mereka berdua begitu aja".


"Ya kamu benar lis, aku masih bertahan itu karena mereka"


"Hm. Ya aku paham itu. Aku juga bukan penasehat pernikahan iak, tapi aku hanya manusia biasa yang punya perasaan dan tidak suka orang yang gak mau bertanggung jawab dengan tindakannya. Sekarang gak ada lagi gunannya lagi kamu nyesel, atau ngeluh atas pilihan hidupmu. Menurutku kamu harus terus, bernapas buat mereka, mereka butuh kamu"


Ria mengangguk


"Sekarang jadilah seorang ibu, bukan seorang istri, ni aku ada uang, gak seberapa sih, cuman kamu bisa jualan lagi atau ini kartu nama tempat toko adikku bekerja, kamu bisa kerja disana jadi penjaga toko, ya gajinya sih lumayan, aku nyakin cukuplah, nanti aku hubungin adikku buat rekomen kamu"serahku


"Makasih lis, makasih"peluknya erat tiba-tiba. Aku merasa sedikit bahagia karena bisa meringankam beban kesusahannya


"Ya udah aku pamitnya, mbak billnya"panggilku.


Segera wanita betopi tadi menghampiri membawa kertas nota bertulis angka yang harus ku bayar


Dan Pertemuan kami berakhir. Aku merasa telah menemukan satu bukti, bahwa pernikahan itu gak ada gunanya selain nambahin beban hidup.


"Pernikahan adalah Hidup sebagai tahanan di penjara tanpa sel"