
Di koridor, Vara berjalan dengan gontai. Dia tersenyum tipis seraya melihat hadiah dan piagam penghargaan di tangannya. Ia tidak tahu apakah harus senang ataukah sedih atas pencapaiannya yang menempati peringkat umum pertama.
Jika saja orang lain yang mendapatkan apa yang didapatkan oleh Vara, mungkin saja orang tua mereka akan sangat bangga.
" Untuk apa semua ini?." Tanyanya pada diri sendiri. Seakan hal ini tiada berarti untuknya.
Sesungguhnya dia tidak menginginkan ataupun mengharapkan ini. Tapi dia bersyukur atas apa yang telah di capainya.
Setibanya di kelas.
" Vara!, Wah daebak!. Peringkat pertama!." Lily bertepuk tangan dan bersorak setelah kedatangan Vara.
" Ra, kok Lo bisa ngalahin Azka sih. Dari kelas X kan dia yang selalu peringkat pertama." Lily bertanya dengan antusias.
" Hanya ada dua kemungkinan. Azka yang menurun atau Vara yang meningkat." Anin menjawab pertanyaan Lily tanpa melihatnya. Dia sedang membaca.
Lily beralih menatap Vara dan menaikkan alisnya.
" Gue juga nggak tau." Jawab Vara, mengerti maksud Lily barusan.
" Tapi Gue liat kayaknya Lo nggak seneng deh, Ra. Lo kok murung sih." Tanya Lily menyelidik.
" Nggak, perasaan Lo aja kali." Elaknya.
" Vara cuma bingung, tiba-tiba dia peringkat pertama umum sedangkan sebelumnya dia peringkat kedua." Lagi-lagi Anin menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.
" Lo kenapa sih, Nin?. Dari tadi ngomong kayak orang lagi PMS." Lily tergelak.
Anin menutup bukunya dan mengarahkan kepala dan pandangan nya ke arah pintu kelas. Seseorang baru saja masuk.
" Selamat siang anak-anak, sebentar lagi orang tua kalian akan datang ke sini." Bu Shofi memberi informasi.
" Jadi di mohon kerjasamanya, jangan ribut dan biarkan wali kalian duduk di kursi kalian masing-masing." Tambahnya.
" Baik Bu." Jawab mereka serempak.
Semua orang tua atau wali murid sudah duduk dengan tenang.
Setelah Bu Shofi memberikan sambutan singkat, ia pun akan mengumumkan peringkat empat sampai dengan peringkat sepuluh.
Bu Shofi pun menyebutkan mulai dari peringkat empat.
" Peringkat lima atas nama Anindya Alyssa." Semua orang bertepuk tangan.
" Peringkat enam dan tujuh atas nama Arina dan Anita."
" Nah kan, apa gue bilang. Pasti gue keluar nih." Lily menengok ke samping. Berbicara dengan Vara. Kemudian kembali menghadap depan.
"Peringkat 8 atas nama Frissly Veronica."
" Heh, nama Lo disebut tuh." Vara menyenggol lengan Lily yang bengong.
Lily terkesiap. " Hah, gue!." tunjuknya pada diri sendiri.
" Yey nggak jadi keluar. Malah meningkat." Senangnya.
" Pulang sekolah nanti gue traktir. Oke?." Kedua temannya hanya memberikan jempol pertanda setuju.
*****
Di kelas XI MIPA 2.
Semua orang tua murid sudah duduk dengan tenang.
" Ehm Azka, orang tua kamu nggak datang?." Tanya pak Tomy.
" Nggak pak, mereka semua lagi sibuk." Azka berucap dan berusaha tersenyum walaupun nyaris tak terlihat.
" Oke baiklah." Ucap pak Tomy kemudian memberikan sambutan singkat.
Apa yang gue harapkan dari mereka. Hal seperti ini mana mungkin mereka datang. Azka membatin sambil menatap lurus ke depan.
Setelah acara selesai, para wali siswa keluar dari ruang kelas termasuk para murid.
Dari banyaknya orang yang berada di depannya, Azka melihat sosok yang sangat dia kenal.
Dia diam saja, perlahan wanita itu mendekat.
" Ka, maaf mama terlambat." Ucapnya lembut dan penuh rasa bersalah. Dia memegang tangan putranya.
" Nggak papa, aku udah biasa."
Wanita itu tau, itu adalah bentuk sindiran untuknya. Tapi dia tidak marah, karena dia tau yang bersalah memang dirinya.
" Mama pulang aja, aku mau ketemu Fandy sama Abi " Azka berbalik dan pergi dari sana. Meninggalkan wanita itu di depan kelasnya.
Azka berpapasan dengan Fandy dan Abi. Kedua sahabatnya itu heran.
" Ayo ke kantin." Ajak Azka pada kedua temannya.
" Tapi itu Tante Sintia, Ka. Masa Lo tinggalin gitu aja." Abi menahan Azka yang hendak melanjutkan langkahnya.
" Biarin aja. Lo mau anterin pulang?. Sana!." Ucap Azka agak kesal. Kemudian dia melanjutkan langkahnya.
Fandy memegang pundak Abi.
" Udah biarin aja." mengerti mengapa Azka bersikap seperti itu.
Walaupun merasa tidak tega, mereka berdua tetap menyusul Azka ke kantin.
" Maaf Tante, Abi duluan ya. Hati-hati dijalan, Tan." pamit Abi yang di balas anggukan oleh Tante Sintia.
Wanita itu masih berdiri di tempatnya, melihat anaknya yang sudah semakin jauh di depan.
Di tengah-tengah lamunannya tiba-tiba seseorang mengagetkan nya.
" Tante Sintia." Seseorang memanggil namanya dari belakang.
Dengan cepat dia menghapus air matanya dan berbalik.
" Vara." ucap nya kemudian.
" Tante Sintia ngapain masih disini?. Udah ketemu sama Azka,Tan?." Tanyanya celingak-celinguk melihat keadaan sekitar.
Tidak ada siapa-siapa. Dan didalam kelas pun sudah kosong. Vara melihat Azka di ujung lorong berjalan bersama Fandy dan Abi. Vara menghembuskan nafas panjang.
" Kalian duluan aja, nanti gue nyusul." Ucapnya kepada Lily dan Anin. menyuruhku kedua temannya duluan ke kantin.
Lily dan Anin hanya mengangguk dan beranjak dari sana. Walaupun keduanya heran siapa Tante itu tapi mereka tetap meninggalkan Vara disana.
" Vara, Tante merasa bersalah sama Azka. Tante datang setelah acaranya selesai." Wanita itu terlihat berkaca-kaca.
" Nggak apa-apa, Tan." Mengusap-usap punggung tangan wanita itu.
" Terus Azka mana?."
" Dia udah pergi sama temannya." Ucap wanita itu.
" Tante mau pulang?. Biar Vara antar sampai depan." Ucap Vara.
Tante Sintia tersenyum. Mereka berdua pun berjalan ke parkiran.
Sesampainya di parkiran.
" Vara, Tante mau ngomong sesuatu sama kamu." Tante Sintia berbalik menghadap Vara. Dia tampak serius.
Vara terkesiap." Ngomong apa, Tan?."
" Tante mau minta tolong sama kamu." Ucap Tante Sintia penuh harap.
Vara terdiam. Perasaannya tiba-tiba tidak enak.
" Tolong apa, Tan?." Jawab Vara ragu .
.
.
.
.
.
Happy reading
Ada apa dengan Azka?
Kira-kira Tante Sintia minta tolong apa sama Vara?
Jangan lupa komen,ygy.