We’re Going On A Date!

We’re Going On A Date!
Sang Terpilih



Mata kuliah Critical Analysis Of Poetry benar-benar membuat Gyoul sebal. Bagaimana tidak, sepanjang kuliah berlangsung Alsya terus menerus mengeluh kapan mata kuliah ini akan berakhir, membuatnya tidak bisa mendengarkan analisis puisi yang tengah dicontohkan oleh Mrs. Johnson dengan baik. Entahlah, mungkin ia akan menyalahkan Alsya kalau saja tugasnya menganalisis puisi besok mendapat nilai jelek karena gadis itu terus saja mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sama.


“Haduh, jam berapa ini?”


“Kapan kuliah ini akan berakhir?”


“Bisakah Mrs. Johnson tiba-tiba ada urusan mendadak saja?”


“Ahh\~ aku benar-benar harus membuka internet sekarang,”


“Bisakah kau tidak berisik?” sungut Gyoul ketika Alsya sudah mengulangi pertanyaannya untuk ke sekian kalinya.


Ia lebih kesal lagi ketika tahu benar bahwa semua itu hanya karena hari ini adalah pengumuman siapa yang akan terpilih mengikuti acara itu—We’re Going On A Date. Sebuah acara yang membuat Gyoul berhari-hari marah dengan adiknya yang seenaknya saja mendaftarkan namanya untuk ikut. Ga-eul memang sudah berkali-kali minta maaf dan menjelaskan padanya, tapi menurut Gyoul tidak ada satu alasanpun yang membuatnya bisa memakluminya, tidak karena Ga-eul bilang ia sangat mengidolakan Hyunsoo Oppa atau siapalah itu, tidak juga karena Ga-Eul bilang ia sangat merindukan Korea.


“Eonni, apa kau tidak kangen dengan Korea? Aku mengikutinya hanya karena aku ingin pergi ke sana lagi. Mungkin kita tidak akan bisa ke sana lagi karena eomma tidak akan mampu membeli tiket pesawat, eonni,”


Gyoul masih ingat dengan jelas kata-kata Ga-eul hari itu. Dan ia juga masih ingat dengan jelas hari itu ia menjawab dengan dingin. “Tidak, aku sama sekali tidak ingin kembali ke sana,”


“Waeyo?”


Kenapa? Terlalu banyak hal yang ingin ia lupakan tentang negara itu. Saat mereka pindah ke Indonesia 3 tahun yang lalu, Ga-eul sepertinya masih terlalu kecil untuk mengerti alasannya.


Mata kuliah Critical Analysis Of Poetry akhirnya berakhir setelah Mrs. Johnson memberikan tugas untuk mencari puisi-puisi dan menganalisis makna intrinsik di dalamnya. Alsya-lah satu-satunya orang yang tetap duduk di bangkunya dan buru-buru membuka laptopnya, alih-alih keluar dari ruangan kuliah.


Gyoul menggeleng-gelengkan kepalanya melihat gadis itu benar-benar tampak tidak sabar. Alsya bilang hasilnya sudah diumumkan saat mereka mengikuti kuliah Functional Grammar yang berlangsung sebelum Critical Analysis Of Poetry. Dan itu berarti sekitar 4 jam yang lalu. Hari ini jadwal kuliah mereka memang cukup padat. Mereka bahkan tidak memiliki jeda waktu istirahat setelah kuliah Functional Grammar tadi karena Mrs. Johnson selalu masuk tepat waktu dan akan membuat mereka tidak boleh mengikuti mata kuliahnya jika mereka terlambat.


“Kau masih ingin di sini?” Gyoul yang sudah merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tasnya berdiri.


“Hm,” Alsya menjawabnya sambil lalu. Jari-jari masih sibuk menari di atas keyboard laptopnya.


“Kalau begitu aku duluan, aku harus mengikuti kuliah Psycholinguistics setelah ini, aku harus ke perpustakaan untuk mencari buku juga,”


“Hm,”


Gyoul mendengus. Gadis ini memang selalu mengacuhkannya kalau sudah berhadapan dengan apapun yang berkaitan dengan Oppa-Oppanya, jadi Gyoul memutuskan untuk meninggalkan Alsya dan keluar dari ruangan kuliah. Lagipula Alsya memang tidak ada kuliah lagi setelah ini. Untuk kuliah Psycholinguistic ini mereka memang berbeda jadwal. Dan Gyoul benar-benar bersyukur akan hal ini. Setidaknya selama 3 jam ke depan ia tidak akan mendengar suara Alsya yang berteriak-teriak heboh karena ia terpilih, atau yang paling parah mendengar gadis itu menangis tidak jelas karena tidak terpilih.


***


Jam yang melingkar di tangan kiri Gyoul sudah menunjukkan pukul 5 sore ketika ia turun dari busway dan mulai menyusuri sebuah gang yang menuju rumahnya. Sebenarnya kuliahnya sudah berakhir sejak jam setengah 3 tadi, tapi gadis itu menyempatkan diri mampir ke toko buku untuk membeli sebuah novel dulu sebelum pulang.


Ketika sudah berada dalam jarak dua rumah dari rumahnya, Gyo-ul mengerutkan dahi. Ada sebuah van hitam terparkir di depan rumahnya. Siapa yang mengunjungi rumahnya sore-sore begini? Entahlah, mungkin salah satu teman ibunya. Gyo-ul mengedikkan bahunya tidak peduli dan baru saja akan melangkahkan kakinya lagi ketika ia teringat Alsya. Sedang apa gadis itu sekarang? Apa gadis benar-benar terpilih?


Sembari berjalan, Gyo-ul membuka tasnya, lalu mengeluarkan ponselnya yang sedari tadi tidak disentuhnya. Terpilih atau tidak terpilih, Alsya pasti akan menghubunginya. Dan Gyo-ul tahu dia benar ketika melihat layar ponselnya. 26 missed call, 22 dari Alsya dan 4 dari Ibunya. Wow, Gyoul tahu Alsya akan menghubunginya, tapi tidak sebanyak ini juga. Apa gadis itu benar-benar terpilih sampai terus menghubunginya seperti ini?


“Eonni!!!” Gyoul tersentak kaget ketika Ga-eul tiba-tiba berlari dari dalam rumah menghampirinya. Gadis itu berhenti tepat di depannya dengan wajah berseri-seri.


“Wae?!” sahut Gyoul ketus. Tanpa memandang ponselnya, ia menekan tombol ‘dial’ untuk menghubungi Alsya dan mengarahkan ponsel ke telinganya. Suara nada sambung seketika terdengar di telinganya.


“Eonni, kau terpilih!” seru Ga-eul.


“Terpilih apa?” tanya Gyoul tidak mengerti.


Dengan senyum penuh rahasia, Ga-eul mendorong tubuh Gyoul untuk segera masuk ke dalam rumah. Sayup-sayup ia mendengar suara ibunya berbicara dengan seorang lelaki dengan menggunakan bahasa Korea.


Tapi, tunggu dulu, bahasa Korea???


“We’re Going On A Date, Eonni! Kau terpilih mengikutinya!!!” seru Ga-eul begitu mereka sudah masuk ke dalam rumah. Gyoul bengong sesaat ketika melihat ibunya dan tamu yang tengah duduk di ruang tamu rumah kecil mereka—seorang lelaki bertubuh tambun dan 2 orang lelaki berseragam yang membawa handycam di tangannya.


“Akhirnya kau pulang juga,” Ibunya segera menyambutnya dengan senyum lebar. “Kenapa kau tidak mengangkat telepon eomma? Kau membuat mereka menunggu lama sekali, kau tahu?” lanjut Ibunya sambil mengarahkan dagunya ke arah 3 tamunya.


“Ha?” Gyoul mengerutkan dahi tidak mengerti.


Kedua lelaki yang membawa handycam itu seketikan mengarahkan lensa kameranya pada Gyoul, sementara si lelaki bertubuh tambun itu menghampirinya dengan senyum lebar terukir di bibirnya. “Chukhahamnida, Gyoulssi, kau adalah satu dari ratusan ribu gadis yang beruntung mengikuti acara kami. Bersiap-siaplah, kita akan berangkat ke Korea besok pagi,” kata pria itu dalam bahasa Korea yang fasih.


Gyoul tahu ia sudah melongo parah. Tadi apa katanya? Korea? We’re Going On A Date?? Ia terpilih??? TER-PI-LIH???


“NE?!”


Bersamaan dengan itu, suara nada sambung yang terdengar dari ponsel yang sedari tadi masih menempel di telinganya berhenti, berubah menjadi teriakan keras seorang gadis yang membuat Gyoul refleks menjauhkan ponsel itu dari telinganya. “CHO GYOUL, DASAR KAU PENGKHIANATTT!!!”


***


Note :


Chukahamnida : selamat ya