We’re Going On A Date!

We’re Going On A Date!
Hari Pemilihan



Lee Hyunsoo memperhatikan pantulan wajahnya di cermin ruang ganti HBS TV, lalu menghela nafas panjang. Ia sudah berulangkali melakukan hal ini sejak kurang lebih setengah jam yang lalu. Hari ini tepat dua minggu setelah berita ia mengikuti We’re Going On A Date dikonfirmasi dan hari ini adalah hari dimana harus memilih ‘pasangan kencan’nya.


Pihak HBS sudah memberitahunya tadi, ia hanya harus menekan berteriak ‘stop’ saat layar komputer mengacak beratus-ratus ribu formulir dari seluruh dunia, dan saat itulah pasangan kencannya akan terpilih. Itu bukan hal sulit, tapi entah mengapa Hyunsoo benar-benar merasa gugup. Terlebih lagi Seunghwan dan Kyungjoon tidak bisa menemaninya sekarang—Seunghwan bilang ia harus bertemu Boss mereka untuk membicarakan beberapa hal, sementara Kyungjoon ada siaran radio—benar-benar membuatnya merasa sendirian.


“Ya\~jangan melamun seperti itu,” Go Jungjin, manager boybandnya—Orion—menepuk pundak Hyunsoo pelan. Hyunsoo menoleh, namun pria itu hanya menghela nafas sebagai jawaban.


“Memikirkan gadis itu?” goda Jungjin sambil meletakkan pantatnya di kursi sebelah Hyunsoo.


“Gadis yang mana?” Hyunsoo memutar matanya jengah.


Jungjin tertawa geli. “Kau ini, serius sekali sih,”


“Lalu, menurut hyung aku bisa tidak serius? Aku akan berkencan dengan orang tidak dikenal selama 10 hari, hyung!” sungut Hyunsoo. Dipandanginya Jungjin dengan sengit.


Jungjin mencibir. “Lalu, apa yang kau khawatirkan? Kau sudah 20 tahun, sudah saatnya berkencan juga,”


Hyunsoo mengarahkan mata tajamnya pada Jungjin, memandangnya dengan sengit (lagi).


“Arasseo, arasseo,” sahut Jungjin cepat. Kalau sudah seperti itu, ia tahu Hyunsoo pasti serius dengan kata-katanya. Padahal ia hanya berniat menggoda pria yang sudah seperti adiknya sendiri itu. “Wae? Kau khawatir kalau yang terpilih nanti adalah fans beratmu?”


Hyunsoo menghela nafas dan menghembuskannya dengan tanpa daya. “Molla!”


“Kau sendiri yang memilih acara ini, kan? Sudah aku bilang pilih We Got Married saja, kau bisa saja akan dipasangkan dengan Tiffany SNSD! Ah, kau benar-benar menyia-nyiakan kesempatan ini,” sahut Jungjin dengan nada menyalahkan.


Hyunsoo bersungut. Ia memang tahu benar managernya ini adalah fans berat Tiffany SNSD, sama seperti Kyungjoon. Mereka berdua benar-benar fanboy yang kompak. Pernah saat konser SNSD di Seoul tahun lalu mereka menonton bersama dan mereka juga sama-sama mengoleksi semua barang-barang berbau SNSD.


“Aku memilih acara ini karena acara ini hanya berlangsung selama 10 hari. Aku tidak ingin lama-lama ikut acara semacam ini,” Hyunsoo mengedikkan bahunya.


“Wae? Kau takut akan jatuh cinta pada pasanganmu?” tanya Jungjin.


“Ani,” Hyunsoo menggeleng pelan. “Aku justru takut mereka yang akan jatuh cinta padaku,” lanjutnya sambil menaikkan sebelah sudut bibirnya. Jungjin seketika memasang tampang mual, membuat Hyunsoo terbahak.


“Lee Hyunsoo-ssi, bersiap-siap dalam 10 menit!” seru seorang staff HBS dari pintu ruang ganti. Jungjin dan Hyunsoo serempak menoleh ke sumber suara.


“Ne!” sahut Jungjin. Pria itu berdiri dan menarik tangan Hyunsoo untuk mengikutinya. “Kaja! Berdoa saja yang terpilih nanti bukan fans yang akan jatuh pingsan saat melihatmu,”


***


“Kau lihat layar di sana, ada beratus-ratus ribu formulir yang masuk ke acara ini. Bagaimana menurutmu, Hyunsoo-ssi? Bukankah itu membuktikan kalau kau sangat populer?” tanya Park Yongsuk.


“Aniya,” Hyunsoo buru-buru menggelengkan kepalanya, menolak kata ‘populer’ yang digunakan Yongsuk pada dirinya. “Aku rasa aku tidak sepopuler itu. Tapi, terima kasih banyak telah mencintaiku. Aku sendiri tidak menyangka akan sebanyak ini yang mendaftar,” lanjutnya.


“Woah, rendah hati sekali,” komentar Yongsuk. “Lalu, sebelum kita benar-benar memilih siapa pasangan kencanmu, bisakah kau memberitahu kami wanita seperti apa yang menjadi wanita idealmu?”


Hyunsoo mengerutkan dahinya, berpikir sejenak. “Hm, pada dasarnya aku tidak terlalu memiliki kriteria untuk wanita idealku. Untuk bisa berkencan dengan seseorang, aku hanya perlu seorang gadis yang bisa membuatku merasa nyaman saat berada di dekatnya,” katanya sembari tersenyum.


“Kalian dengar itu, Orionix? Kalian hanya perlu menjadi seorang gadis yang membuat Hyunsoo merasa nyaman untuk bisa menjadi teman kencannya!” Park Yongsuk berkata dengan menatap tepat ke arah kamera. Lalu pria itu kembali menatap Hyunsoo. “Wah, ternyata kau bukan termasuk orang yang pemilih,” katanya kemudian. Hyunsoo hanya tersenyum menanggapinya.


“Baiklah, sekarang adalah saatnya untuk memilih. Ah ya, aku yakin pasti Orionix di seluruh dunia sedang merasa deg-degan sekarang,” kata Yongsuk. “Kau lihat layar itu, Hyunsoo-ssi? Ketika aku menghitung sampai tiga, layar itu akan mengacak seluruh formulir yang telah kami terima. Apa kau sudah siap?”


Sekarang bukan hanya Orionix di seluruh dunia yang merasa deg-degan, Hyunsoo juga merasakan jantungnya berdegup tidak teratur. Tiba-tiba saja ia teringat kata-kata Jungjin dan seketika ia berdo’a agar yang terpilih kali ini bukan fans yang akan pingsan saat melihatnya. Itu benar-benar akan merepotkan.


“N-ne,” rapal Hyunsoo pelan.


“Baiklah, kau hanya perlu mengucapkan kata ‘stop’ saat komputer mengacak formulirnya. Sekarang aku akan menghitung sampai 3. Satu, dua, tiga, acak formulirnya!” perintah Park Yongsuk.


Hyunsoo seketika menatap layar yang kini telah mengacak formulir itu dengan gugup. Ia tidak tahu siapa yang akan menjadi ‘pasangan kencan’nya, tapi ia harap ia adalah gadis yang mudah ia ajak kerjasama.


Hyunsoo memejamkan matanya. Sembari berdoa, ia menghirup nafas dalam-dalam, meyakinkan dirinya, lalu berteriak, “Stop!”


Dan ketika membuka matanya, layar di depannya sudah menampilkan foto dan biodata seorang wanita.


***


Note :


Arasseo : aku mengerti


Molla : tau ah!


Kaja : ayo