
"Gue..."
"apa? Lo kenapa?." tanya Vara lagi dengan penuh kesabaran.
" Nggak jadi deh ,Ra."
" Lo nyebelin banget sih, Ly!." Kesal vara.
" Lo bertengkar lagi sama bel sekolah?." Bel sekolah yang dimaksud Lily adalah Abel.
"Iya." Jawab Vara singkat.
" Baku jambak, nggak?." Tanya Lily menggoda.
" Ck!."
" Yaudah deh tutup aja, ya?. Mood Lo lagi buruk. Gue nggak mau ganggu."
Anin baru saja bergabung ke Video call grup.
Tiba-tiba pintu kamar Vara terbuka.
Vara langsung mematikan video call nya dengan Lily.
Ternyata mama yang membuka pintu. Tapi ditutup lagi setelah Mama sudah melihat Vara.
Vara bernapas lega. Dia kira Mamanya akan masuk dan menasehatinya lagi seperti kemarin-kemarin.
Sekitar pukul delapan malam, Vara menyudahi percakapan grup dengan kedua sahabatnya dan beralih menonton film romantis untuk mengembalikan moodnya.
Setelah menonton film, Vara malah tidak bisa tidur. Dia hanya berbaring menatap langit-langit kamarnya.
"Sebentar lagi sekolah, itu artinya gue sudah harus mulai mendekati Azka."
"Tapi gimana, caranya ya?." vara mulai berpikir.
" Masa gue harus ngintilin dia terus?."
" Oh enggak!. gue bukan orang seperti itu." Vara menggelengkan kepalanya.
" Kasih perhatian?."
"Tidak, itu terlalu awal."
" Gue coba ikutin aja kali ya?, terus ngajak dia ngobrol-ngobrol."
" Huh, mana mungkin dia mau ngobrol."
" Ck, terus apa dong?!." Ucapnya frustasi.
" Nggak mungkin gue minta saran sama Anin atau Lily."
" Mungkin kalau gue suka atau tergila-gila sama Azka, pasti gue punya 1001 cara buat deketin dia. Tapi ini kan gue, nggak mungkinlah gue suka sama tu anak!."
"Dipikiran besok lagi, deh." Ucapnya kemudian memejamkan mata berusaha untuk tidur.
*****
Waktu berlalu begitu cepat. Dua Minggu hari libur terasa sangat cepat bagi Vara. Tapi cukuplah untuk me-refreshing otak.
Hari ini Vara kembali ke sekolah. Sekarang dia sudah kelas dua belas SMA semester ganjil.
Dari kemarin-kemarin dia selalu memikirkan cara bagaimana dia mulai mendekati Azka.
Logikanya melarang untuk terlibat dengannya,tapi hati menyuruhnya berempati terhadap seseorang yang meminta bantuannya.
Kalian tau kenapa Vara sangat tidak ingin terlibat dengan Azka apalagi berinteraksi dengannya?. Jawabannya adalah karena Vara pernah sangat sakit hati karena perkataan Azka dulu.
Tapi dia berpikir, mungkin terasa aneh kalau tiba-tiba dia mendekati Azka hari ini juga. Jadi dia tidak mau terburu-buru. Mungkin dia akan mulai dalam beberapa hari.
***
Tiga hari kemudian,
Hari ini vara berangkat lebih awal karena dia piket hari ini. Di koridor, Vara malah berpapasan dengan Azka. Vara gelagapan, dia ingin memulai tapi tidak tau harus apa. Alhasil Vara hanya tersenyum kikuk. Azka sempat melihatnya tapi sebentar sekali.
"Ayo mulai Vara." Ucapnya menyemangati diri sendiri.
Lantas Vara berbalik mengejar Azka. Dia berjalan di samping pria itu.
" Hai, Ka." Vara menyapa dengan kikuk.
Tak dijawab.
Mereka masih berjalan beriringan. Vara tidak tahu harus ngomong apa.
Entah kemana Azka akan pergi, yang pasti Vara selalu saja mengikutinya. Vara tidak bisa mengimbangi langkah Azka sehingga dia ketinggalan di belakang.
Azka yang berjalan buru-buru tiba-tiba berhenti. Vara dibelakang tidak siap sehingga menabrak punggung Azka.
Azka berbalik menatap Vara. Tatapannya seolah mengatakan ' kenapa Lo ngikutin gue?.'
Vara diam saja, sambil memegang keningnya.
Tanpa sepatah kata, Azka lantas berbalik dan pergi meninggalkan gadis itu,. Vara ingin mengikuti nya tapi suara Lily menghentikan langkahnya.
" Lo mau kemana tuan putri?. Kelas kita disana." Tunjuk Lily ke arah yang berlawanan. Dia berjalan mendekat.
" Lo mau ke kantin?. Tumben pagi-pagi gini udah ngantin aja." ucap Lily seraya mengarahkan pandangan nya mengikuti kepergian Azka menuju kantin.
" Tapi kok tadi Lo ngikutin Azka?. Lo ada urusan sama dia?. Atau dia bikin masalah ya sama Lo?." tanya Lily beruntun.
" Ck, udah berisik!." ucap Vara tak ingin meladeni ucapan Lily.
Vara berjalan duluan meninggalkan sahabatnya itu.
" Hei Vara! Lo belum jawab!." Teriak Lily berlari kecil mengejar vara.
Di kelas.
" Ra, pinjam buku latihan fisika dong." Lily berbicara dengan pelan.
Lily memicingkan matanya.
"Kenapa?." Tanya Vara tersadar.
" Lo yang kenapa?."tanya Lily balik
"Salin aja cepat." suruh Vara, menaruh kepalanya di atas meja.
" Ra, gue benar-benar penasaran deh."
" Lo kenapa jalan bareng Azka tadi?." Tanya Lily hati-hati.
" Nggak." jawab vara, Masih membenamkan wajahnya.
" Penasaran gue makin bertambah." berhenti menulis dan membalikkan badannya menghadap Vara.
"Masalahnya, Lo anti banget sama Azka. Dan tiba-tiba Lo jalan beriringan sama dia." ucap Lily dramatis.
"ly." panggil Vara.
"gue curiga loh."
" Gue ke toilet bentar." Vara segera berdiri dan berjalan keluar kelas.
Lily jadi bengong.
" Wah, dia pergi gitu aja?. kebiasaan banget ngegantungin orang." ucap Lily tak habis pikir.
***
Vara keluar kelas, dia melihat Azka yang akan masuk ke kelasnya. Kelas mereka memang bersebelahan. Sesuatu terjatuh dari saku pria itu ketika dia mengambil hp nya. Sebuah kartu pelajar.
Vara berjalan cepat mengambil nya. Di dalam kelas Azka sudah duduk di kursinya.
" Kasih nggak ya?." tanya Vara pada dirinya sendiri.
Dia celingak-celinguk, tidak ada siapa-siapa yang bisa dia suruh. Dikelas Azka, juga hanya ada Azka saja.
" Hai Ka!" tiba-tiba saja Vara sudah berdiri di dekat meja Azka.
Vara akhirnya memberanikan diri masuk ke kelas sebelah, kelas Azka.
Tak ada jawaban.
" Ehm, nih kartu pelajar Lo jatuh." Vara meletakkan nya di depan Azka. pria itu mengambil nya dan menyimpannya dalam laci.
Vara berharap orang didepannya ini bilang terimakasih, ternyata tidak.
" Udah?." Tanya Azka dingin.
" I iya." Vara jadi gugup sendiri.
Bilang terimakasih kek!. Susah amat sih!. batin Vara.
" Gue balik ke kelas dulu kalau gitu." ucap Vara kemudian berbalik dan pergi dari sana.
Vara masuk ke kelasnya dengan mulut komat-kamit.
Apa susahnya sih bilang 'terimakasih Vara', gitu!.
Dingin banget jadi orang!.
" Ra, kok Lo dapatnya ini?. Jawaban gue beda. Coba Lo koreksi jawaban gue." Vara baru saja duduk, Anin sudah memberinya pertanyaan.
"Vara!." Lily mengejutkan vara.
" Iya iya gue denger,Ly." Vara mengambil buku Anin dan membacanya.
" Salahnya di bagian substitusi, Lo salah masukin persamaannya." Vara menunjuk letak kesalahan jawaban Anin.
" Oh, bentar gue perbaiki. Makasih Ra." Ucap Anin.
" Hmm." Balas vara.
" Lo aneh deh , Ra." Ucap Lily tiba-tiba.
" Aneh kenapa?." tanya Vara.
" Lo tadi masuk kelas Azka kan?." selidik Lily.
Vara terdiam.
" Iya , nggak salah sih. tapi Gue perjelas ya, gue masuk ke kelas MIPA dua bukan kelas Azka doang." Jelas Vara.
" Tapi Lo ngapain kesana?." tanya Lily lagi membuat Vara jengah.
" Gue cari Rika. Gue mau tanya dia tentang..." Vara memutar otak.
" Tentang materi akuntansi kemarin. Gue belum paham soalnya." elak Vara kemudian mengambil buku di laci meja nya.
" Ly, cepetan selesaiin tulisan Lo." Anin menepuk punggung tangan Lily.
Lily kembali menulis.
" Kamu bohong kan, Ra?." tanya Lily tiba-tiba.
.
.
.
.
.
Happy reading