
Hari ini ketika Orion baru selesai mengisi sebuah acara di sebuah stasiun TV HBS, sebuah kamera mendadak mengikuti mereka ke ruang tunggu.
Kyungjoon yang pertama kali menggumam bingung. “Kita ada acara lagi kah, hyung?” tanyanya pada Seunghwan dan Hyunsoo, yang kompak menggeleng.
“Harusnya tidak,” Seunghwan menjawab sambil mengecek ponselnya yang seketika menampilkan jadwal mereka.
Kameramen yang mengikuti mereka tersenyum, kemudian menyodorkan sebuah amplop bersegel ‘We’re Going On A Date’ pada Hyunsoo.
“Aah!” pekik Kyungjoon yang kemudian tanpa suara melafalkan kata ‘yeonae’ yang berarti kencan. Kameramen itu seketika mengangguk.
Hyunsoo menerima amplop tersebut, membolak-baliknya sebentar lalu berkata bingung. “Aku buka ini?” katanya memastikan. Kameramen itu mengangguk sembari tetap mengarahkan kameranya pada Hyunsoo. “Sekarang?” Hyunsoo memastikan sekali lagi.
Ia membuka amplop itu ketika kameramen itu mengangguk untuk kedua kalinya.
“Woah, aku tak sabar!” kata Kyungjoon, yang disambut jitakan pelan dari Seunghwan. Kyungjoon mengerling sinis ketika Seunghwan bilang, “Yang mau kencan siapa, yang heboh siapa,”. Kameramen itu tertawa melihat tingkah mereka.
Mata Kyungjoon dan Seunghwan mengekori tangan Hyunsoo yang membuka amplop dan mengeluarkan sebuah kertas dari dalamnya.
Hyunsoo kemudian membacakan apa yang tertulis di sana ketika kameramen itu melafalkan ‘bacakan’ tanpa suara.
‘Teman kencanmu akan tiba di bandara pukul 4. Jemput dan berikan ia kesan pertama yang menyenangkan. Semoga berhasil.’
“Sekarang? Ke Incheon?” tanya Hyunsoo setelah selesai membacakan hal yang tertulis di kertas itu. Jam yang melingkar di tangannya menunjukkan pukul 2. Masih sempat untuk sampai ke bandara jam 4. Kameramen itu mengangguk. “Kau bisa memakai mobil milik HBS,”
“Baiklah,” Hyunsoo mengangguk. Ia mulai memasukkan beberapa barangnya ke dalam tas slempang yang akan ia bawa.
“Woah, Hyunsoo hyung benar-benar akan berkencan!” komentar Kyungjoon bersemangat.
“Anak kecil tak usah ikut campur,” kata Seunghwan, yang langsung disambut tatapan sengit dari Kyungjoon dan tawa dari Hyunsoo.
“Baiklah, aku pergi dulu ya,”
Hyunsoo melambaikan tangan kemudian memantapkan hatinya melangkahkan kakinya keluar dari stasiun TV HBS.
***
Begitu van yang Hyunsoo kendarai melaju melewati jalanan kota Seoul, kombinasi wangi hujan yang menyegarkan dan aroma musim semi yang menentramkan segera saja menyeruak ke indera penciuman pria itu. Jalanan cukup ramai hari ini. Rupanya hujan deras yang mengguyur daerah tersebut baru saja berhenti sehingga sepertinya semua orang yang berhenti beraktivitas karena hujan kini kembali melakukan aktivitasnya yang tertunda. Dari kaca spionnya, Hyunsoo bisa melihat van kru We’re Going On A Date mengikutinya dari belakang.
“Kau pasti senang, ya kan?”
Suara Jungjin—manager Orion— yang terdengar di earphone membuat Hyunsoo mengerutkan dahi meskipun Jungjin tentu saja tak bisa melihatnya. “Senang kenapa?”
Jungjin menghela nafas. Hyunsoo bisa membayangkan pria itu menatap Hyunsoo dengan tatapan you-really-don’t-know-what-i-mean-huh? kalau saja pria itu sekarang duduk di sebelahnya. “Gadis itu, aku melihat biodatanya, dia cantik,” Jungjin akhirnya menjelaskan maksud dari perkataannya, malas jika ia harus mendengar Hyunsoo bertanya ‘kenapa’ atau ‘siapa’ untuk kedua kalinya. “Dan sepertinya dia bukan gadis yang akan pingsan saat melihatmu,”
“Oh,” komentar Hyunsoo pendek.
“Oh?” Jungjin bersungut mendengar komentar Hyunsoo. “Hei, setidaknya katakan kalau kau sangat beruntung akan berkencan dengannya. Dia bukan hanya cantik, tapi juga orang Korea, kau tidak akan mengalami kesulitan berkomunikasi dengannya,”
“Dia bukan orang Korea, kau tidak mendengarnya tadi? Dia punya 2 kewarganegaraan, dan sekarang dia tinggal di Indonesia. Lagipula, siapa yang bilang dia cantik? Foto kan bisa saja menipu. Siapa tahu dia memakai photoshop. Kita tidak akan tahu sampai bertemu dengannya,” kata Hyunsoo tak berminat.
“Aku benar-benar tidak tahu apa yang ada di pikiranmu,” katanya. Ia tidak pernah bisa cocok berbicara dengan Hyunsoo jika itu menyangkut masalah wanita. Ia bahkan tidak mengerti kenapa Hyunsoo tidak pernah tertarik pada anggota girlband manapun, tidak juga Tiffany SNSD yang sangat cantik atau Hyuna 4minute yang super seksi.
“Ya sudah selamat berkencan ya, jangan jutek-jutek nanti pasanganmu bisa kabur,” kata Jungjin sebelum menutup teleponnya.
Hyunsoo terkekeh kecil. Tenang saja, ia tidak akan membuat variety show ini gagal. Ia tentunya akan berakting dengan sangat baik saat berhadapan dengan kamera. Bukankah itu yang dia pelajari selama menjadi trainee?
***
Pun ketika ia ke kampus pagi ini untuk meminta ijin selama 10 hari, teman-temannya langsung menyerbunya dengan berbagai pertanyaan yang memusingkan. Tentunya mereka yang sebagian besar pecinta kpop garis keras sudah mendengar berita tentang Gyoul yang menjadi pasangan variety show si personil Orion ini. Apalagi ditambah seorang kameramen yang tinggi dengan wajah oriental khas Orang Korea yang tadi mengikuti dan berusaha merekam setiap gerakan Gyoul dalam berbagai angle.
“Asli lo hoki banget, kapan ke Korea?”
“Gila, lo beruntung banget bisa kepilih, padahal gue udah berdoa tiap hari biar kepilih,”
“Aku minta tandatangan Hyunsoo oppa ya!”
“Aku merchandise asli Orion!”
“Gyoul, siapa tuh? Boleh nggak dikenalin?”
“Gyoul...,”
Lain kali Gyoul akan ingat untuk memakai masker dan kacamata hitam sebagai penyamaran, biar tidak ada orang yang menanya-nanyainya lagi. Untung saja ia cuma sebentar berada di kampus karena harus mengejar penerbangannya ke Incheon yang dijadwalkan jam 10 pagi.
Gyoul tidak bertemu Alsya tadi pagi. Alsya tidak ada kelas pagi itu, jadi kemungkinan ia akan ke kampus siang hari—Gyoul hafal jadwalnya karena seharusnya hari ini ia kuliah di jam 1 siang bersama Alsya. Gadis itu juga belum menghubunginya. Pasti Alsya kecewa berat karena Gyoul yang terpilih dan bukan dia.
Kalau bisa memilih, dengan senang hati Gyoul bersedia menukar keadaan ini dengan Alsya. Tentunya Alsya akan mengikuti acara ini dengan antusias, tidak seperti Gyoul sekarang.
Kepala Gyoul berdenyut pelan ketika ia melangkahkan kakinya keluar dari pesawat. Kakinya merasakan sensasi lemas aneh yang membuat gadis itu buru-buru menenangkan dirinya. Beberapa kenangan yang beberapa tahun ini ingin dilupakannya kembali terlintas. Salah satu alasan ia pergi dari negara ini, selain keadaan.
Bandara Incheon masih tampak semegah biasanya. Belum ada yang berubah terlalu drastis sejak 3 tahun lalu. Ini kali kedua ia menginjakkan kakinya di bandara ini. Pertama kali ia kesini adalah 3 tahun lalu ketika ia harus pindah ke Indonesia, dan hari ini adalah kedua kalinya.
Perjalanan kali ini melelahkan. Selain karena ia harus sepesawat dengan kru-kru We’re Going On A Date yang kemarin menjemputnya, ia juga harus syuting beberapa scene yang mengilustrasikan bahwa ia sangat senang terpilih sebagai pasangan kencan Lee Hyunsoo atau siapalah itu. Gyoul menganggap semua itu beban. Ia sama sekali tidak senang dan benar-benar tidak ingin kembali ke Korea meskipun tanpa mengeluarkan uang sepeserpun.
Gyoul mengaktifkan HP-nya dan menghubungkannya dengan wifi bandara karena ia belum membeli simcard lokal. Beberapa pesan segera masuk ke ‘Line’-nya.
Ga-eul
Eonni, jangan lupa aku titip salam buat Lee Hyunsoo >.<
Gyoul mendesis jengkel. Kalau ingat karena siapa ia harus berakhir di tempat ini, ingin rasanya ia memakan Ga-eul hidup-hidup.
“Gyoul-ssi, setelah ini kita akan mulai syuting adegan kau bertemu Hyunsoo untuk pertama kalinya. Hyunsoo akan menjemputmu di bandara,” kata seorang lelaki tambun yang sedari tadi mensejajari langkahnya. Kalau tidak salah ia merupakan host acara ini. Nametagnya menunjukkan namanya. Park Yongsuk. Kameramen yang kemarin mengikuti Gyoul di kampus—namanya Nam Junho— berjalan di samping Park Yongsuk.
Gyoul hanya mengangguk. Sepanjang perjalanan tadi Park Yongsuk sudah menjelaskan apa saja yang harus ia lakukan dengan Hyunsoo selama 10 hari. Karena tag-line acara ini adalah ‘A Beautiful Moment In Korea’, maka mereka akan syuting di tempat-tempat terkenal di Korea seperti Pulau Nami, Everland, Namsan Tower, Gyeongbokgung, dan masih banyak lagi—Gyoul tidak benar-benar mengingatnya.
Gyoul pasrah. Ia melakukan semua ini hanya demi tidak membayar 50 juta won. Setidaknya ia tidak egois dan membebani Eommanya untuk membayar itu. Eomma tidak akan punya uang sebanyak itu, apalagi beliau masih harus membayar uang sekolah Ga-eul dan uang kuliahnya.
HP Gyoul bergetar lagi. Sebuah pesan masuk.
Eomma
Anggap ini sebagai liburan. Eomma harap kau akan pulang dengan senyuman.
Gyoul mendesah. Bisakah ia pulang dengan senyuman? Menghirup udara di negara ini saja membuat hatinya berat.
Well, ia hanya perlu melakukan hal ini dan bertahan 10 hari. 10 hari tidak lama. 10 hari akan segera berakhir. Gyoul menyemangati dirinya sendiri.
***