V A R A Z K A

V A R A Z K A
Abel



Di dalam mobil.


Vara merasa tidak tenang. Seandainya dia tau Azka ada di dalam mobil ini, dia pasti sudah beralasan akan ke rumah Anin dulu sebelum pulang.


Tapi semua sudah terjadi. Dia sudah berada didalam mobil dan duduk bersebelahan dengan Azka.


Vara melirik sedikit ke samping melihat Azka. Cowok itu hanya diam menatap lurus ke depan tanpa ekspresi.


Vara kembali melihat ke depan dan tersenyum dan melengos.


" Dasar muka datar." gumamVara pelan nyaris tak terdengar.


Tiba-tiba dia merasa ada pergerakan di sampingnya. Cowok itu ternyata melihat ke arahnya sebentar.


Vara yang menyadari nya buru-buru melihat keluar jendela.


' Apa Azka dengar ya tadi?.' batinnya ketar-ketir.


"Wah jeleknya." Vara berucap asal untuk menghilangkan kecanggungan nya.


" Apa yang jelek vara?." Tante Sintia bertanya. Beliau duduk di depan tapi bisa mendengar suara vara yang sangat pelan.


" Eh." kaget Vara, tante Sintia dengar ternyata.


" Itu badutnya yang jelek, Tan. Kayak batu." Ucapnya seraya terus menatap badut yang sedang menghibur anak-anak di taman.


percaya lah, itu sindiran untuk orang di sebelahnya, Azka.


Tak ada suara lagi sampai mobil berhenti di depan rumah Vara.


" Makasih banyak Tante. Maaf ya, Tan Udah ngerepotin."


Ucap Vara sopan setelah turun dari mobil.


" Nggak mau mampir dulu Tante?." Tawar Vara.


" Lain kali ya, udah malam." Vara mengangguk tersenyum.


*****


Vara masuk ke dalam kamar.


Dia melihat sweater nya yang terlipat rapi diatas meja belajar. Dan juga ada slingbag berwana senada diatas sweater itu.


" Astaga, dia juga pake slingbag gue?." Tanyanya tak percaya. dia berjalan mendekat ke arah benda itu.


Vara mengambil dan membolak-balikkan slingbag tersebut.


" Nah kan!. Apa gue bilang, pasti rusak ." Vara jadi kesal karena gantungan di slingbag nya sudah rusak.


Vara memejamkan matanya.


" Dasar Abelll!!." Ucapnya kesal.


Untung sweaternya tidak kenapa-napa. Bisa marah besar dia kalau sampai ada yang lecet.


Dia melempar slingbag itu ke atas meja belajar dengan kesal kemudian beranjak ke kamar mandi.


" Gue harus selalu kunci pintu kamar." Ucapnya sungguh-sungguh.


*****


Di ruang makan.


Vara, Mama dan Abel sudah berada di meja makan. Sementara papa masih tugas di luar kota.


Ketiganya hanya diam menyantap makanan masing-masing.


Abel tampak biasa-biasa saja. Tidak merasa bersalah sama sekali sudah merusak barang orang lain.


Sementara Vara menatap Abel didepannya dengan kesal.


" Kenapa?." Tanya Abel menyadari dirinya sedang ditatap orang di depannya.


" Lo jangan minjem-minjem barang gue lagi." Ucap Vara tegas.


" Kenapa?." Tanya Abel lagi yang membuat Vara semakin kesal.


" Lo kalo minjem sesuatu pasti rusak!." Vara menyendok makanannya dengan kasar.


" Lo beli aja sendiri. Apa susahnya sih?. Kenapa harus pake barang-barang gue?." Lanjutnya lagi


Vara sepertinya tidak menganggap keberadaan mamanya.


"He'em." Mama menengahi kedua putrinya.


" Dasar pelit!." Ucap Abel tak menghiraukan mama nya.


" Lo izin gak, pas mau ngambil?!." tanya Vara lagi.


Abel tak menjawab.


" Pinjam ya pinjam. Tapi kalo keseringan apalagi sampai rusak juga pasti bikin kesal lah!." Vara sedikit meninggikan suaranya.


"  Tinggal beli lagi juga." Ucapan Abel tambah membuat Vara semakin kesal.


" Lo yang banyak gaya tau nggak!. Lo aja yang beli sana, gimana sih!." Ucap Vara tak habis pikir.


" Di lemari Lo banyak tuh pakaian branded yang papa beliin!."


" Dan juga, tas Lo banyak di lemari!."


" Kenapa nggak pake itu semua!. Kenapa harus barang-barang gue!?." kesal Vara meledak-ledak.


" Vara." Ucap mama lembut.


Vara sampai berkaca-kaca. Vara kalau marah memang seperti itu.


" Pantes aja papa selalu marahin, Lo. Lo nya nggak bisa sabar." Ucap Abel yang terdengar menyebalkan di telinga Vara.


"Abel!." Tajam Mama kepada Abel. Tapi tetap saja ke dua putrinya ini adu mulut.


"Gue selalu sabar disuruh buat ngalah!. Padahal jelas-jelas Lo yang salah!." Vara menunjuk Abel.


" Gue tau papa cuma sayang sama, Lo!."


" Gue juga tau, papa nggak pernah anggap gue anak!."


Vara sudah kehabisan kesabaran.


Abel yang dibentak seperti itu, beralih menatap mamanya.


" Vara!." Tajam Mama.


" Nggak baik marah-marah didepan makanan."


" Habiskan makanan mu. Terus masuk kamar!." Lanjut mama.


"Udah nggak napsu makan!." Lantas Vara berjalan meninggalkan meja makan.


Saat berlalu dari sana, vara masih sempat mengeluarkan unek-uneknya.


" Gue lagi yang ngalah!." ucapnya sambil terus berjalan menaiki tangga menuju kamar nya.


" Anak kesayangan emang nggak pernah salah!."


Setelah itu vara sudah tak terlihat.


Mama kembali menatap tajam Abel.


" Kamu suka kalau Vara selalu di marahin sama papa?."


Abel tak menjawab,dia masih sibuk mengunyah makanannya.


" Jangan pinjam barang-barang kakakmu lagi." Ucap mama tegas.


Lagi-lagi Abel tak menjawab.


Mama menghembuskan nafas kasar melihat kelakuan Abel.


*****


Sedikit tentang Abel


Aruna Isabell. Panggil aja Abel. Dia adalah adiknya Vara. Dia kelas tiga SMP dan sebentar lagi masuk SMA.


Hobinya memang seperti itu. Suka mengambil barang-barang kakaknya untuk dia pakai tanpa minta izin terlebih dahulu.


Tak hanya sekali, tapi sering sekali Abel meminjam barang Vara dan biasanya kalau sudah dia pakai pasti ada aja yang rusak.


Pemiliknya pasti kesal lah. Tapi, setiap bertengkar dengan Abel pasti Vara yang selalu disalahkan oleh papanya. Pasti selalu Vara yang disuruh mengalah. Karena apa? Karena Vara adalah kakak dan Abel adalah adik.


Dan juga, hubungan Vara dan papanya memang tidak baik-baik saja. Sehingga vara selalu merasa terbuang oleh papanya sendiri.


Kalian tau kan konsep kakak-beradik?. Yang kalau bertengkar pasti kakak yang wajib mengalah untuk adiknya. Walaupun sebesar apapun kesalahan sang adik?.


Vara sangat muak dengan konsep seperti ini. Kenapa nggak bisa sama rata?. Atau kenapa nggak dibalik aja sih!.


*****


Di dalam kamar.


Vara menghapus air mata yang tumpah sedikit sekali di ujung matanya.


" Cengeng banget sih Gue." Ucapnya pada diri sendiri.


Dia berjalan menuju kasurnya. Disana ponselnya berdering.


Drrrttt,,,,Drrtt,,,,


" Ish ni anak juga kenapa Video call sekarang sih!?." Vara melempar ponselnya ke kasur sampai ponselnya berhenti berdering.


Tiba-tiba ponselnya berdering lagi. Vara menatapnya malas.


Diriject.


Berdering lagi.


" Kenapa?." Vara akhirnya mengangkat Video call tersebut.


" Lo habis nangis?." Tanya orang diseberang sana.


" Iya kenapa?."


" Galak banget sih, Ra."


" Cepetan mau ngomong apa sampai Video call segala?."


" Nggak jadi deh, Ra."


" Kenapa nggak jadi?."


" Lo nya galak banget."


" Ck, cepetan ngomong." Ucap Vara tak sabar.


" Gue...."


.


.


.


.


.


Happy reading


Jangan lupa komen, ygy.