
Di tempat Riona
Pagi ini, Riona tidak berangkat ke sekolah. Ia berniat membantu ibu nya menjual roti. Jika hari ini tidak ada hasil dari menjual roti, entahlah ia akan bisa makan atau tidak.
Kini Riri sedang meracik adonan untuk membuat roti. Ia begitu telaten membuat nya.
“Ri, ibu mau buka toko dulu.. Nanti kamu nyusul sama bawa roti roti yang udah siap.” Ucap Nara ibu Riona tanpa menatap wajah sang anak lalu berlalu pergi.
“Ya bu, hati-hati.” lirih Riona.
Sedang asik membuat roti, tak sengaja Riona menyenggol pipinya.
“Aakh..!” ringisnya sambil memegangi pipinya yang membiru. Luka ini, luka yang di berikan vanya dan genk nya kemarin. Ia menghela nafas berat. Sampai kapan ia seperti ini. Kalau Riri ingin jujur, sebenarnya ia sangat tidak sanggup menjalani hidup ini.
Tak terasa air matanya jatuh. Ia lelah. Kapan semua ini berakhir. Riri sangat benci pergi ke sekolah. Tapi jika ia tidak pergi ke sekolah, Riri tidak bisa bekerja. Lalu siapa yang menghasilkan uang untuk makan. Kalau bisa di bilang, ibu Nara tak terlalu perduli dengan Riri.
Selesai, kini adonan roti sudah matang dan sudah jadi. Segera Riona mengganti pakaiannya.
Riona menunggu di halte bus. Memang, jarak antara rumah nya dan toko ibunya itu lumayan jauh sehingga ia menggunakan bus untuk menuju ke sana, karena ia tidak memiliki kendaraan lain.
Ketika sedang menunggu bus, tiba-tiba mobil hitam mewah berhenti di hadapan nya. Keluarlah seorang laki-laki menggunakan kacamata hitam nya, terlihat sangat tampan.
Kemudian laki-laki itu menghampiri Riona yang membeku. Laki-laki itu adalah Lionel.
“Lio, sedang apa di sini?” gugup Riri.
“Ingin menjemput mu.” Ucap Lio dengan senyum manisnya.
“Hah?”
“Ayo, aku akan mengantar mu.” Ucap Lio menarik lembut tangan Riona.
“Denger ya nerd.. Kalo sampe gue ngliat lo jalan bareng Lio lagi.. Lo akan dapet lebih yang dari ini.”
Seketika Riona mengingat kembali kata-kata yang keluar dari mulut Vanya. Ia menggeleng kuat kemudian melepaskan genggaman tangan Lio.
“Nggak, aku nggak bisa, ak aku.. Aku naik bus aja.” Ucap Riona panik.
“Ini perintah!” tegas Lio.
“Tapi, ak.. Aku gak mau Li.” Panik Riona.
“Ikut tanpa paksaan dan secara halus atau ikut dengan aku yang menyeret mu.”ucap Lio tajam membuat Riona membeku, kemudian ia mengangguk. Lio tersenyum manis menatap gadis cantik pujaan hatinya.
Sebenarnya Lio tidak tau selama ini kalau Riona selalu di bully karena nya. Lio juga menyimpan perasaan pada Riona tapi tidak pernah ia ungkapkan karena ia takut nanti kalau ia mengungkapkan perasaannya, Riri akan berubah dan menjauhinya.
Riona pasrah ketika tangan Lio menarik tangan nya lembut. ‘semoga vanya tidak tau tentang ini.’ Ucapnya dalam hati.
Tanpa mereka sadari Kyra melihat semua kejadian itu. Kyra merogoh sakunya dan mengeluarkan handphone nya lalu mem-foto kejadian itu. Kemudian jari Kyra mengetik lincah di layar pipih itu. Kyra mengirim foto tersebut kepada Vanya. Kyra tersenyum miring.
“Besok ada kejutan besar.. Liat nanti nerd, apa yang akan kita lakukan.” Gumamnya ketika melihat mobil hitam milik Lionel melaju.
Di lain tempat
Viona sedang mengumpulkan nyali nya untuk bertanya pada Raina mengenai foto tersebut. Ia harus tau kebenaranya, apakah ia memiliki saudara kembar? Vio tidak tau.
Vio melangkah menuju ruang keluarga. Ia menghela nafas berkali-kali. Sesampainya di ruang keluarga, ia melihat momy dan dedy nya sedang menonton tv. Vio menyembunyikan foto tersebut ke balik punggungnya.
“Mom, ded?” lirih Vio.
“Vio, sejak kapan kamu di sini nak?” ucap Raina.
“Mom, ded, Vio mau membicarakan sesuatu.” Vio tak menghiraukan pertanyaan Raina. Sean dan Raina saling pandang heran.
“Mom, ded Vio mau tanya, apakah aku memiliki kakak?” tanya Vio pelan. Seketika Sean dan Raina membeku.
“Ti.. Tidak sayang, ka.. Kamu anak kami satu-satunya.” Gugup Raina membuat Vio menggeleng kecil kemudian Vio mengeluarkan foto tersebut dan menunjukan nya pada Sean dan Raina. Pasangan suami istri itu terkejut.
“Dari mana kau mendapat kan foto ini Vio!” ucap Raina meninggikan suaranya.
“Tidak penting, sekarang jawab pertanyaan Vio mom ded, apa Vio punya saudara kembar!” ucap Vio. Seketika Raina menangis, Sean segera memeluk istrinya itu.
“Mom ded jawab Vio.”
“VIO, KEMBALI KE KAMAR MU!” bentak Sean.
“TIDAK DED, VIO HARUS TAU INI.” Raina menggeleng pelan dan menggenggam tangan Vio lembut.
“Mom.. Hiks.. Akan cerita semua nya, mom rasa ini sudah waktunya kamu tau nak.” Ucap Raina lembut. Sean mengusap punggung san istri. Tak di pungkiri bahwa pasangan itu terlihat sangat rapuh.
Flashback on
14 tahun lalu, saat usia viona dan Riona 2 tahun.
“Momy momy.. Liat, Lili cama Pio bawa kupu-kupunya cantik banget.” Ucap seorang anak berusia 2 tahun dengan cadel nya. Kemudian sang anak satunya menunjukan toples berisi kupu-kupu kepada sang ibu. Bisa di lihat bahwa anak tersebut kembar.
“Riri Vio jangan main terlalu jauh nak, momy khawatir.” Ucap Raina pada dua anak kembarnya.
“Maaf momy.. .” ucap Mereka berdua.
“Momy momy pio mau ke taman, pengen liat bunga. Kan kalo ada bunga, ada kupu-kupu juga.” Ucap Vio dengan cadel yang terlihat menggemaskan.
“Baiklah, kita ke taman. Bagaiman kalo kita ajak dedy.” Ucap Raina.
“Setuju!” ucap Vio dan Riri kompak.
“Ayo kita ke dady.” Ucap Raina kemudian mengajak anak-anak menuju ruang kerja suaminya.
“Dedy!” teriak Riri.
“Hi, princess.” Sean menggendong Riri dan Vio di kanan kiri pinggangnya.
“Dedy, pio dan Lili mau ke taman.” Ucap cadel Riri.
“Taman, oke kita ke taman sekarang.” Ucap Sean.
“Yeeh!!”
Taman
“Lili Vio jangan lari-lari nak!” teriak Raina.
“Mom dicini banya kupu-kupuknya.” Ucap Vio.
Meraka pun Menikmati udara taman yang segar sedangkan Riona dan Viona berlarian kemana-mana.
Dor Dor!!
***
dilanjut eps berikutnya
jangan lupa like
terimakasih :)