We’re Going On A Date!

We’re Going On A Date!
Bisakah Aku Tidak Pergi?



“Aku tidak akan melakukannya, Eomma! Harus kubilang berapa kali sih?” Gyoul memandang sengit Ibunya yang kini duduk di ranjang kamarnya. Sedari tadi ibunya terus saja mencoba bicara padanya dan memintanya untuk mengikuti acara itu. Menyebalkan.


“Eomma rasa tidak ada salahnya kau ikut. Mereka bilang mereka akan membiayai semua kebutuhanmu di sana. Apa kau tidak merindukan Korea?”


“Tidak,” sahut Gyoul yakin. “Aku rasa eomma juga tahu kalau aku sangat TIDAK INGIN kembali ke sana,”


“Eonni, kau benar-benar harus mengikutinya,” Ga-eul yang sedari tadi berdiri di sela-sela pintu kamar Gyoul yang terbuka setengah sambil memainkan pintu berbicara, membuat Gyoul dan ibunya serempak menoleh ke arahnya.


“Apa?! Ini semua juga tidak akan terjadi kalau kau tidak mendaftarkan namaku dalam acara tidak jelas itu!” Amarah Gyoul seketika mencapai puncaknya begitu melihat adiknya itu memasang wajah polos tanpa dosanya. Untuk sekarang, ia benar-benar ingin menelan Ga-eul hidup-hidup kalau saja ia bisa. Gadis kecil itulah penyebab semua ini. “Sudah sana kau saja yang mengikutinya!”


“Jangan keras-keras begitu,” Ibunya menempelkan jari telunjuk di bibirnya, menyuruh Gyoul untuk memelankan suaranya. Ketiga pria yang tadi memperkenalkan diri sebagai staff stasiun TV HBS itu memang masih berada di ruang tamu rumah mereka dan tentu saja akan tidak nyaman jika mendengar mereka bertengkar.


“Aku tidak bisa, Eonni. Kan Eonni sendiri yang bilang kalau aku masih 12 tahun,” kata Ga-eul, masih dengan wajah super polosnya.


“Lalu, karena aku 19 tahun, aku harus ikut acara itu meskipun yang mendaftarkanku adalah anak kecil berumur 12 tahun yang sama sekali tidak mau bertanggungjawab atas perbuatannya, begitu?!” seru Gyoul tidak mau kalah.


“Tidak begitu kok. Kalau saja boleh, aku ingin aku saja yang berkencan dengan Hyunsoo Oppa. Eonni belum pernah melihatnya sih, jadi Eonni pasti tidak tahu kalau ia sangat keren,” kata Ga-eul tenang. “Eonni, kau benar-benar harus mengikuti acara ini,”


“Naega wae?”


“Sekarang semua orang tahu wajahmu, Eonni. Fotomu sudah tersebar di internet. Kau tahu, aku baru saja membuka internet, dan namamu ada di TTWW nomor 1,”


Gyoul tidak tahu harus bagaimana menanggapi kata-kata Ga-eul, membayangkan namanya berada di TTWW—Trending Twitter World Wide--dan semua orang mengenalnya sudah membuatnya cukup shock, sampai-sampai ia hanya sanggup berkata, “Ha?!”


“Chinjjayo, Eonni, nan keojitmal aniya,” Ga-eul mengangguk yakin. “Kau bisa membuka twitter sekarang kalau kau tidak percaya,”


Setelah beberapa detik bergulat dengan pikirannya sendiri, Gyoul mengangkat kepalanya. Diarahkannya pandangannya pada Ibu dan adiknya secara bergantian. “Tidak, aku benar-benar tidak akan mengikuti acara itu. Aku tidak bisa. Eomma, cepat suruh orang-orang itu kembali ke Korea,”


Gyoul mengerutkan dahi ketika Ibunya menggelengkan kepala dan menghembuskan nafas tanpa daya. “Tidak bisa, Gyoul,”


“Wae?”


“Kau mungkin tidak tahu kalau siapa saja yang terpilih dalam acara itu berarti ia sudah membuat kontrak dengan mereka. Kau harus membayar denda jika tidak jadi mengikuti acara itu,”


“Berapa? Berapa yang harus kubayar? Aku punya beberapa tabungan di rekeningku,” sahut Gyoul cepat, tiba-tiba merasa sedikit lega karena beberapa nominal yang selama 3 tahun ini ia kumpulkan dari sisa uang sakunya.


“50 juta won,”


Mata Gyoul membelalak tak percaya ketika indera pendengarannya memproses kata-kata ibunya. “NE?! 50 JUTA WON???!!!”


***


Note :


Naega wae? \= kenapa aku harus?


Nan keojitmal aniya \= aku tidak bohong