We Are The Twins

We Are The Twins
episode 5



Bel pupang berbunyi, semua siswa berhamburan keluar kelas sama seperti Vio. Ia kini berjalan di trotoar untuk menuju kafe.


Sepanjang perjalanan ia tak henti-hentinya menggerutu. Bagaimana tidak? Sedari tadi ia tak menemukan taxi, jadi ia terpaksa berjalan kaki.


Sampai Vio di depan pintu kafe, ia melihat lelaki memakai topi dan masker hitamnya, ya dia adalah Levano.


Vio segera menghampiri meja Levano.


“Lama menunggu?” tanya Vio. Leovano menggeleng kecil dan membuka masker nya.


“Tidak, aku baru sampai disini 30 menit sebelum kau datang.” Jawabnya jujur. Vio melambaikan tangannya ke arah waiters.


“Coklat dingin dan.. ?” Vio menatap Levano bertanya.


“Saya kopi pahit.” Ucap Levano kemudian Waiters itu mengangguk.


“Tunggu beberapa menit mba.” Ucap Waiters itu sambil curi-curi pandang ke arah Levano. Vio memutar bola matanya jengah. Memang, Levano memiliki wajah sangat tampan, ralat sangat tampan. Tapi kepribadian nya jauh berbeda dengan Wajahnya. Levano memiliki penyakit jiwa yang di sebut psycopath. Tapi ia tidak pernah menyakiti orang-orang yang baik pada nya. Ia juga sebenarnya menyimpan perasaan lebih pada Vio tapi, Vio tak mengetahuinya.


Pesanan Vio dan Levano pun akhirnya datang.


“Van, gue minta lo lacak seseorang.” Ucap Vio dengan nada serius.


“Nona ingin aku melacak siapa?” ucap Levano.


“Seseorang yang berarti bagi ku yang baru gue tau dari momy kemarin.” Ucap Vio. Levano mengangkat sebelah alisnya.


“Apa lo percaya kalo gue punya saudara kembar?”lanjutnya.


“hah?” bingung Levano.


“Mom bilang pada gue, kalo gue punya saudara kembar tapi momy dan dady gak tau keberadaan kembaran gue. Gue gak tau dia masih hidup atau gak saat ini, tapi feeling gue yakin kalau dia masih hidup sampai saat ini. So, gue minta tolong sama lo lacak keberadaan saudara kembar gue.” Ucap Vio panjang lebar dengan raut serius menatap Levano dalam.


Seperkian detik pipi Levano memerah akibat tatapan Vio. Tak di pungkiri bahwa Levano memang memiliki rasa lebih pada Vio. Levano mampu menyembunyikan ketertarikannya pada Vio. Segera ia mengubah rautnya menjadi biasa saja suapaya Vio tak melihatnya, dan yah memang Vio tak melihatnya.


Levano mengangguk mengiyakan ucapan Vio. Segera ia membuka tas ransel hitamnya dan mengeluarkan laptopnya.


“Siapa nama yang akan nona cari?” ucapnya sambil membuka laptopnya.


“Riona. Aku tidak tau nama lengkapnya saat ini.” Levano mengangguk.


Jari-jari Levano mengetik dengan lincah di keyboard laptopnya berusaha mencari nama Reona.


Tak butuh waktu lama Levano kini mendapatkan biodata Reona dengan detail yang membuat nya kini tersenyum bangga.


“Aku mendapatkan nya.” Ucap nya yang membuat Viona tersenyum lebar.


"Katakan." Perintah nya.


“Reona Zee, bersekolah di Alberic high school dengan bantuan biaya siswa. Dia adalah anak angkat pasangan Adrian Zee dan Nara Zee, namun kini ayah angkat nya sudah meninggal dan dia hanya tinggal berdua dengan Nara. Nara Zee juga memiliki toko roti yang lumayan terkenal dan yang aku tau Nara tidak terlalu perduli lagi dengan Reona semenjak kematian Adrin Zee.” Ucap Revano kemudian menunjukan foto Reona pada Vio.



Vio tercengang menatap laptop yang ada di hadapannya, dengan menampilkan gambar seseorang yang benar-benar mirip, ralat memang sama.


Wajah itu, mata itu, mulut itu dan hidung itu benar-benar sama seperti yang ia miliki. Namun, hanya satu yang berbeda dari mereka berdua, Raut wajah nya. Kalau di bandingkan dengan Viona, Riona memiliki raut wajah lemah lembut dan pemalu pada semua orang sedangkan Viona memiliki wajah yang dingin, cuek, tak perduli sekitar dan arogan. Perbandingan yang sangat jau berbeda.



anggap saja mukanya sama


“... .” Vio melongo tak percaya.


“Gue gak tau mau ngomong apa lagi, ini bener-bener sama.” Lanjut nya. Levano juga yang tadi nya diam ikut membanding kan antara wajah Vio dan gambar yang ada di laptop nya.


Di lain tempat


“Hentikan Van, sakit... .” ringis Reona ketika tangan Vanya menarik kuat rambut nya.


“Ampun Van.. Aku gak deketin Lio tapi Lio yang deketin aku.. Hiks.. Lepasin Van.” Rintih Riona sambil memegangi rambutnya yang masih di tarik.


Kemudian Vanya menyeret Riona dengan masih menjambak rambutnya menuju wastafel.


“Isi wastafel nya.” Suruh Vanya pada teman-temannya. Mereka pun mengisi wastafel nya dengan air dan menyumbat nya. Riona yang mengerti yang akan Vanya lakukan pun menggeleng kuat.


“Tidak van.. Jangan.. Maaf vany aku gak bakal deketin Lio lagi!!!” mohon Riona sambil memberontak sekuat tenaga.


“GUE BILANG DIEM!” sentak vanya sambil menyeret rambut Riona membuat sang empu ikut terseret. Kemudian vanya memasukan kepala Riona kedalam wastafel berisi air tersebut. Beberapa menit kemudian Vanya mengangkat kepala Riona lagi membuat nafas Riona tersengal-sengal.


“Uhuk.. Uhuk akh..!” Riona terbatuk batuk dan mengambil nafas panjang.


“Maaf van.. Jangan! Uhukh!” rintih nya ketika Vanya hendak memasukan kepala Riona lagi. Tapi vanya tak perduli ia kini memasukan kepala Riona lagi membuat kepala Riona memberontak di dalam air.


“Van, cukup gue takut dia mati.” Ucap Rena yang miris melihat betapa berantakannya Riona.


“Dia gak bakal mati Ren tenang ajah. walaupun mati, gak bakal ada yang perduli.” Ucap kyra dengan seringai sadis nya.


Kemudian Vanya mengangkat kepala Riona lagi. Riona kembali terbatuk batuk dan mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Kini Riona sudah pasrah.


Bel berbunyi menandakan waktu istirahat telah usai. Vanya menghempaskan rambut Riona begitu saja membuat Riona jatuh terduduk di lantai kamar mandi.


Vanya dan kedua temannya membereskan pakaian mereka dan meninggalkan Riona sendiri di kamar mandi.


“Hiks.. Hiks.. Aku takut.. Tuhan kenapa seperti ini.. Apa salah ku.. .” tangis nya pecah sambil memegangi kepalannya yang nyeri. Ia merenungi dirinya sendiri di kamar mandi sendirian. Kemudian ia mengangkat kepalannya.


“Tidak! Aku tidak boleh seperti ini, aku harus bertahan setidak nya satu tahun lagi.. Aku lulus satu tahun lagi dan kemudian aku bisa meninggalkan mereka dan hidup sendiri. Semangat Riri kau pasti bisa.” Ia menyemangati dirinya sendiri.


Kemudian ia berdiri dan membenarkan rambut nya yang basah dan pakaiannya yang berantakan. Ia menatap dirinya lama di cermin. Ia menatap bayangan dirinya sendiri di cermin, tiba-tiba bayangannya tersenyum pada dirinya sendiri seketika Riona gelengkan kepalanya.


Kemudian ia keluar dari kamar mandi menuju kelasnya tapi sebelum itu ia menuju loker nya dulu untuk mengambil pakaian ganti.


**


Selesai Riona mengganti pakaian nya dengan pakaian olahraga yah walaupun ini tak ada jam olahraga karena seragamnya sudah basah jadi mau tidak mau ia harus memakai nya dari pada nanti ia masuk angin.


Riona memasuki kelasnya dan ternyata sudah ada guru yang mengajar disana.


“Permisi, boleh aku masuk bu?” ucap Riona pada bu farah. Untung saja guru itu tidak killer jadi.. Akhirnya Riona boleh masuk dan mengikuti pelajaran nya.


**


“Oke pelajaran telah selesai kalian boleh pulang, untuk Riona Zee tolong ikut saya.” Ucap bu Farah kemudian menatap salah satu muridnya yang tadi telat. Riona mengangguk kemudian mengikuti bu Farah.


Kini Riona di bawa ke ruangan bu Farah. Riona duduk menghadap wali kelasnya tersebut.


“Akhir-akhir ini saya lihat kamu sering memakai seragam olahraga ketika bukan jam nya, ada apa Ri.. Apakah ada yang mengganggu mu atau membully mu?” tanya Bu Farah serius.


Riona menatap lekat ke arah bu farah. Ia menimbang nimbang apakah ia akan memberitahu kelakuan vanya terhadapnya? Mungkin jangan. Riona menggeleng kan kepalannya.


“Tidak bu, Riri gak di bully.” Jawabnya.


“lalu kenapa kau sering pakai seragam olahraga?”


“Ini.. Aku sering membereskan gudang di sekolah jadi kalau Riri membersihkan gudang seragam Riri kotor jadi Riri ganti pake seragam olahraga.” Ucap nya bohong. Bu Farah sempat curiga pada nya tapi kemudian ia mengangguk.


“Baiklah ibu percaya, ibu kira kanu ada masalah.. Jika memang benar kamu di bully katakan sajah pada ibu.” Ucap bu farah membuat Riri mengangguk.


***


jangan lupa like nya


terimakasih :)