V A R A Z K A

V A R A Z K A
Kulkas dua pintu



Triiing....


Satu pesan masuk. Buru-buru Tante Sintia membuka tasnya dan mengeluarkan handphone nya.


Entah pesan apa dan dari mana, yang pastinya pesan itu sangat penting.


" Vara, Tante harus pergi sekarang, lain kali kita bahas ini. Tante pergi dulu, ya." Ucap Tante Sintia buru-buru.


Vara mengangguk saja dan melambaikan tangan.


Vara menghela nafas panjang sambil berpikir.


" Kok perasaan gue, Tante Sintia bakal minta tolong yang aneh-aneh deh. " tebaknya. Kemudian dia beranjak dari sana dan menyusul temannya ke kantin.


*****


Di kantin sekolah.


" Lo tuh kenapa sih, Ka?. Sama nyokap sendiri kayak gitu?." Abi bertanya karena dari tadi mereka bertiga hanya duduk diam saja di kantin.


" Nggak baik tau. Coba Lo tadi antar Tante Sintia sampai parkiran." Omelnya lagi.


Abi sudah menghabiskan dua gelas minuman dingin yang ia pesan tadi. Sementara Azka satu gelas pun tak habis-habis. Hanya diaduk saja.


" Udahlah Ka, damai aja sama nyokap Lo."


Ucap Fandy yang langsung mendapat tatapan tajam dari Azka.


" Se-simple itu Lo bilang?." Tanya Azka.


" Kayak Lo pernah ngerasain aja jadi gue!." Lanjutnya lagi. Kesal.


Fandy terdiam. Dia merasa bersalah sudah mengatakan itu. Dia juga pernah di posisi yang sama hanya saja beda cerita.


"Ka,Lo...." Belum sempat Abi menyelesaikan kalimatnya sudah dipotong oleh Azka.


" Mbak tambah lagi minumannya dua gelas buat dia." Teriak Azka Kepada mbak Kantin dan menunjuk Abi.


Tak lama kemudian pesanannya pun datang.


Abi jadi bengong.


" Minum!." Titah Azka.


" Lo banyak ngomong kalo lagi nggak makan atau minum. Jadi mending Lo diam aja, minum tuh dua gelas!. Sampai habis!." Azka menunjuk dua gelas minuman di depannya dengan kesal.


Abi menelan ludah.


" Nih Fan. Buat Lo satu. Tadi Lo juga ngomong, kan?." Abi menyodorkan satu gelas minuman tadi ke depan Fandy sambil mengedipkan matanya. Seakan mengatakan ' ayolah kerjasamanya'


Fandy diam saja. " Minum ." Titah Abi membulatkan matanya.


" Iya-iya." Jawab Fandy pasrah dan membawa minuman itu ke depannya.


" Maaf ." Ucap Abi pelan tapi masih di bisa didengar. kemudian kembali menyeruput minumannya.


"Hmm." Balas Azka singkat.


Abi ini adalah sosok yang baik dan perhatian. Nama lengkapnya Abighail. Dia orangnya memang ceplas-ceplos tapi dia tidak sungkan untuk minta maaf ketika merasa dirinya salah.


*****


Vara baru saja memasuki kantin dan berhenti untuk mencari dimana sosok Azka berada. Benar saja, dia menangkap keberadaan Azka dan teman-temannya di meja paling pojok dekat stand mbak Kantin.


" Vara!, Kita di sini!.Hey!." Teriak Lily melambai-lambaikan tangan melihat Vara yang melihat ke kiri sedangkan mereka berada di sebelah kanan.


"Lama banget, Ra?." Tanya Anin sesaat setelah Vara duduk bersama mereka.


" Tadi gue anterin Tante,,, gue ke parkiran. Katanya ada yang mau dia omongin ke gue." Jawab Vara jujur.


"Dia siapa emang?." tanya Lily penasaran.


" Dia mamanya Azka."


" Lo ada sesuatu ya sama Azka?." Lily menyelidik.


" Enggak!. intinya mamanya Azka berhubungan baik sama orang tua gue." sambar vara cepat.


" Penting?." Tanya Lily tentang yang mau diomongin Tante Sintia.


" Mungkin. Tante Sintia keliatan serius saat mau ngomong." Jawab Vara.


" Udah jangan di pikirin. Tadi Lo mau traktir kita kan, Ly?." Lanjut Vara mengalihkan topik pembicaraan.


" Iya, pesan aja mau makan apa." Jawab Lily tersadar akan janjinya tadi pagi.


Setelah semuanya sepakat mau makan apa. Vara menawarkan diri untuk memesannya karena meja mereka jauh dari stand mbak Kantin. Jadi tidak bisa kalau hanya teriak.


Vara berjalan melewati meja tempat Azka dan teman-temannya.


Di sana tampak seorang siswi yang duduk didepan Azka sambil terus berbicara tanpa henti. Seakan mengajak Azka mengobrol tapi Azka tak menghiraukannya.


Merasa terganggu akan kehadiran gadis di depannya, Azka tampak buru-buru menghabiskan makanannya agar bisa segera pergi dari sana.


Setelah selesai, dia mengambil tasnya dan akan beranjak dari sana.


" Gue duluan!." Ucapnya kepada kedua temannya tanpa melihat gadis di depannya.


Saat berbalik dia bertabrakan dengan Vara yang ingin kembali ke mejanya.


Jaraknya sangat dekat. " Maaf." Ucap Vara spontan.


Azka berdecak dan mendengus kesal kemudian langsung pergi dari sana. Sementara Vara tampak terkejut.


Ketika vara akan melanjutkan langkahnya dia menginjak sesuatu di lantai, ternyata itu kunci motor. Mungkin milik Azka pikirnya.


Vara mengambilnya. " Nih, kunci motor teman Lo jatuh." Vara menyodorkan kunci motor itu dengan sedikit kasar ke depan wajah Fandy.


" Udah salah, nggak minta maaf!. Malah gue yang minta maaf. Bilangin ke temen Lo yang tadi, lain kali kalo salah biasakan minta maaf." Omel Vara melihat Fandy dan Abi.


" Ambil!." Titahnya. Masih menyodorkan kunci motor itu.


" Biar gue aja yang ngasih!." Ucap Bella tiba-tiba menarik kunci itu dengan kasar.


Yah siswa yang berbicara tanpa henti tadi itu namanya Bella. Cantik sih, tapi dandanannya norak. Dia emang gitu, suka deketin Azka. Padahal udah ditolak dengan cara halus. Nggak di hiraukan sama sekali oleh Azka.


Bella berjalan melewati Vara sambil melirik tajam.


" Idiih, cowok kayak gitu di kejar. Udah tau kulkas dua pintu isinya freezer semua. Nggak dingin, Bel?." Teriak Vara mengejek.


Bella sempat menengok kebelakang, kemudian berlari kecil mengejar Azka.


Fandy senyum-senyum sendiri melihat tingkah Vara. Abi yang disampingnya menatap heran.


"Apa?." Tajam vara melihat Fandy kemudian dia merapikan seragamnya dan beranjak dari sana.


*****


Vara sudah duduk di kursi.


" Kenapa, Ra?. Tadi gue liat Lo teriak-teriak." Tanya Lily tertawa.


"Gue kasian sama Bella. Dia masih ngejar-ngejar Azka, Nggak bosan apa nggak ada peningkatan?." Jawab Vara sambil mengaduk-aduk jus didepannya.


" Kasian?. Tadi Lo teriak-teriak ngejek dia. Itu namanya kasian?." Lily berucap heran.


" Itu, maksud Gue tadi buat kasih tau dia biar nggak ngejar-ngejar Azka lagi. Supaya dia nggak sakit hati lagi." Jelas Vara.


Lily mengangguk-angguk mendengarnya.


" Tapi kenapa Lo keliatan kesal?." Anin bertanya sambil mengeluarkan sebuah buku dari tasnya.


" Si es batu nabrak Gue, nggak minta maaf lagi." Ucap Vara kesal.


" Tapi gue juga suka sama Azka." Ucap Lily tiba-tiba. Vara menatapnya horor.


" Gimana kalau gue kejar juga kayak si Bella." Lily menaik turunkan alisnya sambil tersenyum.


" Nggak usah!." Tajam vara.


" Nanti Lo sakit hati, lagi!. Gue yang repot." Lanjut Vara.


Lily tersenyum manggut-manggut. Dia puas melihat Vara kesal.


Tiba-tiba handphone Vara berdering.


" Halo, mah."


"..."


" Oh iya mah." Vara menutup telepon.


" Guys gue duluan ya?. Mama suruh gue pulang cepat." Vara menghabiskan jusnya dan mengambil tasnya.


" Kenapa, Ra?. Nggak ada yang kenapa-kenapa kan?." Tanya Lily panik.


" Nggak tau, mama cuma ngomong gitu."


" Nanti kabarin kalau udah sampai rumah." Ucap Anin tak kalah panik.


" Oke,bye."


.


.


.


.


. Happy reading


Satu kata buat Azka


Satu kata buat Bella


Kira-kira Vara kenapa ya?