
Dor Dor!!
Terdengar suara tembakan membuat pasangan suami istri itu terperanjat kaget.
“VIONA!! RIONA!” teriak Raina.
Seketika Sean berlari mencari keberadaan anak-anak nya. Sean menemukan Viona dan segera memeluknya. Sedangkan Raina tak menemukan Riona. Raina menangis tersedu sedu. Sean memberikan Viona pada sang istri. Sean mencari memutari taman namun tak menemukan Riona. Ia sangat frustasi. Sean menghubungi orang kepercayaannya.
“LACAK KEBERADAAN ANAK KU, CEPAT!!” Teriak Sean. ia mendekati istrinya yang sedang memeluk Vio sambil menangis.
“Pulanglah.. Tenangkan Vio, aku akan mencari Riri.” Ucap Sean kemudian mendekap anak dan istrinya. Kemudian Raina pulang membawa Vio.
Drttt drtt
Sebuah pesan masuk di handphone Sean.
Unknown
jika kamu ingin mengambil anak mu kembali, turuti kami.
To unknow
Apa yang kau minta
.
pesan Sean
Beberapa saat kemudian panggilan masuk di handphone nya.
“Katakan apa yang kau inginkan.”ucap sean Tanpa basa-basi.
“Permintaan kami tak susah, hanya kami ingin harta dan semua perusahaan mu.”
Sean terdiam kaku. Ia tidak bisa memberikan perusahaannya dengan Cuma-Cuma. Bagaimana dengan semua karyawan perusahannya. Secara, Sean menghidupi karyawan perusahaanya dengan gaji yang Sean berikan. Ia tidak bisa mengorban kan semua orang yang bekerja dengannya demi menyelamatkan satu nyawa. SIAL!
Sean mematikan sambungan tersebut secara sepihak. Lalu sean melacak nomor tersebut menggunakan handphone nya. Beberapa saat kemudian ia menemukan bahwa nomor tersebut sudah di blokir. Seakan ada yang memukul jantung nya membuat Sean terdiam beberapa saat. Ia kehilangan anak nya.
Kristal bening itu menetes membasahi pipi Sean. Tangisan seorang ayah yang kehilangan putri nya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?
“Maafkan dady Riona.. Maafkan dady.” Ia kehilangan satu anaknya. Apa yang ia katakan pada istrinya? Sean tidak tega melihat istrinya menangis dan ia juga tidak bisa memberikan semua perusahannya.
Flashback off
Vio menangis tersedu-sedu memeluk Raina, ketika Sean menceritakan kejadian 14 tahun lalu. Yah kejadian yang sangat menyakitkan untuk keluarga thaleta.
“Kenapa dad tak mencoba mencarinya lagi?” tanya nya sambil terus menangis.
“dad sudah melacak keberadaan Riri, tapi dad tidak menemukan nya.”ucap Sean bersalah.
“Kalo begitu Vio yang akan mencarinya.” Gumam Vio tak terdengar.
“Mom sangat merindukan Riri, Vio.. Sangat merindukan kakak mu.. Hiks.. Dimana dia?.. Hiks bagaimana keadaanya? .” Tangis Raina. Vio mengusap punggung sang ibu. Vio akan bertekad menemukan sang kakak.
***
Keesokan harinya, Vio bangun dan bersiap untuk ke sekolah. Ia melangkah menuruni tangga menuju ke ruang makan. Sesampainnya di sana, ia segera duduk di kursi makan. Raina sedang menyiapkan makanan sedangkan Sean sedang membaca koran.
“Mom, Vio akan pulang terlembat.” Ucap Vio.
“Kemana sayang?” ucap Raina.
“Ada kegiatan di sekolah.”
“kalo udah selesai langsung pulang, sayang.” Ucap Sean.
“Ya dad.”
Vio berangkat di antar oleh supir pribadi ayahnya. Vio duduk di bangku belakang. Banyak yang ia pikirkan semalam. Ia harus meminta bantuan Levano untuk menemukan sang kakak.
‘Kalau nona membutuhkan bantuanku, aku akan membantu nona dengan senang hati.’ Ucap nya dulu.
Mobil Vio sedah di depan gerbang sekolahnya. Segera ia turun dari mobil.
“Nanti mang jajang gak usah jemput Vio, Vio bakal pulang terlambat.” Ucap Vio.
“Iya non.”
Vio memasuki kelasnya dengan wajah cemberut, bad mood. Jalan Vio di hadang sebuah kaki seseorang. Vio mendongak menatap sang empu. Vio memutar bola matanya jengah. Yang menghadang nya ini ternyata Kevin.
“Apa?!” Sentak Vio.
“Elahh, gue Cuma nya doang kok, jutek amat.” Sinis Kevin.
“Bodo.” Sia meninggalkan Kevin, ia menuju bang ku nya berada.
“Woy Vi! Lo kok lemes banget, lo sakit?” ucap Akira.
“Bad mood.” Jawabnya cuek. Ia melipat tangannya di atas meja untuk menumpu kepalanya. Lebih baik ia tidur dulu.
Di tengah pelajaran, Vio benar-benar gak mood untuk belajar. Vio mengangkat tangannya.
“Ya Vio, ada yang mau di tanyakan?” tanya pak Herwin. Vio menggeleng.
“Mau ke toilet.” Ucap Vio dan di angguki Pak Herwin.
Vio melangkah menuju toilet dengan lesu. Vio memasuki bilik Toilet. Vio mendudukan dirinya. Kemudian ia merogoh sakunya dan mengeluarkan handphone nya. Vio menelpon seseorang.
“Siapa?” ucap orang di seberang sana.
“Levano, gue butuh lo... .” ucap Vio.
“Nona Vio? ya nona aku akan membantu mu.”
“Pulang sekolah nanti gue tunggu di kafe dekat sekolah.”
“Baik nona.” Kemudian Vio memutuskan telepon nya kemudian ia keluar dari bilik toilet dan menuju wastafel.
Vio menghadap cermin. Entah kenapa perasaan ya tidak enak. Vio menghembuskan Nafasnya berat. Ia kembali menuju kelas. Ya, sebenarnya ia sedang tidak ingin belajar tapi yasudah lah.
Vio memasuki kelasnya kembali dan langsung menuju ke bangkunya. Kevin yang melihat Vio kembali, segera ia menghampiri bangku Vio dan duduk di sebelahnya.
“Ngapain lo kesini?” ucap Vio.
“Jutek banget sih sama gue. Gue Cuma khawatir sama lo.” Ucap Kevin sambil mengusap puncak kepala Vio. Vio menepis kasar tangan Kevin yang ada di kepalanya.
“Gak usah pegang.”
“jutek! Cuek! Judes! Keriputan loh nanti.” Ledek Kevin. Vio yang kesal di ejek pun memukul kepala Kevin keras.
“Sakit dodol!”
“Lemah loh, jadi laki-laki kok lemah!” Dengan kesal Kevin mencubit pipi Vio keras dan lama membuat wajah Vio menjadi aneh. Vio memukul mukul tangan Kevin.
“Sakit kan lohh.” Kevin melepaskan cubitanya. Vio mendengus dan segera melipat tangannya di depan meja dan tertidur, persetan dengan pelajaran pak Herwin.
***
*Viona dan Riona saat umur 2 tahun*
*Riona dan Viona"
jangan lupa like ya
terimakasih :)