
Vara POV
Sedikit cerita.
Kalian tau Tante Sintia?. Aku sangat dekat dengannya. Tapi dia bukan saudara Mama atau papa juga bukan keluarga dekat. Tante Sintia hanya sahabat Mama dari SMA sampai sekarang. Beliau suka anak perempuan tapi semua anaknya laki-laki, itu sebabnya dia dekat denganku.
Aku pernah dekat dengan Azka. Tapi itu dulu, saat kami masih SMP. Bukan dekat karena ada rasa, kami dekat hanya sebagai partner belajar. Aku dan Azka sering mengikuti olimpiade maupun lomba akademik bersama.
Tapi semenjak masuk SMA, Azka tiba-tiba menjadi orang yang berbeda. Dia berubah menjadi sosok yang dingin dan cuek. Hal itu berlaku sampai sekarang.
Aku dari SMP selalu ingin menang dari Azka. Karena dari dulu selalu saja Azka yang menempati urutan pertama peringkat umum. Dia selalu saja mengambil apa yang aku inginkan.
Hingga akhirnya, aku merebut posisinya. Tapi entah kenapa aku merasa ini semua tidak berguna.
Semenjak kejadian dua tahun lalu, dimana Azka tiba-tiba berubah. Aku tidak pernah akrab lagi dengannya. Dia membatasi diri dan aku juga tau diri.
*****
Di cafe.
Vara, Lily dan Anin sedang berada di cafe dekat rumah Anin. Mereka sedang menikmati liburan mereka.
Dari tadi Vara melamun memikirkan sesuatu. Dia memikirkan permintaan Tante Sintia kemarin.
" Eh eh guys tau nggak!." Teriak Lily heboh membuat Vara yang melamun terkejut. Sedangkan Anin yang membaca buku menatap Lily malas.
"Apa?."
Lily meminum minumannya. " Pak Romy sama Bu Shofi!." Lagi-lagi Lily heboh sendiri.
" Ck. Yang jelas dong Ly kalo ngomong. Jangan setengah-setengah." Vara memukul punggung tangan Lily yang terus melihat handphonenya.
" Nih liat!." Lily menyodorkan ponselnya kearah kedua temannya.
" Itu mah biasa kali, foto berdua itu hal yang biasa,Ly." Anin berucap malas.
" Ck, ntar dulu. Dengar dulu!."
" Jadi waktu gue ke ruang guru, waktu gue dipanggil karena bolos. Ingat nggak?."
Anin dan Vara mengangguk.
" Di ruang guru cuma ada pak Romy sama Bu Shofi. Terus gue denger pak Romy nge-gombalin Bu Shofi."
" Jadi maksud Lo, Bu Shofi sama pak Romy pacaran gitu?." Vara berucap sambil mendekatkan kedua jari telunjuknya.
Lily mengangguk semangat.
" Yaelah belum pasti juga kali." Anin berucap.
" Emang kenapa sih, kalau beneran pacaran. Nggak aneh juga kan?." Anin melepas kacamatanya dan memperbaiki rambutnya.
" Bukan gitu. Bu Shofi kan jan..." Ucapan Lily terpotong.
" A-aww!." Pekik Lily.
Vara tiba-tiba meletakkan tangannya diatas punggung tangan Lily dan mencubitnya sedikit.
Vara tersenyum." Ibu sendiri aja kesini?."
Di bawah meja, Vara menendang-nendang kaki Lily agar menengok ke belakang.
"Seru banget ngobrolnya, kedengaran sampai di seberang jalan. " ucap Bu Shofi tersenyum manis
Ada-ada aja sih Bu wali kelas ini. Mana ada kedengaran sampai kesana. Emangnya suara kita bertiga sekeras itu?.
" Ibu duluan ya."
Ketiganya mengangguk tersenyum.
Tak lama kemudian, pak Romy datang menyusul.
Setelah selesai, Pak Romy dan Bu Shofi berjalan beriringan keluar.
Tak lupa Bu Shofi tersenyum kearah ketiga anak walinya.
" Da dah, Bu." Lily tersenyum manis sekali kearah Bu Shofi.
" Tuh kan. Apa gue bilang!." Lily berucap setelah kedua gurunya itu sudah benar-benar keluar dari cafe.
" Iya-iya."
Hening
" Kenapa lagi Lo senyum-senyum?." Vara mengalihkan pandangannya melihat Lily.
"Dia liatin foto Azka di Instagram." Anin menjawab.
" Dia ganteng banget ya ampun, suka deh sama dia." Lily masih senyum-senyum.
Vara menatap jijik. " Selain kasihan sama Bella, gue juga kasihan sama Lo."
Lily tak menghiraukannya
" Tapi kalau Azka marah, gue jadi takut liatnya." Lily bergidik ngeri.
Vara geleng-geleng kepala melihat Lily yang tergila-gila dengan si es batu.
Hening, ketiga remaja ini masih berada di cafe. Dari tadi siang sampai menjelang sore.
Vara kembali melamun memikirkan sesuatu.
Flashback on.
Kemarin, di rumah Vara.
" Vara, Tante kan nggak punya anak cewek. Ponakan ponakan Tante juga pada jauh." Ucap Tante Sintia sambil tersenyum.
" Boleh kan, Tante sering ngobrol sama kamu. Kamu udah Tante anggap seperti anak sendiri loh." Lanjutnya lagi.
Vara tersenyum." Iya Tan, boleh kok." Tante Sintia juga tersenyum.
" Diminum tehnya Tante." Ucap vara sopan.
Setelah meneguk sedikit, Tante Sintia meletakkan cangkir di meja. " Azka gimana di sekolah?." Tanya nya basa basi.
" Sekarang Vara nggak terlalu dekat sama Azka Tan, jadi nggak bisa terlalu cerita gimana dia." Jawab Vara jujur.
" Cuma yang vara lihat kalau lagi sama teman-teman cowoknya dia kayak cowok biasa tapi kalau sama cewek dia super duper dingin dan cuek, Tan." Vara mulai deh.
Tante Sintia tertawa." Terus apa lagi?."
Vara tampak berpikir. " Nah. Dia kalau marah,seram Tante."
Tante Sintia tertawa lagi.
" Vara, ekspresi kamu lucu deh."
Tante Sintia menghela napas panjang.
" M-maaf Tante, Vara terlalu jujur ya?." Vara merasa bersalah sudah bercerita sedemikian rupa karena kesal dengan Azka.
" Nggak, nggak papa Vara."
Hening.
" Tante mau minta tolong sama kamu buat deketin Azka." Ucap Tante Sintia tiba-tiba.
" D-deketin gimana maksudnya Tan?." Vara gugup sendiri.
" Buat cari tau, apa yang terjadi sama anak itu sehingga membuatnya seperti ini."
" Vara nggak bisa Tante. Nanti Azka salah paham." Bukan vara namanya kalau nggak bisa nolak
" Salah paham gimana?."
" Iya, Tan. Nanti Azka kira Vara deketin dia karena suka." Jelas Vara.
" Memangnya kenapa kalau Azka berpikir seperti itu?." Tante Sintia mengulum senyum.
" Vara kan nggak suka sama dia, Tante. Dan Azka juga pasti nggak suka sama Vara." Jawaban vara terlalu jujur untuk diterima.
" Tapi cuma kamu yang bisa tolongin Tante."
Vara memutar otak. Nama kedua sahabatnya terlintas dipikirannya.
Vara berpikir sejenak.
Gimana kalau Lily?.
Lily kan ngefans banget tuh sama Azka. Dia juga tergila-gila sama si es batu itu.
Tidak tidak, Lily terlalu takut kalau sampai Azka marah. Bisa-bisa dia nyalahin gue kalau sampai Azka marah sama dia.
Anin?.
Tidak juga. Anin terlalu pendiam dan bodo amat. Nggak mungkin gue nyuruh dia.
Gue?
Gue sih bukannya takut. Cuma ya gue nggak mau terlibat sama dia.
" Vara, gimana. Mau nggak?." Tanya Tante Sintia lagi.
" Ehmm." Vara ragu menjawab. Sebenarnya dia tidak ingin melakukannya. Tapi tidak enak juga sama Tante Sintia.
" Kamu liat kan sikap Azka ke Tante."
" Tante cuma mau dia kembali seperti dulu." Tante Sintia terlihat sedih. Vara jadi tidak tega.
" Untuk itu Tante minta bantuan kamu untuk mendekatinya agar kamu bisa mengubah sikapnya."
" Tante percaya sama kamu."
" Tante percaya kamu bisa mengembalikan Azka yang dulu."
" Vara nggak yakin bisa Tante." Masih berusaha menolak.
" Bisa."
" Ayolah Vara. Kalau nggak mau, Tante jodohin kamu sama Azka aja deh." Ancaman mematikan.
" Eh Tante Jangan dong!."
" Iya deh Vara akan Coba."
Ancaman berhasil. Vara akhirnya pasrah juga menuruti permintaan wanita didepannya.
" Makasih, sayang." Ucap wanita itu sambil tersenyum.
Flashback off
*****
" Ayo pulang, udah sore banget nih." Ucap Anin menutup bukunya.
" Iya ayo."
Didepan cafe.
" Gue duluan." Lily sudah dijemput kakaknya.
" Gue juga, buru-buru. Kalau nggak dapat taxi, kerumah gue aja dulu." Setelah mengatakannya Anin buru-buru pulang.
Vara mengangguk.
Setelah sekitar dua puluh menit di depan cafe.
Vara melihat jam tangannya kemudian melihat ponselnya." Ck, hp gue mati lagi."
Sebuah mobil berhenti di depannya. Seseorang keluar dari mobil.
" Vara, mau pulang?." Tanya wanita itu.
" Iya, Tante." Ucapnya sopan.
" Sini masuk, biar Tante antar pulang. Udah sore nggak baik anak cewek sendirian." Tante Sintia sudah menarik tangan Vara mendekat.
" Aduh nggak papa Tante, nanti ngerepotin." Vara memang seperti ini, mudah merasa nggak enakan.
" Sudah ayo masuk."
Vara akhirnya menurut. Saat masuk mobil dia terkejut.
" Eh?."
.
.
.
.
.
Ada apa didalam mobil ?
Jangan lupa like and komen, ygy.
see you,,,