V A R A Z K A

V A R A Z K A
Tamu



Setelah Vara sampai di rumah. Buru-buru dia masuk.


" Mah kenapa Vara disuruh pulang cepat?." Tanyanya ketika baru saja masuk ke rumah dan mendapati mamanya di ruang tamu.


"Salam dulu kek." Omel mama.


"Assalamualaikum." Ucap Vara sambil mendekat dan mencium punggung tangan mamanya.


" Wa'alaikumsalam." Jawab wanita itu.


" Kenapa sih mah?." Duduk di sofa, disamping mamanya.


" Nggak kenapa-napa." Ucap mama santai.


" Ya ampun mah. Tau nggak, Anin sama Lily panik liat aku buru-buru pulang. Takut ada yang kenapa-kenapa." Ucap Vara menepuk jidatnya.


Mama hanya tersenyum.


" Mama nih."


Buru-buru Vara mengambil ponsel dari tasnya ingin mengabari kedua temannya bahwa semuanya baik-baik saja.


" Padahal tadi Lily traktir kita makan, makanan vara belum habis tadi." Masih mengomel.


" Vara." Panggil mama. Vara mendongak menatap wanita disampingnya.


" Mama bangga sama kamu. Bisa jadi peringkat pertama umum di sekolah." Ucap mama tersenyum sambil mengusap-usap kepala putrinya.


" Papa sama Abel pasti juga bangga sama kamu." Lanjutnya lagi.


Vara terdiam kemudian mengalihkan pandangannya.


Vara berdehem, dan mengambil tas disampingnya.


" Ehm Vara keatas dulu, Mah." Ucap Vara berusaha tersenyum. Kemudian dia pamit ke kamar.


Wanita itu hanya mengangguk. Dia tau betul kenapa putrinya bersikap seperti ini.


Di dalam kamar.


Vara melempar tasnya ke atas meja belajar. Kemudian dia menghempaskan dirinya ke kasur.


Dia menatap langit-langit kamarnya.


Dulu saat mendekorasi kamar, Vara sengaja membuat langit-langit kamarnya seperti langit yang berwarna biru cerah dengan beberapa awan.


Dia berharap semua yang dia impikan, yang dia cita-citakan bahkan setinggi langit pun akan terwujud dan mendapatkan dukungan dari orang tuanya.


Vara berpikir sejenak.


' Gimana ya reaksi papa kalau udah tau?.' batinnya.


Tak lama kemudian dia pun terlelap dalam tidurnya tanpa melepas seragam yang ia kenakan.


*****


Hai ini adalah hari Minggu. Di dalam kamar, Vara masih bergelung diatas kasur, bermalas-malasan. Mengingat hari ini adalah hari pertama libur sekolah sampai dua Minggu ke depan.


Sampai cahaya matahari mengusik retina nya. Ternyata mamanya yang menyingkap gorden dan membuka jendela dikamar Vara.


Dia bangun. Perlahan dia mengucek matanya sambil menguap.


" Ya Allah, Vara!. Udah siang gini baru bangun." Omel mama sambil memukul pelan lengan putrinya.


Vara melihat jam di atas nakas. Memang sudah beranjak siang ternyata. Sudah jam sembilan lewat dua puluh menit.


" Cepat bangun sarapan dibawah." Perintah Mama.


Vara tak sengaja melihat kesamping, ke arah tempat gantungan bajunya. Satu hanger sudah kosong. Itu artinya salah satu bajunya hilang. Dia kaget.


" MAMA!." pekik Vara.


Mama yang sudah akan keluar kamar terlonjak kaget mendengar teriakan Vara.


" Astagfirullah Vara!. Kenapa sih?." Ucap mama berbalik dan memegang dadanya. Terkejut.


" Abel ada masuk kamar aku nggak?." Tanyanya to the point.


" Iya. Tadi pagi-pagi sekali dia memang masuk kamar kamu. Kamu nya masih tidur." Jelas Mama.


" Terus Abel kemana?." Tanya Vara tak sabar.


" Katanya dia mau pergi jalan-jalan sama temannya seharian ini."


Vara mengusap wajahnya kasar.


" Kenapa sih, sayang?." Tanya Mama kala melihat Vara yang cemberut.


" Mah, Abel ngambil baju aku lagi!."


" Dia cuma minjem, dia kan adek kamu."


" Tapi Ma, dia kalau minjem sesuatu pasti ada aja yang rusak." Vara tambah frustasi dibuatnya.


" Nggak papa sayang. Dia bakal ngembaliin dengan keadaan baik seperti semula. Mama yakin." Kata mama menenangkan Vara.


' masalahnya itu sweater Lilac kesayangan aku Mama.' ucap vara dalam hati.


" Yaudah deh Ma." Ucap Vara akhirnya pasrah.


" Cepat turun sarapan." Mama berbalik dan melangkah keluar kamar.


Vara kembali menjatuhkan dirinya diatas kasur dan menutup dirinya dengan selimut.


*****


Siang hari sekitar jam dua.


Vara baru saja keluar dari dapur minta dibuatkan susu coklat dingin oleh bibi. Tiba-tiba dia mendengar bel rumahnya berbunyi diiringi suara seorang wanita yang mengucapkan salam.


Mama yang sedang duduk di sofa lantas berdiri dan membuka pintu.


Vara melihat mamanya sedang berbincang dengan seorang wanita yang seumuran dengan Mama nya.


" Astaga!. Tante Sintia. Gimana nih!." Vara jadi panik sendiri.


" Bi, kalau mama nanyain aku, bilang aja di kamar lagi belajar dan nggak mau di ganggu.oke?." Ucap vara cepat dan dia sudah bersiap lari ke kamarnya di lantai atas.


Dia tidak sadar alasan yang dia ucapkan tadi malah akan membuat mamanya tidak percaya.


Mana ada orang yang masih belajar disaat liburan kenaikan kelas. Belajar apa memangnya?. Dasar Vara.


" Tapi non, susu coklat nya gimana?." Ucap bibi heran. Padahal susu coklatnya sudah ada ditangan bibi.


" Diminum aja Bi!."


Sang nyonya rumah menghampiri Bibi yang masih berdiri di dekat tangga.


" Itu susu buat vara?." Tanya mama.


" Iya nyonya."


" Terus kemana anak itu. Tolong dipanggil ya, Bi." Perintah sang nyonya.


" Katanya, non vara nggak mau diganggu nyonya. Lagi belajar dikamar." Kata bibi.


Mama menghembuskan nafasnya. " Ya udah. Bikin teh ya Bi buat tamunya."


" Sini biar saya yang bawa ke atas." Mama mengambil alih susu coklat dari tangan Bibi.


Bibi hanya mengangguk dan bergegas ke dapur.


*****


Tok,tok,tok.


Tak ada sahutan. Lantas Mama membuka pintu kamar yang  ternyata tidak dikunci.


Vara yang duduk di meja belajar nya langsung gelagapan dan membuka asal buku pelajarannya.


Dia kira bibi yang datang membawakan susu coklatnya.


Vara tampak serius membaca, pura-pura tak tau mamanya masuk kamar.


Mama meletakkan nampan berisi susu itu di nakas.


" Mama tau kamu lagi bohong." Mama bersidekap.


Vara melirik sedikit kearah mamanya. Kemudian menutup bukunya.


" Turun. Tante Sintia nyari kamu."


" Kenapa Tante Sintia nyari aku, Ma?." tanya Vara tak tenang.


Mama mengangkat bahu tanda dia tidak tau.


" Kenapa sih, Vara. Kayak mau ketemu calon suami aja kamu." Mama masih sempat sempatnya bercanda.


" Ish Mama!."


" Cuma Tante Sintia, kenapa kamu takut gini?." Tanya mama. Vara  cemberut tak menjawab.


" Mama tunggu di bawah. Cepat!."


*****


Vara akhirnya turun ke bawah. Tante Sintia yang melihatnya lantas tersenyum.


Vara duduk dengan sopan di sampingnya. Mama vara  juga ada duduk bersama mereka.


Mereka bertiga mengobrol ringan sampai mama Vara pamit ke dapur untuk mengambil cemilan.


" Vara ada rencana apa liburan ini?. Mau liburan kemana?."tanya Tante Sintia.


" Belum tau ,Tan." Jawab Vara seadanya.


" Liburan ke puncak, mau?." Vara berbinar mendengar ajakan Tante Sintia.


" Sama Azka dan teman-temannya juga." Lanjutnya lagi.


Ekspresi Vara berubah. Apa kata Tante Sintia tadi?. Bersama Azka?. Vara tidak akan mau berdekatan apalagi liburan bareng dia.


" Mau?."


" Vara lupa. Vara juga ada acara sama teman-teman." Vara hanya berpura-pura.


" Lain kali aja, Tan." Ucap Vara tak enak.


Tante Sintia tersenyum. Sebenarnya dia hanya bercanda mengajak Vara liburan ke puncak. Dia tidak mungkin pergi liburan kesana apalagi bersama Azka.


" Yaudah nggak papa."


Tante Sintia meminum tehnya.


" Kamu ingat kan kemarin yang mau Tante omongin sama kamu?."


" Iya Tan."


Tiba-tiba mama datang membawa cemilan.


"Serius banget ngomongnya?."


.


.


.


.


.


. Happy reading


. Jangan lupa like and komen, ygy.