
“Aku pulang,” seru Gyoul tak bersemangat. Gadis itu menutup pintu rumahnya pelan lalu mulai melepas sepatunya asal-asalan. Seluruh tubuhnya terasa pegal karena Alsya memintanya untuk menemaninya berkeliling mall seharian setelah kuliah berakhir. Dan kini Gyoul benar-benar merindukan kasur empuknya.
“Eonni!” Seorang gadis kecil berambut cokelat panjang tiba-tiba muncul di depan Gyoul, membuat gadis itu tersentak kaget. Gadis kecil itu, Ga-eul, hanya memamerkan cengiran polos tanpa dosanya ketika Gyoul memandangnya sengit.
“Apa?” sahut Gyoul malas sambil kembali berjalan masuk ke dalam rumah yang tidak terlalu luas itu. Dalam beberapa langkah, ia langsung bisa melewati ruang tamu dan mendapati Ibunya tengah menyiapkan makan malam di ruang tengah.
“Oh, kau sudah pulang?” sapa Ibu begitu melihat Gyoul. Wanita paruh baya itu tersenyum dengan kedua tangan masih sibuk merapikan piring untuk 3 orang di meja makan. Yah, hanya untuk 3 orang. Gyoul, Ga-eul, dan Ibu mereka.
“Hm,” Gyoul mengangguk singkat. “Eomma butuh bantuan?” tanyanya.
“Aniya,” Ibunya dengan cepat menggeleng. “Kau lebih baik mandi dulu, lalu kita makan malam bersama,”
Gyoul mendesah. Terkadang ia tidak suka dengan kenyataan keluarganya masih saja suka menggunakan bahasa Korea ketika berbicara satu sama lain. Ga-eul yang masih memanggilnya ‘eonni’ dan bukannya ‘kakak’, mereka yang masih memanggil ibunya dengan sebutan ‘eomma’ dan bukannya ‘ibu’ atau ‘mama’.
Gyoul tidak suka berbahasa Korea. Tidak, ia tidak suka dengan semua yang berhubungan dengan negara itu sejak mereka pindah ke Indonesia 3 tahun yang lalu. Tapi Gyoul selalu saja tanpa sadar menggunakannya karena Ga-eul selalu mengajaknya bicara dengan bahasa itu setiap saat. Mungkin bukan hanya karena itu, mungkin juga karena Gyoul sudah terlalu terbiasa. 16 tahun tinggal di Korea bukan waktu yang singkat.
Dan sekarang ia benar-benar benci kenyataan bahwa di Indonesiapun semua orang selalu mengkaitkannya dengan Korea. Kenyataan bahwa ibunya tidak memberinya nama Indonesia ketika ia lahir dulu membuat orang-orang akan langsung tahu kalau ia adalah orang Korea bahkan saat ia hanya menyebutkan namanya. Benar-benar menyebalkan ketika orang-orang itu memandangnya ingin tahu, lalu mulai menanyakan apakah ia pernah bertemu dengan Super Junior, SHINee, Infinite, BTS atau siapalah itu.
“Eonni,” panggil Ga-eul lagi. Gyoul menoleh, Ga-eul masih mengikutinya dari belakang. Sepertinya gadis itu tidak akan berhenti sampai Gyoul mau mendengarkan ceritanya.
“Hm?” Gyoul menyahut malas. Gadis itu sama sekali tak menghentikan langkahnya dan membiarkan saja Ga-eul mengikutinya.
“Eonni, tahu Orion? Tahu Lee Hyunsoo?” tanya Ga-eul, lagi-lagi dalam bahasa Korea.
Gyoul berdecak. Lee Hyunsoo? Lagi? Sudah seharian tadi ia mendengar Alsya berceloteh tentang si Lee Hyunsoo itu, seberapa kerennya pria itu dan boybandnya di atas panggung messkipun mereka bisa dibilang rookie karena baru debut sekitar setahun yang lalu, dan seberapa kerennya pria itu saat berakting—well, Alsya juga bercerita kalau Lee Hyunsoo itu merangkap sebagai aktor dan memperoleh penghargaan sebagai aktor pendatang baru terbaik atau apalah, dan sekarang ia harus mendengar nama itu dari adiknya juga?
“Wae?” balas Gyoul ketus.
“Aniya, eonni,” Ga-eul buru-buru menggeleng ketika Gyoul menatapnya galak. “Sebenarnya, itu… HBS mengadakan acara…”
“Eonni sudah tahu?”
“Apa? We’re Going On A Date?”
Ga-eul mengangguk cepat. Matanya berbinar-binar. “Aku sudah mengirimkan formulirnya,” katanya senang.
“Kau? Mengirimkan formulir itu?” Gyoul yang baru saja akan membuka pintu kamarnya seketika menoleh pada Ga-eul yang kini kembali memasang cengiran polosnya.
Ga-eul mengangguk lagi. “Kenapa? Tidak boleh? Eonni pasti belum pernah melihat Hyunsoo Oppa, kan? Dia itu benar-benar sangat keren,” Gadis itu mengacungkan kedua jempolnya.
Gyoul menatap Ga-eul dengan mulut setengah terbuka. “Ya! Kau baru 12 tahun, Cho Ga-eul. Mereka tidak akan menerima formulirmu,”
“Ga-eul, jangan ganggu eonni-mu, biarkan dia mandi dulu,” Terdengar suara Ibu berseru dari dapur.
“Tuh, dengar kata Eomma, sana pergi,” sungut Gyoul. Ia segera membuka pintu kamarnya dan menutupnya tepat ketika Ga-eul akan ikut masuk.
“Eonni, aku belum selesai!” Gyoul menghela nafas panjang ketika suara Ga-eul terdengar sampai ke dalam kamarnya. “Aku tahu mereka tidak akan menerimaku, makanya aku menggunakan namamu untuk mendaftar,” lanjutnya. “Maafkan aku, Eonni!” serunya, bersamaan dengan suara derap langkah cepat yang meninggalkan kamar Gyoul.
Gyoul terdiam sejenak, tapi sedetik kemudian ia segera tersadar dan paham penuh dengan kata-kata Ga-eul. “YA! CHO GA-EUL!!!”
***
Note :
Eonni : panggilan adik perempuan kepada kakak perempuan
Wae? : kenapa?